Suara derit mesin jahit kayuh merk Butterfly itu selalu kalah nyaring dari suara Ibu. Bahkan dari jarak lima ratus kilometer, melalui pengeras suara ponsel yang cempreng, Naya masih bisa mendengar rentetan kalimat Ibu tanpa jeda.
"Naya, kamu jangan keseringan beli es boba itu ya. Air putih saja yang banyak, biar ginjalmu berkah. Oh ya, minggu depan kamu ulang tahun, kan? Ibu sudah belikan ayam kampung dari Cak Di, mau Ibu semur kesukaanmu kalau kamu pulang. Jangan lupa salat dhuha, Naya. Gusti Allah itu suka diteduhi doa anak muda."
Naya menatap langit-langit kamar kosnya yang sesak di sudut Jakarta. Matanya terasa panas, Tangannya meraba amplop cokelat di atas kasur tipisnya. Di dalam amplop itu, ada selembar tiket bus VIP jurusan Yogyakarta-Jakarta dan dua lembar tiket bioskop kelas premier hasil dari lembur kerjanya selama tiga bulan terakhir. Naya sengaja berbohong, Dia bilang pekerjaannya sedang menumpuk dan tidak bisa pulang kampung tahun ini.
"Ibu," potong Naya lembut, mencoba menyela rentetan kalimat Ibunya yang kini mulai beralih membahas harga cabai yang naik. "Ibu tidak usah masak semur. Hari Sabtu besok, Ibu pakai daster yang paling bagus, lalu pergi ke Terminal Giwangan. Naya sudah kirim paket ke rumah, isinya tiket bus. Ibu harus ke Jakarta." Seketika, suara mesin jahit itu berhenti. Keheningan yang langka merayap di seberang telepon, sebelum akhirnya pecah oleh kepanikan Ibu yang khas. "Astagfirullah al-adzim, Naya! Kamu kenapa? Kamu sakit? Uang kosmu kurang? Atau kamu dipecat? Ya Allah, Naya, jangan bikin Ibu jantungan. Ibu ini sudah tua, tensinya gampang naik..."
"Naya sehat, Ibu. Naya cuma butuh Ibu di sini. Temani Naya Sabtu ini, ya?" bisik Naya, menahan getar di suaranya.Di seberang sana, Ibu mendesah panjang. "Ya Rahman, ya Rahim... baik, Nak. Ibu berangkat. Ibu akan doakan sepanjang jalan supaya busnya selamat, supirnya waras, dan kamu tidak apa-apa."
Terminal Pulogebang riuh rendah sabtu pagi itu. Di antara ratusan penumpang yang turun, sosok Ibu langsung terlihat. Beliau memakai gamis batik terbaiknya yang sedikit kebesaran, menjinjing tas kain besar berisi kerupuk rupa-rupa, dan mulutnya komat-kamit—pasti sedang membaca ayat kursi. "Astagfirullah, Naya! Kamu kurusan ya? Pasti jarang makan sayur!" Itulah kalimat pertama yang meluncur dari bibir Ibu begitu memeluk Naya. "Besar sekali ya terminalnya. Sepanjang jalan Ibu tidak bisa tidur, mendoakan kamu terus. Supir busnya juga ugal-ugalan, untung Ibu zikir terus, kalau tidak mungkin kita sudah masuk berita." Naya hanya tersenyum, menyembunyikan rasa harunya, lalu mengambil alih tas kain Ibu. Bukannya mengajak Ibu ke rumah kosnya, Naya justru memesan taksi daring menuju salah satu mal megah di pusat Jakarta. Sepanjang jalan di dalam mal, mulut Ibu tidak berhenti berkomentar.
"Ya Allah, Naya, ini tempat apa? Dingin sekali, AC-nya sebesar gajah ya?" "Itu anak muda zaman sekarang celananya kok robek-robek, apa ibunya tidak sempat menjahitkan?" "Naya, jangan beli minum di sini, mahal! Ibu bawa air anget di termos kecil."Naya hanya terkekeh, menuntun lengan Ibunya yang mulai berkeriput menaiki eskalator.
Ibu sempat memekik kaget dan mencengkeram lengan Naya dengan sangat erat saat menginjak tangga berjalan itu. "Ya Rahman... jalan sendiri tangganya! Dunia sudah mau kiamat, Naya."Langkah mereka berhenti di depan pintu kaca bioskop kelas premier. Wangi karamel mentega yang manis menyeruak. Ibu mengernyitkan dahi melihat lampu-lampu neon yang estetis dan lantai berkarpet tebal.
"Kita mau apa ke sini, Nak? Ini tempat nonton bioskop yang ada di TV itu, ya? Waduh, jangan, Naya. Pasti mahal. Mending uangnya kamu tabung buat beli tanah," bisik Ibu, mendadak pelan karena merasa asing dengan kemewahan di sekitarnya. "Hari ini Ibu tidak boleh protes. Hari ini, semua khusus untuk Ibu," kata Naya lembut sambil menuntun Ibunya masuk ke dalam studio.
Di dalam studio, hanya ada beberapa pasang kursi sofa kulit yang besar dan empuk. Naya membantu Ibunya duduk, lalu menekan tombol untuk merebahkan sandaran kaki. Ibu terlonjak kaget, "Eh, eh! Ini kursinya kok bisa gerak sendiri? Ya Allah, Naya, Ibu kayak kasur berjalan!"Naya tertawa kecil, lalu menyelimuti tubuh Ibunya dengan selimut tebal yang disediakan pihak bioskop. Saat lampu studio perlahan meremang dan mati total, menyisakan cahaya dari layar raksasa di depan mereka, Ibu mendadak terdiam. Keheningan itu terasa magis. Naya mendekatkan wajahnya ke telinga Ibu, berbisik pelan, "Selamat ulang tahun, Ibu. Hari ini Ibu tidak usah menjahit baju orang lain. Ibu tidak usah memikirkan pesanan pelanggan. Cukup duduk di sini, dan biarkan dunia menghibur Ibu."
Film pun dimulai. Ibu, yang biasanya tidak bisa diam satu detik pun, mendadak menjadi manusia paling hening di dalam ruangan. Beliau tidak benar-benar fokus pada jalan cerita film di layar lebar itu. Sepanjang dua jam, mata Ibu justru terus berkaca-kaca. Tangannya yang kasar karena puluhan tahun memegang jarum jahit, menggenggam erat jemari Naya tanpa sedetik pun dilepas. Air mata Ibu luruh dalam diam, mengalir melewati pipinya yang mulai kendur. Ketika lampu studio kembali menyala menandakan film telah usai, Ibu mengusap matanya dengan ujung jilbab. Beliau menatap Naya dengan binar mata yang paling tulus yang pernah Naya lihat seumur hidupnya."Naya..." Suara Ibu bergetar, kali ini tanpa rentetan nasihat ceriwisnya. "Terima kasih, ya, Nak. Ibu tidak pernah tahu rasanya duduk senyaman ini. Tapi yang paling membuat Ibu bahagia... Ibu tahu anak gadis Ibu sudah tumbuh menjadi orang yang baik dan tahu cara memuliakan ibunya. Doa Ibu di tiap sujud tidak pernah sia-sia."Naya memeluk Ibunya erat di atas kursi empuk itu.
Di tengah megahnya kota Jakarta, Naya tahu, kebahagiaan terbesar seorang ibu ternyata sesederhana merasa dihargai oleh anak yang dibesarkannya dengan penuh doa.
QUOTES TERBAIK ; "Hari ini Ibu tidak perlu menjahit baju orang lain. Ibu tidak perlu memikirkan dunia yang bising. Cukup duduk di sini, dan biarkan dunia yang menghibur Ibu."
PESAN MORAL ; Seorang ibu menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk bekerja keras dan memastikan dunia anak-anaknya berjalan dengan baik. Terkadang, hadiah terbaik yang bisa kita berikan bukanlah materi yang melimpah, melainkan sebuah momen di mana kita meminta Ibu untuk berhenti sejenak, duduk dengan nyaman, dan membiarkan dirinya diurus serta dibahagiakan oleh anak yang telah ia besarkan.

