Cerpen351 kata

Short Story #1: Cukup

b

billy

Sekali duduk selesai

6 Oktober 2026

Mulai membaca

Yudi menyimpan ponselnya di meja. Ia baru saja menutup aplikasi perbankan setelah beberapa kali mengecek saldonya.

Harusnya cukup. Katanya dalam hati. Cukup harusnya. Ia mengulang.

Yudi kemudian melihat keluar jendela. Menunggu. Kedai kopi siang itu mungkin terasa damai dengan lantunan musik, tapi pikirannya sedang ramai.

Bima terlihat masuk melewati pintu kedai kopi. Ia melewati konter pesanan, lalu langsung duduk di kursi dekat Yudi.

"Udah lama?" tanya Bima.

"Kira-kira setengah gelas lah." jawab Yudi.

"Bentar lah itu."

"Trus gimana?" Yudi langsung bertanya tanpa basa-basi.

Ekspresi Bima langsung serius seperti kakaknya.

"Udah kelar semua, sidang, revisi, ngumpulinnya. Tinggal wisuda aja palingan."

"Udah nyari kerja?"

"Udah dapet malah."

"Kapan mulai?" Yudi menyelidiki.

"Awal bulan depan."

"Cepet juga. Semingguan lagi."

"Iya, tapi kayanya mau ambil kerjaan yang mulainya bulan depannya lagi." Bima memberitahu.

"Emang kerja apa? Berapa gajinya?" Yudi langsung merespon, "Inget deal-deal-an kita lho."

"Aku inget. Perkiraan aku sih harusnya cukup, sesuai kesepakatan kita."

"Tapi?" Yudi langsung menebak.

"Tapi ya kerjaannya ga sesuai ijazah, ga sama kaya' mas Yudi lah."

"Trus ngapain diambil? Tau sendiri kan kondisi ekonomi keluarga kita gimana? Bapak, Ibu, dan adik-adik."

"Ya aku tau. Tapi kan ini hidup aku." Bima membela diri.

"Ya kamu pikir selama ini aku jalanin hidup semua-semua sesuai maunya aku? Kamu pikir semua kerjaan keluar kota, lembur wiken itu karena emang aku mau?"

"Aku kan ga pernah minta mas buat begitu."

"Emang, tapi kan mas tau diri, kebutuhan kamu, kebutuhan Bapak, Ibu, adik-adik." nada suara Yudi mulai meninggi, "Mas juga ada pengen ngapain kek."

"Trus kenapa ga diwujudin pengennya mas? Kenapa aku harus terima akibat dari apa yang mas ga pilih? Kenapa aku harus ngerjain apa yang mas kerjain juga?"

"Karena udah terbukti itu cukup."

"Apakah cukup saja cukup?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Yudi diam sejenak. Telinganya panas, ia ingin sekali berteriak, ingin marah.

"Seumur hidup tuh mas udah berusaha kasih contoh buat kamu. Mas seumur hidup berusaha ga gagal, karena jadi mas itu ga boleh gagal."

Sekarang giliran Bima yang ingin sekali teriak, ingin marah. Hatinya sesak. Ia sudah hendak menjawab dengan penuh emosi. Apa sekalian saja? Toh, selama ini aku sudah dikenal sebagai si paling pemarah. Pikiran Bima berkecamuk.

"Aku seumur hidup apa-apa harus seperti mas, sekolah, prestasi, bahkan pilihan baju. Kenapa sekarang ketika aku punya kesempatan pilihan untuk menjadi aku sendiri, mas ga bisa terima?"