Malam hampir habis.
Di luar jendela ruang nifas, langit masih gelap. Entah sudah pukul berapa. Rumah sakit selalu punya cara sendiri untuk membuat waktu terasa berbeda. Malam seperti lebih panjang, suara langkah perawat terdengar lebih jelas, dan setiap bunyi kecil terasa mampu membangunkan seluruh kesadaran.
Aku belum tidur.
Tubuhku masih terasa asing sejak kemarin. Perutku nyeri setiap kali mencoba bergerak. Bekas operasi di tubuhku seperti mengingatkan bahwa sehari yang lalu, seseorang telah membelah tubuhku agar aku bisa bertemu dengan anakku.
Anak.
Anakku.
Kalimat itu masih terasa aneh di kepalaku.
Seumur hidup, aku adalah seorang anak.
Malam ini, untuk pertama kalinya, aku menjadi seorang ibu.
Aku menoleh ke samping.
Mama sedang tidur.
Wajahnya terlihat begitu lelah. Ada gurat-gurat usia yang selama ini mungkin jarang kuperhatikan. Rambutnya sedikit berantakan. Tubuhnya tertidur di kursi yang jelas tidak nyaman untuk dijadikan tempat beristirahat.
Namun entah kenapa, aku tahu…
Mama tidak benar-benar tidur.
Seperti ada bagian dari dirinya yang tetap terjaga.
Mungkin telinganya masih menunggu suaraku.
Mungkin tubuhnya masih dalam mode bersiap untuk bangun kapan saja kalau aku memanggil.
Lucu.
Bertahun-tahun aku mengenal Mama, tetapi baru malam ini aku benar-benar memperhatikannya.
Dulu aku pikir Mama hanya Mama.
Seseorang yang akan selalu ada.
Seseorang yang bisa dipanggil kapan saja.
Seseorang yang akan tetap berdiri meskipun hari-hari membuatnya lelah.
Mungkin karena itu pula aku pernah begitu jauh darinya.
Hubungan kami tidak pernah benar-benar buruk.
Hanya saja… tidak cukup dekat.
Aku adalah anak pertama.
Anak yang terlalu cepat belajar menjadi kuat.
Sebelum menikah, aku sudah terlalu lama merasa harus mampu mengurus banyak hal sendiri. Menjadi tulang punggung keluarga membuatku terbiasa menyimpan lelah tanpa banyak mengeluh.
Dan mungkin, tanpa kusadari, aku membawa kebiasaan itu ke dalam hubunganku dengan Mama.
Aku terbiasa berkata,
"Aku bisa sendiri."
Sampai suatu hari, aku benar-benar percaya bahwa aku tidak membutuhkan siapa-siapa.
Termasuk Mama.
Bahkan ketika hari kelahiran anakku tiba, aku sempat berpikir bahwa di rumah sakit aku hanya membutuhkan suamiku.
Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.
Aku pikir aku cukup kuat.
Ternyata aku salah.
Ternyata menjadi kuat tidak selalu berarti harus melakukan semuanya sendiri.
Sehari yang lalu, setelah keluar dari ruang operasi, separuh tubuhku masih belum bisa kuajak bekerja sama.
Aku ingin bangun, tetapi tubuhku tidak menurut.
Aku ingin duduk, tetapi rasa nyeri membuatku menyerah.
Aku haus.
Aku lapar.
Namun bahkan untuk meraih gelas air pun, aku tidak mampu.
Dan di saat seperti itu, Mama ada.
Tangannya menyuapkan makanan.
Tangannya menyodorkan minuman.
Tangannya membantu sesuatu yang bahkan untuk kulakukan sendiri pun aku merasa malu.
Lalu ketika bayiku masuk ke ruangan…
Aku hanya bisa memandangnya.
Kecil sekali.
Rapuh sekali.
Dan entah kenapa, begitu ingin kupeluk.
Aku ingin menyusui anakku sendiri, tetapi tubuhku belum sepenuhnya pulih.
Aku bahkan tidak mampu meraihnya.
Lalu Mama mengangkatnya.
Perlahan.
Hati-hati.
Seperti dahulu ketika mungkin akulah yang pernah berada di dalam pelukannya.
Mama menyerahkan bayiku kepadaku.
Dan saat itulah aku sadar…
Ternyata sebelum menjadi ibu bagi anakku, aku masih seorang anak di hadapan Mama.
Anak yang ternyata masih membutuhkan tangan ibunya.
Aku menatap Mama yang sedang tertidur malam ini.
Dan untuk pertama kalinya, aku membayangkan sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar kupikirkan.
Bagaimana dulu Mama merawatku?
Bagaimana dulu Mama menggendongku ketika aku menangis?
Bagaimana dulu Mama terbangun berkali-kali hanya karena aku membutuhkan sesuatu?
Berapa banyak malam yang dilewatinya tanpa tidur?
Berapa banyak lelah yang disimpannya sendiri?
Berapa kali tubuhnya ingin menyerah, tetapi tetap bangun karena ada seorang anak yang memanggil?
Aku tidak tahu.
Dan mungkin aku tidak akan pernah benar-benar tahu.
Karena menjadi seorang anak membuatku hanya mengingat bagaimana aku ingin disayangi.
Sementara menjadi seorang ibu membuatku perlahan mengerti…
Betapa panjang jalan yang ditempuh seseorang hanya untuk membuat anaknya merasa baik-baik saja.
Mama…
Aku ingin mengatakan terima kasih.
Sungguh.
Untuk tangan yang menyuapiku ketika tubuhku belum mampu bergerak.
Untuk tangan yang mengangkat anakku ketika aku bahkan belum sanggup mengangkat tubuh sendiri.
Untuk setiap kali Mama bangun ketika aku membutuhkan bantuan.
Untuk malam yang mungkin membuat tubuh Mama pegal, tetapi tetap memilih bertahan di samping tempat tidurku.
Untuk hadir di saat aku sendiri sempat berpikir bahwa aku tidak membutuhkanmu.
Namun anehnya, setiap kali ingin mengatakannya, bibirku kelu.
Aku tidak terbiasa mengucapkan sayang.
Tidak terbiasa memelukmu terlalu lama.
Tidak pandai mengatakan terima kasih.
Mungkin karena di antara kita, kasih sayang memang lebih sering disimpan daripada diucapkan.
Maka malam ini aku hanya bisa menatapmu dari tempat tidur.
Dan diam-diam menangis.
Bukan karena sakit.
Bukan karena takut menjadi seorang ibu.
Tetapi karena baru sekarang aku mengerti sesuatu yang seharusnya sudah lama kusadari.
Kehadiranmu adalah rezeki.
Rezeki yang datang tanpa kuminta.
Rezeki yang baru kusadari nilainya ketika tubuhku sendiri tidak lagi mampu melakukan apa-apa.
Aku pernah mengira aku cukup kuat untuk menjalani semuanya sendiri.
Ternyata Allah mengirimkan Mama untuk mengingatkanku…
Bahwa terkadang pertolongan-Nya hadir dalam bentuk seseorang yang sejak dulu kita kira akan selalu ada.
Seseorang yang kita anggap biasa.
Seseorang yang kita panggil dengan satu kata sederhana:
Mama.
Aku ingin bangun.
Ingin memelukmu.
Ingin membangunkanmu dan berkata,
"Ma, terima kasih."
Tapi tubuhku belum mampu.
Dan mungkin, hatiku pun belum cukup pandai menerjemahkan semua yang kurasakan menjadi kata-kata.
Jadi malam ini, biarlah air mata yang berbicara.
Aku hanya bisa berdoa dalam diam.
Ya Allah…
Panjangkanlah umur Mama.
Sehatkan tubuhnya.
Ringankan langkahnya.
Jangan biarkan terlalu banyak lelah tinggal di tubuhnya.
Jangan biarkan aku terlambat menyadari betapa berharganya dia.
Kalau boleh meminta satu hal lagi…
Izinkan Mama melihat anakku tumbuh besar.
Izinkan ia melihat cucunya belajar berjalan.
Belajar berbicara.
Masuk sekolah.
Mungkin suatu hari nanti, melihat cucunya menikah.
Dan izinkan aku, Ya Allah…
menjadi anak yang masih bisa menggenggam tangannya sampai hari itu tiba.
Aku tahu waktu tidak pernah berjanji akan tinggal lama.
Karena itu, malam ini aku ingin menyimpan wajah Mama baik-baik di ingatanku.
Wajah yang tertidur dalam kelelahan.
Wajah yang mungkin selama bertahun-tahun luput dari perhatianku.
Wajah seorang perempuan yang ternyata telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menjadi tempat pulang bagi anak-anaknya.
Aku menatap jam.
Sebentar lagi subuh.
Di antara malam yang hampir selesai dan pagi yang sebentar lagi datang, aku akhirnya mengerti satu hal:
Menjadi ibu membuatku mengenal anakku.
Tetapi menjadi ibu juga membuatku mengenal Mamaku.
Dan mungkin…
inilah hadiah terbesar yang Allah berikan kepadaku setelah kelahiran anakku.
Bukan hanya seorang bayi di dalam pelukanku.
Tetapi kesempatan untuk kembali menjadi anak.
Anak Mama.
Sebelum semuanya terlambat.
Sebelum suatu hari nanti aku hanya bisa merindukan tangan yang malam ini masih begitu dekat.
Aku menarik napas pelan.
Menahan tangis agar tidak membangunkannya.
Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mengucapkan kalimat yang selama ini terlalu sulit keluar dari bibirku.
Pelan sekali.
Hampir seperti bisikan.
"Terima kasih, Ma."
Mama tetap tertidur.
Mungkin dia tidak mendengarnya.
Tapi aku berharap langit mendengarnya.
Sebab ada doa yang tidak perlu diucapkan keras-keras agar sampai kepada Tuhan.
Dan malam itu, menjelang subuh, dengan tubuh yang masih sakit dan seorang bayi yang tertidur di dekatku…
aku berdoa agar Allah memberiku cukup waktu untuk membalas semua cinta yang dulu terlalu sering kulewatkan begitu saja.
Karena ternyata,
seberapapun kuat seorang anak tumbuh…
pada akhirnya, ia tetap akan membutuhkan ibunya.
Dan malam itu aku tahu,
aku masih seorang anak.
Aku hanya sedang belajar menjadi seorang ibu.

