Malam di kota ini tidak pernah benar-benar mati, Bu.
Jam dinding digital murah yang kubeli di emperan jalan menunjukkan pukul dua dini hari, tetapi di luar, deru mesin sepeda motor sesekali masih merobek hening.
Lampu neon merah-biru dari minimarket di seberang gang memantul pada kaca jendela kos yang kusam, membiaskan bayangan samar seorang anak muda yang kini memandangi telapak tangannya sendiri.
Tangan yang makin kasar, dengan garis-garis kulit yang kering.
Aku duduk di tepi kasur busa yang sudah menipis ini... membisu, sementara kipas angin gantung berderit pelan memutarkan udara panas yang melembabkan kening. Di kamar seluas tiga kali empat meter ini, aku akhirnya menyadari satu hal yang teramat dingin.
Aku kini sebatang kara.
Tiga tahun lalu, saat aku mengemas kardus-kardus bekas untuk membawa nasib ke Jakarta, Ibu berdiri di pintu dapur dengan celemek yang warnanya sudah memudar. Jemari Ibu yang kaku memegang kantong plastik hitam berisi tiga susun rantang aluminium.
“Jangan lupa nanti dimakan di bus ya, Le."
"Nanti perutmu kembung kalau kemasukan angin.”
Suara Ibu pelan, hampir tenggelam oleh deru mesin travel yang meraung di ujung gang. Waktu itu, aku hanya mengangguk cepat, menggeser tali ranselku, bahkan tanpa sempat memeluknya dengan benar.
Pikiran anakmu ini sudah melayang jauh, mendahului bus yang akan membawaku menyeberangi kota-kota.
Aku membayangkan gedung-gedung pencakar langit yang tegak menantang awan, gaji pertama dengan angka yang belum pernah kulihat sebelumnya, dan rasa bangga yang ingin kupamerkan pada dunia.
Aku merasa sedang terbang meninggalkan kampung kita yang lambat dan sunyi.
Aku tidak tahu, Bu, bahwa hari itu aku sedang menukar satu-satunya pelukan paling tulus di dunia dengan tumpukan tagihan, debu aspal, dan semen keras ibu kota.
Jakarta ternyata tidak pernah peduli pada mimpi seorang anak dari kampung.
Kota ini adalah mesin raksasa yang mengunyah tubuh-tubuh lelah dan meludahkan mereka kembali ke trotoar setiap kali jam kerja usai.
Di sini, tidak ada orang yang peduli apakah mataku merah karena kurang tidur, atau apakah lambungku menggelegak karena seharian hanya terisi kopi sasetan dan mi instan murahan.
Di sini, orang-orang berjalan tergesa-gesa seolah-olah sedang dikejar masa lalu mereka sendiri, dan lama-kelamaan, aku pun menjadi salah satu bagian dari mereka.
Aku menjadi asing bagi diriku sendiri, Bu...
Dan yang paling mengerikan, aku menjadi anak yang selalu punya alasan untuk mematikan telepon.
"Nanti aku telepon balik ya, Bu, ini lagi rapat sama atasan..."
Kalimat itu pasti menjadi kalimat yang paling sering Ibu dengar dariku selama dua tahun terakhir hidupnya.
Sekarang, setiap kali ingatan tentang pesan suara yang Ibu kirimkan di malam-malam dingin itu mencuat, dadaku rasanya seperti dihantam godam tumpul.
Suara Ibu yang sedikit gemetar, menanyakan apakah gajiku cukup untuk makan enak, apakah atap kosku bocor saat hujan turun, atau sekadar memberitahu bahwa kucing liar yang dulu sering kuberi makan di samping rumah baru saja melahirkan anak tiga.
Hal-hal kecil.
Hal-hal sederhana yang waktu itu kutinggalkan dengan desahan napas jengkel karena menganggapnya mengganggu konsentrasiku menyusun laporan pekerjaan.
Maafkan aku, Bu... Maafkan anakmu yang terlampau sombong ini.
Aku mengira masa depan bisa ditata dengan garis lurus yang rapi.
Aku berpikir bahwa aku bisa menundukkan kota ini dulu, mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, lalu kembali padamu membawa kemenangan.
Aku lupa bahwa waktu tidak pernah bernegosiasi dengan manusia.
Sementara aku sibuk berlari mengejar angka-angka kosong di atas layar komputer, tubuh Ibu perlahan-lahan menyerah pada usia dan penyakit yang selalu Ibu sembunyikan rapat-rapat di balik senyuman. Ibu tidak pernah mau membebaniku, sementara aku terlalu buta untuk melihat bahwa langkahmu makin hari makin berat.
Malam itu ketika telepon dari Budhe masuk pukul tiga pagi, hampir persis dengan jam saat aku terduduk menuliskan monolog ini... duniaku runtuh tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Budhe hanya menangis sesenggukan di ujung telepon, dan tanpa perlu dia mengucapkan sepatah kata pun, aku sudah tahu bahwa pintu pulangku telah dikunci selamanya.
Momen itu, Bu, udara di kamar kos ini mendadak hilang. Aku berusaha bernapas, tapi paru-paruku serasa disumpal pasir basah.
Aku berlari keluar mencari travel malam, menerjang gerimis Jakarta yang dingin dan tidak peduli.
Sepanjang perjalanan tujuh jam menuju kampung halaman, aku tidak menangis. Mataku hanya menatap kosong pada jalan tol yang membentang hitam di bawah guyuran hujan.
Aku berdoa pada Tuhan...
Doa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah kusebut dalam sujudku. Meminta agar waktu diputar kembali satu jam saja.
Cuma satu jam.
Aku hanya ingin duduk di samping dipan kayu milik Ibu, memegang jemari Ibu yang keriput, mencium telapak tanganmu yang beraroma minyak kayu putih, dan mengucapkan semua kata maaf yang selama ini tersangkut di tenggorokan.
Tapi ketika aku sampai di rumah tua kita, kain putih itu sudah menutupi wajahmu.
Rumah tua tempat kita dulu menampung air hujan yang bocor terasa begitu luas, hampa, dan mematikan.
Tidak ada bau tumisan kangkung dengan terasi yang biasanya menyambutku di pintu belakang.
Tidak ada lagi suara sandal jepit karet Ibu yang terseret pelan di lantai semen.
Yang ada hanyalah aroma bunga kantil dan aroma tanah basah dari halaman.
Saat aku berlutut di samping jasadmu dan mencium keningmu yang sudah dingin seperti batu sungai, aku sadar bahwa separuh dari jiwaku telah ikut terkubur bersama Ibu.
Yang kembali ke Jakarta seminggu kemudian hanyalah cangkang dari seorang anak lelaki yang terlambat menyadari bahwa dunia tanpa ibu hanyalah ruang tunggu yang amat sangat sepi.
Kini, sudah enam bulan berlalu sejak tanah merah itu merapatkan diri di atas dada Ibu.
Dan aku masih di sini, berjuang sendirian di perantauan ini.
Bukan karena aku mencintai kota ini, Bu.
Tapi karena aku tidak tahu harus lari ke mana lagi.
Di sini, setiap sudut menyimpan gema rasa bersalahku.
Sarung motif kotak-kotak milik Ibu yang sempat kubawa dari lemari tua di rumah, kini terlipat rapi di atas bantal busaku. Setiap kali malam terasa terlalu pekat dan kepalaku hampir pecah oleh tekanan kerjaan dan kesepian yang menghimpit, aku akan membenamkan wajahku ke dalam kain sarung itu. Aku menghirup sisa-sisa aroma tubuhmu yang seolah masih tertinggal di selipan benangnya.
Itu adalah satu-satunya tabung oksigenku di tengah atmosfer kota yang makin hari makin mencekik.
Orang-orang di kantor melihatku sebagai karyawan yang tekun dan pendiam.
Mereka memujiku karena aku selalu sukarela mengambil jam lembur di akhir pekan, karena aku tidak pernah mengeluh saat tenggat waktu dimajukan, atau karena aku jarang sekali bergabung saat mereka bergosip di kantin.
Mereka pikir aku sedang membakar ambisi untuk mengejar promosi jabatan atau mengincar posisi tinggi.
Mereka tidak tahu, Bu...
Mereka tidak pernah tahu bahwa aku bekerja seperti orang kesetanan hanya karena aku takut pada ketenangan.
Ketenangan adalah musuh terbesarku sekarang. Saat ruangan hening dan pekerjaanku selesai, bayangan wajah Ibu saat menunggu teleponku akan hadir dan membedah isi dadaku tanpa belas kasihan. Sepi membuatku mendengar kembali desah napas Ibu yang menahan sakit di telepon tanpa pernah kuberi perhatian lebih.
Uang yang dulu ingin kukumpulkan untuk membelikan Ibu tempat tidur yang lebih empuk, untuk membawamu berobat ke spesialis terbaik di kota kabupaten, atau sekadar mengajakmu melihat laut yang belum pernah Ibu saksikan seumur hidup... sekarang menumpuk tak berguna di rekening bankku.
Setiap kali aku menerima pemberitahuan gaji masuk di awal bulan, rasanya seperti menerima paket berharga yang alamat tujuannya telah hilang dihanyutkan banjir.
Untuk apa semua ini sekarang, Bu?
Untuk siapa aku membanting tulang hingga tulang punggungku rasanya mau patah setiap malam?
Lalu aku teringat pada satu ucapan Ibu waktu aku masih SMA, saat kita duduk di teras rumah sambil mengupas mangga muda yang jatuh tertiup angin malam. Ibu pernah berkata, “Nak... kalau nanti Ibu sudah tidak ada, kamu harus tetap hidup yang baik. Bukan cuma buat dirimu, tapi buat menjaga doa-doa yang sudah Ibu tanam di dalam tubuhmu.”
Kata-kata itu baru menemukan bentuk utuhnya sekarang.
Setiap keringat yang menetes dari dahiku di kota yang asing ini, setiap rasa sakit yang kutelan sendirian tanpa mengeluh, dan setiap rupiah yang kusisihkan untuk kubagikan pada anak-anak panti asuhan di ujung gang kosan ini... semuanya kini menjadi caraku untuk menyapamu.
Aku tidak lagi bekerja untuk mengejar kejayaan pribadi atau mendapat tepuk tangan dari dunia yang dangkal ini.
Semua yang kulakukan sekarang, dari hembusan napas terkecil hingga perjuangan terberatku bertahan hidup di ibu kota, adalah khusus untuk Ibu.
Ini adalah monumen sunyi yang kubangun di dalam dadaku untuk menghormati setiap tetes air susu, setiap peluh, dan setiap doa malam yang pernah Ibu kucurkan untuk anakmu yang tidak tahu diri ini.
Tunggu aku dengan tenang di sana ya, Bu.
Jangan khawatirkan anakmu yang ringkih ini lagi.
Meskipun sekarang aku harus berjalan sebatang kara, menyusuri trotoar Jakarta yang berdebu tanpa ada lagi tempat untuk pulang dan mengadu, aku tidak akan menyerah.
Aku akan tetap berdiri tegap.
Aku akan menjadi anak laki-laki yang jujur dan baik, seperti yang selalu Ibu impikan saat menimangku di bawah lampu minyak puluhan tahun lalu.
Maafkan aku atas setiap detik waktu yang kubuang tanpa menyayangimu dengan layak.
Maafkan aku atas setiap panggilan telepon yang tak sempat terangkat.
Malam semakin surut, Bu...
Warna pekat di luar jendela perlahan-lahan berganti menjadi abu-abu fajar yang dingin. Suara azan subuh mulai bersahut-sahutan dari toa masjid di kejauhan, menembus dinding-dinding kos yang lembab.
Aku akan mematikan lampu meja ini, melipat sarungmu dengan penuh kehati-hatian, dan bersiap memakai sepatu untuk menghadapi kota ini sekali lagi.
Kerinduan ini mungkin tidak akan pernah berkurang satu senti pun, tapi aku telah belajar untuk menjadikan rasa sakit ini sebagai jalan untuk terus melangkah.
Selamat tidur, Bu.
Sampai kita bertemu lagi di tempat yang tidak memiliki jarak, tidak memiliki jam kerja, dan tidak ada lagi kata perpisahan.

