CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Rindu yang Tidak Ikut Mati Ketika Mommy Pergi Selamanya
Rindu yang Tidak Ikut Mati Ketika Mommy Pergi Selamanya

Rindu yang Tidak Ikut Mati Ketika Mommy Pergi Selamanya

oleh Joanne Manuella
CerpenGratis18 menit baca14 dibacaJFMM Participant

21 Desember.

Besoknya adalah Hari Ibu. Tapi Mommy, demikian aku memanggilnya, memilih pergi sehari lebih dulu. Entah karena ia memang selalu begitu—tidak pernah mau merepotkan siapa-siapa, bahkan untuk mengambil satu hari dari dunia untuk aku bisa merayakan hari-nya. Merayakan kasihnya yang katanya: tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali…

Atau mungkin Tuhan memang punya cara sendiri untuk membuat tanggal itu selamanya menjadi milikku. Agar aku gampang mengingatnya dan tidak melupakannya. Mommy-ku sudah tidak ada. Tapi rinduku tidak ikut mati ketika dia pergi untuk selamanya…

~~~

Ada satu tanggal yang sejak dua tahun lalu tidak pernah lagi terasa seperti tanggal biasa bagiku, yaitu 21 Desember. Sehari setelahnya adalah Hari Ibu, dimana orang-orang sibuk mengunggah foto ibu mereka, membelikan bunga, menulis ucapan panjang tentang perempuan yang melahirkan mereka. Sementara aku, setiap kali hari sampai di tanggal itu, aku justru teringat satu hal: 21 Desember 2023, pukul 1.20 pagi, Mommy-ku pergi untuk selamanya.

Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Sudah lebih dari 24 jam aku disana, tidak meninggalkannya sedetikpun di bangsal IGD, zona kuning. Mommy tidak lagi bisa membuka mata, tidak bisa bicara, bahkan tidak bisa memberi tanda bahwa ia tahu kami ada di sana. Aku tetap duduk di sampingnya, seolah keberadaanku bisa membuatnya bertahan sedikit lebih lama. Atau karena kami ada disana, Mommy memilih berjuang melawan kehidupan yang harus diambil darinya, sampai nafas terakhirnya. Entahlah. Yang aku tahu, perjuanganku yang tidak punya jam tidur yang benar selama merawat Mommy tidak ada apa-apanya dengan perjuangan Mommy yang tubuhnya dipenuhi banyak infus saat itu. Aku melihat wajahnya setiap saat, memperhatikan napasnya yang semakin hari semakin berat, menyentuh tangannya sambil mengucapkan doa doa yang pernah dia ajarkan kepadaku. Di dalam kepalaku masih ada keyakinan kecil yang keras kepala: Mommy akan bangun. Mommy akan sembuh. Bukankah selama ini dia selalu bilang ingin sembuh?

Tiga bulan sebelumnya, bukanlah hal yang gampang buatku, aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Aku bahkan belum pernah membayangkan akan mengenal tubuh Mommy sedekat itu. Aku menyuapinya, memapahnya ke toilet, membilas badannya, lanjut memilihkan makanan yang pas untuknya dan menjadwalkan makanan untuk masuk melalui selang yang terpasang dari hidungnya. Membersihkan tubuhnya ketika ia tidak lagi mampu ke toilet, menampung pembuangannya, memijat bagian tubuhnya yang selalu sakit, dan mengukur volume buangan baik dari perut maupun dari saluran pencernaannya. Dokter mau aku melaporkan itu setiap pagi. Terbangun di malam hari karena dia tidak bisa tidur, memanggil suster karena infusnya sudah habis dan harus segera diganti, kalau tidak akan melukai kulitnya yang sudah tipis karena tusukan jarum. Mengantarnya ke radiologi rutin setiap hari. Awalnya dari berjalan kaki. Kemudian kursi roda. Sampai akhirnya, harus membawanya di atas tempat tidur. Berat badannya turun drastis setiap hari, tidak ada makanan yang tersisa yang bisa bertahan di perutnya karena penyakitnya menolak semua makanan yang masuk dari mulut. Mommy kehilangan hampir setengah berat badannya dari sebelum dia masuk rumah sakit sampai dia harus berpulang. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa aku mengerti: walaupun semakin tubuhnya menyerah, semakin keras semangatnya untuk hidup. Dia tidak menolak sinar radiasi harus diarahkan ke tubuhnya setiap hari. Sementara normalnya, radiasi harusnya dilakukan maksimal 2 kali seminggu. Dia bertekad penyakit itu harus mati, segala carapun akan dia lakukan, walaupun dia tahu, tubuhnya tidak sekuat semangatnya. Mungkin itu yang membuatku terus percaya bahwa kami akan melewati semuanya. Aku percaya kalau motivasi kita cukup kuat dan doa kita cukup banyak, Tuhan akan mengabulkannya. Kami berdoa bersama, teman-temanku datang silih berganti mengantarkan doa. Aku menemaninya hampir dua puluh empat jam sehari. Jadi kupikir, mungkin kali ini Tuhan akan memberikan apa yang aku minta. Namun aku baru menyadari bahwa ternyata doa tidak selalu berakhir dengan jawaban yang kita inginkan.

Mungkin itu sudah tanda, dua minggu sebelum kepergiannya, wanita luar biasa yang aku sebut malaikat ini suatu kali, dengan suara yang sudah begitu lemah, berkata,

“Makasih ya, Jo, sudah kau jagain dan rawat aku selama ini. Semoga Tuhan yang membalasnya ya Jo.”

Bahkan untuk mengucapkan kalimat sesederhana itu pun, dia harus mengumpulkan tenaganya. Aku mendengarnya tanpa mengucapkan apapun, dan tidak pernah sedikit pun terpikir bahwa mungkin itulah salah satu kalimat terakhir Mommy kepadaku yang membekas dan cukup terkenang lama, caranya dia mengucapkannya sambil duduk, matanya yang pucat dan sayu itu memandangku dan setelah itu dia menjatuhkan badannya ke atas bantal dan mencoba tertidur. Aku kira masih akan ada besok. Aku kira masih ada waktu untuk mendengar lebih banyak. Tapi aku salah…


Aku ingat sebelum dia pergi, aku bahkan pernah melarangnya minum es teh manis, minuman kesukaannya. Padahal hanya satu keinginannya saat itu, menegak minuman dingin. Aku tahu dia haus dan mau merasakan air dingin mengalir di mulutnya yang kering. Tapi dokter sudah memperingatkan agar tidak boleh ada makanan atau minuman lain masuk lewat mulutnya. Semua harus melalui selang dari hidung. Jadi dia hanya memandangiku menghabiskan minuman itu, tatapannya mengikuti setiap gerakan gelas yang ada di tanganku, tenggorokannya bergerak, bahkan air ludah pun sudah tidak tersisa di mulut dan tenggorokannya. Sampai sekarang, kadang-kadang aku memikirkan hal sesederhana itu dan merasa bersalah. Betapa menyedihkannya ketika seseorang yang begitu ingin hidup bahkan tidak bisa meneguk segelas es teh dingin. Tapi Mommy tidak marah. Mungkin dia mengerti aku hanya sedang berusaha menjaganya.

Begitulah Mommy sejak dulu. Dia bukan seorang ibu yang cerewet. Kalau harus memilih, mungkin tujuh puluh lima persen hidupnya dihabiskan dalam diam. Dia tidak suka mencampuri keputusan anak-anaknya. Aku pindah-pindah pekerjaan, dia tidak pernah mengatur harus bekerja di mana. Ketika aku bertengkar dengan adikku, dia tidak otomatis memihakku hanya karena aku anak pertama, dan tidak juga membela adikku. Dia netral. Seolah-olah sejak awal dia tahu bahwa kami bertiga akan tumbuh menjadi manusia dengan jalan masing-masing, dan tugasnya bukan menentukan jalan itu, melainkan memastikan kami harus bahagia. Dia hanya cerewet kalau rumah berantakan. Mommy suka rumah yang bersih dan rapi. Mommy suka masak. Aku paling kangen sayur urap buatannya dan godok-godok pisang yang sederhana itu. Makanan yang dulu bisa kumakan tanpa berpikir, sekarang terasa seperti sesuatu yang tidak akan pernah bisa kubeli lagi dengan uang sebanyak apa pun.


Aku paling sering mengingat Mommy dari hal-hal yang dulu tidak pernah kupikir akan kurindukan. Misalnya suara televisi dari ruang tengah, terutama ketika film India kesukannya sedang tayang. Dia tidak pernah membiarkan 1 hari pun berlalu tanpa dia menyaksikan setiap episode series India itu. Sampai aku hafal sama nama pemain dan lagu soundtrack semua tontonan Mommy. Suaranya itu loh, bisa terdengar sampai ke kamar, sementara Mommy sedang sibuk di dapur atau melipat pakaian. Sesekali aku lewat ruang tengah, dan dia masih duduk di depan televisi, menyaksikan tayangan yang sama dari sore, lalu beberapa menit kemudian sudah tertawa sendiri melihat adegan yang menurutku biasa saja. Begitulah rumah kami dulu. Tidak pernah benar-benar sunyi. Selalu ada suara televisi, suara peralatan dapur, suara kami bertiga bertengkar soal hal-hal kecil, dan suara Mommy yang sesekali memanggil, “Jo, unang songoni. (Jo, jangan begitu")~ Sekarang, rumah bisa saja ramai, tetapi tidak ada lagi suara yang membuatku merasa sedang berada di rumah. Tidak ada lagi sosok Mommy.


Kadang aku bahkan merindukan saat Mommy marah. Bukan marah yang besar. Hanya omelan kecil ketika kami meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan, atau ketika sesuatu tidak diletakkan kembali ke tempatnya. Kalau sudah begitu, dia pasti mengomel dalam bahasa Batak. Mommy adalah orang batak, dari kecil sampai dia besar, bahasa Batak adalah bahasa sehari-harinya, karena oppung lebih sering berkomunikasi pakai bahasa batak ketimbang bahasa Indonesia. Aku sampai hafal nada dan intonasinya kalau dia mengomel itu. Dan jadi tidak takut, tapi kadang-kadang aku jadi tidak tahu diri. Sekarang aku sadar, bahkan omelan itu adalah bagian dari suara rumah yang dulu tidak pernah kupikir akan hilang. Kalau diberi kesempatan, mungkin sekarang aku akan membiarkan rumah berantakan selama yang dia mau. Aku hanya ingin mendengar satu kali lagi suara itu dari ruang tengah, lalu mendengar langkahnya mendekat dan memanggil, “Jo, sapu dulu rumah ini!’ ‘Kok banyak kali baju berantakan di kamarmu, ga bisa kau rapihkan dulu itu?” Dan dalam bahasa batak. Aneh ya, bagaimana sesuatu yang dulu begitu biasa bisa berubah menjadi sesuatu yang rela kita bayar dengan apa saja untuk mendapatkannya kembali.


Mungkin karena sepanjang hidupnya, Mommy memang tidak pernah banyak meminta. Setelah ayah melanjutkan hidup dengan wanita lain, dan kami masih sangat kecil, dia tidak punya banyak pilihan selain berjalan sendiri. Tapi anehnya, aku tidak pernah melihatnya berjalan seperti seseorang yang sedang ditinggalkan. Dia hanya melanjutkan hidup. Dulu dia bekerja di bank, lalu setelah menikah memilih berhenti dan mengurus anak-anaknya. Ketika hidup berubah dan kami hanya punya dia, dia mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan, menjalankan bisnis kecil-kecilan, mengurus rumah, membesarkan tiga anak. Tidak ada pidato tentang pengorbanan. Tidak ada keluhan bahwa hidup tidak adil. Tidak ada cerita tentang betapa beratnya menjadi seorang ibu yang harus membesarkan anak-anak sendirian. Seolah-olah semua itu memang bagian dari hidup yang harus dijalani, dan dia akan menjalaninya saja.

Aku baru memahami keberanian Mommy setelah dia tidak ada. Dulu aku mengira dia hanya seorang ibu yang kuat. Sekarang aku sadar, mungkin dia sebenarnya sering takut, hanya saja kami tidak pernah melihatnya. Mungkin ada malam-malam ketika dia juga ingin seseorang bertanya apakah dia baik-baik saja. Mungkin ada hari-hari ketika dia juga ingin menyerah, tetapi tiga anak menunggunya di rumah. Namun setiap kali kami merasa dunia terlalu berat, jawabannya selalu sama, sederhana sekali, seperti sesuatu yang sudah dia simpan jauh di dalam dirinya: “Ada Tuhan Yesus. Dialah Bapa kalian.” Waktu kecil aku mendengarnya seperti nasihat biasa. Setelah dewasa, setelah melihat sendiri bagaimana hidup bisa mengambil seseorang yang paling kita cintai, kalimat itu terasa berbeda. Mungkin selama tiga puluh tahun itu, bukan hanya kami yang dia titipkan kepada Tuhan. Mungkin dirinya sendiri juga.


Maka ketika pukul 1.20 pagi itu tiba, mungkin bagian dari diriku masih menunggu Mommy melakukan apa yang selalu dilakukannya: bertahan. Aku memperhatikan dadanya. Momen itu tak akan bisa aku lupakan selamanya. Tarikan napas terakhinya yang panjang. Lalu tidak ada lagi. Dan aku melihat tubuhnya yang kaku, wajahnya yang sudah tidak ada lagi kehidupan. Aku diam beberapa saat, seperti tubuhku belum memahami apa yang baru saja terjadi. Tangannya yang sejak tadi mengepal kuat perlahan-lahan terkulai, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan sesuatu yang terlalu lama digenggam. Aku melihat semuanya. Aku menyaksikan tubuh Mommy berhenti menjadi tempat tinggal bagi dirinya sendiri. Aku memanggil suster. Mereka memeriksa denyut nadi di tangan, leher, kemudian dokter datang. Mereka mengatakan apa yang sudah aku bisa lihat dengan mataku sendiri, namun belum siap diterima oleh otakku. Mommy sudah meninggal.


Aku baru menangis setelah kami mengantarkan Mommy ke kamar jenazah. Entah kenapa. Mungkin selama tubuhnya masih ada di hadapanku, otakku masih bisa berbohong bahwa semuanya belum benar-benar selesai. Setelah pintu itu tertutup, kebohongan itu ikut tertutup. Aku menangis dan berteriak seperti seorang anak kecil yang baru sadar bahwa ibunya benar-benar pergi. Padahal aku sudah tahu. Aku melihat napas terakhirnya sendiri. Tapi ternyata mengetahui seseorang meninggal dan menerima bahwa ia tidak akan pernah kembali adalah dua hal yang berbeda.


Yang paling menyakitkan adalah Mommy pergi tanpa mengatakan apa-apa untukku. Dulu aku sempat merasa kehilangan besar karena tidak mendapatkan kata-kata terakhir darinya. Tidak ada pesan khusus. Tidak ada janji. Tidak ada kalimat seperti yang sering ada di film-film. Tapi semakin lama kupikirkan, semakin aku merasa mungkin justru itu Mommy banget. Dia tidak pernah suka merepotkan kami. Bahkan di detik-detik terakhir hidupnya, mungkin dia tidak ingin memberiku kalimat yang harus kupikul seumur hidup. Dia tidak ingin membuatku merasa harus melakukan sesuatu untuknya setelah dia pergi. Dia hanya ingin melihatku bahagia. Mungkin itulah cara terakhir Mommy mencintaiku: pergi tanpa meninggalkan pekerjaan rumah untuk anaknya.


Tapi ternyata ada banyak hal yang tidak bisa ikut pergi bersamanya. Suaranya. Masakannya. Cara dia memanggilku. Meresponku. Ada percakapan-percakapan yang sekarang hanya bisa kulakukan di kepala. Kadang aku ingin bercerita tentang pekerjaan, tentang hidup, tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Tanganku hampir mencari telepon, lalu aku ingat bahwa tidak ada lagi nomor yang bisa kuhubungi. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika aku memimpikannya. Di dalam sana, Mommy masih hidup, mengajakku ngobrol. Aku bisa melihatnya, mendengar suaranya, berbicara dengannya seperti saat dia masih hidup. Lalu entah bagaimana, bahkan di dalam mimpi itu aku tiba-tiba ingat bahwa Mommy sudah pergi selamanya. Aku menangis di sana, kemudian bangun dan merasakan perasaan luka dua kali yang cukup dalam. Bahkan di alam mimpi pun sakit itu cukup kuat.

Mungkin itu sebabnya aku masih sulit kembali ke rumah sakit tempat semuanya berakhir. Terlalu banyak yang tertinggal di sana. Lorong menuju radiologi. Kursi roda. Tempat tidur yang membawanya karena dia sudah tidak mampu duduk. Selang di hidungnya. Tangan yang pernah kugenggam. Tubuhnya yang semakin ringan. Suara rumah sakit. Dan terakhir, napas itu. Aku sering berpikir bahwa seharusnya waktu membuat semuanya lebih mudah. Bukankah orang bilang luka akan sembuh? Tapi ternyata kehilangan ibu tidak bekerja seperti itu. Waktu tidak menghapusnya. Waktu hanya membuat kita lebih pandai menyembunyikannya.

Dulu rinduku hanya terasa di dada. Sekarang rasanya sampai ke kulit. Dulu Mommy hanya hidup di dalam memori, sekarang memori itu bisa tiba-tiba berubah menjadi air mata. Dan semakin hari berlalu, bukannya semakin lupa, aku justru semakin mengerti betapa besar ruang yang ditinggalkannya. Ada jenis kehilangan yang tidak mengecil karena kita sudah terbiasa. Kita hanya belajar hidup mengelilinginya. Kita tetap bekerja, tertawa, pergi ke tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru, membuat rencana baru. Tetapi di dalam diri kita selalu ada satu ruangan yang pintunya tidak pernah benar-benar tertutup.

“Mom, kehidupan sekarang semakin sulit dan keras. Aku sudah mencoba. Aku benar-benar sudah mencoba. Tapi kadang aku tidak kuat. Kadang aku cuma butuh Mommy.”

Aku ingin bercerita seperti dulu. Aku ingin mendengar Mommy benar-benar mendengarkan, dengan gestur yang menunjukkan bahwa tidak ada yang lebih penting dari ceritaku saat itu. Bahkan ketika pendengaran Mommy sudah mulai berkurang dan aku harus setengah berteriak supaya dia bisa mendengar. Sekarang aku mau bicara sekeras apa pun, Mom. Aku mau memanggil namamu berkali-kali. Tapi tidak ada lagi suara yang aku inginkan menjawab…

Mommy pergi sehari sebelum Hari Ibu. Mungkin itu terdengar seperti kebetulan. Tapi sejak saat itu, bagiku Hari Ibu tidak lagi hanya tentang merayakan seorang ibu. Hari Ibu adalah tentang mengingat seseorang yang sudah tidak bisa kupeluk lagi. Tentang seorang wanita bersayap malaikat yang pernah memanggilku “Jo” dan membuat dunia terasa sedikit lebih aman hanya karena dia ada. Dan mungkin sampai kapan pun, ada bagian dari diriku yang masih menunggu Mommy pulang. Bukan karena aku tidak tahu dia sudah pergi, tetapi karena menjadi anak dari seorang wanita hebat berarti, entah sudah berapa pun umur kita, selalu ada bagian kecil dalam diri kita yang percaya bahwa kalau hidup terlalu berat, kita masih boleh pulang kepada ibu. Sayangnya, sekarang aku harus belajar satu hal yang paling tidak ingin kudengar: kadang-kadang rumah yang paling kita rindukan adalah rumah yang sudah tidak bisa kita datangi lagi.***

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen