Aku sempat berpikir untuk bertanya langsung kepada Bunda, tapi niat itu kembali hilang ketika mendengar suara mesin jahit dari kamar sebelah.
Bunda sedang menjahit lagi. Entah baju siapa kali ini. Aku berjalan menghampiri kamarnya dan mengetuk pintu dua kali “Bun?” Tidak ada jawaban. Aku membuka pintu perlahan dan menemukan Bunda sedang duduk di depan mesin jahit. Kain berwarna putih berada di pangkuannya, sementara beberapa benang warna-warni berserakan di lantai. “Bunda lagi jahit apa?” Bunda menoleh dan tersenyum “Baju kamu.” Aku melihat kain putih yang ada ditangannya “Loh, itu kan bukan baju aku.” Bunda melihat kain itu, lalu tertawa kecil “Iya ya?” Aku ikut tertawa. “Bunda kenapa sih akhir-akhir ini?”
“Kenapa memangnya?”
“Sering lupa.” Jawabku dengan spontan.
Bunda terdiam sebentar. Tangannya kembali memainkan ujung kain yang belum selesai dijahit.
“Bunda cuma capek.” Aku bertanya spontan “Beneran?” Bunda pun menjawabku dengan spontan “Iya.” Aku mengangguk, walaupun sebenarnya masih tidak yakin. Sebelum keluar kamar, mataku tertuju pada sebuah kotak kayu kecil di samping mesin jahit. Kotak itu tidak pernah kulihat sebelumnya “Bun, itu isinya apa?” Bunda langsung menutup kotak tersebut. “Cuma peralatan jahit Bunda.” Mataku menyipit mendengarnya “Kok disimpen di kotak antik segala?” “Bunda suka.” Aku mengangkat bahu. “Aneh.” Bunda hanya tersenyum.
Aku kembali ke kamar dan tidak memikirkan kotak itu lagi. Percakapanku dengan Bunda malam ini terasa tidak seperti biasanya..
Aku terbangun karena haus. Pukul 2.11. Rumah sudah sangat sepi. Ayah mungkin sudah tidur, begitu juga Bunda. Aku berjalan menuju dapur dengan mata yang masih setengah tertutup. Namun ketika melewati ruang tengah, aku melihat cahaya kecil dari kamar Bunda. Pintunya sedikit terbuka.
Aku berhenti. “Bun?” Tidak ada jawaban. Aku mengintip dari celah pintu dan melihat Bunda masih duduk di depan mesin jahit. Jam segini? Bunda sedang memegang salah satu bajuku. Tunik hitam yang tadi malam. “Bunda belum tidur?” Bunda menoleh dengan ekspresi terkejut kecil. Wajahnya terlihat bingung. “Bunda sedang apa?” Bunda tidak langsung menjawab, matanya kembali melihat tunik yang ada di tangannya, kemudian ia berkata pelan,
“Bunda takut lupa.”
Aku terdiam.
“Lupa apa?”
Bunda tersenyum, tapi kali ini senyumnya berbeda.
Seperti sedang berusaha mengingat sesuatu yang sangat jauh “Lupa...” Tangannya mengusap gambar lebah kecil yang terjahit di ujung lengan bajuku. “Lupa kamu.” Dadaku tiba-tiba terasa sesak.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Bunda tertawa kecil, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang lucu “Makanya Bunda jahit.” Aku mendekatinya.
“Bunda nggak akan lupa aku.” Bunda menatapku lama. Kemudian tersenyum “Iya.”
Ia kembali menunduk dan melanjutkan jahitannya.
Aku tidak tahu kenapa malam itu aku tidak bertanya lebih banyak. Mungkin karena aku terlalu takut dengan jawaban yang mungkin akan diberikan Bunda. Atau mungkin karena jauh di dalam hati, aku sudah tahu bahwa sesuatu sedang berubah. Dan untuk pertama kalinya, aku berharap waktu bisa berhenti sedikit lebih lama. Aku tidak tahu kenapa malam itu aku tidak bertanya lebih banyak.
Mungkin karena aku terlalu takut dengan jawaban yang mungkin akan diberikan Bunda. Atau mungkin karena jauh di dalam hati, aku sudah tahu bahwa sesuatu sedang berubah.
---
Keesokan paginya, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Aku bahkan tidak tahu kenapa. Mungkin karena perkataan Bunda semalam masih terus terngiang di kepalaku. Bunda takut lupa.
Aku berjalan menuju dapur dan menemukan Bunda sedang berdiri di depan kompor. Kali ini sarapan sudah tersedia di meja makan, lengkap dengan tiga piring dan teko teh yang biasa ia siapkan “Pagi, Bun." Bunda menoleh sambil tersenyum. Tangannya masih memegang spatula. “Tumben kamu bangun pagi.” Aku menarik kursi dan duduk di meja makan.
“Semalam Bunda tidur jam berapa?” Bunda mematikan kompor lalu membawa telur dadar ke meja “Lupa.” Aku tertawa kecil. “Bunda sekarang sering banget lupa.” Bunda ikut tertawa, tapi tidak lama. Ia hanya duduk di hadapanku sambil menuangkan teh ke dalam gelas. Aku memperhatikannya sebentar. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Bunda tersenyum akhir-akhir ini. Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi selalu ditahan.
“Bun.”
“Hm?”
“Bunda sakit?” Tangannya berhenti menuangkan teh “Enggak.”
“Terus kenapa akhir-akhir ini sering lupa?” Bunda meletakkan teko perlahan.
“Bunda cuma capek, Kafa.”
Aku mengangguk. “Kalau capek bilang. Jangan dipaksain.” Bunda tersenyum sambil mengusap kepalaku “Iya, anak Bunda." Aku tersenyum kecil.
Panggilan itu sederhana, tapi entah kenapa pagi itu terasa berbeda.
Beberapa hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Aku kuliah, mengerjakan tugas bersama Sonya. Bunda di rumah. Ayah sibuk dengan bengkel.
Namun semakin hari, aku semakin sering menemukan hal-hal kecil yang aneh. Suatu sore aku pulang dan melihat Bunda sedang mencari sesuatu di dapur “Cari apa, Bun?” Bunda membuka laci satu persatu “Sendok.” Aku menunjuk meja makan “Di situ, Bun” Bunda menoleh “Oh.” Ia tertawa kecil lalu mengambil sendok yang ada di meja “Bunda kira belum dicuci.” Raut wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu. Aku hanya tersenyum.
“Bunda benar-benar harus istirahat lebih banyak.”
Bunda mengangguk.
Ketika aku berjalan menuju kamar, aku teringat sesuatu yang ada dibajuku. Sebuah gambar sendok kecil terjahit di bagian bawah tunik. Aku berhenti.
Aku menyentuh jahitan itu dengan ujung jari.
Sendok.
Kenapa sendok?
Aku langsung kembali ke dapur “Bun.” Bunda sedang mencuci piring menoleh kearahku “Iya?”
“Kenapa Bunda suka banget jahit gambar-gambar aneh di bajuku?” Bunda berhenti menggosok piring.
“Gambar apa?” Aku menunjuk tunikku “Ini. Sendok.”
Bunda menatap gambar itu, kemudian tersenyum.
“Lucu.”
“Bukan itu maksudku.”
Aku mendekat dan menunjukkan bagian lain dari bajuku “Ini bunga. Ini pisang. Kemarin ada lebah. Sekarang sendok. Memangnya semua itu ada artinya?” Bunda kembali mencuci piring “Iya.”
“Artinya apa?” Bunda diam cukup lama lalu mendengus lembut “Bunda lupa.” Aku menatap punggungnya, entah kenapa jawaban itu membuatku tidak bisa tertawa.
Malamnya, aku inisiatif bertanya kepada Ayah. Kami sedang duduk di teras rumah. Ayah baru selesai memperbaiki sebuah mobil dan tangannya masih kotor oleh oli.
“Ayah.” Ayah mengusap tangannya menggunakan kain lap dengan wajah yang sedikit kelelahan “Iya?”
“Bunda kenapa?” Ayah tidak langsung menjawab, Ayah menghampiri dan duduk dikursi sebelahku dan menatap jalanan di depan rumah.
“Kenapa memangnya?”
“Bunda sering lupa.” Ayah menarik napas panjang.
“Kafa.” Aku memandangnya. Wajahku sedikit menegang namun santai “Bunda sakit, ya?” Ayah menundukkan kepala. Aku tahu jawabannya bahkan sebelum ia mengatakannya.
“Bunda sudah periksa ke dokter beberapa waktu lalu.” Aku meremas ujung bajuku, ada sensasi hangat dari dada meluas keseluruh tubuhku.
“Terus?”
“Dokter bilang ada kemungkinan ingatannya akan semakin menurun.” Aku terdiam “Semakin menurun itu maksudnya apa?” Ayah mengusap wajahnya.
“Bunda bisa lupa banyak hal.”
"Seperti apa?” Ayah menatapku, wajahnya terlihat serius tapi tenang “Bisa lupa tempat. Bisa lupa kejadian. Bisa lupa nama orang.”
Aku menelan ludah. “Bisa lupa aku?” Ayah tidak menjawab. Dan dari diamnya, aku sudah mendapatkan jawabanku. Spontan aku berdiri dari kursi “Ayah kenapa nggak pernah bilang?” -- “Kami tidak ingin kamu khawatir.” -- “Aku anaknya, Yah.” Suaraku mulai bergetar, aku tidak ingin menangis. Tidak sekarang. Namun sepertinya tubuhku tak bisa melawan itu. Aku kesal. Aku marah. Aku sedih. “Aku berhak tahu.” Ayah menatapku dengan mata yang lelah “Ayah tahu.” Ia menepuk kursi di sebelahnya, memintaku duduk kembali “Bunda yang minta jangan bilang kamu dulu.” Aku menggeleng tidak percaya “Kenapa?” Tanyaku dengan suara lirih “Karena Bunda takut kamu melihatnya sebagai orang sakit.” Aku hanya menunduk lemas.
Air mataku mulai jatuh tanpa izin. Padahal selama ini aku hanya mengira Bunda sedang kelelahan. Ternyata setiap kali ia lupa, ia sedang kehilangan sedikit demi sedikit bagian dari dirinya sendiri.
Dan aku bahkan tidak menyadarinya. Sejak malam itu, aku mulai memperhatikan semua jahitan di bajuku. Aku mengambil satu persatu pakaian yang pernah dijahit Bunda. Seragam SD, seragam SMP, kemeja putih, tunik hitam bahkan jaket yang sudah lama tidak pernah kupakai.
Semuanya memiliki motif kecil yang berbeda.
Ada bunga. Ada sendok. Ada pisang. Ada lebah. Ada sepeda. Ada rumah, dan berbagai bentuk lain.
Aku tidak mengerti. Sampai akhirnya aku menemukan kotak kayu antik milik Bunda yang selama ini ia sembunyikan di bawah meja jahit. Aku membukanya perlahan.. Di dalamnya adapotongan-potongan kain rajutan kecil. Aku mengambil satu potongan itu. Ada gambar pisang. Di bawahnya terdapat tulisan tangan Bunda.
Kafa umur tujuh tahun. Pertama kali membuat pisang goreng sendiri. Tepungnya berhamburan satu dapur.
Aku tersenyum, air mataku mulai jatuh sedikit demi sedikit. Potongan kain berikutnya memiliki gambar sepeda.
Kafa belajar naik sepeda. Jatuh tiga kali. Tetap bilang tidak sakit.
Aku mengambil kain berikutnya. Ada gambar bunga.
Kafa pulang membawa bunga. Katanya untuk Bunda, tapi bunganya hasil mengambil dari taman tetangga.
Aku tertawa kecil, air mataku semakin banyak. Aku terus membuka satu per satu, setiap rajutan kecil memiliki cerita. Cerita tentangku. Cerita yang bahkan sudah hampir tidak kuingat. Lalu di bagian paling bawah, ada sebuah kain kecil berwarna putih.
Tidak ada gambar, tidak ada tulisan, aku membaliknya.
Kosong.
Hanya ada bekas tusukan jarum di salah satu ujungnya. Tanpa berfikir jauh aku membawanya ke Bunda untuk bertanya “Bun.” Bunda sedang duduk di depan mesin jahit lalu menoleh “Iya?” Aku menunjukkan kain yang kubawa “Ini buat apa?”
Bunda melihatnya cukup lama, kemudian menggeleng “Bunda tidak tahu.” Bunda menjawab dengan wajah polos “Ini punya Bunda?” Bunda mengangguk, lalu aku duduk di sebelahnya.
“Kenapa Bunda jahit semua ini?” Bunda menatap potongan-potongan kain yang ada di tanganku.
“Karena Bunda takut lupa.” Aku menahan napas.
“Takut lupa apa?” Bunda tersenyum “Kamu.”
Aku langsung menangis tapi Bunda justru terlihat bingung “Kenapa menangis?” Aku menggeleng sambil menghapus air mata “Enggak apa-apa.”
Bunda mengusap pipiku dengan senyuman hangat diwajahnya, seperti biasa “Jangan menangis.” Aku menggenggam tangannya “Bunda masih ingat aku sekarang?” Bunda tersenyum “Masih dong.”
“Namaku siapa?”
Bunda terdiam sebentar, matanya menyipit dengan senyum yang tipis “Kafa.” Aku tertawa kecil di antara tangis “Bagus, Bun” Bunda ikut tertawa.
Setelah hari itu, aku mulai membantu Bunda menjahit. Awalnya hanya hal kecil, memasukkan benang, mengambil jarum, memotong kain.
Bunda masih menjadi orang yang menentukan motifnya. Suatu malam, ia menunjuk kain berwarna kuning “Yang ini lebah.” Aku mengambil benang hitam “Kenapa lebah?” Bunda mengerutkan kening dengan senyum dibibirnya “Entah.” Aku tersenyum, wajahku menunduk melihat gambar itu “Pasti ada ceritanya ya, Bun.” Bunda memandangku beberapa detik “Mungkin.” Aku menjahit gambar lebah kecil di kain itu. Bunda memperhatikanku
“Kamu sudah pintar menjahit.” -- “Belajar dari siapa?” Bunda tertawa kecil “Dari Bunda.” Jawabku sambil menatap wajahnya yang sedikit demi sedikit seperti kehilangan dirinya yang dulu..
“Kalau nanti Bunda lupa caranya, aku yang ingetin.”
Bunda tidak menjawab, Ia hanya tersenyum sambil memegang tanganku.
Waktu berjalan lebih cepat dari yang kuinginkan.
Bunda mulai lupa lebih banyak hal, awalnya hanya lupa nama tetangga, kemudian resep masakannya sendiri, lalu beberapa ruangan di rumah.
Suatu hari ia bahkan bertanya kepada Ayah kenapa ada perempuan asing di ruang tengah. Perempuan itu adalah aku.
Aku tidak menangis saat itu. Aku hanya berjalan ke kamar dan menutup pintu. Aku duduk di lantai sambil memandangi semua pakaian yang pernah dijahit Bunda, aku ingin marah. Aku ingin mengatakan bahwa aku adalah anaknya. Aku ingin Bunda mengingat ulang tahun pertamaku, hari pertama sekolah, hari aku masuk universitas, semua hal yang pernah kami lalui. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa Bunda tidak memilih untuk melupakanku. Ia hanya tidak bisa mempertahankan semua kenangan itu.
Malam itu aku mengambil kain putih yang dulu kutemukan di dalam kotak jahit Bunda. Aku duduk di depan mesin jahit. Untuk pertama kalinya, aku mencoba menjahit sesuatu sendiri. Tanganku beberapa kali tertusuk jarum. Benangnya kusut.
Gambarnya juga tidak sebagus jahitan Bunda.
Tapi aku terus mencoba, aku membuat sebuah lebah kecil. Tidak sempurna, namun cukup mirip dengan gambar yang pernah Bunda jahit di bajuku.
Setelah selesai, aku membawanya ke kamar Bunda.
Ternyata Bunda sedang tidur, aku meletakkan kain itu di meja samping tempat tidurnya.
Besok paginya, Bunda sudah bangun ketika aku masuk, Ia memegang kain itu “Ini apa?” Aku duduk di sampingnya “Lebah.” Aku menjawab dengan nada ceria “Kenapa?” Aku tersenyum “Karena Bunda pernah menjahit lebah di bajuku.” Bunda menatap kain itu cukup lama “Memangnya Bunda pernah?" Aku mengangguk “Banyak banget.” Bunda tersenyum kecil “Kenapa?” Aku menggenggam tangannya dengan lembut “Katanya supaya aku nggak lupa.” Bunda tiba-tiba menggeleng “Bukan.” Aku menatapnya dengan rasa sedikit terkejut “Bukan?” Bunda menggeleng lagi. “Supaya Bunda nggak lupa.” Aku terdiam, lalu aku tertawa kecil sambil menahan tangis “Iya, Bun.” Aku memeluknya.
“Kalau begitu sekarang gantian.” Bunda membalas pelukanku meskipun mungkin ia tidak benar-benar tahu siapa yang sedang dipeluknya.
Aku tidak lagi mempermasalahkannya. Karena untuk pertama kalinya aku mengerti. Selama ini aku kira Bunda menjahit kenangan supaya aku bisa menyimpannya, ternyata ia sedang berusaha menyelamatkan kenangannya sendiri. Beberapa bulan kemudian, aku kembali menemukan tunik hitam yang dulu penuh dengan gambar-gambar kecil. Pisang. Bunga. Sendok. Lebah. Aku tersenyum melihat semuanya, dulu aku mengira bajuku terlihat aneh. Sekarang aku justru tidak ingin satu pun jahitan itu hilang.
Aku mengambil jarum dan benang. Lalu menjahit satu motif baru di bagian dalam bajuku. Tidak besar
tidak juga indah dan mencolok seperti jahitan Bunda. Hanya sebuah tulisan kecil.
Bunda.
Aku menatapnya cukup lama. Mungkin suatu hari nanti aku juga akan lupa beberapa hal. Mungkin aku akan lupa suara Bunda ketika memanggil namaku.
Mungkin aku akan lupa rasa pisang goreng buatannya. Mungkin aku akan lupa bagaimana rasanya duduk di sampingnya sambil melihat televisi. Tapi aku tahu satu hal.
Aku tidak akan membiarkan kenangan itu hilang begitu saja. Karena sekarang, kalau Bunda sudah tidak mampu mengingatku lagi, aku yang akan mengingatnya untuk kami berdua. Dan mungkin, itulah alasan sebenarnya kenapa sejak dulu Bunda selalu menjahit sesuatu ke dalam pakaian-pakaianku. Bukan agar aku tidak lupa. Melainkan agar suatu hari nanti, ketika ingatannya benar-benar habis, masih ada sesuatu yang bisa kami pegang.
Sesuatu yang pernah ia jahit dengan tangannya sendiri. Sesuatu yang mengatakan bahwa...
aku pernah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya.


