CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Sebelum Ibu Menutup Mata
SI

Sebelum Ibu Menutup Mata

oleh Irna Cahyani
CerpenGratis3 menit baca3 dibacaJFMM Participant

Tentu. Aku buat dengan suasana emosional, konflik keluarga yang kuat, dan sedikit menegangkan , dengan fokus pada penyesalan seorang anak yang dulu mengabaikan nasihat ibunya.

Sebelum Ibu Menutup Mata

Sejak mengenal Arman, hidup Laila perlahan berubah. Dulu, ia selalu pulang sebelum malam dan sering bercerita kepada ibunya tentang sekolah, pekerjaan, bahkan masalah kecil yang dialaminya. Namun setelah memiliki kekasih, hampir semua keputusan Laila ditentukan oleh Arman. Nasihat ibunya mulai terdengar seperti gangguan.

“Laila, Ibu cuma ingin kamu berpikir baik-baik. Jangan terlalu cepat percaya kepada seseorang hanya karena dia mengatakan sayang,” pesan Ibu suatu malam.

Laila menghela napas. “Ibu selalu berpikiran buruk tentang Arman. Dia orang yang aku cintai, Bu.”

“Cinta itu penting, Nak. Tapi hidup juga membutuhkan tanggung jawab.”

“Aku tahu apa yang aku lakukan.”

Sejak saat itu, Laila semakin jarang mendengarkan ibunya. Ketika Ibu menyarankan agar Laila tetap bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, Arman justru berkata, “Kamu nggak perlu capek-capek kerja. Aku bisa mengurus kamu.”

Laila mempercayainya.

Beberapa tahun berlalu. Laila menikah dengan Arman dan memiliki dua orang anak. Pada awalnya kehidupan mereka terlihat baik-baik saja. Namun keadaan berubah ketika usaha Arman bangkrut. Penghasilan mereka berhenti. Tagihan menumpuk. Kebutuhan anak-anak semakin banyak.

Laila mulai panik.

“Man, uang untuk susu anak sudah habis. Besok mereka harus bayar sekolah.”

Arman hanya diam.

“Kita harus bagaimana?”

“Aku juga sedang mencari jalan.”

Hari demi hari, keadaan semakin sulit. Arman mulai sering pergi mencari pekerjaan, tetapi tidak kunjung mendapatkan penghasilan tetap. Laila akhirnya teringat pada ibunya.

Dulu, ibunya pernah berkata, “Kalau suatu hari kamu jatuh, jangan malu pulang. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu.”

Namun Laila terlalu malu untuk kembali.

Sampai suatu malam, salah satu anaknya demam. Laila duduk di samping tempat tidur sambil menangis. Ia memandang wajah kedua anaknya dan teringat semua nasihat yang pernah ia abaikan.

Ia mengambil ponsel.

Tangannya gemetar ketika menekan nomor ibunya.

“Bu…”

Suara di seberang terdengar lemah.

“Laila?”

Laila langsung menangis.

“Bu, maaf…”

Ibunya terdiam beberapa saat.

“Kenapa, Nak?”

“Aku salah. Aku tidak mendengarkan Ibu. Aku terlalu percaya pada Arman. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana.”

Tidak ada kemarahan dari suara ibunya.

“Pulanglah.”

Dua kata itu membuat tangis Laila semakin pecah.

Keesokan paginya, Laila membawa kedua anaknya pulang ke rumah ibunya. Arman menyusul beberapa jam kemudian. Untuk pertama kalinya, ia melihat perempuan tua yang selama ini hanya dianggap sebagai ibu mertuanya.

Ibu Laila menyambut mereka tanpa mengungkit masa lalu.

“Kalian boleh tinggal di sini. Tapi mulai sekarang, kalian harus belajar berdiri lagi.”

Laila memeluk ibunya erat.

“Bu, maafkan aku.”

Ibu hanya mengusap rambutnya.

“Ibu sudah memaafkanmu sejak lama.”

Beberapa hari kemudian, kondisi Ibu tiba-tiba menurun. Laila membawanya ke rumah sakit. Di atas tempat tidur, Ibu menggenggam tangannya.

“Laila…”

“Iya, Bu.”

“Jaga anak-anakmu. Jangan sampai mereka belajar dari kesalahan yang sama.”

Air mata Laila jatuh.

“Jangan bicara begitu, Bu. Ibu pasti sembuh.”

Ibu tersenyum.

“Ibu tidak tahu berapa lama lagi bisa menemanimu. Karena itu, dengarkan Ibu kali ini.”

Laila menggenggam tangan itu lebih erat.

“Aku akan dengarkan Ibu. Aku janji.”

Untuk pertama kalinya, Laila menyadari bahwa nasihat seorang ibu bukanlah bentuk kekangan.

Kadang, nasihat itu adalah cara paling sederhana seorang ibu berkata:

“Ibu ingin kamu selamat, bahkan ketika kamu memilih jalan yang salah.”

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen