Satu hari itu mungkin biasa saja, tapi hari itu, Ia bukan lagi dirinya yang dulu. Hari itu adalah hari seorang wanita mengetahui bahwa di dalam dirinya akan ada manusia lain yang lahir dan mencintainya. Hari itu Ia berubah, Ia tak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Ia membagi, nyaris semua hidupnya, untuk mahluk kecil yang bahkan masih menjadi segumpal darah. Ia membagi semua yang Ia makan kepada calon manusia baru di tubuhnya. Jika saat itu tak ada makanan yang masuk karena dahsyatnya mabuk bukan kepalang, Ia akan merelakan semua cadangan makanan yang pernah Ia simpan seumur hidupnya. Ya, ini memang bukan permintaan si kecil yang bahkan tak tahu akan menjadi seperti apa nanti. Yang Ia tau, Ia memberikan segalanya yang harapannya akan terbayar dengan cinta dari mahluk kecil itu. Sembilan purnama berlalu, dan tiba saat yang menegangkan berikutnya. Ia lahir bersama dengan manusia kecil yang ada dalam perutnya selama ratusan hari lamanya. Ia lahir dengan sebutan baru, Ibu.
Ibu bukan lagi manusia yang dulu. Perhatiannya hanya untuk mahluk kecil yang keberadaannya sudah lama Ia nantikan. Seluruh isi kepalanya seakan hanya untuk manusia kecil yang ada di depan matanya. Ia merelakan malam waktu untuk tidur agar manusia kecil itu tidak kehausan, tidak kelaparan, dan tidur dengan nyaman. Ia merelakan banyak waktunya untuk mempersiapkan banyak hal untuk manusia kecil itu lebih siap menghadapi dunia. Ia sering lupa, kalau Ia sedang lelah yang kadang membuatnya seperti singa yang mengaum. Manusia kecil itu terluka, namun tetap kembali memeluknya karena Ibu adalah satu-satunya dunianya.
Tahun demi tahun berlalu, manusia kecil itu tak lagi kecil. Ia bahkan siap pergi dari rumah untuk menuntut ilmu katanya. Lama tak berjumpa, manusia yang tak lagi kecil tersadar, Ia bukan apa - apa tanpa Ibu. Teriakan itu sudah tak lagi terdengar, suara ibu tak lagi tinggi. Manusia yang tak lagi kecil itu yang malah kadang menyakiti hati ibunya. Ibunya? Tentu saja memaafkannya.
Bertahun -tahun kembali berlalu, manusia yang dulu dipangkuan Ibu, kini sudah kembali menjadi ibu. Ia sekarang mengerti, lelahnya menjadi Ibu. Ia sekarang mengerti mengapa kadang Ibu berteriak saat lelah. Ia juga mengerti, mengapa bisa ada surga di telapak kaki ibu. Karena, setiap langkah Ibu tidak pernah mudah, setiap langkahnya dinilai ibadah. Sehingga, Ia berhak memilih, mau masuk surga dari pintu yang mana.
Ibu tidak pernah sempurna, tapi cintanya untuk manusia kecil yang pernah ada di dalam tubuhnya selama sembilan purnama, selalu sempurna.
