Izinkan aku bercerita tentang ibuku yang usianya hanya terpaut 16 tahun denganku.
Ibuku, anak ke tiga dari 5 bersaudara. Rela berkorban menikah muda selepas lulus sekolah menengah pertama, agar saudara-saudaranya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dengan bapakku yang sembilan tahun lebih tua usianya.
Ibuku, harus berjuang membesarkan aku dan adikku seorang sendiri karena bapakku menduakannya dan menikah lagi dengan wanita lain. Kami pernah menumpang di rumah nenek, pernah tinggal di kontrakan satu petak, tidur bagai ikan sarden di dalam kaleng.
Ibuku, harus merelakan ijazahnya untuk dititipkan ke agen penyalur ART dan meninggalkan aku dan adikku dibawah asuhan nenekku, karena beliau harus tinggal bersama majikannya.
Ibuku, harus berjuang dan bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya, menjadi office girl dan petugas kebersihan gedung saat area SCBD Jakarta sedang dibangun. Ada jasa dan keringat ibuku dari gemerlapnya lampu di setiap lantai gedung itu.
Ibuku, rela menampungku kembali setelah aku bercerai dengan suamiku. Aku, yang tidak membawa apa-apa, diterima dengan baik olehnya. Bagi beliau, tidak ada yang boleh menyakiti anaknya.
Ibuku selalu berpesan kepadaku, walaupun kita miskin tapi jangan sampai kita kehilangan harga diri, karena hanya itu yang kita punya.
Ibuku selalu berpesan kepadaku, jika kamu tidak bisa membantu orang lain dengan materi, bantulah dengan tenagamu.
Ibuku, orang yang menentang keras ketika ada syekh Dubai ingin menjadikanku istri ke-3.
"Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi mistress!", katanya. Tak perduli seberapa banyak uang yang ditawarkan.
Ibuku, orang yang hanya 16 tahun lebih tua dariku, kematangan emosionalnya berhenti di usia 15 tahun ketika dia memutuskan menikah. Sering kali kami bertengkar, sering kali aku merasa akulah ibunya, bukan beliau.
Tapi biar bagaimanapun, beliau tetap ibuku. Orang tua satu-satunya yang selalu ada untukku. Orang tua yang berada di barisan depan untuk membelaku.
Doaku untuk ibu, supaya Allah panjangkan umurnya, supaya aku bisa membahagiakannya lebih lama.
Doaku untuk ibu, akan kubawa dia pergi ke tanah suci untuk melihat Ka'bah dari dekat.
Doaku untuk ibu, supaya kami bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Tetaplah menjadi ibuku.

