CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Sebuah Usaha untuk Menjadi Kucing
Sebuah Usaha untuk Menjadi Kucing

Sebuah Usaha untuk Menjadi Kucing

oleh Dirga Mahashakti
CerpenGratis4 menit baca5 dibacaJFMM Participant

Kata Ibu, perempuan harus bisa menjadi kucing yang tidak butuh banyak usaha untuk bisa disayangi dan dicintai. Cukup pasang muka cantik dan menggemaskan, maka semua perangai buruk pun kontan termaafkan: malas, egois, serakah, manipulatif, nggak sopan, berak, dan kawin nggak tahu tempat, nyolong, perkosa kucing lain, jilatin kemaluan sendiri, ah, semua itu menjadi tak masalah. Mereka akan tetap disayangi dan dicintai. Baru ketika wajah mereka tak bisa menyelamatkannya dari masalah, cakar tajamnya yang harus ambil peran.

“Perempuan itu selain harus cantik, menarik, juga perlu senjata,” kata Ibu menatapku serius, seolah ini adalah pelajaran lebih penting dari guru di sekolah.

“Kenapa, Bu? Biar bisa memberi pelajaran orang kayak Bapak?” tanyaku menyimpulkan sendiri. Ya, aku tahu persis apa yang dilakukan Bapak kepada Ibu dulu.

Tiap malam, Bapak bisa mendadak menjadi iblis saat bau alkohol keluar dari napasnya. Ia juga bisa memukuli Ibu dengan kejam hingga lebam-lebam. Terkadang, sudah tersungkur pun, Ibu masih terus ditendang. Aku takut. Aku tak berani melawan Bapak. Aku juga tak berani menolong Ibu. Aku hanya bisa sembunyi dan berdoa dalam hati semoga Bapak mati.

Namun, doaku tak pernah terkabul. Nyawa Bapak ternyata seperti nyawa kucing. Ia bisa begitu saja lolos dari maut meski banyak tukang tagih utang, atau kawan berjudinya kerap datang untuk memukulinya. Ah, namun siapa sangka, ternyata seekor kucing liar yang kebetulan mampir ke rumahku yang berhasil membunuhnya. Bapak tidak sengaja menginjak kucing itu dan berakhir jatuh dengan pembuluh darah otak pecah. Bapak mati seketika setelahnya!

Sejak saat itu, Ibu memelihara kucing itu. Ia merawat dan menyayanginya seperti dewa pelindung. Bahkan, ia juga ingin menjadi kucing yang bisa melindungi kami dari siapa pun dan apa pun.

“Ingat, orang-orang seperti Bapak di dunia ini banyak,” pesan Ibu sebagai peringatan.

“Lalu, senjata apa yang harus kita miliki, Bu? Pistol? Pisau? atau Pedang?” Aku sangat serius jika berhubungan dengan Bapak. Siksaan Bapak terlalu dalam membekas hingga aku harus benar-benar siaga jika bertemu dengan manusia seperti dirinya.

Ibu menggeleng sambil tersenyum, “Kuku,” jawabnya tenang.

“Ha?” Aku bingung, lalu menatap kuku-kukuku sendiri.

“Iya, senjata kita cukup kuku yang panjang dan tajam seperti yang dimiliki kucing,” jelas Ibu kepadaku sambil tersenyum cantik memamerkan kuku-kukunya yang panjang dan merah.

Ah, sekarang aku mulai paham kenapa kuku Ibu selalu dirawat dengan baik hingga panjang dan kuat. Ia juga sering mengusapkan cat berwarna darah untuk membuatnya seperti kucing yang cantik.

“Aku juga ingin punya kuku kayak kucing, Bu. Biar bisa membuat mati laki-laki jahat seperti Bapak,” kataku dengan penuh keimanan.

“Ibu akan bantu kamu merawat kukumu,” tawar Ibu sambil menggenggam jari-jariku yang mungil.

“Hore! Kita bertiga akan punya kuku panjang. Kita bertiga akan menjadi keluarga Kucing!” teriakku bahagia sambil lonjak-lonjak menggendong Kucing.

Namun, kebahagiaan dan kebanggaanku memiliki kuku panjang setajam kuku kucing ini tidak disambut baik oleh Pak Guru. Apalagi ada aturan baru di sekolah untuk menggunting kuku rutin. Pak Guru bilang kuku akan selalu bertambah panjang 2 mm per bulan, makanya perlu dirapikan.

Tentu saja, aku selalu menolak. Aku tidak mau. Aku mau jadi Kucing!

“Kamu itu manusia, bukan kucing,” hardik Pak Guru putus asa.

“Kata Ibu, anak perempuan butuh cakar sebagai pelindung,” jawabku yakin, meski aku tetap tidak bisa melindungi tanganku dari pecutan batang kemoceng Pak Guru yang meninggalkan tanda merah di jari-jari mungilku.

“Sudah kupanggil ibumu! Ngajarin anak ngawur!” balas Pak Guru sengit.

“Bapak akan menyesal sudah memanggil Ibu.”

Pak Guru tertawa merendahkan, “Kenapa? Karena dia juga ingin jadi kucing?”

“Karena Bapak bisa mati kalau berurusan dengan Ibu!” jawabku mengingat kematian Bapak yang sulit aku lupakan.

Tawa Pak Guru kembali menggema dan terdengar menjengkelkan.

Sesuai undangan Pak Guru, Ibu akhirnya datang juga ke Sekolah bersama Kucing. Ia menemui Pak Guru di ruangannya. Sedangkan aku diminta menunggu di taman sekolah. Aku tidak berdoa Pak Guru mati seperti yang kulakukan pada Bapak. Aku hanya ingin Pak Guru mendapat pelajaran saja, pelajaran tentang Kucing dan perempuan!

“Ibuuuu!” panggilku menyambut Ibu setelah urusan dengan Pak Guru selesai. Aku memeluknya, lalu memperlihatkan bilur-bilur merah bekas pukulan dari Pak Guru kepada Ibu dan Kucing.

Ibu lalu meraih tanganku lembut, dan menciumnya dengan mantra penyembuh. Aku merasa lega. Lalu ia menggandeng jari-jariku hangat, dengan tangannya yang berkuku panjang berwarna merah darah.

“Nggak usah khawatir. Pak Guru sudah mendapatkan pelajaran bagaimana memperlakukan perempuan dengan baik dari Ibu,” kata Ibu.

Kucing yang ada dipelukannya ikut mengeong seolah membenarkan.

“Aku percaya sama Ibu dan Kucing,” jawabku menatap Ibu lalu juga Kucing. Melihatnya matanya yang bulat dan jernih, membuat aku ingin menggendong Kucing.

Sebelum kami pulang, aku dan Kucing menengok sekolahku untuk kali terakhir. Di pintu gerbang sekolah, kulihat Pak Guru tersenyum menatap kami dengan hormat, walau pipi, leher, dan tangannya berdarah karena tercakar cukup dalam.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen