Namaku Raka.
Aku hanya punya ibu, kata ibu bapakku meninggal waktu umurku 4 tahun, karena kecelakaan kerja saat ikut proyek pembangunan gedung dikota.
Sejak saat itu Ibu yang bekerja keras menggantikan peran bapak mencari nafkah agar kami bisa terus melanjutkan hidup.
Ibu bekerja apapun yg bisa beliau kerjakan, saat pagi jadi tukang cuci, siangnya beliau jadi tukang setrika keliling, kadang-kadang saat tidak ada pekerjaan cuci, ibu ikut pergi ke sawah jadi buruh tani. Terkadang aku sedih melihat tangan Ibu kapalan semua, bahkan punggungnya terlihat bungkuk di usianya yg belum begitu tua.
Setiap malam aku melihat beliau kelelahan tapi Ibu selalu tersenyum kepadaku, membelai pucuk kepalaku saat aku memijit kakinya, ibu punya satu kalimat yang diulang tiap malam:
_"Nak, sekolah yang pinter ya, biar kamu bisa jadi orang hebat."_
Aku selalu menjawab dengan senyum dan anggukan,
ak tidak pernah minta jajan, karena aku tau upah pekerjaan ibu hanya cukup untuk makanan sederhanana dan uang sekolahku, jika bajuku sobek aku berusaha menjahitnya sendiri. Bahkan saat sepatuku bolong daku berusaha menambalnya sendiri pake lakban.
Aku selalu belajar dengan rajin karena aku tau, aku satu-satunya harapan ibu dimasa depan, raportku gak pernah turun dari 10 besar. Gurunya bilang: "Raka ini emas, Bu. Pinter dan gak neko-neko."
Lulus SMA, Raka diterima kerja di pabrik di Surabaya. Gajinya 3 juta. Cukup buat ngontrak dan ngirimin Ibu tiap bulan.
Malam sebelum berangkat, Ibu masak ayam. Satu-satunya ayam setahun ini.
"Nanti di sana jaga diri ya. Rajin nabung. Beli rumah kecil buat kita berdua."
Raka ngangguk sambil nahan nangis. "Iya Bu. Tunggu Raka 2 tahun. Kita pindah ke rumah tembok."
Jam 4 subuh Raka pamit. Koper kecil, tas selempang.
Di depan gang ada Ibu. Nyodorin kantung plastik biru.
"Ini buat di jalan. Buka pas udah di bis ya."
Raka peluk Ibu lama. Wangi keringat + sabun cuci.
"Doain Raka, Bu."
Bus berangkat jam 5.
Jam 6.20 HP Raka bunyi. Nomor tetangga.
_"Rak... Ibumu ketabrak truk di perempatan pasar. Pas nyebrang pulang belanja..."_
Dunia Raka gelap.
Dia lari pulang. Naik apa aja. Sampai di RS, jenazah Ibu udah ditutup kain putih.
Di sampingnya, kantung plastik biru yang sama. Belum sempat dibuka.
Dengan tangan gemetar Raka buka.
Isinya: sebungkus nasi, 2 butir telur, sebotol air, dan... satu sweater rajut warna krem. Rajutan tangan. Benangnya agak kasar, ada yang bolong dikit.
Dan ada kertas sobekan kalender. Tulisannya miring:
_"Untuk Anakku Raka,
Semoga hangatnya sweater ini bisa mewakili hangatnya pelukan Ibu.
Maaf ya Ibu gak bisa nganter. Kerjaan numpuk.
Pakai terus ya pas kedinginan di Surabaya.
Ibu bangga sama kamu.
- Ibu"_
Raka memeluk sweater itu. Dingin. Tapi entah kenapa dada dia rasanya kebakar.
Di pemakaman dia gak nangis. Cuma jongkok lama di pusara, nyelimutin sweater itu ke nisan.
"Bu... Raka berangkat ya. Kayak janji kita."
3 tahun kemudian orang-orang di kampung liat Raka pulang bawa mobil bak kecil. Dia bangun rumah tembok 2 kamar. Di ruang tamu ada foto Ibu, dan di bawahnya digantung sweater rajut krem itu. Udah luntur.
Tiap ada anak baru di kampung yang mau merantau, Raka selalu bilang:
"Kalo capek, inget. Ada orang di rumah yang rela kepanasan di sawah, cuma biar kamu bisa adem di kota."
Karena dia tau rasanya.
Kehilangan pelukan... tapi masih diselimutin cinta, lewat sehelai sweater di kantung plastik.
---
∼498 kata
Gila sih bagian "hangatnya sweater ini bisa mewakili hangatnya pelukan ibu" 😭
Mau aku buatin versi yang bisa kamu kirim jadi narasi voice over 1 menit? Atau mau endingnya dibikin ada adegan Raka ketemu anak lain dan nerusin kebaikan Ibu?
