CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Rumah yang Bernama Ibu
Rumah yang Bernama Ibu

Rumah yang Bernama Ibu

oleh Wahyu Rey Persada.S
CerpenGratis22 menit baca15 dibacaJFMM Participant

Hujan turun sejak sore, membasahi halaman rumah yang sudah lama tidak terasa sama.

Raka berdiri di depan pintu dengan sebuah kardus kecil di tangannya. Kardus itu sebenarnya tidak berat, tetapi entah mengapa kedua tangannya terasa kaku saat menggenggamnya.

Sudah tiga tahun rumah ini kosong.

Tiga tahun sejak ibunya pergi. Namun, setiap kali Raka pulang, ia masih berharap akan mendengar suara yang sama dari dapur.

“Raka, sudah pulang?”

Suara itu tidak pernah terdengar lagi.

Ia membuka pintu perlahan.

Bau kayu tua dan udara lembap menyambutnya. Debu menempel di beberapa sudut ruangan. Jam dinding yang dulu selalu berbunyi setiap satu jam kini berhenti di angka sebelas lewat tujuh belas menit.

Raka menatap jam itu.

Dulu, ibunya selalu berkata bahwa jam yang berhenti harus segera diperbaiki.

“Kalau dibiarkan, nanti kita lupa waktu.”

Raka tersenyum kecil.

“Sekarang justru aku yang lupa waktu, Bu.”

Ia berjalan menuju kamar ibunya.

Di sana masih ada lemari tua berwarna cokelat, meja kecil dengan taplak bunga, dan kursi kayu tempat ibunya biasa duduk sambil melipat pakaian.

Semuanya masih seperti dulu.

Hanya orangnya yang tidak ada.

Raka meletakkan kardus di atas tempat tidur.

Ia hendak membereskan barang-barang lama sebelum rumah itu dijual. Namun, ketika membuka laci meja, tangannya berhenti.

Di dalamnya terdapat sebuah buku tulis tipis dengan sampul biru.

Raka mengenalinya.

Buku itu adalah buku catatan ibunya.

Ia duduk di tepi tempat tidur.

Dengan hati-hati, Raka membuka halaman pertama.

Tulisan tangan yang sangat ia kenal memenuhi halaman tersebut.

Hari Senin.

Raka pulang terlambat lagi. Katanya ada tugas sekolah. Semoga dia sudah makan.

Raka terdiam.

Ia membuka halaman berikutnya.

Hari Selasa.

Raka demam sedikit. Sudah kubuatkan bubur. Dia bilang tidak lapar, tetapi akhirnya habis juga.

Halaman berikutnya.

Hari Rabu.

Raka minta uang untuk membeli sepatu. Uangku tinggal sedikit. Tidak apa-apa. Sepatu anak lebih penting.

Raka menelan ludah.

Tangannya mulai gemetar.

Ia terus membaca.

Hari Jumat.

Raka bilang ingin kuliah di kota. Aku takut dia jauh, tetapi seorang ibu tidak boleh menjadikan ketakutannya sebagai alasan untuk menahan anaknya.

Raka menutup buku itu.

Air matanya jatuh.

Satu tetes.

Lalu dua.

Kemudian semakin banyak.

Ia menunduk sambil menekan wajah dengan kedua tangan.

Tiba-tiba kenangan masa kecilnya datang seperti hujan yang tidak memberi kesempatan untuk berteduh.

Dulu, Raka sering menganggap ibunya terlalu cerewet.

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, selalu ada suara yang sama.

“Bangun, Nak.”

“Lima menit lagi, Bu.”

“Sudah lima menit.”

“Belum.”

“Jam weker sudah bunyi tiga kali.”

“Matikan saja.”

“Kalau nanti terlambat?”

“Tidak akan.”

Lalu ibunya menarik selimut.

Raka menggerutu.

“Bu, aku sudah besar.”

Ibunya tertawa kecil.

“Besar badannya belum tentu besar tanggung jawabnya.”

Raka selalu kesal mendengar kalimat itu.

Sekarang ia justru ingin mendengarnya lagi.

Sekali saja.

Pada suatu pagi, ketika Raka duduk di bangku sekolah dasar, ia menemukan ibunya sedang menjahit seragamnya.

“Kenapa tidak beli baru saja?” tanya Raka.

Ibunya tersenyum.

“Yang ini masih bagus.”

“Sudah sempit.”

“Nanti Ibu besarkan sedikit.”

Raka memperhatikan tangan ibunya.

Jari-jari itu penuh bekas luka kecil.

Ia tidak pernah bertanya dari mana semuanya berasal.

Saat itu, yang ia pikirkan hanya satu.

Teman-temannya memakai seragam baru.

Ia malu memakai seragam yang dijahit ulang.

“Teman-temanku tidak ada yang pakai seragam bekas.”

Ibunya terdiam.

Beberapa detik kemudian, ia mengangguk.

“Kalau begitu, maaf.”

Hanya itu.

Tidak ada marah.

Tidak ada menyalahkan.

Tidak ada air mata.

Keesokan harinya, Raka mendapatkan seragam baru.

Ia tidak pernah tahu dari mana uangnya.

Bertahun-tahun kemudian, ia baru mengetahui bahwa ibunya menjual gelang kecil pemberian ayahnya untuk membeli seragam tersebut.

Ayahnya sudah meninggal ketika Raka berusia enam tahun.

Sejak saat itu, ibunya membesarkan Raka seorang diri, dan Raka terlalu kecil untuk memahami betapa beratnya dunia yang sedang dipikul perempuan itu.

Kenangan lain muncul.

Hari ketika Raka diterima di universitas.

Ia berlari masuk rumah sambil membawa surat pengumuman.

“Bu!”

Ibunya yang sedang mencuci piring langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Aku diterima!”

Piring di tangan ibunya hampir terjatuh.

“Benarkah?”

Raka mengangguk penuh bangga.

Ibunya memeluknya erat.

Untuk pertama kalinya, Raka melihat ibunya menangis karena bahagia.

“Anak Ibu sudah besar.”

Raka tertawa.

“Sudah kubilang dari dulu.”

Ibunya mengusap kepalanya.

“Jangan lupa pulang."

“Aku cuma kuliah, Bu.”

“Bukan itu maksud Ibu.”

Raka diam.

Ibunya menatapnya lama.

“Sejauh apa pun kamu pergi, jangan lupa jalan pulang.”

Raka mengangguk.

“Pasti.”

Ternyata manusia sering mengucapkan janji dengan mudah.

Menepatinya jauh lebih sulit.

Di kota, kehidupan Raka berubah.

Ia sibuk dengan kuliah.

Kemudian pekerjaan.

Teman-teman baru.

Kehidupan baru.

Telepon dari ibunya mulai jarang diangkat.

“Raka, sudah makan?”

“Nanti saja, Bu. Aku sedang kerja.”

“Kalau sibuk, tidak apa-apa.”

“Ya.”

Telepon berakhir.

Beberapa hari kemudian, ibunya menelepon lagi.

“Raka, kapan pulang?”

“Belum tahu.”

“Sudah lama.”

“Nanti kalau ada waktu.”

“Baik."

Selalu begitu.

Nanti.

Besok.

Minggu depan.

Bulan depan.

Sampai akhirnya Raka benar-benar tidak punya kesempatan lagi.

Ia membuka buku catatan itu kembali.

Halaman-halamannya semakin tua.

Tulisan ibunya mulai tidak serapi sebelumnya.

Hari Minggu.

Raka tidak menelepon hari ini. Mungkin sibuk.

Hari Selasa.

Ibu sedikit sakit, tetapi tidak apa-apa. Jangan bilang Raka. Dia sedang banyak pekerjaan.

Raka membeku.

Ia membaca halaman berikutnya.

Hari Jumat.

Raka akhirnya menelepon. Suaranya terdengar lelah. Ibu ingin bilang bahwa Ibu rindu, tetapi takut mengganggunya.

Air mata Raka kembali jatuh.

Ia membalik halaman dengan tangan gemetar.

Hari Senin.

Dokter bilang harus banyak istirahat.

Hari Kamis.

Raka belum tahu.

Hari Sabtu.

Ibu ingin memberitahunya, tetapi kalau Raka pulang, pekerjaannya mungkin terganggu.

Kemudian halaman berikutnya hanya berisi satu kalimat.

Ibu tidak ingin menjadi alasan anak Ibu berhenti mengejar mimpinya.

Raka menutup mulut.

Tangisnya pecah.

“Kenapa, Bu?”

Suaranya bergetar.

“Kenapa Ibu tidak bilang?”

Tidak ada jawaban.

Hanya suara hujan yang mengetuk kaca jendela.

Raka memeluk buku itu ke dadanya.

Tiba-tiba ia teringat hari terakhir mereka bertemu.

Ibunya berdiri di depan pintu sambil tersenyum.

“Kapan pulang lagi?"

“Sebentar lagi.”

“Jangan terlalu lama.”

“Iya.”

Ibunya kemudian memberikan sebuah kotak makanan.

“Buat di jalan.”

Raka mengambilnya sambil menghela napas.

“Bu, aku bukan anak kecil.”

Ibunya tertawa.

“Ibu tahu.”

Ia menatap Raka lama.

“Makanya Ibu tidak menyuruhmu tinggal.”

Raka tidak mengerti maksud kalimat itu.

Saat itu.

Sekarang ia mengerti.

Ibunya sudah tahu bahwa waktu mereka mungkin tidak banyak. Namun, ia tetap membiarkan anaknya pergi.

Tanpa menuntut.

Tanpa memaksa.

Tanpa membuat Raka merasa bersalah.

Malam semakin larut.

Raka membuka kardus yang dibawanya.

Di dalamnya terdapat beberapa benda milik ibunya yang ia bawa dari apartemennya: foto lama, syal, dompet, dan sebuah amplop putih.

Ia membuka amplop itu.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang yang sudah lusuh dan secarik kertas.

Tulisan ibunya kembali membuat dadanya sesak.

Untuk Raka.

Kalau suatu hari kamu menemukan ini, mungkin Ibu sudah tidak bisa menunggumu pulang.

Uang ini tidak banyak. Ibu menabung sedikit demi sedikit.

Gunakan untuk membeli sesuatu yang kamu inginkan.

Jangan gunakan untuk Ibu.

Ibu sudah mendapatkan semua yang Ibu inginkan.

Melihatmu tumbuh.

Melihatmu sekolah.

Melihatmu mengejar cita-cita, dan melihatmu pulang, meski hanya sesekali.

Di bagian bawah kertas itu terdapat satu kalimat terakhir.

Ibu tidak membutuhkan hadiah besar. Ibu hanya ingin tahu bahwa di mana pun kamu berada, kamu masih mengingat rumah.

Raka menutup matanya.

Tangisnya tidak lagi bisa ditahan.

Ia membungkuk di atas meja, menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat berlindung.

“Maaf, Bu.”

Kata-kata itu keluar berkali-kali.

“Maaf.”

“Maaf karena terlalu sibuk.”

“Maaf karena sering tidak mengangkat telepon.”

“Maaf karena selalu bilang nanti.”

“Maaf karena baru mengerti setelah Ibu pergi.”

Hujan di luar semakin deras. Namun, di antara suara hujan itu, Raka seperti mendengar suara ibunya.

Sudah, jangan menangis.

Raka tersenyum sambil menangis.

Itulah suara yang paling ia rindukan.

Pagi datang perlahan.

Hujan telah berhenti.

Raka keluar dari rumah dan duduk di teras.

Di halaman, pohon mangga yang dulu ditanam ibunya masih berdiri.

Ketika kecil, Raka pernah bertanya, “Bu, kenapa menanam pohon?”

“Supaya nanti kalau kamu sudah besar, kamu bisa berteduh di bawahnya.”

“Kalau aku pergi?”

“Pohon tidak akan pergi.”

Raka menatap pohon itu.

Ternyata ibunya benar.

Banyak hal telah pergi.

Ayahnya.

Ibunya.

Masa kecilnya. Namun, beberapa hal tetap tinggal.

Rumah.

Pohon mangga.

Buku catatan, dan kenangan.

Raka mengambil ponselnya.

Ia membuka daftar kontak.

Nama “Ibu” masih tersimpan di sana.

Nomor itu sudah tidak aktif. Namun, Raka tidak sanggup menghapusnya.

Ia menekan nama tersebut.

Tidak ada panggilan yang tersambung, tetapi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Raka berbicara kepada nomor itu.

“Bu.”

Suaranya pelan.

“Aku sudah pulang.”

Angin pagi bergerak melewati daun-daun mangga.

Raka tersenyum.

“Aku tahu Ibu tidak bisa menjawab.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku mau cerita.”

Ia mulai bercerita tentang pekerjaannya.

Tentang rumah kecil yang ingin dibelinya.

Tentang makanan yang sekarang bisa ia masak sendiri.

Tentang teman-temannya.

Tentang semua hal yang dulu selalu ia ceritakan kepada ibunya.

Setelah beberapa menit, Raka terdiam.

Kemudian ia berkata, “Bu, ternyata rumah bukan tempat.”

Matanya kembali berkaca-kaca.

“Rumah itu seseorang.”

Ia menatap pintu rumah di belakangnya.

“Selama ini, rumahku adalah Ibu.”

Air mata kembali mengalir. Namun, kali ini, ia tidak merasa hanya sedang menangis karena kehilangan.

Ia menangis karena pernah memiliki seseorang yang mencintainya sedalam itu.

Beberapa minggu kemudian, rumah itu akhirnya dijual.

Sebelum pergi, Raka kembali ke kamar ibunya.

Ia membawa buku catatan tersebut. Namun, ia tidak membawanya untuk disimpan di lemari.

Ia memasukkannya ke dalam tas yang selalu ia bawa.

Di halaman terakhir buku itu, Raka menambahkan tulisan.

Hari Minggu.

Ibu sudah tidak ada. Namun, Ibu masih hidup di dalam setiap hal yang Ibu ajarkan.

Ibu mengajariku bahwa cinta tidak selalu berupa kata-kata.

Kadang cinta adalah sarapan yang dibuat sebelum matahari terbit.

Kadang cinta adalah seragam yang dijahit diam-diam.

Kadang cinta adalah telepon yang tidak pernah dibalas dengan baik.

Kadang cinta adalah seseorang yang menunggu di depan pintu meskipun tahu anaknya mungkin tidak akan segera pulang, dan kadang cinta adalah melepaskan seseorang pergi demi melihatnya tumbuh.

Raka berhenti menulis.

Kemudian menambahkan satu kalimat terakhir.

Terima kasih sudah menjadi rumah paling hangat yang pernah kumiliki.

Ia menutup buku.

Sebelum meninggalkan rumah, Raka berdiri di ambang pintu.

Ia menoleh sekali lagi.

“Bu, aku pergi dulu.”

Senyumnya tipis.

“Kali ini aku tahu jalan pulang.”

Ia melangkah pergi.

Pintu rumah perlahan tertutup, dan untuk pertama kalinya, Raka tidak merasa bahwa ia sedang meninggalkan rumah.

Sebab ia tahu, ke mana pun ia pergi, ibunya akan selalu tinggal di sana.

Di dalam ingatannya.

Di dalam doa-doanya.

Di dalam setiap makanan yang ia masak dengan resep yang pernah diajarkan.

Di dalam setiap nasihat yang dulu terasa mengganggu.

Di dalam setiap pagi ketika ia terbangun dan tanpa sadar berharap mendengar suara yang sama.

“Raka, sudah bangun?”

Setiap kali rasa rindu itu datang, Raka akan tersenyum sambil menahan air mata.

Sebab ia akhirnya memahami sesuatu yang terlambat disadarinya.

Bahwa seorang ibu mungkin bisa pergi dari dunia, tetapi cinta seorang ibu tidak pernah benar-benar pergi.

Ia menetap.

Di hati anaknya.

Selamanya.

Just for My Mom.

Untuk Ibu.

Untuk perempuan yang mungkin tidak pernah meminta apa-apa, tetapi telah memberikan segalanya.

Untuk Ibu yang dulu selalu menunggu.

Untuk Ibu yang tidak sempat ditunggu pulang, dan untuk semua anak yang masih memiliki kesempatan untuk berkata: “Bu, terima kasih.”

Sebelum suatu hari nanti, yang tersisa hanyalah kenangan.


Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen