CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Surat yang Tidak Pernah Dikirim

Surat yang Tidak Pernah Dikirim

oleh Fia Amalia
CerpenGratis11 menit baca19 dibacaJFMM Participant
Sejak kecil, aku selalu mengira Ibu akan ada selamanya.

Sesederhana itu.

Ketika aku takut pada petir, aku memanggil Ibu.

Ketika demam, aku mencari tangan Ibu.

Ketika pulang sekolah dan menemukan nilai ulanganku buruk, aku menyembunyikan kertas itu di bawah bantal karena tahu Ibu akan menemukannya juga.

Dan setiap kali dunia terasa terlalu besar untuk tubuh kecilku, aku selalu tahu ke mana harus pulang.

Kepada Ibu.

Waktu itu aku tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti, rumah akan tetap berdiri, pintunya tetap sama, kursinya tetap berada di tempatnya... tetapi Ibu mungkin tidak lagi mampu membukakan pintu untukku.

Apalagi sepanjang hidup ini, aku tumbuh seperti anak-anak lainnya.

Pergi sekolah.

Bertengkar dengan teman.

Jatuh cinta.

Patah hati.

Lulus.

Pergi meninggalkan rumah.

Semakin lama, semakin jarang pulang. Awalnya seminggu sekali, lalu sebulan sekali. Kemudian hanya ketika ada hari raya atau sesuatu yang penting.

Setiap kali menelepon, percakapanku dengan Ibu selalu sama.

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Kerja gimana?”

“Baik.”

“Capek?”

“Biasa.”

“Jangan lupa istirahat.”

“Iya.”

Kemudian telepon berakhir.

Aku selalu merasa percakapan itu terlalu pendek. Tapi anehnya, aku tidak pernah berusaha membuatnya lebih panjang.

Aku pikir masih ada besok.

Besok aku telepon lebih lama.

Besok aku pulang.

Besok aku ajak Ibu jalan.

Besok.

Selalu besok.

Hingga suatu malam, aku menelepon Ibu. Tidak diangkat. Aku mencoba lagi, tidak diangkat. Ketiga kali, tetap tidak ada jawaban.

Aku mulai khawatir.

Akhirnya aku menelepon tetangga.

“Bu, bisa tolong lihat rumah Ibu saya?”

Beberapa menit kemudian teleponku berdering.

“Tidak apa-apa, Nak. Ibumu sedang tidur.”

Aku menghela napas lega.

“Oh…” lalu terdengar suara tetangga itu tertawa kecil. “Tadi HP-nya jatuh di bawah bantal. Makanya enggak dengar.”

Aku ikut tertawa.

“Ya ampun.”

“Sudah tua, Nak. Pendengarannya juga mulai kurang.”

Aku terdiam.

Tua.

Aku tidak tahu kenapa satu kata itu tiba-tiba terasa asing.

Selama ini Ibu selalu ada di kepalaku sebagai seseorang yang sama. Ibu yang bisa berlari mengejarku ketika aku kecil, Ibu yang menggendongku ketika demam, Ibu yang memarahiku karena pulang terlalu sore.

Aku lupa bahwa waktu juga berjalan pada tubuhnya.

Aku lupa bahwa setiap hari yang membuatku semakin dewasa... juga membuat Ibu semakin tua.

Aku jadi berpikir aku akan pulang untuk menjenguk Ibu. Aku akan mengajaknya pergi berjalan-jalan, memberikannya kebahagiaan, sepertinya selama ini aku terlalu tidak peduli kepada Ibu.

Lalu aku pulang beberapa minggu kemudian.

Begitu membuka pintu, aku melihat Ibu duduk di ruang tamu.

Rambutnya lebih putih.

Punggungnya lebih membungkuk.

Dan entah kenapa, tubuhnya terlihat jauh lebih kecil daripada yang kuingat.

Ibu tersenyum, “Pulang?”

Aku mengangguk, “Iya, Bu.”

“Kok kurusan?”

Aku tertawa.

“Biasa, Bu.”

Ibu berdiri, “Sudah makan?”

“Belum.”

“Nanti Ibu masak.”

Aku langsung memegang tangannya, “Enggak usah. Aku beli aja.”

Ibu menatapku, “Kenapa?”

“Ibu nanti capek.”

“Lima menit doang.”

Aku tersenyum.

Dulu aku tidak pernah menyadari bahwa kalimat itu selalu sama.

Masak doang.

Nyuci doang.

Nungguin kamu doang.

Seolah mencintai anak adalah pekerjaan yang tidak pernah terasa berat bagi seorang ibu. Malamnya, aku tidur di kamar masa kecilku.

Semuanya masih ada.

Lemari lama.

Meja belajar.

Foto keluarga.

Bahkan goresan kecil di dinding yang dulu kubuat ketika sedang marah.

Aku membuka laci, ada sebuah kotak kayu. Aku tidak ingat pernah melihatnya, di dalamnya ada banyak benda kecil.

Tiket bioskop.

Kartu ucapan.

Foto.

Gelang plastik.

Kertas ujian.

Potongan kertas ulang tahun.

Dan surat.

Banyak sekali surat. Aku mengambil satu, itu tulisan tanganku sendiri. Aku akhirnya membukanya.

(Bu, aku nanti kalau besar mau beliin Ibu rumah.)

Aku tertawa.

Aku bahkan tidak ingat pernah menulisnya.

Surat kedua.

(Bu, kalau aku sudah kerja nanti Ibu enggak usah kerja lagi.)

Surat ketiga.

(Bu, aku mau ajak Ibu naik pesawat.)

Aku tersenyum.

Kemudian menangis.

Karena ternyata...

aku pernah menjadi anak yang begitu yakin bahwa suatu hari nanti aku akan membahagiakan Ibu.

Anak kecil itu percaya sekali pada kata nanti.

Tapi...

Aku terus membuka surat-surat itu. Sampai menemukan satu amplop yang berbeda. Tidak ada tanggal, namaku tertulis di depannya.

Aku membukanya.

(Nak, Ibu tahu kamu sudah besar...
Mungkin sekarang kamu sudah tidak suka dipeluk seperti dulu.
Mungkin sekarang kamu lebih suka pergi bersama teman-teman.
Mungkin sekarang kamu sudah punya banyak orang untuk tempat bercerita.
Tidak apa-apa.
Memang begitu seharusnya.
Anak memang harus tumbuh.
Harus pergi.
Harus punya hidup sendiri.
Ibu hanya ingin kamu tahu satu hal.
Seberapa jauh pun kamu pergi, Ibu tidak pernah berhenti menunggumu pulang.
Bukan karena Ibu ingin kamu tinggal.
Justru karena Ibu ingin kamu pergi sejauh mungkin.
Melihat dunia.
Mengejar apa yang kamu mau.
Menjadi seseorang yang dulu hanya bisa kamu ceritakan dalam mimpi.
Kalau suatu hari kamu gagal, pulanglah.
Kalau suatu hari kamu berhasil, pulanglah.
Kalau suatu hari kamu menikah, pulanglah.
Kalau suatu hari kamu tidak punya siapa-siapa, pulanglah.
Bahkan kalau suatu hari kamu lupa jalan pulang...
Ibu akan tetap mengingat jalan menuju kepadamu.
Karena begitulah seorang ibu mencintai anaknya.
Bukan dengan meminta anaknya tetap berada di sampingnya.
Tetapi dengan membiarkannya pergi, sambil diam-diam berharap dunia memperlakukannya dengan lembut.
Ibu sayang kamu.
Dari dulu.
Sekarang.
Dan bahkan nanti, ketika kamu sudah tidak bisa lagi mendengar suara Ibu.
- Dari Ibu)

Aku berhenti membaca. Air mataku jatuh ke atas surat, dan aku berusaha menutup mulut agar tidak terdengar. Tapi Ibu tetap terbangun setelah itu, seolah Ibu ditakdirkan menjadi manusia yang paling peka.

“Kenapa?”

Aku buru-buru menghapus air mata.

“Enggak apa-apa.”

Ibu duduk di tepi tempat tidur.

“Ada apa?”

Aku memandang wajahnya.

“Bu…”

“Hm?”

“Kenapa Ibu masih simpan ini?”

Ibu melihat surat di tanganku.

“Oh.” ia tersenyum. “Karena Ibu enggak bisa buang tulisan kamu.”

Aku menunduk.

“Tapi aku bahkan lupa pernah nulis.”

“Enggak apa-apa.”

“Kenapa Ibu ingat semuanya?”

Ibu mengusap rambutku.

“Karena Ibu ibumu.”

Sesederhana itu jawabannya.

Aku menangis.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku membiarkan kepalaku bersandar di pangkuan Ibu.

Seperti ketika aku masih kecil.

Ibu mengelus rambutku perlahan.

Tidak berkata apa-apa.

Tidak perlu.

Tangannya masih sama.

Hangatnya masih sama.

Hanya saja sekarang aku sadar... tangan itu sudah jauh lebih keriput.

---

Beberapa bulan setelah malam itu, aku mendapat telepon dari rumah.

Suara di ujung sana bukan suara Ibu.

Aku tidak ingat bagaimana aku bisa sampai ke rumah.

Yang kuingat hanya pintu yang terbuka.

Ruang tamu.

Kursi.

Dan Ibu yang terbaring diam.

Aku memegang tangannya.

Dingin.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak tahu harus memanggil siapa ketika aku takut.

“Bu…”

Tidak ada jawaban.

“Bu, aku pulang.”

Tetap tidak ada.

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Bu, aku pulang…”

Aku menunggu.

Seperti dulu.

Ketika aku kecil dan baru pulang sekolah.

Biasanya Ibu akan menjawab, “Iya, Nak.”

Tapi hari itu tidak ada jawaban.

Dan aku baru menyadari betapa kejamnya kalimat yang selama ini selalu kuucapkan: Besok saja.

Ternyata ada satu hari ketika besok benar-benar tidak datang.

---

Setelah pemakaman, aku kembali ke kamar Ibu.

Aku membuka lemari, mencari sesuatu yang bahkan tidak kuketahui. Di bagian paling bawah, aku menemukan satu kotak kecil. Di dalamnya ada benda yang membuatku terdiam.

Sebuah tiket pesawat.

Tiket yang sudah lama.

Tujuan kota yang dulu pernah menjadi mimpiku. Aku membaliknya, ada tulisan kecil di belakang.

(Ibu pernah mau ikut kamu.
Tapi kamu bilang Ibu jangan ikut.
Katamu Ibu nanti capek.
Jadi Ibu simpan ini.
Siapa tahu suatu hari kamu berubah pikiran.)

Aku terduduk di lantai.

Aku ingat hari itu aku berangkat untuk pertama kalinya. Aku begitu sibuk, begitu bersemangat.

Aku bahkan mengatakan, “Enggak usah ikut, Bu. Aku bisa sendiri.”

Aku tidak tahu Ibu membeli tiket itu.

Aku tidak tahu Ibu ingin melihatku pergi.

Aku tidak tahu...

bahwa mungkin itu adalah salah satu perjalanan yang paling ingin dilakukan Ibu bersamaku. Dan aku tidak pernah memberinya kesempatan.

Aku menangis. Karena baru sekarang aku menyadari betapa banyak hal yang selama ini tidak kulihat.

Aku terlalu sibuk mengejar hidupku sendiri sampai lupa bahwa di belakangku ada seseorang yang selalu berusaha berjalan sejauh yang ia mampu hanya untuk melihatku pergi.

Ibu tidak pernah memintaku tinggal.

Tidak pernah memintaku berhenti mengejar mimpi.

Tidak pernah memintaku membalas semua yang telah diberikannya.

Ia hanya ingin ikut sekali.

Sekali saja.

Melihat kota yang selama ini hanya kudengar dari ceritaku. Melihat tempat yang membuatku begitu bersemangat meninggalkan rumah. Dan bahkan untuk keinginan sesederhana itu, aku memberikan penolakan tegas kepada Ibu.

Aku memeluk tiket itu erat-erat.

Seandainya waktu bisa diputar kembali, mungkin aku akan membuka pintu lebih lebar pagi itu.

“Mau ikut?”

Dan mungkin Ibu akan tersenyum seperti biasanya.

Mungkin ia akan membawa tas kecilnya.

Mungkin ia akan bertanya apakah perjalanan itu jauh.

Mungkin sepanjang jalan ia akan terus bertanya apakah aku sudah makan.

Mungkin aku akan merasa sedikit terganggu, tapi kali ini aku akan menjawab semua pertanyaannya. Aku akan menggenggam tangannya, aku akan berjalan pelan supaya langkahnya tidak tertinggal.

Dan ketika pesawat mulai terbang, aku akan menunjuk keluar jendela sambil berkata, “Bu, lihat. Kita sudah sampai di atas awan.”

Tapi semua itu hanya mungkin di dalam bayanganku.

Karena waktu tidak pernah mau kembali hanya karena seseorang baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kehilangannya.

Aku menatap tiket itu sekali lagi. Tanggalnya sudah lama berlalu, kertasnya sudah menguning, tujuannya masih sama. Hanya orang yang seharusnya ikut bersamaku yang sudah tidak ada.

Aku menyelipkan tiket itu kembali ke dalam kotak.

Kemudian aku mengambil semua surat yang kutemukan malam itu dan membawanya ke kamar.

Satu per satu, kubaca kembali.

Surat tentang rumah.

Surat tentang pesawat.

Surat tentang aku yang dulu berjanji akan menjaga Ibu.

Ada begitu banyak janji yang pernah kubuat ketika masih kecil. Dan hampir tidak ada satu pun yang sempat kutepati. Aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap foto Ibu yang masih tergantung di dinding.

“Bu…”

Aku tersenyum.

“Aku pulang.”

Tidak ada suara.

Tidak ada langkah kaki dari dapur.

Tidak ada suara piring yang diletakkan di meja.

Tidak ada seseorang yang bertanya apakah aku sudah makan.

Hanya sunyi.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa benar-benar sendirian. Karena aku akhirnya mengerti bahwa mungkin selama ini aku salah memahami arti pulang.
Aku kira pulang adalah kembali ke sebuah rumah, ternyata pulang adalah kembali kepada seseorang. Dan ketika seseorang itu sudah tidak ada, kita hanya bisa pulang kepada kenangannya.

Malam itu aku membuka pintu kamar Ibu, aku menyalakan lampunya, kemudian untuk pertama kalinya setelah kepergiannya, aku memasak makan malam.

Dua piring.

Dua gelas.

Satu untukku.

Satu lagi untuk Ibu.

Aku duduk di kursi yang biasa ditempatinya.

Aku tahu tidak akan ada tangan yang mengambil nasi. Tidak akan ada suara yang mengingatkanku untuk makan pelan-pelan, tetapi aku tetap tersenyum.

“Bu, aku sudah makan.”

Kalimat yang dulu selalu ia tanyakan kepadaku.

Sekarang, untuk pertama kalinya, aku yang mengucapkannya.

Dan entah kenapa, setelah mengatakan itu, aku merasa seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan jalan pulang.

Mungkin Ibu memang sudah tidak bisa membukakan pintu untukku, mungkin tangannya sudah tidak bisa lagi menggenggam tanganku, dan mungkin suaranya sudah tidak bisa lagi memanggil namaku. Tetapi semua yang pernah ia berikan kepadaku masih tinggal.

Di dalam caraku mencintai.

Di dalam caraku memaafkan.

Di dalam caraku pulang.

Dan mungkin itulah alasan kasih seorang ibu disebut sepanjang masa.

Karena ia tidak berakhir ketika seorang ibu pergi. Ia hanya berpindah. Dari tangan yang pernah menggenggam kita... ke hati yang akan membawa genggaman itu seumur hidup.

Untuk Ibu.

Yang dulu selalu menungguku pulang.

Dan yang akhirnya membuatku mengerti, ke mana pun seorang anak pergi, rumah pertamanya akan selalu bernama Ibu.
*****
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen