Untuk perempuan yang dulu paling aku salahkan, ternyata adalah perempuan yang paling memilihku.
Saat kecil, sejauh yang bisa ku ingat, aku tidak memiliki kenangan apapun yang terasa menyenangkan.
Mamaku tinggal dengan suami barunya di Jakarta, tempat yang kupikir jaraknya harus ditempuh berhari-hari, atau setidaknya cukup jauh sehingga mama hanya bisa menemuiku satu tahun sekali. Aku tinggal di sebuah desa kecil yang hanya terhalang tanggul untuk menuju bantaran sungai Citanduy.
Mama menitipkanku pada Ibunya, yang kemudian aku panggil Mbah Uti, sejak usiaku belum genap satu tahun.
Aku hampir tidak memiliki ingatan yang runtut tentang bagaimana dulu aku tumbuh, kenangan yang kupunya hanya berbentuk potongan-potongan adegan yang acak.
Aku tumbuh di rumah yang bukan benar-benar milikku. Mbah Uti orang yang tempramen dan kasar, beberapa kesalahan kecil seperti lupa mengangkat jemuran atau meminta uang jajan untuk ke sekolah, bisa berakhir dengan makian dengan suara keras yang membuat tubuhku terasa mengecil atau jambakan keras di rambutku yang membuat kulit kepalaku terasa sakit sekali. Dan setiap itu terjadi, aku hanya berharap bahwa Mama tiba-tiba berada di depan untuk membelaku, tapi nihil.
Saat aku sadar, bahwa mama lebih memilih untuk hidup berdua bersama suami barunya, dan bukanya membersamaiku disini, kualihkan gantungan harapanku pada Ayah. Aku mulai menanyakan kepada Mama tentang keberadaan Ayah kandungku. Aku berpikir, jika Mama memang tidak menginginkanku, setidaknya ia bisa menyerahkanku saja pada Ayahku. Namun, Mama selalu enggan menjawab setiap pertanyaan yang aku ajukan ketika itu berkaitan dengan Ayahku.
Di kepala seorang anak yang tumbuh dengan luka, semua hal mudah disusun menjadi kesimpulan. Pengabaian dari Mama dan perlakuan kasar dari Mbah Uti yang hampir setiap hari aku terima, membuatku menyimpulkan bahwa merekalah yang sengaja memisahkanku dengan Ayah kandungku. Selepas lulus SMA, aku memutuskan untuk keluar kota, aku ingen mencari kerja, atau lebih tepatnya aku keluar dari rumah yang selama delapan belas tahun menorehkan luka di jiwa dan fisikku. Dan untuk pertama kalinya, aku hidup. Aku bisa tidur siang dengan tenang tanpa tiba-tiba terbangun karena dikagetkan oleh teriakan siapapun.
Aku hampir tidak pernah pulang, bahkan saat libur panjang. Anehnya, aku hampir tidak pernah merindukan apapun yang sudah aku tinggalkan, bahkan aku tidak pernah merindukan mamaku sama sekali. Hampir tujuh tahun sejak kepindahanku ke kota ini, menghidupi diriku sendiri dengan bekerja dari satu tempat ke tempat lainnya, sambil melanjutkan studiku.
Satu bulan menuju ulang tahunku yang ke dua puluh lima, aku membulatkan tekad untuk mencari Ayahku. Bukan karena aku ingin kembali menjadi anaknya, aku hanya ingin tahu seperti apa wajah laki-laki yang darahnya mengalir di tubuhku, dan aku ingin penjelasan, satu kali saja, kenapa selama ini dia tidak pernah mencariku? Tekadku sudah bulat, dengan atau tanpa petunjuk dari Mama. Aku menceritakan niatku, dan untuk pertama kalinya Mama menjawab,
“Maafkan mama ya, nak. Saat usia dua puluh satu tahun Mama bertemu dengan Ayahmu di Jakarta, kita jatuh cinta. Sayangnya, mama tidak bisa menjaga diri dengan baik saat itu. Mama hamil kamu.” Ucap Mama.
“Ayahmu meminta Mama untuk menggugurkan kamu, tapi Mama nggak mau.” Lanjutnya
Duniaku rasanya berhenti sebentar. Ada sesak yang sulit sekali dijelaskan. Yang aku tau, ada sesuatu di dalam diriku yang patah, remuk, dan lebur.
Selama dua puluh lima tahun, aku mengira perempuan di depanku adalah alasan kenapa aku tidak mengenal Ayahku, ternyata, ia adalah perempuan yang memilih untuk mempertahankanku ketika Ayahku sendiri meminta agar aku tidak pernah ada.
Mama memilihku, meskipun itu berarti dia akan hamil dan melahirkan sendirian, tanpa laki-laki yang membersamainya. Mama tetap membawaku hingga lahir, meskipun ia tahu bahwa hidup tidak akan mudah setelah itu.
Dan tiba-tiba, semua kemarahanku kepadanya terasa seperti benda berat yang selama ini salah kubawa. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya sebagai seorang perempuan yang dulu juga hanya seorang anak muda yang ketakukan, seorang perempuan yang kesakitan, seseorang yang harus menghadapi dunia dengan seorang bayi di dalam kandungannya. Dan bayi itu, adalah aku.
Suatu malam tepat saat usiaku dua puluh lima, aku memutuskan untuk tidak akan pernah mencari Ayahku. Bukan karena aku membencinya, tapi karena aku mengerti bahwa tidak semua kehilangan harus ditemukan kembali. Beberapa memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari pertanyaan kita. Aku tidak tahu seperti apa jadinya kehidupanku jika aku memiliki seorang Ayah. Mungkin lebih mudah, mungkin juga tidak. Tapi untuk pertama kalinya, aku berhenti bertanya.
Luka itu tetap ada, jambakan itu pernah terjadi, kata-kata kasar pernah terdengar, kesepian karena tidak memiliki tempat untuk “pulang” itu nyata, dan kehilangan seorang ayah juga nyata. Tapi rasanya, itu semua cukup adil untuk sebuah kesempatan bahwa Mama memilihku,bahkan ketika aku belum bisa memiliki diriku sendiri. Dan belakangan aku tahu, ia menikahi suami barunya, salah satu alasannya adalah supaya aku memiliki seseorang yang suatu saat bisa aku panggil Ayah.
Dan mungkin, itulah akhir pencarianku. Bukan untuk menemukan seorang ayah, melainkan untuk menemukan kembali seorang Ibu. Dan menemukan diriku sendiri di dalam keputusan yang pernah ia buat dua puluh lima tahun lalu. Just for my mom, thank you.
