CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Separuh Hidup yang Bernama Mama
Separuh Hidup yang Bernama Mama

Separuh Hidup yang Bernama Mama

oleh Sylvia
CerpenGratis9 menit baca57 dibacaJFMM Participant

Separuh Hidup yang Bernama Mama.

Namaku Visha.

Di mata banyak orang, aku mungkin terlihat seperti seorang anak perempuan yang kuat. Aku terbiasa tersenyum ketika keadaan tidak baik-baik saja, mengangguk ketika sebenarnya ingin menangis, dan berkata, “Aku tidak apa-apa,” bahkan ketika hatiku sedang berantakan.

Bahkan di depan Mama, aku selalu ingin terlihat kuat.

Padahal sebenarnya, aku hanyalah seorang anak perempuan yang rapuh, cengeng, dan sering kali tidak tahu harus berbuat apa ketika hidup terasa terlalu berat.

Dulu, ketika masih kecil, aku pikir hidupku sempurna.

Aku memiliki keluarga yang lengkap. Ada Ayah, Mama, dan adik. Ada pula Kakek dan Nenek yang begitu menyayangiku. Kehidupan kami cukup. Apa pun yang kuinginkan, sebisa mungkin mereka berikan.

Aku tumbuh dengan perasaan bahwa rumah adalah tempat paling aman di dunia.

Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, rumah yang sama akan menyimpan begitu banyak luka.

Semuanya mulai berubah ketika Kakek dan Nenek pergi untuk selamanya.

Sejak saat itu, kehidupan kami perlahan runtuh.

Sosok Ayah yang dahulu begitu kubanggakan berubah menjadi seseorang yang membuatku terluka. Seseorang yang kemudian meninggalkan trauma yang masih kubawa sampai hari ini.

Aku masih mengingat satu hari ketika Ayah dan Mama bertengkar hebat.

“Mana uang belanja? Air juga sudah mau habis. Dari kemarin tidak pernah kasih uang. Mau sampai kapan? Kita mau makan apa?” suara Mama meninggi.

Emosinya yang selama ini ia tahan akhirnya pecah.

“Ya belum dapat. Mau bagaimana?” jawab Ayah singkat.

Setelah itu, ia pergi.

Begitu saja.

Tidak menoleh. Tidak menjelaskan apa-apa.

Aku melihat Mama berdiri dengan air mata yang perlahan jatuh dari kedua matanya.

Ia buru-buru mengusapnya, seolah takut anak-anaknya melihat bahwa ia sedang lemah.

Mama kemudian berganti pakaian dan mengajakku pergi.

Aku tidak banyak bertanya.

Ternyata Mama membawaku ke rumah saudaranya.

Di sana, untuk kedua kalinya hari itu, aku melihat air mata Mama.

Namun kali ini, air mata itu jatuh lebih deras.

Aku melihatnya memohon dan meminta bantuan. Ia bahkan harus merendahkan dirinya sendiri untuk meminjam uang demi memenuhi kebutuhan aku dan adikku.

Dadaku terasa sesak.

Sosok yang selama ini selalu terlihat kuat di depanku ternyata harus berjuang sejauh itu hanya agar anak-anaknya tetap bisa makan.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Mama bukan sebagai seseorang yang selalu bisa melakukan apa saja, tetapi sebagai seorang perempuan yang juga bisa merasa lelah dan terluka.

Dalam hati aku bertanya,

Ke mana Ayah?

Di mana dia?

Tolong Mama, kasihan dia.

Itulah yang terus berputar di kepalaku.

Kami akhirnya pulang membawa uang pinjaman.

Di dalam angkot yang sempit, aku duduk di samping Mama. Matanya sembab.

Wajahnya menyimpan kesedihan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.

Aku terus memandanginya.

Mama menyadarinya.

Ia kemudian menarikku ke dalam pelukannya.

“Nanti Kakak mau makan apa? Mama masakin, ya? Mau beli ayam atau bakso?”

Aku diam.

Pelukan itu justru membuat hatiku semakin sakit.

Mama sedang terluka, tetapi ia memilih memikirkan kebahagiaanku.

Ia menyembunyikan sakitnya agar aku tidak ikut merasakannya.

Hari demi hari berlalu.

Ayah tidak kembali ke rumah.

Ia pergi meninggalkan kami.

Sejak saat itu, Mama berjuang sendirian untuk kehidupan kami. Ia memutar otaknya setiap hari, memikirkan bagaimana caranya agar kami tetap bisa makan, membayar sekolahku, membayar sekolah adikku, dan memenuhi kebutuhan rumah.

Kadang-kadang, tanpa sengaja aku melihat Mama menangis di sela-sela salatnya.

Ia berdoa dengan suara lirih.

“ Ya Allah, tolong kuatkan diriku. Sehatkan diriku untuk anak-anakku. Kalau tidak ada aku, kasihan mereka, Ya Allah. Hanya aku yang mereka punya. Sukseskan mereka, berikan kesehatan dan rezeki untuk keluarga ini. Amin.”

Doa itu selalu ia panjatkan.

Dan entah sejak kapan, doa itu tumbuh menjadi sesuatu yang berat di dalam diriku.

Aku mulai berpikir bahwa aku harus menggantikan posisi Ayah.

Aku harus menjadi kepala keluarga.

Aku harus membantu Mama.

Aku mulai berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, meskipun hanya hal-hal

kecil. Membelikan makanan, membantu kebutuhan rumah, atau memberikan sesuatu yang bisa membuat Mama dan adikku tersenyum.

Senyum kecil mereka selalu membuatku merasa berhasil.

Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih.

Melihat mereka bahagia sudah cukup bagiku.

Hingga suatu hari, terdengar kabar bahwa Ayah kembali.

Namun ia tidak pulang kepada kami.

Ia memilih tinggal di rumah saudaranya.

Aku marah.

Aku kecewa.

Lebih menyakitkan lagi, Ayah tidak datang untuk meminta maaf.

Justru Mama yang disalahkan.

Mama dianggap sebagai penyebab kepergian Ayah karena selalu meminta uang.

Keluarga Ayah pun membenci kami.

Aku tidak mengerti.

Bukankah Ayah yang pergi meninggalkan kami?

Mengapa kami yang harus menanggung semua kesalahannya?

Waktu terus berjalan.

Adikku mulai besar dan ingin memiliki kamar sendiri. Aku pun ingin memiliki kamar yang lebih luas. Aku membayangkan suatu hari nanti, jika aku menikah, aku bisa kembali ke rumah ini bersama anak-anakku dan memperkenalkan mereka pada tempat yang pernah menjadi rumah masa kecilku.

Karena itu, aku meminta izin kepada Ayah untuk merenovasi rumahnya.

Aku tidak meminta uang darinya.

Aku hanya ingin memperbaiki rumah itu dengan kemampuanku sendiri.

Namun, yang kudapatkan justru hinaan.

“Dasar anak durhaka! Tidak mengurus ayah, malah mau merusak rumahnya. Dasar anak serakah, tidak tahu terima kasih! Kalau ingin menikah, pergi saja sana! Jangan tinggal di sini. Bawa semua keluargamu itu!”

Aku dipermalukan di depan banyak orang.

Dan yang paling menyakitkan, semuanya terjadi di depan Ayah.

Aku menatapnya.

Dalam hati, aku masih berharap ia akan berdiri untukku.

Aku berharap Ayah yang dahulu menyayangiku akan berkata bahwa aku tidak pantas dihina.

Aku menunggu.

Namun, ia hanya diam.

Tidak menatapku.

Tidak membelaku.

Tidak mengatakan apa-apa.

Saat itu ada sesuatu yang kembali patah dalam diriku.

Itukah Ayahku?

Itukah sosok yang selama ini kupanggil Ayah?

Salah apa aku?

Dia yang pergi meninggalkan kami. Mengapa justru aku yang disalahkan?

Mengapa Mama yang dibenci?

Aku belum sempat menghapus air mata ketika Mama datang.

Malaikatku.

Melihat anaknya dihina , Mama berdiri di depanku.

Ia membelaku.

Pertengkaran hebat terjadi.

Mama bahkan sampai dipukul.

Namun Ayah tetap diam.

Tidak membela kami.

Tidak menghentikan semuanya.

Kami pulang dengan hati yang hancur.

Begitu sampai di rumah, aku menangis dalam pelukan Mama.

Aku tidak tahu mana yang lebih sakit—hinaan yang kuterima atau kenyataan bahwa sosok yang seharusnya menjadi pelindung kami justru memilih diam.

Melihat Mama terluka karena membelaku membuat dadaku sesak.

Ya Allah... mengapa harus Mama?

Sejak hari itu, tekadku semakin kuat.

Aku harus menggantikan sosok Ayah.

Aku harus bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Aku harus membuat Mama dan adikku tetap tersenyum.

Aku bekerja lebih keras.

Namun terkadang, uang yang kumiliki tidak cukup.

Dan di situlah aku mulai mengambil jalan yang salah.

Aku berutang.

Awalnya kupikir semuanya akan baik-baik saja.

Aku hanya perlu membayar sedikit demi sedikit.

Yang penting Mama dan adikku tidak kekurangan.

Namun ternyata, hutang tidak sesederhana yang kubayangkan.

Satu menjadi dua.

Dua menjadi lebih banyak.

Aku mulai kewalahan.

Aku memendam semuanya sendiri.

Pikiranku kacau.

Aku takut gagal.

Aku takut menjadi anak yang tidak mampu membantu keluarganya.

Aku takut mengecewakan Mama.

Sampai akhirnya, setiap kali menerima gaji, uang yang seharusnya kugunakan untuk kebutuhan rumah justru habis untuk membayar hutang.

Dan ternyata...

masih belum cukup.

Mama mulai curiga melihat perubahan dalam diriku.

Suatu hari, ia menghampiriku.

“Ka, ada masalah? Kakak tidak terlibat sesuatu yang aneh, kan? Kakak tidak berutang, kan?”

Jantungku terasa seperti jatuh.

Aku terdiam beberapa detik.

Pertanyaan sederhana itu terasa seperti mengetuk pintu yang selama ini berusaha kukunci rapat-rapat.

Aku akhirnya tersenyum kecil.

“Enggak, Ma. Kakak enggak apa-apa. Cuma sedikit lelah.”

Aku berusaha membuatnya tenang.

Namun Mama mengenalku terlalu baik.

Keesokan harinya, sepulang kerja, aku melihat Mama sudah menungguku di depan pintu rumah.

Wajahnya terlihat marah.

Tetapi di balik kemarahannya, ada kesedihan yang jauh lebih besar.

“Ka, Mama sudah tahu kamu punya hutang.”

Aku terdiam.

“Kenapa bisa berutang, Nak? Untuk apa? Kakak tidak melakukan sesuatu yang aneh, kan? Jawab Mama, Ka.”

Aku hanya mematung.

Tidak tahu harus mulai dari mana.

“Jawab, Ka. Buat apa? Berapa banyak? Kakak beli apa sampai bisa seperti ini? Kakak kan tahu bagaimana keadaan kita. Ayah sudah tidak memikirkan kita. Kalau seperti ini, kita mau apa? Apa yang harus kita jual?”

Suara Mama bergetar.

Kemudian air matanya jatuh.

Aku tidak sanggup melihatnya.

Aku berlari ke kamar, mengunci pintu, lalu menangis sejadi-jadinya.

Malam itu terasa begitu panjang.

Aku merasa menjadi anak yang gagal.

Anak yang menyusahkan.

Anak yang justru menambah beban bagi seorang Mama yang selama ini sudah terlalu banyak berjuang.

Keesokan paginya, aku berangkat kerja tanpa berpamitan.

Pikiranku kacau.

Pekerjaanku berantakan.

Aku bahkan tidak berani pulang.

Aku takut bertemu Mama.

Takut melihat kekecewaan di matanya.

Namun sore itu, sebuah pesan masuk.

Dari Mama.

“ Ka, kapan pulang? Nanti kita bicara, ya. Mama enggak marah. Kakak cepat pulang, ya. Sudah malam. Mama takut Kakak kenapa-kenapa.”

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Dan saat itulah pertahananku runtuh.

Air mataku jatuh.

Di saat aku merasa telah mengecewakannya, ternyata masih ada seseorang yang menungguku pulang.

Seseorang yang bahkan setelah kecewa masih mengkhawatirkanku.

Mama.

Aku akhirnya pulang.

Begitu sampai di rumah, aku langsung memeluknya.

Tangisku pecah.

Semua yang selama ini kupendam akhirnya keluar.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang hutang.

Tentang ketakutanku.

Tentang keinginanku membantu keluarga.

Tentang alasan aku melakukan semua itu.

Dan tentang betapa takutnya aku mengecewakan Mama.

“Maaf, Ma,” ucapku di sela tangis. “Kakak salah.”

Mama tidak langsung menjawab.

Tangannya mengelus rambutku perlahan.

Aku merasakan air matanya jatuh di kepalaku.

Lalu ia berkata,

“Ka, Mama tidak pernah meminta kamu menjadi sosok pengganti Ayah.”

Aku terdiam.

“Mama juga tidak pernah meminta semua yang Mama atau adik mau harus kamu penuhi. Kalau memang tidak ada, bilang saja, Ka. Mama dan adik tidak akan marah. Mama tidak pernah memaksa kamu.”

Tangisku kembali pecah.

“Kadang Mama berpikir, uang dari mana yang kamu punya, sedangkan gajimu saja tidak cukup. Mama tahu niat kamu baik. Mama tahu kamu ingin membantu keluarga. Tapi caramu salah, Ka.”

Mama menarikku lebih dekat.

“Mama sayang banget sama kamu. Kita hanya bertiga. Kita saling menjaga, ya, Ka. Kalau ada apa-apa, Kakak harus bilang sama Mama.”

Aku mengangguk sambil menangis.

“Mama tidak pernah menuntut kamu menjadi pengganti siapa pun. Jangan rasakan itu lagi, ya. Kita lewati semuanya sama-sama. Jangan diulangi lagi.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku membiarkan diriku menjadi seorang anak.

Aku tidak perlu menjadi kepala keluarga.

Aku tidak perlu menggantikan siapa pun.

Aku hanya perlu menjadi Visha.

Anak Mama.

Aku menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.

Dan malam itu aku akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari.

Aku pikir selama ini akulah yang harus melindungi Mama.

Ternyata, sejak awal, Mama-lah yang selalu melindungiku.

Ketika dunia terasa terlalu keras, Mama menjadi tempatku pulang.

Ketika aku jatuh, Mama menjadi tangan yang mengangkatku.

Ketika aku salah, Mama tidak meninggalkanku.

Dan ketika aku merasa tidak lagi pantas dicintai, Mama tetap membuka kedua tangannya untuk memelukku.

Separuh hidupku adalah Mama.

Bukan karena Mama selalu kuat.

Tetapi karena di balik semua air mata dan lelah yang ia sembunyikan, Mama selalu memilih bertahan demi kami.

Mama adalah rumah yang tidak pernah meminta aku menjadi siapa-siapa.

Di rumah itu, aku boleh menjadi kuat.

Tetapi aku juga boleh lemah.

Aku boleh menangis.

Aku boleh gagal.

Aku boleh pulang.

Dan mungkin, itulah arti rumah yang sebenarnya.

Entah apa yang akan terjadi dalam hidupku jika tidak ada Mama.

Aku mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seseorang yang tetap tinggal ketika yang lain memilih pergi.

Terima kasih, Ma.

Untuk setiap doa yang diam-diam kau panjatkan.

Untuk setiap lelah yang kau sembunyikan.

Untuk setiap air mata yang kau hapus sendiri.

Untuk setiap pengorbanan yang tidak pernah kau ceritakan.

Untuk setiap cinta dan kasih sayang yang kau berikan tanpa pernah meminta kembali.

Mama...

Kau akan selalu menjadi cinta pertamaku.

Malaikatku.

Nama yang selalu ada dalam setiap doaku.

Dan separuh hidupku yang tidak akan pernah tergantikan.

Karena separuh hidupku memang bernama Mama.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen