Matahari sore berwarna merah keoranyean masuk menembus kain tirai jendela kamarku. Aku berjalan putar-putar di dalam kamarku karena sedang berpikir. Sambil berpikir, mataku tak sengaja menangkap sebuah foto bingkai yang terpajang di meja belajar kamarku. Aku melihat foto diriku sedang tersenyum bersama dengan Ibuku. Hatiku langsung merasa pilu setiap kali melihat gambar foto itu.
“Hari ini yang terakhir ya? Waktuku tinggal sedikit”, ucapku di dalam hati sambil mendekat ke meja belajarku.
Aku terus melihat ke arah foto bingkai itu dan aku mengulurkan tangan kananku ke arah foto bingkai itu tapi tak jadi karena aku mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat ke arah ruangan kamarku ini. Aku melihat ke arah pintu dan tak lama kemudian, pintunya terbuka dan ada seseorang yang masuk ke dalam sini. Dadaku langsung berdebar-debar karena Ibuku adalah orang yang masuk ke dalam ruangan ini. Aku membuka mulutku dan mengucapkan sesuatu kepadanya.
“Ibu, aku.....”, ucapku tapi tak selesai dikarenakan Ibuku sama sekali tak melihat ke arahku.
Ibuku berjalan melewati diriku tanpa melihat ke arahku sama sekali. Dia berjalan menuju ranjang tempat tidurku. Ibuku membereskan dan merapikan ranjang tempatku tidur padahal ranjangku terlihat rapi dan tak berantakan sedari tadi, tapi Ibuku tetap merapikannya. Setelah itu Ibuku berjalan menuju lemari pakaianku dan membukanya. Di dalamnya banyak tergantung pakaian milikku. Ibuku memegang pakaian di dalamnya satu persatu tapi tak dikeluarkan. Tak lama kemudian, Ibuku menutup lemari pakaianku dan hendak berjalan keluar dari kamarku.
“Ibu! Tolong dengarkan aku! Aku.....tolong Ibu jangan pergi!”, ucapku dengan suara yang besar agar Ibuku mendengarnya.
Ibuku berhenti berjalan lalu dia berbalik dan berjalan ke arah meja belajarku dimana aku sedang berdiri di dekatnya tapi walau begitu Ibuku tetap tak melihat ke arahku. Ibuku melihat ke arah bingkai foto dimana diriku sedang tersenyum bersama dengannya. Ibuku mengambil bingkai itu dan melihatnya. Ekspresi raut wajahnya terlihat sedih dan aku langsung membuka mulutku untuk berbicara kepadanya.
“Ibu, aku mohon! Ibu buka bingkai foto itu! Aku mohon! Ini permintaanku yang terakhir sebelum aku pergi meninggalkan tempat ini!”, ucapku kepada Ibuku.
Ibuku tetap hanya diam saja terus melihat ke arah foto itu sehingga aku kembali membuka mulutku.
“Ibu! Buka bingkainya! Aku mohon Ibu! Tolong buka bingkainya!”, seruku kepada Ibuku.
Akhirnya Ibuku pelan-pelan membuka bingkainya dan mengambil isi fotonya tapi tiba-tiba ada barang yang terjatuh keluar ke meja dari dalam bingkai itu. Selembar kertas yang dilipat bersama dengan kalung liontin dengan permata kecil warna biru muda di tengah-tengahnya. Ibuku mengambil kalung liontin itu dan melihatnya lalu setelah itu dia mengambil lipatan kertas itu dan membukanya.
Ibu, terima kasih ya karena Ibu telah memberikan semuanya untuk saya. Saya sangat bersyukur karena Ibu membanting tulang untuk membiayai kehidupan saya dan juga Ibu selalu memasak makanan untuk saya, mencuci pakaian saya dan juga mengurusi kebutuhan saya padahal Ibu pasti sangat lelah setelah bekerja keras untuk mencari nafkah untuk menghidupi saya dan saya juga sering tanpa sadar menyakiti perasaan Ibu dan banyak menuntut, tapi Ibu masih tetap menyayangi saya.
Untuk itu saya ingin mengucapkan kata maaf, tapi entah kenapa saya tak bisa mengeluarkan kalimat itu dari mulutku. Sudah berkali-kali saya ingin mengucapkan maaf kepada Ibu tapi tak bisa saya lakukan dan oleh karena itu saya berpikir untuk menulis saja apa yang ingin aku katakan kepada Ibu. Ibu, maafkan aku ya, aku sayang sekali sama Ibu dan aku sungguh-sungguh menyesal sering berkali-kali melukai perasaan Ibu tapi aku hanya ingin Ibu tahu kalau aku sayang sama Ibu dan sampai saat aku menulis surat ini saja aku masih memikirkan Ibu.
Aku ingin membalas semua apa yang Ibu lakukan untukku tapi aku tahu kalau aku tak akan bisa melunasinya sampai kapanpun dan oleh karena itu aku berharap Ibu mau menerima hadiah dariku walau apa yang aku berikan ini harganya tak sebanding dengan semua biaya hidupku, tapi aku hanya ingin Ibu tahu kalau aku membelikan hadiah ini kepada Ibu karena aku sayang sangat Ibu. Maaf ya kalau penulisanku kacau balau dan tak rapi tapi aku menulis semua ini dengan perasaanku yang sesungguhnya. Terima kasih ya Ibu sudah mengurusi saya dari saya masih bayi hingga dewasa.
Selamat ulang tahun Ibu, terima kasih untuk segalanya. Aku sayang Ibu.
Andika
Tetesan air mata langsung membasahi kertas itu karena Ibuku langsung menangis tersedu-sedu setelah membaca surat dariku. Ibuku langsung tertunduk lesu dan kedua kakinya langsung lemas membuat dirinya jatuh berlutut di lantai. Aku ingin membantu Ibuku berdiri tapi aku tak bisa melakukannya.
“Andika! Andika! Andika! Kenapa kamu pergi meninggalkan Ibu sendirian!? Hiks hiks hiks!”, tangis histeris Ibuku.
Hatiku merasa pedih melihat adegan itu dan langsung mendekati Ibuku dan mencoba membantunya berdiri tapi kedua tanganku langsung menembus tubuh Ibuku. Aku kembali mencoba melakukannya berkali-kali dan hasilnya tetap sama hingga akhirnya aku mendengar suara lonceng bel yang menandakan kalau waktuku di dunia ini untuk menemui Ibuku sudah habis sesuai dengan perjanjianku dengan para penjaga akhirat.
“Sudah waktunya”, ucap seseorang.
Aku menoleh dan melihat ada seorang anak kecil lelaki berambut hitam dan dia mengenakan kaus warna merah dan celana warna abu-abu. Mendengar ucapannya, aku memutuskan untuk pergi mengikuti anak kecil itu karena waktuku untuk bersama Ibuku sudah habis tapi sebelum aku pergi dari sini, aku mengucapkan sesuatu kepada Ibuku.
“Ibu, sudah saatnya aku pergi. Maaf ya aku pergi lebih dulu dari Ibu, tapi aku senang akhirnya Ibu membaca suratku. Waktu yang aku habiskan bersama dengan Ibu adalah hartaku yang sangat berharga dan tak ternilai dan tak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun. Terima kasih ya Ibu, aku sayang Ibu”, ucapku lalu diriku menghilang sepenuhnya dari dunia ini meninggalkan Ibuku seorang diri yang masih menangis tersedu-sedu sambil memanggil-manggil namaku.

