CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Sudah Ma'em?
Sudah Ma'em?

Sudah Ma'em?

oleh ANINDYA
CerpenGratis5 menit baca11 dibacaJFMM Participant

Aku memanggilnya Mamah. Ia pun menyebut dirinya demikian ketika berbicara denganku, sehingga aku terbiasa menyapa orang lain dengan sebutan yang terasa lebih hangat daripada sekadar “kau” atau “kamu”.

Mamahku tidak pintar. Ia lahir tahun 1950-an, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. Sekolah rakyat hanya sampai kelas lima. Setelah itu ia mulai pusing dengan Matematika —atau, kata Mamah, dulu namanya Berhitung— lalu berhenti sekolah pada pertengahan tahun berikutnya. Selanjutnya Mamah selalu pusing setiap kali berpikir terlalu rumit.

Mamahku juga pendek. Tingginya hanya 138 sentimeter. Daster kutung dari pasar yang dipakainya sehari-hari selalu melewati proses permak.

Kalau berdiri di sampingku sekarang, kepalanya bahkan tidak sampai bahuku.

Dulu, ketika aku mulai puber dan merasa sudah cukup besar, aku sering meledeknya karena Mamah harus berjinjit setiap kali ingin mencium pipiku.

Aku ikut berjinjit.

Habis itu mamah menjewer telingaku.

Memang aku tidak pernah menang melawan Mamah.

Kadang aku juga tidak habis pikir, apa yang sebenarnya ditertawakan Mamah ketika membuka ember beras yang sudah dikeruk sampai dalam. Atau ketika ia duduk menghadapi catatan yang dibuatnya sendiri dari kertas sisa buku tulis, tentang tagihan listrik, PAM, belanja, sumbangan kampung dan SPP dua anak yang jatuh temponya berurutan.

Kalau bulan ini SPP kakakku dibayar lebih dulu, bulan depan giliran kakak belakangan.

Begitulah cara Mamah mengatur ketika uang yang ada tidak sebanding dengan kebutuhan.

Hanya Papah yang bekerja. Penghasilannya tentu tidak selalu cukup untuk semua keperluan rumah. Kami beberapa kali terbantu keluarga besar Mamah. Aku sendiri beruntung mendapat bantuan dari sebuah yayasan. Kadang mereka memberi tas, alat tulis, bahkan hadiah ulang tahun. Lumayan.

Setelah lulus SMA, aku merantau. Mulai dari pekerjaan administrasi yang merangkap bersih-bersih kantor di bangunan berbentuk ruko. Gaji hanya sedikit di atas UMR. Delapan tahun kemudian, aku berumah tangga, melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri, dan menjadi mamah untuk putri semata wayangku.

Mamahku?

Tentu saja masih menganggap aku adalah baby-nya.

Dulu aku adalah baby boy Mamah yang lucu. Ketika aku berumur sembilan tahun dan mulai menggendut, Mamah memanggilku babi-boy, dua-tiga tahun berikutnya berlanjut menjadi babi teen, dan akhirnya mencapai jabatan tertinggi: babi man.

Sampai sekarang, kalau sedang menelepon dan suara Mamah yang renyah itu terdengar, aku kadang masih menunggu satu panggilan itu keluar. Aku tahu kalimat berikutnya setelah kata “halo” adalah:

“Babi man, udah ma’em?”

Memastikan seseorang makan dengan kenyang adalah caranya bertanya apakah hidup orang itu baik-baik saja.

Kalau mengingat semuanya sekarang, rasanya aneh bahwa pada waktu itu aku tidak pernah merasa sedang menyaksikan sesuatu yang istimewa.

Aku baru memahami bahasa itu setelah cukup lama tinggal jauh dari rumah.

“Udah, mah, Icha ngamuk, masak orak-arik, pakai buncis sama jagung muda segala.”

“Lawuhnya apa?”

“Tahu goreng, nanti malem baru ayam kecap, sekalian buat besok, mah.”

“Salam buat Icha ya... Itu, Rud, mamah kan tadi ke ATM, kok uangnya mamah jadi banyak, Rudi kirimnya berapa? Dobel nggak?”

Aku menyebutkan nominal. Lima kali percakapan kemudian barulah aku tersadar, beberapa kali transfer sebelumnya memang aku jarang berkabar.

Aku bisa membayangkan wajah Mamah saat ini. Mungkin sambil melongo, atau tergopoh-gopoh membuka buku catatannya.

Yang pasti, sambil pakai daster dan tertawa.

Lalu percakapan kami berbelok ke urusan receh yang menurut Mamah jauh lebih penting.

“Kalau Rudi pulang nanti, lewat toko roti yang dulu Rudi bawain mamah itu ndak? Delibret itu, ya? Mamah mau, belikno yang semir aja satu.”

“Iya, mah. Nia juga suka rotinya Daily Bread. Yang keju-keju. Mamah nanti Rudi beliin dua.”

“Hii... emoh mamah. Bikin congek...”

“...lembek,” kataku dan Mamah bersamaan. Kemudian tertawa lagi.

“Nanti ngiras di bakso pak No, daerah Jatisari. Enak itu, tetelannya banyak. Rudi bawa mobil to?”

Mamah menyebutnya ngiras, istilahnya untuk makan di tempat. Aku yakin sampai sana nanti, Mamah hanya akan makan bihun dan kuahnya. Baksonya dimakan paling banyak tiga butir, selebihnya minta dibungkusin. Besoknya bakal diolah lagi, ditambahin kentang, jadi oseng-oseng.

Rencana makan bakso yang belum kesampaian sudah berubah menjadi bekal untuk perjalanan balik ke perantauan. Aku berangkat mudik aja masih bulan depan.

“Mamah mau ngomong sama cucu cantik.”

Aku memberikan telepon kepada putriku.

“Haloo... Cucu Eyang udah ma’em?”

Nia yang sejak tadi duduk di sampingku langsung mengangguk-angguk. Wajahnya serius.

“Ngomong sama Eyang,” kataku. “Ini telepon biasa, bukan video call. Eyang nggak bisa lihat Nia.”

Nia memegang telepon dengan satu tangannya, menarik nafas dan mulai bicara, “Iyaa... awoaweawiya... haa?”

Dari seberang terdengar suara Mamah tertawa. Mamah masih memanggil-manggil dari seberang, sementara putriku membawa HP sambil berlarian melintasi ruang tamu dan dapur.

“Nia ma’em apa?”

“Oyokoyokoyok...”

Lima menit kemudian, kembali mamah tanya bagaimana cara mematikan HP. Aku menjelaskannya lagi, pencet tombol merah, atau aku yang mematikannya duluan. Mamah memilih yang kedua.

Nia menarik-narik celana panjangku. “Mam-mah,” katanya.

Aku menoleh ke pintu depan, istriku belum pulang dari pabrik.

“Nia mau ma’em? Papah ambilin ya?”

“Maem-mah,” jawab putriku sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.


Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen