Ketika Ibu saya sakit, saya tidak pernah tahu harus berbuat apa di samping tempat tidurnya. Saya takut salah bicara, takut membuatnya menangis, takut menangis lebih dulu. Jadi saya melakukan hal yang paling mudah, diam.
Bertahun-tahun kemudian, saya masih ingat kecanggungan itu.
Rasa penasaran dan penyesalan yang tersisa saat itu, membawa saya pada sebuah Sabtu malam.
Kania menelepon dan mengajak saya keluar. Saya sudah bisa membayangkan bagaimana malam kami akan berjalan, bertemu di kafe, mengobrol ke mana-mana, tertawa, lalu berakhir pada sesi curhat. Hanya saja, saya mulai merasa kami punya terlalu banyak malam yang bentuknya hampir selalu sama.
"Ke mana kita pergi malam ini?" Kania bertanya.
“Gue mau berkunjung ke rumah orang. Mau ikut nggak?”
“Siapa?” lanjut Kania.
“Pokoknya mau nggak? Kalau mau, lu gue jemput.”
“Ke mana?”
“Rahasia.”
“Terus makan?”
“Lu makan dulu di rumah. Kita nggak ada acara makan malam, baik di warteg maupun di kafe. Pengiritan.”
Kania tertawa. Dia sudah terbiasa dengan cara saya membuat rencana acak.
Sekitar pukul tujuh malam, kami berdua berangkat mencari sebuah alamat yang belum pernah saya datangi. Orang yang akan kami temui adalah seorang ibu berusia sekitar lima puluh satu tahun. Kankernya sudah menyebar ke hati. Operasi sudah dilakukan, kemoterapi masih berjalan, dan kondisinya cukup parah. Saya datang karena beberapa teman meminta bantuan saya untuk membuatkan sebuah buku untuknya. Katanya, sebelum meninggal, ibu itu ingin menulis tentang perjalanan hidup dan pengobatannya.
Suaminya baru saja meninggal karena gagal ginjal. Anak bungsunya masih TK. Sementara itu, biaya sekali kemoterapi bahkan lebih besar daripada gaji saya sebulan.
Saya menceritakan semua itu kepada Kania di dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, kami membayangkan seorang perempuan yang lemah, murung, dan terlalu lelah untuk bicara. Namun, ketika sampai di rumahnya, dugaan kami meleset.
Memasuki sebuah kamar, kami melihat seorang perempuan terbaring dengan rambut sangat pendek dan wajah yang tampak sedikit gosong akibat pengobatan.
Saya melihat kepalanya lalu berkata, “Gaya bener model rambutnya.”
Dia menoleh, tertawa.
Saya tahu kalimat itu terdengar tidak sopan untuk pertemuan pertama. Kalau Kania tidak mengenal saya, mungkin dia mengira saya manusia paling tidak punya empati sedunia.
Masalahnya, Kania mengenal saya. Bukannya menenangkan keadaan, dia malah ikut melempar lelucon. Beberapa menit kemudian, kami bertiga sudah tertawa keras di kamar seorang perempuan yang sedang menjalani kemoterapi.
Setelah suasana cair, saya mulai membicarakan tujuan kedatangan saya.
“Ibu,” kata saya, “kalau Ibu memang mau membuat buku sebelum meninggal, saya akan buat buku ini pelan-pelan saja.”
Dia menatap saya.
“Biar Ibu nggak meninggal-meninggal,” lanjut saya tersenyum.
Dia tergelak.
“Atau... saya nggak bantu sama sekali. Itu kalau ternyata waktu Ibu dipanggil Tuhan memang tergantung bukunya.”
Kania melirik saya dengan raut panik, tapi mengabaikannya. “Soalnya Ibu orangnya asyik. Saya masih mau ketemu Ibu lebih lama.”
Tawa Ibu pecah lebih lepas.
“Tapi sebelum itu, Ibu harus bisa menjawab pertanyaan saya dengan benar," lanjut saya. "Menurut Ibu, siapa yang lebih menderita? Ibu dengan semua masalah hidup Ibu, atau saya?”
Dia terdiam sebentar, sebelum akhirnya menjawab, “Saya dong.”
Saya menggeleng. “Salah, Bu. Saya lebih menderita. Saya belum menikah, tinggal sendirian, dan baru saja ditipu puluhan juta oleh teman sendiri.”
Kesal, Ibu itu menatap saya. “Kamu nggak tahu bagaimana sakitnya kemoterapi. Sakit sekali.”
Lapisan bening di matanya hampir menetes. Tangannya bergetar. Tubuhnya bangkit untuk duduk. Kania langsung menyela membela Ibu, tapi saya menahannya.
“Kalau Ibu lagi kesakitan, ada yang menemani, kan?” tanya saya.
Ibu menjawab iya.
“Nah. Ibu lebih beruntung dari saya. Kalau saya sedih, cuma tembok yang menemani.”
Ruangan seketika hening. Saya tahu perbandingan itu tidak masuk akal. Saya sengaja melakukannya.
“Ibu tahu masalah Kania?”
Kania langsung menoleh. “Jangan bawa-bawa gue.”
“Bapak sama ibunya sudah nggak ada. Bertahun-tahun hidupnya bolak-balik rumah sakit ngurus mereka. Ibunya sampai harus operasi jantung, biayanya ratusan juta.”
Kania diam.
Saya mendekatkan kursi ke samping ibub itu, “Dulu mungkin dia juga merasa paling menderita. Wajar sih, Bu.”
Kita sering merasa menjadi orang paling menderita di dunia. Bedanya hanya pada bentuk ujiannya: ada yang menghadapi penyakit, kehilangan orang tua, uang, atau sekadar pulang ke rumah tanpa ada yang menanyakan kabarnya.
Malam itu, saya ingin Ibu memahami bahwa masalahnya memang berat, tetapi dia tidak harus menjadikan penderitaan sebagai satu-satunya cara untuk mendefinisikan dirinya.
“Saya nggak mau bikin buku yang hanya membuat pembacanya merasa kasihan sama Ibu,” kata saya. “Cerita orang sakit sudah
banyak.”
Ibu diam.
“Saya juga nggak mau saat selesai baca bukunya, pembaca merasa bersyukur hanya karena mereka nggak kena kanker. Saya ingin cerita Ibu membuka mata mereka untuk melihat banyak hal yang patut disyukuri.”
Saya masih menggenggam tangan Ibu itu..
“Ibu nggak harus sembuh dulu untuk jadi berkat. Ibu juga nggak harus menunggu kankernya hilang untuk bilang Tuhan itu baik.”
Ibu terdiam cukup lama, lalu dengan suara lirih ia berkata, “Kamu tahu nggak? Biasanya saya kesakitan. Tapi sekarang saya malah bisa duduk gara-gara dengar kamu ngomong.”
Setelah itu, giliran Ibu yang bicara. Lima menit kemudian saya sudah tahu cerita keluarganya, nama beberapa temannya, siapa yang paling sering membuatnya kesal, dan kenapa dia tidak suka orang datang menjenguk sambil memasang wajah kasihan.
Kania dan saya saling pandang. Pasien yang tadi kami bayangkan ternyata cerewet. Kami mengobrol sampai lupa waktu.
Ketika kami pamit, Ibu bahkan turun dari tempat tidurnya dan bersikeras mengantar kami
sampai ke teras.
“Gimana sih, pasien kok jalan-jalan?” cela saya.
Dia tertawa dan mengaku merasa sangat sehat hari itu. Katanya, dia menemukan semangat baru untuk mulai menulis.
Saat berdiri di teras rumahnya, tepat sebelum melangkah pergi, saya menyampaikan hal yang sejak awal saya simpan rapat-rapat.
“Ibu. Kedua orang tua saya meninggal karena kanker.”
Ibu kaget, seketika terdiam. Matanya yang sendu menatap saya dengan dalam.
“Saya tahu sedikit tentang apa yang Ibu alami. Maafkan bahasa saya tadi.”
Dia tersenyum. Senyumannya mengantarkan kami pergi.
Di perjalanan pulang, saya dan Kania tidak banyak bicara.
“Gue masih nggak habis pikir lu bisa ngomong begitu ke orang sakit,” pecah suara Kania.
“Ibu itu sudah terlalu lama sakit,” saya membela diri. “Pasti sudah capek dengar orang bilang dia harus kuat.”
Kania menoleh.
“Kalau kita mau bikin buku tentang kekuatan, gue harus tahu dulu dia masih punya kekuatan itu atau tidak,” lanjut saya.
Kania paham, ia mengangguk perlahan.
Kemudian saya menyadari sesuatu.
Dulu, ketika Ibu kandung saya terbaring sakit, saya terlalu takut kehilangan dia sampai lupa bagaimana caranya menemani dia.
Saya bicara lebih pelan. Lebih hati-hati. Lebih banyak diam.
Saya memperlakukannya seperti orang sakit. Padahal mungkin, yang dia butuhkan waktu itu sederhana: saya tetap menjadi anaknya, bukan penjaga seorang pasien.
Itu sebabnya malam itu saya tidak takut bercanda. Saya tidak melihat seorang perempuan yang sedang menunggu kematian. Saya melihat seorang Ibu yang sedang tertawa.
Saya tidak tahu apakah malam itu membuat penyakitnya terasa lebih ringan.
Kemoterapi tetap menunggu. Tagihan tetap ada. Kanker itu tetap berada di tubuhnya.
Tetapi malam itu, Ibu itu turun dari tempat tidurnya sendiri dan mengantar kami sampai ke teras.
Katanya, dia merasa sehat.
Untuk malam itu, saya percaya kepadanya.

