CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Segilintir Rokok dan Anak Tengah
Segilintir Rokok dan Anak Tengah

Segilintir Rokok dan Anak Tengah

oleh Dirga Mahashakti
CerpenGratis4 menit baca8 dibacaJFMM Participant

Aku menyesap rokok dengan pura-pura khusyuk, menahannya dalam tenggorokan beberapa detik, lalu mengembuskannya ke udara dengan sangar. Walau sebenarnya kutahan batuk ini mati-matian. Aku hanya perlu bertahan sebentar, agar napas, seragam, dan rokku berbau rokok. Jujur, kulakukan hal bodoh ini hanya untuk meraih perhatian Mama , satu-satunya orang tuaku . Ah, aku pasti akan mendapat amukan nya . Tapi, tak mengapa, setidaknya eksistensiku akan diakui! Aku naik kasta, bukan lagi anak tengah yang harus mengalah dan tak terdeteksi radar keluarga.

“Sejak kapan kamu ngerokok? Kamu itu perempuan!” tegur Mama dengan mata memerah karena sedang memelotot marah.

“Jadi, kalau Adek, boleh dong? Dia kan laki!” bantahku sengit.

“Jaga bicaramu! Berani membantah Mama? Kamu masih di bawah 21 tahun!”

Aku diam.

Ternyata Mama masih belum selesai berkotbah, “Kamu nggak malu dilihat orang?! Kayak anak nggak bener!” Ia menatapku kecewa. “Sebagai hukuman, kami potong uang jajanmu!”

“Mama khawatir aku merokok karena aku perempuan? Aku di bawah 21 tahun? Atau karena malu dilihat orang-orang?”

“Semuanya!” jawab Mama cepat.

Ah, Padahal, aku harap Mama khawatir kalau aku mati muda karena asap rokok.

Sejak malam itu, aku berhasil menjadi pusat perhatian bagi Mama sebagai contoh buruk keluarga. Mendadak, aku menjadi primadona mengalahkan Kakak dan Adikku. Sungguh hebat! Nilai raporku yang selalu sempurna, kelincahanku berenang yang membuat pelatihku bangga, bahkan bakat berpidatoku yang digadang mirip Corazon Aquino, kalah hanya dengan seisap rokok! Aku tertawa terpingkal-pingkal di kamar; betapa sejentik hal buruk selalu saja bisa menjadi sorotan dan membuat tak nyaman orang-orang. Tentu saja nila setitik selalu membuat susu yang banyak rusak. Kenapa belum ada manusia yang berani mencoba membaliknya?

“Kami kayak nggak kenal kamu lagi, Dek?!” tanya kakak perempuanku yang sepertinya berusaha membujukku.

Ternyata selain berhasil merebut perhatian Mama, aku juga berhasil membuat Kakak dan adikku peduli. Jujur, aku iri. Bertahun-tahun hidup, rasanya aku seperti anak angkat. Baju, selalu lungsuran kakak perempuanku. Lebih hemat, kata Mama. Baju baru buatku dibilang mubazir, karena tidak bisa diturunkan kepada adik laki-lakiku. Jadi, mereka lebih memilih membeli baju baru untuk kakak perempuanku, dan adik laki-lakiku. Harusnya mereka berterima kasih karena akulah yang membuat keuangan keluarga bisa lebih hemat, kan? Namun, nyatanya?

“Emang, seperti apa aku di mata Kakak, dan Adek?” tanyaku sambil tersenyum getir menatap Kakak dan adikku bergantian.

Aku tahu jawaban mereka pasti tak jauh-jauh dari aku adalah anak yang paling wajib harus mengalah. Yah, selain sebagai alat untuk menghemat anggaran, ternyata anak tengah pun juga harus menjadi penolong keluarga. Ia harus mengalah demi kakak yang lebih tua, dan demi adik yang masih kecil. Kupikir urusan ngalah-mengalah ini khusus untuk anak pertama, ternyata aku salah. Berjalan dan bertambahnya umur, ternyata membuat kebutuhan pun makin beranak pinak. Ditambah anak pertama adalah prioritas karena yang paling diandalkan di keluarga.

Adikku lalu angkat bicara, “Di mataku, Kakak paling pinter di antara kami, kakak paling jago renang, kakak paling kuat, kakak punya otak cerdas, kakak calon pemimpin perempuan besar.” Ucapan adikku sontak membuatku tertawa. Dari mana ia belajar mengatakan itu?

“Kenapa kakak tertawa? Kakak merasa paling baik, ya?”

“Lucu aja, Dek. Kenapa kamu ngomong gitu coba?”

“Karena tiap Mama nasihatin aku, kata-kata itu yang selalu mereka ucapkan, Kak. Kakak yang paling pinter di antara kami, kakak yang paling jago renang, kakak yang paling kuat, kakak yang punya otak cerdas, kakak yang calon pemimpin perempuan besar.” Adikku mengulang kata-kata dari Mama dengan mata berkaca-kaca.

“Juga saat Mama memarahiku,” tambah kakakku. “Sama persis. Kamu yang paling pinterlah, kamu yang paling jago renanglah, kamu yang paling kuatlah, berotak cerdas, calon pemimpin. Aku bosan dibandingin tauk.”

Astaga! Aku benar-benar melihat kabut di mata mereka berdua. Entah kenapa mereka menangis?

“Besok-besok bilang ke Mama buat ngomong langsung sama aku. Aku kan juga ingin denger dari nya ,” ujarku merasa kesal, mengetahui Mama ternyata juga diam-diam bangga kepadaku.

“Aku ingin kakak kembali seperti dulu lagi. Aku nggak ingin Mama bersedih setiap hari.” Tangis adikku pecah, sambil memelukku erat.

“Lalu, kenapa kamu peduli aku merokok, Kak?” tanyaku kepada Kakak.

“Aku, Mama, dan Adek, nggak ingin kamu mati muda karena asap rokok. Nggak sehat, Dek,” jawab kakakku yang langsung membuatku tersenyum karena itulah jawaban yang kuinginkan.

“Tenang, aku belum sampai tahap kecanduan kok,” jawabku kepada Kakak dan adikku sambil memeluk mereka erat.

Mamaku tersayang yang gengsian giliran selanjutnya!

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen