Wangi Gitaswara
Sekali duduk selesai
3 Oktober 2026
Mulai membaca
Ketika pertama kali datang ke Jakarta, Niken membawa satu koper, sebuah sertifikat sekolah memasak, dan uang dua juta tiga ratus ribu rupiah. Ia menghitung uang itu tiga kali selama perjalanan dari Bandung, lalu menyimpannya kembali ke dompet dengan perasaan lega. Menurut hitungannya, uang itu cukup untuk membayar kamar kos, makan, ongkos, dan sedikit ruang untuk gagal.
Ia belum tahu bahwa yang terakhir akan memakan paling banyak.
Lima tahun kemudian, Niken masih tinggal di Jakarta. Hanya saja koper yang dibawanya dulu sudah tidak ada. Sertifikat sekolah memasaknya terselip entah di mana, mungkin diantara buku-buku resep yang sudah lama tidak dibuka. Yang tersisa adalah kamar kos sempit di Palmerah, sebuah kompor listrik di dekat jendela, dan saldo rekening seratus tiga puluh tujuh ribu rupiah.
Besok tanggal lima, dan pemilik kos sudah mengirim pesan sejak pagi.
Jangan lupa uang kosnya, Nik.
Niken membaca pesan itu sambil memandangi dua bungkus nasi di atas meja. Satu untuk makan siang, satu lagi untuk malam. Ia sebenarnya ingin membeli lauk yang lebih murah di warung depan gang, tetapi pagi tadi ia sudah terlambat berangkat dan tidak sempat sarapan. Jadi ia membeli dua nasi bungkus sekaligus, dengan harapan uang yang tersisa cukup sampai akhir minggu.
Ponselnya bergetar lagi.
Kali ini nama yang muncul adalah Ibu.
Niken membiarkannya berdering.
Ia tahu apa yang akan ditanyakan.
Sudah makan? Kerja bagaimana? Kapan pulang?
Pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, tetapi belakangan terasa seperti ujian yang tidak pernah berhasil ia lewati.
Telepon itu berhenti sendiri. Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.
Sudah makan?
Niken mengetik sudah, lalu meletakkan ponselnya di bawah bantal.
Baru setelah itu ia membuka bungkus nasi.
Tempat Niken bekerja berada di sebuah rumah petak di gang yang tidak terlalu jauh dari jalan besar. Dari luar, tidak ada yang tampak istimewa. Papan nama kecil tergantung di depan pintu dengan tulisan:
SATU PORSI RUMAH
Di bawahnya ada kalimat yang menurut Niken dulu terlalu sentimental untuk sebuah usaha makanan:
Masakan untuk kamu yang sedang jauh dari rumah.
Sekarang ia sudah terbiasa.
Tempat itu memang dibuat untuk orang-orang seperti dirinya, meskipun kebanyakan pelanggan datang hanya untuk beberapa jam sebelum kembali ke kamar kos, apartemen, pabrik, kampus, atau kantor mereka masing-masing.
Dapurnya kecil. Kalau dua orang berdiri terlalu dekat, siku mereka bisa saling bertabrakan. Pagi hari selalu dimulai dengan suara minyak mendesis, pisau mengetuk talenan, dan motor yang sesekali lewat terlalu dekat dengan pintu.
Niken menyukai tempat itu.
Bukan karena gajinya besar.
Justru karena di sana ia merasa pekerjaannya masih ada hubungannya dengan alasan ia datang ke Jakarta lima tahun lalu.
Ia memasak.
Hanya saja bukan di restoran besar seperti yang dulu ia bayangkan.
Mereka datang membawa permintaan yang aneh-aneh.
Seorang mahasiswa pernah meminta sayur bening yang kuahnya dibuat lebih banyak daripada sayurnya karena begitu cara ibunya memasak ketika ia demam. Seorang perempuan dari Makassar memesan ikan yang digoreng sampai kering karena, katanya, hanya bau minyak yang terlalu panas yang bisa membuatnya merasa sedang berada di dapur rumah. Ada pula seorang laki-laki yang selama tiga minggu berturut-turut hanya memesan nasi putih, telur dadar, dan sambal terasi.
Niken belajar bahwa orang-orang jarang merindukan makanan yang istimewa. Mereka merindukan hal-hal yang dulu dianggap terlalu biasa untuk diingat.
Pagi itu seorang mahasiswa memesan telur dadar dengan pinggiran gosong.
“Gosongnya seberapa?” tanya Niken.
“Yang sampai hitam sedikit.”
“Bawangnya?”
“Banyak.”
“Garam?”
Anak itu berpikir sebentar.
“Agak asin.”
Niken mengangguk. Ia sudah mengerti.
Dua puluh menit kemudian, anak itu duduk di meja dekat jendela. Niken melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali melihat dari sudut mata.
Setelah suapan pertama, anak itu berhenti.
Ia tidak menangis, tetapi wajahnya berubah seperti seseorang yang baru saja membuka pintu ke sebuah ruangan yang sudah lama dikunci.
“Persis,” katanya.
Niken tersenyum kecil. “Masakan Ibu?”
“Bapak.”
Niken menoleh.
“Bapak yang masak?”
“Dulu.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Niken juga tidak bertanya. Di tempat ini, ia sudah belajar bahwa rasa rindu tidak selalu membutuhkan cerita lengkap.
Suatu siang, seorang lelaki paruh baya datang ketika dapur sedang ramai. Ia bukan pelanggan pertama yang memuji masakan Niken, tetapi ia satu-satunya yang sejak awal tidak banyak bicara. Ia makan perlahan, beberapa kali memperhatikan dapur, lalu membayar seperti biasa.
Sebelum pergi, ia sempat bertanya kepada pemilik tempat itu,
“Yang masak tadi siapa?”
“Niken.”
Arman mengangguk, lalu pergi.
Niken tidak terlalu memikirkannya.
Beberapa minggu kemudian, ia datang lagi. Kali ini menjelang tutup. Kursi-kursi sudah mulai dinaikkan ke atas meja dan sisa kuah di panci tinggal sedikit.
“Masih bisa pesan?” tanyanya.
Niken melihat jam.
“Kalau yang gampang, masih bisa.”
Arman duduk di meja dekat jendela.
“Saya mau nasi uduk.”
Niken mengambil kertas pesanan.
“Dengan ayam?”
“Tidak.”
“Telur?”
“Tidak.”
“Semua lauknya tidak?”
“Tidak perlu lauk.”
Niken berhenti menulis.
“Jadi nasi uduk saja?”
“Iya.”
“Dengan sambal?”
“Sedikit.”
Niken mengangguk, lalu berbalik ke dapur.
Beberapa detik kemudian Arman memanggil lagi.
“Oh, satu lagi.”
Niken menoleh.
“Bikin nasinya seperti yang sudah dingin semalaman.”
Niken mengerutkan kening.
“Bukan basi,” kata Arman cepat. “Cuma jangan yang pulen dan wangi seperti baru matang.”
Niken menatapnya beberapa detik.
“Bapak sedang kangen nasi uduk semalam?”
Arman tersenyum.
“Kurang lebih.”
Niken tidak bertanya lagi.
Ia membuka panci nasi yang masih tersisa. Mengambil sebagian, lalu mengipaskannya sebentar di atas nampan agar uapnya turun. Ia tidak menambahkan santan lagi. Sedikit garam, sedikit bawang goreng yang sudah tidak terlalu renyah, lalu sambal yang dibuat lebih encer dengan sedikit air hangat.
Ia mencicipinya.
Kurang.
Bukan rasanya.
Teksturnya.
Niken mengambil sedikit nasi lain dan mencampurkannya.
Arman memperhatikannya dari meja.
“Kamu ngapain?”
“Saya lagi buat nasinya jadi sedikit aneh.”
Arman tertawa.
“Apa?”
“Kalau terlalu enak, nanti bukan yang Bapak minta.”
Beberapa menit kemudian, Niken meletakkan sepiring nasi uduk di depannya.
Tidak ada ayam goreng.
Tidak ada telur.
Tidak ada bawang goreng berlebihan.
Hanya nasi, sedikit sambal, dan sepotong kecil mentimun.
Arman mengambil suapan pertama.
Ia berhenti.
Mengunyah.
Lalu mengambil suapan kedua.
“Ini.”
Niken menunggu.
“Ini yang saya cari.”
“Memang seperti apa yang Bapak ingat?”
Arman menatap piringnya.
“Dulu, setiap pulang malam, ibu saya sering menyisakan nasi uduk di rice cooker.”
Ia tersenyum kecil.
“Besok paginya rasanya sudah begini.”
Niken mengangguk.
“Berarti sebenarnya Bapak bukan kangen nasi uduk.”
Arman menatapnya.
“Kangen apa?”
“Pulang malam dan masih ada makanan.”
Arman terdiam sebentar. Kemudian tertawa pelan.
“Mungkin.”
Ia menghabiskan makanannya tanpa banyak bicara. Setelah itu ia membayar dan berdiri. Niken sedang membereskan meja ketika Arman belum juga pergi.
“Kamu belajar masak di mana?”
Niken menunjuk dirinya sendiri.
“Sekolah memasak.”
“Setelah itu?”
“Pernah magang di beberapa restoran.”
“Sekarang di sini?”
Niken mengangguk. Arman memasukkan tangannya ke saku celana.
“Kamu pernah kepikiran kerja di restoran lagi?”
“Pernah.”
“Kenapa nggak?”
Niken mengangkat bahu.
“Belum ada yang ngajak.”
Arman tersenyum.
“Kalau saya ajak?”
Niken berhenti mengelap meja. Arman mengambil sebuah kartu nama dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.
“Saya punya restoran di Jakarta Selatan. Lagi cari commis chef.”
Niken melihat kartu itu, lalu kembali menatap Arman.
“Kalau kamu mau, ikut seleksinya.”
Jantung Niken berdetak sedikit lebih cepat. Sudah lama sekali sejak seseorang menawarkan pekerjaan kepadanya dengan kalimat yang membuat dadanya berdebar.
Lima tahun lalu, ia datang ke Jakarta dengan bayangan yang sederhana. Ia ingin bekerja di dapur restoran, belajar dari chef yang lebih berpengalaman, lalu suatu hari membuka tempat makan sendiri.
Ia membayangkan seragam putih, dapur yang sibuk, suara pesanan bersahutan, dan namanya tercetak di daftar staf.
Yang tidak pernah ia bayangkan adalah dirinya sendiri lima tahun kemudian, berdiri di dapur sempit dan membuat makanan untuk orang-orang yang tidak bisa pulang.
Namun ketika Arman menyerahkan tema untuk seleksi, Niken justru merasa lebih gugup.
Rasa Rumah.
“Bikin satu menu,” kata Arman. “Apa saja. Yang penting kamu bisa cerita kenapa memilih itu.”
Malamnya, Niken menelepon Ibu.
Ia tidak langsung menyebut soal tawaran pekerjaan baru.
“Bu, dulu kalau aku sakit, Ibu seringnya masak apa?”
“Bubur.”
“Buburnya pakai apa?”
“Ya bubur.”
Niken tertawa. “Maksudnya lauknya.”
“Telur kadang.”
“Telur rebus? Telur dadar? Mata sapi?”
“Telur dadar.”
Percakapan itu terdengar seperti percakapan dua orang yang sudah lama tidak benar-benar tahu harus membicarakan apa.
Niken ingin bertanya berapa banyak garam yang dipakai Ibu. Ia ingin bertanya bagaimana cara membuat telur yang pinggirnya sedikit gosong tetapi bagian tengahnya tetap lembut. Namun pertanyaan-pertanyaan itu terasa terlalu kecil untuk sebuah percakapan yang sudah lama tertunda.
Ibu lebih dulu bertanya, “Kamu kapan pulang?”
Niken melihat langit-langit kamar kosnya.
“Kalau sudah berhasil.”
Di ujung telepon, terdengar suara televisi dari ruang tengah rumah.
Ibu tidak langsung menjawab.
“Memangnya harus nunggu berhasil?”
Niken tersenyum, meskipun Ibu tidak bisa melihatnya.
“Biar enak pulangnya.”
Setelah telepon ditutup, Niken duduk cukup lama di tepi kasur.
Ia tidak tahu apakah ia sedang meyakinkan Ibu atau dirinya sendiri.
Selama seminggu berikutnya, ia mencoba mengingat rumah melalui makanan.
Ia membeli bahan yang dulu sering ada di dapur Ibu. Telur, cabai, bawang merah, bawang putih, daun bawang. Ia mencoba membuat telur dadar seperti yang ia ingat, tetapi setiap percobaan menghasilkan sesuatu yang berbeda.
Kadang terlalu asin. Kadang terlalu matang. Kadang enak, tetapi tidak terasa seperti apa-apa.
Pada percobaan keempat, Niken membuang telur itu tanpa mencicipinya.
Ia mulai menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman: ia ternyata tidak terlalu ingat masakan Ibu. Yang ia ingat adalah tangan Ibu yang bergerak cepat di dapur. Suara minyak panas. Piring yang diletakkan di meja. Punggung Ibu ketika sedang mencuci piring.
Ia ingat semuanya kecuali rasanya.
Mungkin karena dulu ia tidak pernah benar-benar memperhatikan.
Dulu ia hanya makan.
Lalu pergi.
—
Hari seleksi tiba pada Jumat pagi.
Niken membawa semangkuk soto ayam bening dengan suwiran ayam, irisan daun bawang, seledri, bawang goreng, dan sambal yang ia letakkan terpisah. Kuahnya ia buat sendiri sejak malam sebelumnya. Ia merebus ayam perlahan, membuang rebusan pertama, lalu memasaknya kembali bersama bawang putih yang dibakar, jahe, daun salam, dan merica.
Ia sempat ragu memilih soto. Tidak ada yang istimewa dari tampilannya. Tetapi semakin ia memikirkan tema Rasa Rumah, semakin ia merasa tidak perlu membuat sesuatu yang rumit.
Arman memperhatikan mangkuk itu sebelum bertanya, “Namanya?”
“Soto Pulang.”
“Pulang ke mana?”
Niken tersenyum kecil. “Tergantung yang makan.”
Arman mencicipi kuahnya lebih dulu. Ia menambahkan sedikit sambal, lalu mengambil suwiran ayam.
“Resep Ibu?”
“Dulu iya.”
Arman menunggu, tetapi Niken tidak langsung melanjutkan.
“Sekarang?”
“Sekarang saya nggak terlalu ingat.”
Arman kembali mencicipi.
Niken memandang mangkuk di depannya. “Saya pernah telepon Ibu buat tanya resep. Katanya, bawangnya secukupnya. Rempahnya secukupnya. Rebus sampai enak.”
Arman tersenyum.
“Begitu saja?”
“Begitu saja.”
Niken ikut tersenyum. “Saya tanya takaran, Ibu malah bilang, ‘Memangnya kamu mau jualan soto?’”
Arman tertawa kecil.
“Saya coba beberapa kali setelah itu. Baru sadar yang saya cari mungkin bukan rasa sotonya.”
Ia berhenti.
“Dulu waktu datang ke Jakarta, saya bilang ke Ibu saya akan pulang kalau sudah berhasil.”
Arman tidak menyela.
“Lima tahun ternyata lama.”
Niken menunduk sebentar, lalu merapikan posisi mangkuk yang sebenarnya sudah lurus.
“Saya kira rasa rumah akan tetap sama selama saya masih ingat. Ternyata tidak.”
Arman mencicipi kuahnya lagi. Kali ini ia tidak bertanya apa-apa. Niken juga tidak menambahkan apa pun.
Ia membiarkan soto itu berbicara dengan caranya sendiri: kuah yang ringan, ayam yang empuk, sambal yang sedikit lebih pedas daripada resep masa kecilnya, dan bawang goreng yang ia buat sendiri pagi tadi.
Arman menghabiskan sotonya sampai hanya tersisa sedikit kuah di dasar mangkuk.
Ia meletakkan sendok.
“Kamu mulai kapan?”
Niken menatapnya.
“Di restoran saya,” kata Arman. “Saya mau kamu masuk sebagai commis chef.”
Untuk beberapa detik Niken hanya diam.
“Kalau kamu setuju, kita urus minggu depan.”
Niken mengangguk. “Saya setuju.”
“Senin?”
Niken hendak menjawab, tetapi teringat sesuatu. Ia membayangkan rumah yang sudah lima tahun hanya ia lihat lewat layar ponsel, suara Ibu yang selalu terdengar dari kejauhan, dan pohon jambu yang entah masih ada atau tidak.
“Boleh mulai minggu depannya?”
Arman mengangguk. “Ada urusan?”
Niken tersenyum.
“Mau pulang dulu.”
Arman tidak bertanya lagi.
Siang itu Niken keluar dari restoran dengan kartu nama Arman di dalam dompet dan sebuah pesan yang belum ia balas sejak pagi.
Ia berhenti di pinggir jalan, membuka ponsel, lalu mengetik:
Bu, besok aku pulang.
Pesan itu terkirim sebelum ia sempat mengubahnya.
Untuk pertama kalinya, Niken tidak menambahkan alasan.
Ketika sampai di Bandung, Niken turun dengan satu tas kecil dan kotak makanan yang ia bawa dari Jakarta.
Rumahnya masih ada, tetapi banyak hal sudah berubah. Pagar baru. Cat baru. Pohon jambu di halaman tidak ada lagi.
Ibu membuka pintu dan memandanginya beberapa detik.
“Kurus.”
Niken tertawa. “Ibu juga.”
“Jangan bohong.”
Mereka masuk tanpa pelukan.
Niken meletakkan kotak makanan di meja.
“Aku bawa makanan.”
Ibu membukanya.
“Masak sendiri?”
Niken mengangguk.
Ada dua porsi di dalamnya.
Ibu mengambil sedikit telur dengan ujung sendok.
Mencicipinya.
“Keasinan.”
Niken tertawa.
“Iya.”
Ibu menambahkan nasi ke piringnya.
Mereka makan sambil membicarakan hal-hal kecil. Tetangga yang pindah. Atap belakang yang bocor. Harga cabai. Anak Bu Rina yang baru menikah.
Tidak ada yang bertanya apakah Niken berhasil. Tidak ada yang bertanya berapa uang yang ia punya, bagaimana pekerjaannya, atau kapan ia akan kembali ke Jakarta.
Mereka hanya makan.
Ketika piring mereka hampir kosong, Ibu mendorong potongan telur terakhir ke arah Niken.
“Habiskan.”
Niken menggeleng. “Buat Ibu.”
“Ibu sudah kenyang.”
Ia mengambil telur itu.
Di mulutnya, rasanya masih sedikit terlalu asin. Pinggirnya juga terlalu kering. Jauh dari rasa yang ia coba ingat selama bertahun-tahun. Tapi malam itu, Niken tidak mencoba memperbaikinya.
Setelah makan, Ibu membawa piring-piring ke dapur. Niken ikut berdiri, tetapi Ibu menyuruhnya duduk.
“Besok saja.”
Niken akhirnya menurut.
Ia duduk di meja makan yang sama, di rumah yang sudah berubah, sementara dari dapur terdengar suara air mengalir dan piring beradu pelan.
Ponselnya tergeletak di samping tangan.
Biasanya, sebelum tidur, ia akan membuka rekening, menghitung sisa uang, menghitung berapa hari sampai gajian, lalu menghitung berapa hari lagi sebelum ia harus kembali ke Jakarta.
Malam itu ponselnya tetap tidak disentuh.
Di atas meja masih ada satu porsi makanan yang belum habis.
Niken menatapnya sebentar.
Besok ia akan kembali menghitung.
Uang. Tiket. Hari kerja. Sewa kamar.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, ia tidak perlu menghitung apa pun.
Ia sudah pulang.