CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Tak Ada Ibu yang Sempurna
TA

Tak Ada Ibu yang Sempurna

oleh Astri
CerpenGratis11 menit baca38 dibacaJFMM Participant
Rinai hujan turun basahi bumi. Dingin mulai menyengat, menusuk tulang. Sementara itu, aroma tanah basah berpadu dengan segarnya rumput. Tampak sempurna, meski menyisakan sebuah kenang kala sepasang iris coklatku menatap langit.

Ah, tak ada lagi bulan yang tampak seperti tadi.

Benar saja, beberapa menit lalu kunikmati eloknya dewi malam. Tampak bulat sempurna, dengan bayang abu tipis yang tak ada bedanya dengan sebuah siluet menghangatkan sekaligus menyesakkan. Di sana, kulihat siluet layaknya seorang ibu yang tengah menimang si kecil kesayangannya. Tampak begitu nyata, hangatkan dada, tuntun diri ini tenggelam dalam napak tilas di sepanjang hidupku hingga kini.

Masih segar dalam ingatanku. Saat kuberanjak memasuki usia sekolah, ibu selalu ada untukku. Hangat kasihnya buatku tersenyum ceria. Yakinkan bahwa aku bisa menjadi seorang murid yang pintar dan baik. Ajarkan aku arti akan rasa percaya diri, hingga berani melangkah pada hari pertama masuk sekolah.

"Sayang, duduk di sana, ya. Nanti bu guru akan masuk. Ibu akan menunggu di luar."

Usap lembut pada mahkota hitamku yang ditata rapi seakan salurkan kepercayaan diri. Rekah senyumnya buat hati terasa damai. Peluk hangatnya tenangkan aku yang sempat merasa resah. 'Si kecil' aku terdiam sesaat dalam peluknya. Kedua tangan mungil bergerak perlahan, membalas rengkuh hangat yang sedikit mengerat. Angguk pelanku seakan menjadi sebuah persetujuan, hingga aku berani melangkah memasuki ruang kelas. Sempat kulihat dari jendela, ibu mengintip. Ranumnya rekahkan senyum penyemangat. Sementara aku yang begitu polos hanya bisa menatap tanpa tersenyum. Duduk dalam posisi sempurna, dengan kedua tangan dilipat di atas meja. Meski demikian, aku tahu. Keberanian memulai hari baruku di sekolah telah dimulai sejak itu. Semangat dan kepercayaan diriku tumbuh dengan kehadiran ibu yang selalu ada untuk membantuku mengepakkan sayap, bahkan dalam pelajaran yang tak kumengerti.

Waktu terus berjalan. Ibu tak pernah absen dari hari-hariku. Sosok wanita tersebutlah yang paling cemas kala tubuh ini berontak. Tubuh yang terbiasa aktif kini harus tumbang, tak kuat lagi bertahan melawan virus. Untungnya, bukan sesuatu yang terlalu berbahaya. Beberapa hari kuhabiskan waktu di rumah sakit, menjalani perawatan tipus bersama kakak yang juga jatuh sakit. Saat ayah bekerja, ibu merawat kami berdua sendirian.

"Sayang, coba dimakan yuk meskipun sedikit. Ayo kita lawan virusnya supaya keok!"

Ibu yang lelah berusaha membujuk. Namun, lidah ini tak juga bisa merasakan kenikmatan makanan apa pun. Bukan hanya aku, kakak pun demikian. Sesuap kucoba untuk mengikuti yang ibu katakan. Pahit, namun aku terus mencoba menelannya. Terus kulakukan hingga setengah jalan. Sayangnya lagi-lagi lidah ini tak mau berkompromi.

"Pahit banget, Bu."

Rengek pelan tak terhindarkan. Kedua alisku nyaris bertaut. Bibirku melengkung ke atas, isyarat bahwa tak ada lagi kesanggupan yang kumiliki. Akhirnya kusudahi meski ibu tampak kecewa. Esoknya, sebuah hadiah kecil datang untukku dan kakak.

"Tada! Coba lihat apa ini?"

"Majalah! Majalah kesukaanku!"

Aku berseru riang. Ibu tersenyum begitu lebar. Sementara itu, kakak tak mau kalah denganku.

"Itu juga kesukaanku!"

"Kalau begitu, kita baca sama-sama, ya. Tapi ada syaratnya. Kalian makan yang pintar, supaya lekas sembuh, oke?"

"Oke, Bu!"

Ibu yang tak pernah kehabisan ide tampak lega dengan respon kedua darah dagingnya. Aku dan kakak makan dengan lahap, mengikuti apa yang dikatakan oleh ibu demi kesembuhan kami. Hingga waktunya tiba, kami pun menjalani hari-hari di sekolah seperti biasa.
Semua berjalan dengan baik. Sayangnya, saat menerima rapor, tempatku tergeser oleh seorang teman yang menjadi rival kelas. Peringkat satu tak lagi milikku. Satu tingkat kuturuni dengan paksa akibat dirawat di rumah sakit. Begitulah alasan guru. Ada kecewa yang perlahan masuk ke celah hati, seakan ego dipaksa berdebat dengan realita. Berkecil hati. Itulah yang kurasakan pada saat mengetahui bahwa duniaku telah berubah.

"Nak, ada apa?"

Tanya ayah tak membuatku bisa memberikan jawaban pada detik yang sama. Bibirku melengkung ke atas, menahan tangis. Ibu yang melintas di depan kamarku melangkah masuk perlahan. Pandanganku kini mulai kabur. Wanita tersebut duduk di sampingku, menggenggam hangat kedua tangan yang saling meremas, seakan bisa kuat menelan kecewa sendirian.

"Sayang, kami nggak memaksa kalau kamu belum siap bercerita. Tapi kalau kamu merasa ada yang perlu diceritakan, nggak usah ragu."

Runtuh sudah pertahanan yang kubangun dengan susah payah. Tangisku pecah. Ibu memelukku dengan hangat. Usapan lembut di punggung membuatku menangis semakin kencang. Beberapa saat berlalu, hingga aku mulai bisa menenangkan diri. Perlahan aku mencoba bercerita meski tersendat. Berusaha berbicara meskipun isak menyela di antara kata.

"Aku ... nggak juara satu."

Hiks.

Ayah dan ibu saling bertukar tatap. Sementara itu, isak yang masih tersisa kembali terdengar. Seorang anak dengan usia remaja awal sepertiku masih begitu idealis. Memandang sebuah pencapaian sebagai sebuah prestasi yang mengantarkan prestis demi mendapatkan beasiswa dari perusahaan tempat ayah bekerja. Mungkin itulah yang membuatku merasa takut dengan bergesernya gelar sebagai 'si ranking satu' dari pandangan banyak orang—bahkan di luar teman-teman ayah.

"Kamu merasa sedih dan kecewa ya, Nak?"

Kepalaku mengangguk menjawab pertanyaan ayah.

"Nak, nggak mendapat juara pertama bukan berarti sesuatu yang buruk. Sakit pun bukan kemauanmu yang menjadikan peringkat di kelas bergeser, kan? Kamu sudah berusaha sekeras mungkin. Ayah dan ibu tahu itu."

Sepasang irisku bisa menatap ayah meski aliran air masih tak mau berhenti. Ibu mengusap lembut kepala belakangku.

"Benar. Hal yang paling penting, kamu sudah berusaha dengan maksimal. Kami akan selalu bangga padamu dan kakak."

Perlahan, kesedihan dan kekecewaan pun meluap. Dada yang semula terasa berat kini perlahan ringan. Tak sepenuh sebelumnya. Tak juga sesesak saat kesedihan dan kekecewaan perlahan diselimuti ketakutan yang datang tanpa permisi. Sejak itu, aku mulai mengerti. Kepercayaan diri tak selalu membawaku menjadi sang juara. Aku belajar bahwa usaha menjadi sebuah hal utama. Bagaimana hasilnya, Tuhan yang menentukan.
Tahun berganti, meski masa remaja belum usai. Masa remaja tengah tak luput dari sebuah perdebatan. Ada yang bilang, seorang remaja akan menganggap orang tua sebagai musuh. Lebih percaya dengan teman-teman. Lalu, bagaimana denganku? Di sinilah kisah tersebut dimulai.

Tujuh belas tahun usiaku. Kata orang, usia tersebut menjadi sebuah momen spesial hingga dirayakan dengan sweet seventeen. Namun, nyatanya tak begitu. Tak ada perayaan ulang tahun seperti itu. Namun, seseorang yang spesial memberiku sebuah hadiah. Seorang pemuda memberiku sebuah boneka beruang lucu. Klise, memang. Namun aku menyukainya. Bisa dikatakan, kami bersahabat. Meskipun demikian, kami sama-sama memiliki perasaan tersendiri. Mungkin ... cinta monyet? Namun sayangnya, ayah tak memperbolehkan aku berpacaran hingga usia yang ditentukan agar tetap bisa fokus belajar. Hal tersebut menjadi sebuah kendala, meski aku dan pemuda tersebut tak merasa keberatan.

Aduh, kalau bonekanya ketahuan bagaimana?

Satu pertanyaan seakan menjadi sebuah bom waktu untukku. Meledak di dalam kepala setelah aku meletakkan boneka tersebut di dalam kamar. Kepalaku terasa begitu penuh. Aku berusaha mencari cara untuk mengatasi keadaan ini. Menyembunyikan boneka tersebut seperti mustahil, sebab tak ada tempat. Namun untuk jujur, bagaimana aku harus mengatakannya? Berbagai perasaan campur aduk. Begitu banyak pertanyaan bermunculan di dalam kepala. Sejumlah skenario dengan kemungkinan terburuk terbayang meski belum tentu nyata. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk melangkah mendekati ibu yang tengah memasak.

"Ibu?"

"Ya, Sayang?"

"Mmm, aku mau jujur. Tapi Ibu jangan marah, ya."

Detak jantungku berlomba. Aku menatap takut-takut, meski ibu tampak masih sibuk memotong sayur.

"Iya. Ada apa, Sayang?"

"Tadi aku dapat hadiah boneka beruang."

"Dari?"

"Sahabatku. Tapi—"

Boleh nggak lewati bagian paling mengerikan ini?

Hening sejenak, namun semua ini terasa berat. Dengan segenap keberanian yang ada, aku mencoba untuk jujur.

"—laki-laki."

Gerakan ibu terhenti. Tatapannya berpindah ke arahku. Aku yang merasa ketakutan segera menambahkan meski terlalu terburu-buru.

"Tapi kami nggak pacaran, kok. Cuma saling suka. Beneran nggak pacaran?"

"Beneran?"

"Iya, beneran."

Tak ada sepatah kata pun yang diucapkan oleh ibu setelah itu. Namun tatapan yang terlihat jauh berbeda dari yang kukenal. Tajam dan menyelidik, seperti tak percaya dengan kejujuran yang kukatakan. Jantungku seperti merosot begitu saja ke perut. Kelegaan yang semestinya terasa seperti lenyap perlahan, menggantung dengan perasaan tak pasti. Hening yang tercipta setelahnya membawa langkahku menjauh. Kuayunkan kedua kaki ke kamar. Tubuhku yang seperti melayang berbaring di atas tempat tidur, dengan pikiran tak tenang. Apakah salah mencoba untuk jujur? Mungkin ... sejak itu aku menemukan sedikit rasa tak aman. Membuatku memilih untuk tak menceritakan kisah asmara, hingga saatnya tiba. Bukankah lebih baik seperti ini dibandingkan merasa tak nyaman dengan terkikisnya rasa percaya dan aman yang selama ini kupikir akan selalu utuh?

Atau ... aku lupa bahwa sejatinya ibu juga manusia biasa yang tak sempurna?

Dua dekade terlewati. Dunia perkuliahan membuatku semakin membuka mata bahwa ada begitu banyak hal baru yang penuh dengan kejutan. Kesibukan mengikuti organisasi menjadi sebuah pengiring akademik yang kujalani. Tak banyak waktu yang kumiliki untuk berkumpul dengan keluarga. Namun ada suatu hari di mana kulihat ibu tampak murung saat kakak memilih untuk tak menikmati masakannya.

"Kak, kok nggak makan masakan ibu?"

Kakakku hanya terdiam. Sosoknya memang berseberangan denganku yang cenderung berani angkat bicara. Aku tak menoleh ke arah ibu yang berada di luar kamar kakak. Namun sepertinya kata-kataku terdengar jelas olehnya.

"Ibu kan udah susah-susah masak. Mikirin menu, belanja, masak juga capek dan butuh waktu. Lain kali jangan gitu."

Kesal yang kurasakan meluap dalam rangkai kata. Mungkin terlalu tajam, namun seperti itulah adanya. Aku tak piawai berbelit. Tak juga piawai memilih kata yang terlalu kias untuk membuat orang lain mengerti. Sejak itu, aku belajar bahwa memasak bukan sebuah hal sederhana. Dibutuhkan proses panjang, sebab menentukan berbagai menu yang akan disajikan tiap hari tak semudah membalik tangan. Semua itu tak lepas dari berapa banyak anggaran belanja yang dimiliki, sehingga tetap bisa menyajikan menu terbaik untuk keluarga. Maka, suka atau tidak, cocok atau tidak, aku memilih untuk tetap menikmati masakan ibu selagi bisa.

Tiga dekade hadir menyapa. Dunia kerja membawaku semakin sibuk. Namun aku tahu, ibu selalu ada. Selalu menyiapkan bekal untukku di setiap pagi sebagai salah satu tanda cintanya. Setiap menanyakan menu apa yang kuinginkan, aku selalu meminta sesederhana mungkin.

"Bawa menu masakan besok aja. Biar Ibu nggak usah masak dua kali."

Seperti itulah jawabanku. Jika ibu tak memasak, membeli makanan di luar menjadi salah satu pilihan paling praktis, mengingat kesibukan dunia kerja membuatku tak sempat menyiapkan bekal makan siang. Terkadang aku meminta ibu tak repot memasak karena akan makan di luar. Selagi memungkinkan, aku juga membelikan oleh-oleh kecil untuk keluarga di rumah.

Kehidupanku telah berubah. Hari yang akan mengubah segalanya pun tiba. Seorang pemuda kini telah menggantikan ayah menjadi imamku. Menjadi nahkoda dalam bahtera rumah tangga kami. Menjadi pelindung untukku yang tumbuh dan dibesarkan dengan penuh cinta dalam sebuah keluarga sederhana. Aku pun masih ingat bagaimana ayah dan ibu menangis haru saat itu. Masih ingat bagaimana ibu melepas kepergianku yang terbiasa berbagi banyak hal dengannya, merasakan sedih dalam peluk beriring air mata. Namun seperti inilah hidup yang telah digariskan oleh Sang Pencipta, tak mampu ditentang sebab itulah kisahnya.

Bertukar kabar dengan ibu menjadi sebuah kebiasaan yang berjalan tanpa diminta. Mengalir begitu saja, meski tak selalu bertatap muka atau mendengar suaranya. Hari demi hari berlalu, hingga sepasang malaikat kembar datang ke dunia. Kini aku telah menjadi seorang ibu. Merasakan begitu banyak gejolak dalam setiap waktu yang kulalui. Tak dapat kupungkiri, ada begitu banyak kejutan yang terjadi. Berbagai rasa seakan bercampur aduk menjadi satu. Senang, sedih, lega, cemas, bangga, kecewa, bersemangat, lelah, dan masih banyak lainnya. Semua itu begitu nyata. Apa yang dulunya kuanggap tak semestinya terjadi nyatanya kualami sendiri. Apa yang dulunya kukira bisa dilakukan dengan sebuah cara sederhana, nyatanya tak selalu semudah itu. Pasalnya, kehidupan berjalan dinamis dengan segala kejutan yang terjadi. Dewi Fortuna pun tak selalu berpihak pada diri seseorang. Dan perasaan positif maupun negatif, benar adanya.

Kini kumenatap langit malam. Rintik hujan tak lagi turun. Melodi malam berganti nyanyian jangkrik. Permadani malam tak lagi mendung. Bulan mengintip malu-malu dari celah awan, seakan menarikku ke dunia nyata saat ini. Sadarkan aku dari napak tilas yang kulalui dalam penggal kisah tak lengkap. Kelip bintang seakan memintaku mengatakan sebuah salam meski tak mampu didengar oleh sang bidadari tanpa sayap.

"Ibu, aku kangen Ibu. Maafkan aku. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Tak ada ibu yang sempurna. Namun aku tahu, seorang ibu pasti akan selalu berusaha melakukan dan memberikan hal terbaik untuk anak-anaknya, untuk keluarganya. Apa yang menurutku kurang baik, biar kuperbaiki di kehidupanku sebagai ibu. Namun Ibu tetaplah ibu terbaik untukku. I love you so much, Mom.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen