Aku duduk terpaku di depan layar laptop, menatap kalender digital yang terpampang jelas di sudut bawah layar. Tanggal hari ini sudah melewati setengah bulan, dan aku baru menyadari sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali aku pulang ke rumah. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di perutku, sebuah perasaan bersalah yang semakin menguat setiap kali aku membuka ponsel dan melihat pesan singkat dari Ibu yang terkadang baru sempat kubalas beberapa jam kemudian, kadang malah keesokan harinya.
Pekerjaan di kantor tak pernah berhenti. Target yang menumpuk, rapat yang tak kunjung usai, dan berbagai pesan dari atasan yang terus berdatangan membuatku sulit mengambil jeda. Namun hari ini, di tengah kesibukan yang seolah menelan waktu, ada sesuatu yang mendesak aku untuk melakukan hal berbeda. Aku tidak bisa terus-terusan menunda. Aku harus pulang.
Aku menarik napas panjang, kemudian membuka tab browser dan mulai mencari toko kado yang bisa mengirimkan barang dengan cepat. Aku ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuk Ibu. Sesuatu yang bisa menggantikan waktu yang selama ini tidak bisa kusediakan. Tapi seiring aku menelusuri pilihan hadiah, ada suara kecil di dalam kepala yang terus mengingatkan bahwa hadiah apapun tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiranku secara langsung.
Namun aku tetap melanjutkan pencarian. Pilihanku akhirnya jatuh pada sebuah tas rajut buatan tangan yang terlihat sederhana tapi elegan. Aku tahu Ibu suka barang-barang yang praktis dan tidak berlebihan. Tas itu kubeli dengan menggunakan sebagian tabungan yang selama ini kutabung untuk masa depan.
Setelah menyelesaikan pembayaran, aku mencetak tiket perjalanan ke kota kecil, tempat rumah masa kecilku dan tempat Ibu masih tinggal sendiri.
Aku berdiri dan berjalan ke kamar, menatap sejenak ke arah lemari pakaian yang sudah penuh sesak. Aku mulai mengemasi beberapa barang yang mungkin kubutuhkan selama di sana. Saat memasukkan kaos dan celana ke dalam koper, pikiranku kembali terganggu oleh suara ponsel yang bergetar di meja kerja. Pesan dari Ibu lagi. Kali ini hanya satu kalimat pendek, “Nak, kapan pulang? Ibu rindu.”
Hatiku sesak. Aku tahu Ibu pasti sudah sering merindukan kehadiranku, tapi aku selalu punya alasan untuk menunda. Aku pernah berjanji pada diri sendiri bahwa nanti, ketika pekerjaan sudah agak longgar, aku akan pulang. Tapi kenyataannya, waktu itu tak kunjung tiba.
Aku menghela napas, lalu dengan cepat membalas pesan itu, "Ibu, sabar ya. Aku akan usahakan segera pulang." Tapi aku tahu, pesan itu tak lebih dari janji kosong yang pernah kuucapkan berulang kali.
Aku menutup ponsel dan duduk kembali, mencoba memutuskan apakah aku benar-benar harus pulang sekarang. Kekhawatiran tentang pekerjaan yang belum selesai dan tumpukan tugas yang menanti membuatku ragu. Namun bayangan wajah Ibu yang sudah semakin menua dan suara lembutnya yang selalu menanyakan kabarku menggugah hati.
Aku membuka laci meja kerja dan mengambil sebuah kotak kecil yang
berisi hadiah yang sudah kubeli beberapa bulan lalu tapi belum sempat aku
kirimkan. Hadiah yang selama ini kuanggap cukup sebagai pengganti waktu yang tidak bisa kuberikan. Kini, aku tahu itu tidak cukup. Aku ingin memberikan
sesuatu yang lebih berharga: kehadiranku.
Dengan keputusan yang mantap, aku menutup laptop dan menata ulang koper. Aku memasukkan kotak hadiah itu dengan hati-hati, memastikan barang-barang lain sudah siap. Aku tidak akan memberitahu Ibu sebelumnya. Aku ingin membuat kejutan, agar kau tahu aku benar-benar serius kali ini.
Sambil mengemasi barang, pikiranku melayang ke masa kecil. Ingatan tentang Ibu yang selalu bangun pagi hanya untuk memastikan seragam sekolahku selalu bersih dan rapi, tentang bekal sederhana yang selalu ia sediakan meski lauknya kadang hanya cukup satu porsi, dan tentang sepatu baru yang tiba-tiba muncul ketika sepatuku rusak. Semua pengorbanan kecil yang dulu kuanggap biasa saja, kini terasa sangat berarti.
Aku menggenggam kotak hadiah itu erat-erat, merasakan beban sekaligus kehangatan yang datang bersamanya. Aku tahu perjalanan ini bukan hanya soal jarak fisik, tapi juga tentang merajut kembali hubungan yang mulai renggang.
Setelah memastikan semuanya masuk koper, aku menyalakan ponsel dan membatalkan beberapa janji rapat yang belum terlalu mendesak. Aku harus membuat ruang di kalender yang sudah penuh sesak ini. Ini bukan waktu yang tepat untuk menunda lagi.
Hatiku berdebar saat membuka aplikasi pemesanan tiket. Aku memilih jadwal keberangkatan paling awal besok pagi. Dengan jari yang sedikit gemetar, aku menekan tombol “Konfirmasi”. Setelah itu, aku menutup aplikasi dan meletakkan ponsel di atas meja.
Aku berdiri, berjalan ke jendela dan menatap keluar. Kota besar ini terasa bising dan penuh tekanan. Namun, di balik semua hiruk-pikuk ini, ada satu tempat yang selalu menjadi pelabuhan hatiku, tempat yang selama ini selalu menunggu—rumah Ibu di kota kecil.
Aku merasakan getaran telepon di saku jaket. Sebuah pesan masuk. Kali ini dari sahabat dekatku, menawarkan bantuan jika aku butuh sesuatu untuk perjalanan. Aku hanya membalas dengan singkat, "Terima kasih. Aku harus pulang."
Sambil menatap langit yang mulai gelap, aku menghela napas dan merasakan keyakinan yang sebelumnya tidak pernah kumiliki. Aku siap untuk pulang. Pulang sebelum terlambat.
Dengan langkah mantap, aku mengambil koper dan mengecek lagi kotak hadiah yang sudah kutaruh di dalamnya. Segala rasa bersalah dan keraguan yang selama ini membelenggu mulai terlepas sedikit demi sedikit. Ini adalah keputusan yang aku buat bukan karena tekanan, tapi karena aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan ini.
Aku menatap ponsel untuk terakhir kali sebelum tidur malam itu.
Pesan terakhir dari Ibu yang sederhana namun penuh harap masih tertera di layar. Aku tidak akan membalasnya malam ini. Aku ingin kejutan. Aku ingin melihat langsung ekspresi wajah Ibu ketika aku tiba di rumah.
Malam itu aku tidur dengan perasaan yang campur aduk—gelisah, cemas, namun juga penuh harapan. Esok hari aku akan meninggalkan semua hiruk-pikuk kota besar ini dan kembali ke tempat yang selama ini selalu menungguku tanpa pernah lelah.
Saat pagi menjelang, aku bangun lebih awal, mengecek kembali barang bawaan dan memastikan tiket dalam tas sudah tersedia. Aku menatap cermin, melihat bayangan pria yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk pekerjaan daripada keluarga.
Dalam hati aku berjanji, kali ini aku tidak akan menunda. Kali ini aku akan pulang secepat mungkin tanpa memberitahu siapa pun, agar aku bisa benar-benar hadir untuk Ibu.
Dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya, aku mengunci pintu kamar dan membawa koper ke ruang tamu. Aku menyalakan lampu dan menatap kotak hadiah yang tergeletak di atas meja. Hadiah itu bukan lagi sekadar benda, tapi simbol dari kesungguhan hatiku untuk memperbaiki hubungan ini.
Aku menghela napas dalam-dalam, lalu mengambil ponsel dan mematikan notifikasi pekerjaan. Aku ingin memulai babak baru yang nyata, bukan hanya dalam pikiranku, tapi juga dalam tindakan.
Setelah itu, aku menyusun semua barang dengan rapi, memastikan tidak ada yang tertinggal. Aku tahu, besok pagi aku akan berangkat tanpa beban penyesalan lagi.
Sebelum menutup pintu kamar, aku menatap foto lama yang tergantung di dinding. Foto itu menunjukkan Ibu dan aku saat aku berusia sekitar lima tahun, kami tersenyum lebar di depan rumah tua kami. Wajah Ibu penuh kasih dan harapan, wajah yang selalu aku rindukan tapi jarang aku kunjungi.
Aku berbisik pelan, "Ibu, aku pulang." Namun kali ini aku tahu, aku benar-benar akan pulang. Bukan hanya lewat kata-kata. Aku akan hadir.
Saat aku menutup pintu dan mengambil koper, hatiku penuh dengan tekad yang baru.
Bus yang kutumpangi meninggalkan keramaian kota besar dengan perlahan. Gedung-gedung tinggi yang menekan langit mulai menyusut, digantikan oleh pemandangan pepohonan yang meranggas dan rumah-rumah sederhana erwarna pudar. Sepanjang perjalanan, aku menatap jendela sambil membiarkan pikiranku melayang ke masa lalu, ke rumah yang menanti di ujung perjalanan ini.
Setiap lekuk jalan, setiap tikungan, rasanya seperti membawaku lebih dekat ke kenangan yang lama terpendam. Bau tanah basah setelah hujan lontar di udara, suara burung yang bersahut-sahutan di sela-sela dedaunan, dan deru angin yang menyapu rerumputan di tepi jalan—semua itu membawa kembali ingatan tentang hari-hari kecilku, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan Ibu selalu menjemputku dengan senyum yang sama hangatnya.
Di tengah perjalanan, pikiranku terhenti pada seragam sekolah yang selalu rapi terlipat di lemari. Aku ingat betapa Ibu rela bangun pagi lebih awal setiap hari hanya untuk mencuci dan menyetrika bajuku agar aku bisa pergi ke sekolah dengan penampilan terbaik. Bahkan ketika mesin jahitnya rusak dan ia harus memperbaikinya sendiri dengan tangan yang mulai lelah, aku tidak pernah melihat ada keluhan yang terlontar dari bibirnya.
Sebuah kenangan lain muncul: bekal nasi yang dibungkus rapi dengan daun pisang, lauk sederhana yang entah kenapa selalu terasa lezat saat aku membukanya di tengah hari sekolah. Aku ingat pernah bertanya kenapa lauknya hanya cukup satu porsi. Ibu hanya tersenyum dan berkata, “Sudah cukup buat Ibu, Nak. Yang penting kamu kenyang.”
Kenangan demi kenangan itu membuat dadaku sesak. Aku sadar, selama ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan ambisi yang membuatku melupakan betapa besar pengorbanan yang Ibu lakukan. Aku merasa seperti seorang anak yang terlambat menyadari betapa berharganya waktu yang telah terbuang.
Bus mulai menuruni jalan berkelok, meninggalkan jalan raya yang lebih lebar dan bising. Udara mulai terasa lebih sejuk, berbeda dengan panas yang biasa kuhirup di kota besar. Aku menggenggam pegangan kursi dengan sedikit lebih erat, mencoba menenangkan detak jantung yang entah kenapa berdebar lebih kencang dari biasanya.
Pikiran tentang Ibu yang tinggal sendirian di rumah tua itu membuatku ragu. Apakah dia masih sehat? Apakah kebiasaannya berubah? Aku tahu aku sudah lama tidak pulang. Telepon dan pesan singkat yang kubalas terburu-buru tidak pernah bisa menggantikan kehadiran nyata yang ia butuhkan.
“Ini benar-benar keputusan yang tepat,” gumamku pelan pada diriku sendiri.
Di perjalanan, aku sesekali menengok ponsel, melihat kotak pesan yang berisi beberapa pesan Ibu yang belum sempat kubalas dengan panjang lebar. Pesan-pesan yang selalu sederhana, berupa pertanyaan tentang kapan aku pulang, apakah aku sudah makan, atau hanya sekadar mengingatkan agar menjaga kesehatan.
Aku ingin membalas semua pesan itu dengan kata-kata yang hangat, namun aku juga takut kata-kataku terdengar kosong setelah begitu lama aku absen.
Waktu menunjukkan siang hari ketika bus mulai memasuki jalan kecil yang lebih sempit, berliku di antara rumah-rumah yang mulai tampak usang namun penuh cerita. Lampu lalu lintas dan suara klakson yang biasa menemani hari-hariku kini berganti dengan kicauan burung dan suara anak-anak yang bermain di halaman.
Aku menaruh tas di pangkuanku, menarik napas dalam dan menatap langit yang mulai berawan tipis, tanda hujan kecil mungkin akan turun nanti. Semilir angin menembus celah jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma tanah
basah dan dedaunan.
Salah satu hal yang paling kurindukan dari kota kecil ini adalah ketenangannya, jauh dari hiruk-pikuk yang selalu menggerogoti pikiranku di kota besar. Tapi kini, aku sadar betapa aku juga rindu Ibu, rindu rumah yang selama ini selalu kukira akan selalu ada di sana, menunggu.
Kilasan ingatan kembali muncul, kali ini tentang sepatu baru yang muncul tiba-tiba di rumah setelah sepatuku rusak saat bermain sepeda. Aku tahu Ibu menyimpan rahasia kecil itu agar aku bisa tetap percaya diri di sekolah, walau sebenarnya dia harus berhemat selama berminggu-minggu.
Aku menatap keluar jendela, membayangkan Ibu di dapur kecil rumah, menunggu dengan senyum yang sama yang dulu selalu menyambutku pulang. Apakah dia masih setegar dulu? Apakah langkahnya masih ringan mengitari rumah tua itu? Semua pertanyaan itu menimbulkan rasa cemas yang tak tertahankan.
Bus mulai merayap memasuki jalan utama kota kecil. Aku melihat papan nama yang sudah mulai pudar, dan beberapa toko tradisional yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. Tidak ada kemacetan, tidak ada suara bising yang memekakkan telinga, hanya suasana tenang yang menyambut kedatanganku.
Hatiku campur aduk. Ada rasa lega karena akhirnya aku bisa kembali, ada kecemasan karena aku sudah terlalu lama absen, dan ada haru yang sulit kubendung karena aku tahu perjalanan ini bukan sekadar kembali ke rumah, tapi perjalanan pulang ke dalam hatiku sendiri.
Jantungku berdegup lebih kencang ketika bus melewati rumah-rumah yang kukenal sejak kecil. Ada warung kecil di sudut jalan, yang dulu sering kuajak Ibu untuk membeli jajanan. Ada pohon mangga yang rindang, yang dulu menjadi tempat aku dan teman-teman bermain setelah pulang sekolah.
Aku menundukkan kepala, membiarkan air mata menetes tanpa suara. Ini bukan air mata kesedihan yang berlebihan, hanya luapan rasa rindu dan penyesalan yang sudah lama terpendam.
Bus melambat dan berhenti di halte kecil yang dulu sering kupergunakan untuk naik bus ke sekolah. Aku mengemas kembali tas di pangkuan, merapikan baju, dan berdiri dengan perasaan yang bertambah berat dan ringan sekaligus.
Kini, aku merasa ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang belum bisa kujelaskan sepenuhnya, tapi terasa begitu nyata. Rumah yang sudah lama kuceritakan dalam pikiranku, rumah yang selama ini selalu menjadi tempat aku berharap bisa kembali, kini hampir di depan mata.
Aku menatap ke depan, menyambut perasaan itu dengan hati yang terbuka. Tidak ada lagi alasan untuk menunda, tidak ada lagi waktu untuk menyesal.
Bus melaju pelan memasuki gang rumah yang familiar. Meskipun bangunan tampak lebih tua, cat yang mengelupas, dan tanaman yang tumbuh liar di halaman kecil, aku tahu rumah itu masih menyimpan kehangatan yang tak
tergantikan.
Di balik jendela yang sedikit berdebu, aku bisa membayangkan sosok Ibu yang menunggu, mungkin dengan segelas teh hangat dan senyum yang tak pernah pudar.
Aku mengambil napas panjang, merasakan udara yang berbeda menyambutku kembali. Ditambah dengan kesadaran yang baru tumbuh—bahwa pulang kali ini bukan hanya soal jarak, tapi soal hati yang ingin kuperbaiki.
Bus berhenti dan pintu terbuka. Aku mengangkat tas dan koper, menuruni anak tangga dengan langkah yang lebih mantap dari yang kurasakan selama berbulan-bulan. Di sanalah aku, di rumah yang menanti, dengan segala kenangan dan harapan yang ku bawa pulang.
Aku melangkah ke jalan kecil yang menuju rumah, dan di setiap langkah, rasa cemas dan rindu itu bergantian mendesak. Aku tahu, apa pun yang terjadi nanti, aku sudah memulai sesuatu yang penting.
Pintu rumah tua yang kutuju terbuka perlahan saat aku mengangkat tangan hendak mengetuk. Dari balik daun pintu, muncullah sosok yang sudah lama kutahu, namun kali ini tampak berbeda. Bu Rini keluar dengan senyum lembut yang seperti biasa, tapi langkahnya jauh lebih lambat, seolah tiap langkah membawa beban waktu yang bertumpuk.
“Arga! Kamu sudah sampai, Nak,” katanya dengan suara yang tetap hangat, meski sedikit serak di tepinya.
Aku mengangguk, hatiku berdegup cepat. Sejak terakhir kali aku pulang, wajahnya berubah, lebih banyak kerutan halus, rambut yang dulu hitam mulai memutih dan menipis. Tapi senyumnya masih sama, seperti matahari pagi yang tak pernah gagal menyinari rumah ini.
“Maaf, Ma, aku datang tanpa bilang-bilang. Aku ingin kejutan,” jawabku sambil tersenyum.
Bu Rini menggeleng, matanya berkaca-kaca, lalu ia mengulurkan tangan menuntunku masuk.
Aku menurunkan tas, mengamatinya lebih dekat. Tangannya yang dulu kuat kini tampak lebih rapuh, jari-jarinya sedikit gemetar saat membuka pintu. Rumah ini juga sudah tua, cat tembok mengelupas, lantai kayu berderit saat kutapakkan kaki. Tapi semua bau, warna, dan suara di dalamnya masih begitu akrab.
“Masuk, Nak. Ibu sudah siapkan teh hangat,” katanya sambil berjalan menuju dapur kecil di sudut rumah.
Aku mengikuti, mataku tertuju pada tumpukan kain di mesin jahit tua yang biasa jadi alat penghidupan ibu. Mesin itu tak pernah berhenti bergerak dulu, sekarang diam, tapi kehadirannya membawa ribuan kenangan.
Di meja makan, terlihat piring dan gelas tak beraturan, namun tetap rapi—seperti ibu yang selalu teliti, meski kesibukannya bertambah dengan usia.
Aku duduk, menunggu dengan hati yang campur aduk.
“Bagaimana perjalanannya? Capek?” Bu Rini bertanya, duduk di seberangku.
“Lumayan, Ma. Tapi aku senang bisa pulang,” jawabku, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba menyeruak.
Ia tersenyum dan mengangguk pelan. Ada kehangatan di mata itu, tapi juga sesuatu yang kurasakan sebagai kerinduan yang sudah lama terpendam.
Kami mulai berbincang ringan tentang cuaca, ladang tetangga, dan kabar keluarga yang jarang aku dengar. Suaranya lembut, dengan tawa kecil yang muncul sesekali, seperti dulu ketika aku anak-anak. Tapi tak bisa kupungkiri, ada jeda panjang di antara kalimatnya, seolah ia mencari kekuatan di setiap ucapannya.
Saat aku melirik ke arah dapur, terlihat beberapa sayuran basah masih tertata rapi di wadah plastik, dan aroma masakan sederhana khas ibu mulai menguar. Bau itu menyentuh nostalgia, mengingatkanku pada makan siang masa kecil yang selalu dirindukan.
“Ma, kamu sudah makan? Aku lihat lauknya cuma sedikit,” kataku, tak sengaja membuka topik yang membuat rasa bersalah menggapai dadaku.
“Ah, sudah, Nak. Ibu sudah makan tadi pagi. Jangan khawatir, Ibu kuat,” jawabnya sambil tersenyum, tapi aku tahu itu jawaban yang biasa ia berikan untuk menghilangkan kekhawatiran anaknya.
Aku memandangnya diam-diam, mencatat setiap perubahan kecil yang membuat hatiku bergetar. Rambut yang dulu hitam pekat kini hampir eluruhnya memutih, kulit wajah yang mulai kendur, dan langkah yang tak lagi ringan seperti dulu. Semua itu membuat aku merasa bersalah karena terlalu lama meninggalkannya.
“Aku bawa sesuatu untukmu, Ma,” kataku, lalu mengeluarkan kotak yang kubawa dari tas.
Bu Rini membuka kotak itu perlahan. Matanya berbinar saat melihat isi hadiah yang kubeli, sebuah set peralatan memasak modern yang selama ini ia inginkan. Tapi senyum yang kutunggu tak muncul seperti yang aku bayangkan.
“Aduh, Nak, ini bagus sekali. Terima kasih ya,” katanya, lalu menatapku dalam-dalam. “Tapi, kamu tahu, hadiah terbaik Ibu sebenarnya kamu saja yang datang dan duduk di sini.”
Kata-katanya menusuk. Aku terdiam sejenak, menatap ke bawah. Selama ini aku pikir hadiah mewah bisa menggantikan kehadiranku, tapi ternyata ibu hanya ingin aku ada di sini, bersama, bukan sekadar memberi hadiah.
“Maaf, aku baru sadar sekarang,” bisikku pelan.
Dia tertawa kecil, lalu berdiri dan mengambil sebuah kotak tua dari atas lemari. “Ini ada sesuatu yang ingin Ibu berikan padamu, Nak,” katanya sambil duduk kembali di sampingku.
Kotak itu penuh dengan benda-benda kecil dari masa kecilku, foto-foto lama, dan surat-surat yang tampaknya belum pernah ia kirimkan kepadaku. Aku membuka surat pertama dengan tangan gemetar.
Dalam surat itu, ibu menulis tentang hari-hari yang ia lalui sendiri setelah bapak meninggal, tentang kekhawatirannya melihat aku tumbuh besar tanpa sosok ayah, dan ketakutannya yang paling dalam—bahwa aku akan terlalu sibuk hingga lupa pulang ke rumah.
Air mataku mulai menetes tanpa suara. Semua pengorbanan, kesendirian, dan rasa rindu ibu selama ini terekam jelas dalam kata-kata itu. Aku merasa seperti melewati lorong waktu, bertemu wajah ibu yang sebenarnya selama ini tersembunyi di balik senyum dan kesederhanaannya.
“Ma, aku janji, aku akan lebih sering pulang. Aku tidak akan biarkan kamu merasa sendiri lagi,” kataku dengan suara bergetar.
Dia meraih tanganku erat, lalu tersenyum. “Sudah lama Ibu menunggu kata-kata itu, Nak. Tapi yang penting sekarang kamu di sini.”
Sore mulai merayap masuk melalui jendela yang terbuka, menyelimuti ruangan dengan cahaya hangat. Kami duduk bersama, membuka album foto lama dan mengenang masa kecilku. Suasana menjadi lebih ringan ketika ibu mulai bercerita tentang kebiasaan kecil yang dulu aku anggap biasa saja—seperti cara dia merapikan seragam sekolahku, memasak lauk sederhana untukku, dan selalu berusaha membuatku merasa cukup walau harus mengorbankan dirinya.
Aku tertawa kecil mendengar ceritanya, sekaligus merasa berat karena baru menyadari betapa besar pengorbanan yang selama ini aku anggap remeh.
“Ma, kamu masih kuat untuk semua ini?” tanyaku, hatiku semakin mencengkeram..
Dia menggeleng, lalu menghela napas panjang. “Kekuatan Ibu ada pada kamu, Nak. Selama kamu ada, Ibu akan tetap berusaha.”
Malam itu, aku mengambil keputusan yang tak pernah kuambil sebelumnya. Aku mematikan ponsel dan semua notifikasi pekerjaan. Aku hanya ingin fokus pada satu hal—menghabiskan waktu dengan ibu.
“Mau kita makan malam bersama, Ma?” tawarku.
Dia mengangguk, senyumnya penuh kehangatan. Saat kami duduk di meja makan, aku merasakan kedamaian yang selama ini hilang dari hidupku. Tidak ada tekanan rapat, tidak ada tenggat waktu, hanya hadirnya ibu yang selama ini aku rindukan.
Sebelum aku tidur, aku menatap ibu yang sudah terlelap di kursi ruang tamu. Wajahnya yang lelah tapi damai menyentuh jiwaku. Aku tahu, perjalanan ini baru saja dimulai.
Saat aku bersiap tidur di kamar lama yang dulu kuisi saat kecil, aku mendengar suara lembutnya dari ruang tamu, “Arga, terima kasih sudah pulang.”
Aku membalas dengan senyum, meski hanya dalam gelap, dan berkata pelan, “Kali ini aku tidak akan buru-buru.”
===================================
“Selagi Ibu masih menunggu, pulanglah—sebab waktu
tak pernah belajar kembali.”
===================================
Chiptady - 2026

