Wangi Gitaswara
Sekali duduk selesai
3 Oktober 2026
Mulai membaca
Dua tahun setelah ayahnya meninggal, Arga menemukan wajah ayahnya di Google Maps.
Ia sebenarnya sedang mencari rumah lama mereka bukan karena rindu. Ia hanya ingin melihat kondisinya sebelum pulang ke Bandung akhir pekan nanti. Rumah itu akan dijual, dan calon pembeli sudah meminta beberapa foto tambahan dari bagian belakang dan lantai atas. Ibu tidak terlalu paham menggunakan Street View, sementara Arga, yang selama enam tahun terakhir hidup di Jakarta, sudah terbiasa menyelesaikan hampir semua urusan dari layar ponselnya.
Alamat itu muncul setelah beberapa detik pencarian. Arga menjatuhkan pin, masuk ke Street View, lalu melihat rumah yang dulu ia kenal dengan sangat baik.
Pagar hijaunya masih ada, meskipun warnanya sudah pudar. Pohon mangga di halaman tumbuh lebih lebat daripada yang ia ingat. Teras tampak kosong, kecuali dua kursi plastik yang dulu sering dipakai ayah dan ibu duduk sore-sore.
Lalu Arga melihat seseorang di salah satu kursi.
Ia memperbesar gambar.
Ayahnya.
Kaus putih longgar, celana pendek abu-abu, tubuh yang terlihat lebih kurus daripada yang ia ingat. Di sampingnya ada sebuah kardus cokelat.
Arga tidak langsung merasa sedih. Yang muncul justru semacam ketidakpercayaan yang dingin, seperti ketika seseorang menemukan kesalahan pada dokumen dan ingin memastikan angka di dalamnya benar. Ia memperbesar gambar sampai wajah ayahnya pecah menjadi kotak-kotak kecil, kemudian memeriksa tanggal pengambilan Street View.
Tiga bulan sebelum ayah meninggal.
Ia menatap layar beberapa saat, lalu menarik napas dan menutup aplikasi.
Besok ia tetap harus pulang.
Rumah tetap harus dijual.
Dokumen tetap harus dicari.
Uang hasil penjualan tetap dibutuhkan untuk DP apartemen yang sudah enam bulan ia incar.
Enam tahun tinggal di Jakarta membuat Arga terbiasa memisahkan hidupnya menjadi bagian-bagian yang praktis. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, tagihan yang harus dibayar, jadwal yang harus dipenuhi, dan keluarga yang tetap ia hubungi di sela semuanya.
Ia tidak merasa meninggalkan Bandung.
Ia pulang saat Lebaran. Ia datang ketika ibu membutuhkan bantuan. Ketika ayah meninggal dua tahun lalu, ia pulang dan tinggal selama tiga hari untuk mengurus pemakaman. Setelah itu ia kembali ke Jakarta karena pekerjaannya menunggu.
Hubungannya dengan ibu juga tidak pernah benar-benar putus. Mereka hampir selalu bertukar pesan. Arga mentransfer uang setiap bulan dan menelepon beberapa kali dalam seminggu. Ia tahu ibu sekarang lebih sering tinggal bersama adiknya karena rumah lama terlalu besar untuk dirawat sendirian.
Menurutnya, itu sudah cukup.
Karena itu ketika ibu mengatakan rumah lama akhirnya akan dijual, Arga tidak merasa sedang kehilangan tempat pulang. Ia justru merasa ada satu urusan yang sudah terlalu lama menggantung dan akhirnya bisa diselesaikan.
Uang penjualan rumah akan menjadi bagian dari DP apartemen pertamanya.
Ia sudah membayar booking fee. Pengajuan KPR sedang berjalan. Bahkan akhir pekan lalu ia sudah mengukur ruang kerja di unit contoh karena membayangkan meja kecil yang akan diletakkannya di dekat jendela.
Rumah lama itu, dalam pikirannya, akan berubah menjadi sesuatu yang baru.
Ia tidak melihat ada yang salah dengan itu.
Di kereta menuju Bandung, Arga kembali membuka Google Maps. Kali ini ia tidak langsung berhenti pada gambar ayah. Ia mencoba melihat tangkapan Street View lain yang tersedia untuk alamat tersebut. Rumah itu muncul dalam beberapa versi, seolah-olah seseorang mengambil foto dari tempat yang sama berulang kali tanpa pernah berniat menyimpan kenangan.
Pada satu gambar, pagar masih berwarna putih. Pohon mangga belum terlalu besar. Sepeda Arga bersandar di tembok.
Ia menggeser ke gambar berikutnya.
Pagar sudah hijau. Sepeda itu hilang. Motor ayah muncul di halaman.
Pada gambar berikutnya, motor itu tidak ada.
Arga terus menggeser. Ia mulai menyadari bahwa Street View menyimpan kehidupan rumah itu dalam potongan-potongan kecil yang tidak pernah ia lihat ketika masih tinggal di sana.
Ada gambar ketika ibu sedang menjemur pakaian. Ada bayangan seseorang menyapu halaman. Ada sebuah mobil berhenti di depan pagar. Ada hari ketika halaman benar-benar kosong. Tidak satu pun momen itu dibuat untuk menjadi kenangan.
Kamera Google hanya kebetulan lewat.
Justru karena itulah semuanya terasa aneh. Rumah itu tidak sedang berusaha mengingat siapa pun, tetapi layar di tangannya memperlihatkan tahun-tahun yang selama ini ia lewatkan.
Kemudian ia kembali menemukan gambar ayah.
Ia memperbesar teras. Ada dua kursi. Ayah duduk di salah satunya. Kursi yang lain menghadap ke jalan. Kardus coklat berada di lantai.
Arga maju ke tangkapan berikutnya.
Kardus itu berpindah lebih dekat ke pintu.
Ia maju lagi. Kardus menghilang. Kemudian ia memperhatikan jendela kamar lamanya.
Tirai terbuka.
Arga menatapnya cukup lama.
Ia tidak tahu mengapa detail sekecil itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Ibunya sudah menunggu ketika Arga tiba.
Rumah tersebut jauh lebih tua daripada yang terlihat di layar. Cat pagar mengelupas di beberapa bagian. Daun mangga memenuhi halaman. Di dalam rumah, beberapa perabot ditutupi kain karena sudah lama tidak digunakan. Arga berdiri di ruang tamu dan melihat sekeliling.
“Masih banyak barang,” katanya.
Ibu mengangguk. “Namanya juga rumah.”
“Aku kira sudah dibereskan.”
“Sudah sebagian.”
Arga melihat jam.
“Aku besok mulai cari dokumennya.”
Ibu tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan kunci kamar ayah. Arga naik ke lantai atas.
Ketika melewati teras, ia berhenti sebentar. Di sana hanya ada satu kursi plastik.
Ia teringat gambar Street View.
Dua kursi.
“Bu,” panggilnya, “kursi yang satu lagi di mana?”
Ibu menoleh dari bawah.
“Kayaknya di kamar kamu.”
Arga tidak bertanya lagi.
Dokumen rumah tidak langsung ditemukan.
Ada satu surat yang belum ada dan beberapa berkas pajak harus diperiksa kembali. Agen properti menghubungi Arga sore itu.
“Mas, pembelinya masih serius, tapi dia enggak bisa nunggu terlalu lama.”
“Berapa lama?”
“Seminggu paling lama.”
Arga menutup telepon dengan rahang mengeras.
Seminggu.
Ia menghitung cepat dalam kepala. Jika transaksi mundur, pembayaran apartemen ikut bermasalah. Booking fee bisa hangus. KPR harus diurus ulang. Semua yang sudah ia susun selama berbulan-bulan bisa berantakan hanya karena satu rumah yang menurutnya seharusnya sudah selesai sejak dua tahun lalu.
Malamnya, ketika ibu sudah tidur, Arga membuka Google Maps lagi. Kali ini ia mulai memeriksa satu tanggal ke tanggal berikutnya, memperhatikan perubahan yang sebelumnya tidak berarti.
Ayah muncul di teras.
Lalu kardus.
Kemudian jendela kamar Arga terbuka.
Pada gambar lain, tirainya terlihat baru.
Arga tiba-tiba teringat sebuah percakapannya bersama Ayahnya.
‘Kalau proyek selesai, aku pulang, Yah.’
‘Berapa lama?’
‘Dua minggu. Mungkin lebih.’
‘Ya sudah. Kamarmu jangan dipakai dulu.’
Saat itu Arga mengatakannya sambil lalu.
Setelah proyek selesai, ia memang berniat pulang. Tetapi kemudian atasannya menawarkan proyek baru. Gajinya naik. Pekerjaannya semakin besar. Apartemen yang sekarang ia incar muncul dalam hidupnya. Satu alasan disusul alasan lain.
Ia tidak pernah benar-benar membatalkan kepulangannya kepada ayah.
Ia hanya terus memindahkannya ke waktu yang lebih nyaman.
Keesokan paginya Arga masuk ke kamar lamanya.
Kamar itu masih menyimpan sebagian kecil kehidupan yang ia tinggalkan. Rak buku kosong, poster yang sudah dilepas, bekas selotip di dinding, dan lemari yang hanya berisi beberapa hanger.
Di belakang pintu ada kursi plastik hijau.
Di bawahnya sebuah kardus cokelat.
Arga mengenal bentuknya.
Ia duduk di lantai sebelum membukanya.
Kamera digital.
Buku-buku kuliah.
Jaket.
Album foto.
Beberapa kabel lama.
Dua cangkir kecil yang pernah dibelinya bersama ayah. Tidak ada yang istimewa sampai ia menemukan nota pembelian kasur di bagian paling bawah. Tanggal pembelian itu tiga bulan sebelum ayah meninggal.
Alamat pengiriman: rumah mereka.
Arga memanggil ibu.
“Ini kasur baru?”
Ibu mengangguk.
“Bapak beli buat kamu.”
“Aku kan enggak jadi pulang.”
“Iya.”
“Terus kenapa tetap dibeli?”
Ibu terdiam sebentar.
“Bapak bilang, kalau kamu enggak jadi pulang sekarang, mungkin nanti.”
Arga menatap kardus. Ibu kemudian duduk di lantai bersamanya.
“Setelah bapak sakit, dia sering ke sini.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Ngapain?”
“Katanya rumah jangan terlalu lama kosong.”
Ibu tersenyum tipis, tetapi matanya tidak.
“Dia buka kamar kamu, bersihin. Kadang duduk di teras.”
Arga menatap kursi plastik di sampingnya.
“Setiap hari?”
“Enggak. Tapi sering.”
“Kenapa Ibu enggak bilang?”
Ibu mengangkat bahu.
“Kamu juga sibuk.”
Kalimat itu sederhana.
Justru karena sederhana, Arga merasa lebih sulit menerimanya. Selama dua tahun ia merasa sudah menjadi anak yang cukup bertanggung jawab. Ia menelepon ibu. Ia mengirim uang. Ia pulang ketika diperlukan. Namun sekarang ia mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Ibu ternyata tidak pernah benar-benar bercerita tentang kesepian setelah ayah meninggal. Ia tidak pernah bertanya lebih jauh ketika ibu mengatakan rumah terlalu besar. Ia tidak pernah bertanya siapa yang membersihkan kamar ayah. Ia tidak pernah bertanya kenapa ibu memilih tinggal bersama adiknya. Dan ia tidak pernah bertanya mengapa, setiap kali ia mengatakan akan pulang, ibu selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
Iya, hati-hati.
Bukan kapan?
Bukan jadi pulang?
Seolah-olah ibu sudah belajar untuk tidak berharap terlalu banyak.
Hari itu Arga menghabiskan lebih banyak waktu di rumah daripada yang ia rencanakan. Ia membuka lemari lama. Menemukan kuitansi belanja ayah. Catatan servis motor. Foto-foto yang sudah menguning.
Di salah satu foto, ayah sedang mengecat pagar rumah dengan warna hijau yang sekarang sudah mengelupas.
Di belakang foto ada tulisan tangan ibu:
Hari Minggu. Arga belum pulang.
Arga membaca kalimat itu dua kali. Kemudian ia menyimpan foto tersebut kembali.
Tidak ada satu pun penemuan yang dramatis.
Tidak ada rahasia keluarga.
Tidak ada pesan terakhir yang sengaja disembunyikan.
Yang ada hanya kehidupan biasa yang selama ini berlangsung tanpa sepengetahuannya.
Ayah yang membeli kasur. Ibu yang tetap membersihkan kamar. Rumah yang perlahan kosong.
Dan seorang anak yang selalu merasa dirinya masih punya banyak waktu.
—
Dokumen terakhir ditemukan sore berikutnya di laci meja ayah.
Semuanya lengkap.
Agen langsung mengirim pesan.
‘Berarti bisa lanjut jual beli, Mas?’
Arga membaca pesan itu lama.
Ia tahu jawabannya.
Rumah ini akan dijual.
Tidak ada alasan untuk membatalkan. Ibunya sudah setuju. Rumah terlalu besar untuk dirawat. Uangnya memang dibutuhkan. Dan ia tetap ingin punya tempat sendiri di Jakarta. Hanya saja, untuk pertama kalinya, Arga tidak lagi melihat rumah itu sebagai sesuatu yang bisa ditukar dengan apartemen.
Ia melihatnya sebagai tempat di mana ayahnya menghabiskan bulan-bulan terakhir hidupnya sambil membuka kamar anaknya yang tidak kunjung pulang.
Malam terakhir sebelum kembali ke Jakarta, Arga duduk di teras. Ia membawa dua gelas teh. Satu ia letakkan di kursi sebelah. Kebiasaan lama yang bahkan tidak ia sadari masih ia ingat.
Arga membuka Google Maps lagi. Ia tidak tahu apa yang dicarinya. Mungkin hanya ingin memastikan gambar rumah itu masih sama, atau mungkin ingin melihat ayah sekali lagi sebelum gambar Street View suatu hari diperbarui dan rumah tersebut benar-benar hilang dari layar.
Ayah masih duduk di teras.
Dua kursi.
Satu kardus.
Arga memperbesar gambar untuk terakhir kalinya. Barulah ia menyadari bahwa di belakang kursi ayah, pintu rumah terbuka sedikit. Dari celahnya terlihat bagian dalam ruang tamu dan ujung karpet yang dulu selalu digelar ibu setiap sore.
Ia memperbesar lagi.
Di dekat pintu ada sepasang sandal. Sandalnya. Arga mengenalinya karena ia pernah membelinya bersama ayah di pasar, bertahun-tahun lalu. Entah bagaimana sandal itu bisa berada di sana. Mungkin memang tertinggal. Mungkin ibu yang menyimpannya. Mungkin ayah yang mengambilnya dari rumah mereka yang sekarang kosong.
Tidak ada cara untuk mengetahuinya.
Arga hanya tahu satu hal: pada hari kamera Google lewat, ayah duduk di teras dengan dua kursi, sebuah kardus, dan sandal anaknya di dekat pintu.
Seolah-olah kepulangan itu bukan sesuatu yang sedang ditunggu.
Seolah-olah kepulangan itu sudah dianggap akan terjadi.
Arga menatap layar sampai wajah ayahnya kembali tertutup bayangan refleksi ponselnya sendiri. Ia mematikan layar. Kemudian membuka kontak ibunya. Jarinya berhenti di atas nama itu cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
Ketika ibu mengangkat, Arga tidak mengatakan bahwa ia sedang rindu, tidak meminta maaf, dan tidak menjelaskan apa yang baru saja dilihatnya.
Ia hanya bertanya,
“Bu, besok aku boleh pulang?”
Di ujung telepon terdengar suara ibu yang sedikit terkejut sebelum menjawab.
“Boleh. Memangnya kapan enggak boleh?”
Arga menunduk.
Di layar yang sudah gelap, untuk sesaat ia masih bisa melihat bayangan dirinya sendiri.
Kali ini, ia tidak membuka Google Maps lagi.