Aku terlahir dari keluarga sederhana di sebuah kota kecil di Sumatra. Kami empat bersaudara dibesarkan oleh seorang Ayah yang kata orang jaman now seorang Mokondo. Ibuku oleh karena keadaan terpaksa berjuang sendiri membesarkan keempat anaknya.
Aku sendiri anak ketiga. Dari kami berempat, Aku termasuk yang ditempa Ibu untuk serba mandiri, sedari kecil dipaksa untuk membantu pekerjaan rumah.
Di saat ujian sekolahpun, Aku diharuskan membantu Ibu mengocok bahan kue pesanan. Pulang sekolah Ibu sudah menungguku di depan pintu untuk menyuruhku mengantarkan pesanan makanan.
Kedua kakakku dan adikku hampir bisa dikatakan dimanja oleh Ibu. Kakak perempuanku bebas bermain bersama temannya. Begitupun di saat kakak pulang liburan kuliah.
Sedangkan Aku, pulang kuliah tidak ada kata reuni bersama teman sekolah. Aku membantu Ibu membuka warung keluarga.
Sikap pilih kasih Ibu semakin kentara, begitu Aku merantau ke Bandung, Ibu tidak mengantarkanku seperti halnya Ibu mengantar Kakak kuliah ke Malang. Padahal Aku juga anak perempuab yang baru pertama kali pergi sendiri ke luar pulau.
Demi mendapatkan perhatian Ibu, Aku pernah terjerumus pergaulan bebas, dua kali hamil, dan akhirnya dikuret.
Akan tetapi sikap pilih kasih Ibu terus berlanjut sampai Aku menikah dan berkeluarga.
Setiap kali kedua anakku ulang tahun, Ibu selalu beralasan tidak bisa hadir.
Pernah, acara kumpul keluarga besar, Ibu sengaja memanggilku hanya untuk menyuruhku memanggil anak Kakak untuk makan. Sedangkan anakku tidak ditawarkan. Sengaja Aku tanya, "anakku, Bu?"
"Tidak usah", jawab Ibu di depan keluarga besar
Betapa sakit hatiku
Dan, tiga tahun yang lalu, kondisi Ibu mulai lemah, ketika Kakak dan Adikku sudah tidak mau lagi menemani Ibu yang dinilai mereka kurang cekatan, Ibu ikut Aku di Bandung.
Selama di Bandung, Aku masih berusaha mendapatkan kasih sayang Ibu. Kupanggilkan terapis rutin, pekerjaan rumah tidak kubiarkan Ibu mengerjakan.
Sampai akhirnya Ibu terbaring lemah, tidak bisa bangun, Ibu tetap mengabaikanku. Anak bungsukupun diabaikan Ibu.
Hingga akhirnya Ibu tutup usia, perhatian itu tetap tidak kudapatkan.
Ketika pemakaman Ibu, Aku menangis histeris. Begitu banyak pertanyaan di kepala yang tidak terjawab.
Ibu, Aku kangen sama Ibu. Jika Ibu membaca ini, datanglah ke mimpiku. Peluk Aku, Ibu. Aku lelah ketika garis hidup yang pernah Ibu jalani sekarang terjadi pada diriku.
Kuatkan Aku, Ibu supaya bisa seperti Ibu.
Tertanda Aku yang benci tapi rindu pada Ibu.
