CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Rich in Life, Cause Ibu Still Packs My Lunch
RI

Rich in Life, Cause Ibu Still Packs My Lunch

oleh kinanthi wahyaning
CerpenGratis3 menit baca5 dibacaJFMM Participant

Orang-orang sering bilang, kekayaan adalah ketika kita punya banyak uang.

Punya rumah besar, Punya mobil bagus.

Bisa makan di restoran mahal tanpa melihat harga di menu, Bisa membeli apa pun yang kita mau.

Dulu, aku juga berpikir begitu.

Sampai suatu pagi, aku berdiri di depan meja makan dengan kemeja kerja yang sudah rapi, sambil memeriksa ponsel dan mengejar waktu.

“Adek Bekalnya jangan lupa.”

Ibu berdiri di dapur sambil membawa kotak makan berwarna pink yang sudah sedikit kusam.

“Bu, aku kan sudah kerja. Nanti makan siang bisa beli.”

Ibu hanya tersenyum.

“Bawa aja dek, in this ekonomi biar nggak jajan terus.”

Aku mengambil kotak itu tanpa banyak bicara.

Di dalamnya ada nasi, ayam goreng, telur dadar, dan sedikit sayur.

Menu sederhana layaknya masakan rumah, tapi entah kenapa, rasanya berbeda kalau dibuat oleh Ibu.

Di kantor, aku sering melihat teman-temanku makan di restoran atau memesan makanan online.

Sampai suatu hari, seorang teman melihat bekalku.

“Dibawain Ibu?”

“Iya dong, MBR (Makanan Bergizi Retno)

“Wah, enak banget. Masih dibawain bekal sama Ibu.”

Aku tertawa kecil.

“Iya. Katanya in this ekonomi biar hemat.”

Temanku tersenyum.

“Lu beruntung, sih.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi entah kenapa, terus terngiang sampai sore.

Lu beruntung.

Malamnya, ketika sampai rumah, aku melihat Ibu sedang mencuci piring di dapur.

“Besok bekal apa dek ? Ibu mulai bingung masak apa. Ayam atau telur orak arik ?”

“Telor ae Bu”

Tiba-tiba aku sadar, sudah berapa banyak pagi yang Ibu habiskan untuk menyiapkan bekalku? Berapa banyak telur yang Ibu pecahkan? Berapa banyak ayam yang Ibu goreng? Berapa banyak pesan yang sama Ibu ulang setiap pagi?

“Jangan lupa makan.”

“Bawa bekalnya.”

“Hati-hati di jalan.”

Hal-hal kecil yang selama ini kuanggap biasa.

Padahal mungkin, bagi Ibu, itulah caranya mencintai aku.

Ibu mungkin tidak pernah mengatakan, “Ibu khawatir kamu belum makan.”

Ibu hanya memasukkan satu buah pisang ke dalam kotak makan.

Ibu mungkin tidak pernah mengatakan, “Ibu akan selalu menjagamu.”

Ibu hanya berdiri di depan pintu dan berkata,

“Jangan pulang terlalu malam.”

Hari itu aku akhirnya mengerti.

Ternyata menjadi kaya bukan selalu tentang berapa banyak yang kita punya.

Kadang, kekayaan adalah ketika masih ada seseorang yang menunggu kita pulang.

Seseorang yang tahu makanan kesukaan kita.

Seseorang yang masih mengingatkan kita untuk membawa payung.

Seseorang yang, meskipun kita sudah dewasa, masih melihat kita sebagai anak kecil yang harus dipastikan sudah makan.

Dan pagi berikutnya, ketika Ibu kembali menyodorkan kotak makan itu, aku tidak lagi sekadar mengambilnya.

Aku tersenyum.

“Thank you, Bu.”

Ibu terlihat sedikit heran.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku memasukkan bekal itu ke dalam tas.

Kemudian aku pergi bekerja dengan perasaan yang berbeda.

Karena hari itu aku tahu—

Aku mungkin belum punya rumah mewah.

Mungkin belum punya mobil impian.

Mungkin belum punya semua yang orang-orang sebut sebagai kesuksesan.

Tapi aku punya sesuatu yang jauh lebih mahal.

Aku masih punya Ibu yang menyiapkan makan siang untukku.

And honestly, I’m rich becuse my Ibu wakup at 4AM to make my lunch.

For all of u still have Ibu, Maybe your Ibu sometimes looks annoying but trust me Ibu the frist person will love you in every single situation.

Dah kata gua, Love u de Bu Retno sukses terus SPPGnya.

#RETNOKEPALABGN2027

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen