Cerpen490 kata

'Rantau'

M

Monix

Sekali duduk selesai

2 Oktober 2026

Mulai membaca

WARNING!!!

CERITA INI MENGANDUNG UNSUR EKSPLISIT, PEMBACA DI BAWAH 18 TAHUN TIDAK DISARANKAN MEMBACA!!!

Hika, seorang gadis yang menetap di sebuah rumah kontrakan. Baginya rumah kontrakan tidak akan membuatnya merasakan homesick, ia mengajak teman-teman kelas terdekatnya untuk ikut tingaal di dalam rumah kontrakan tersebut.

Ia bersama teman-teman nya tinggal di rumah kontrakan tersebut 3 tahun lamanya hingga mereka semua lulus S1.

Suatu hari temannya menemukan sesuatu yang aneh dalam dinding rumah kontrakan tersebut, saat itu temannya sedang membersihkan dinding rumahnya dan menemukan sebuah benda runcing hitam bagaikan duri yang sangat tajam. Ia memanggil Hika untuk meminta penjelasan, tetapi Hika juga tidak mengetahui akan hal itu, karena sebelumnya ia tidak menemukan benda tajam seperti itu. Hika sempat mencongkel nya menggunakan kuku tetapi tidak bisa dan mengatakan kalau benda tersebut sangat keras, akhirnya mereka mengabaikan benda itu. Karena akan sangat menguras waktu dan tenaga, terlebih mereka sudah berjanji akan keluar bermain di mall sebentar lagi.

Tanpa mereka sadari, benda tersebut tumbuh semakin panjang setiap harinya. Hika dan temannya sungguh heran benda apakah itu, ia lalu memanggil pemadam kebakaran untuk memeriksa benda itu.

Setelah beberapa menit kemudian, pemadam kebakaran itu tiba dan memeriksa benda tersebut. Mereka menyarankan untuk membobol tembok rumah itu untuk memastikan bahwa benda itu tidak berbahaya. Teman-temannya tampak ragu, namun tidak dengan Hika. Hingga akhirnya, Hika menyetujui hal tersebut. Pemadam kebakaran kemudian menelpon dengan tujuan agar excavator dikerahkan menuju ke rumah kontrak ini. Lalu tidak lama kemudian, sebuah excavator besar sampai depan rumahnya.

Naas, di saat excavator ingin membobol tembok tersebut. Bagaikan pintu yang tertutup kencang oleh angin.

'BAMMM!'

Burung-burung yang bertengger di atas pohon berterbangan, kucing-kucing yang sedang tidur terlonjak kaget dengan suara yang keras tersebut.

Duri-duri itu menghentakkan sayap nya merapat dan meremukkan rumah beserta isinya, benda mati dan...

'makhluk hidup.'

Semua yang berada di situ meninggal dengan tragis, ada yang kepalanya tertusuk dan pecah, ada yang tertusuk tumpuk 3, dan yang paling parah adalah teman Hika dengan kondisi badan yang sudah terpisah menjadi 2 bagian beserta dengan organ-organnya yang berhamburan.

Serta suara yang keras menarik perhatian para warga yang jauh dari tempat tersebut untuk datang ke sumber suara, mereka berteriak ketakutan.

Salah satu dari mereka menelpon ambulans dan polisi. Setelah polisi dan ambulans sampai, para polisi segera membentangkan garis polisi dan tidak ada yang boleh memasuki area tersebut selain pihak berwenang.

"prang!"

Gelas yang di genggam ibu Hika jatoh dari genggamannya, lalu menangis histeris. Ia menelpon suaminya dan menceritakan apa yang pihak rumah sakit sampaikan. Lalu segeralah mereka bergegas menuju kota tempat Hika merantau dan pergi ke rumah sakit tersebut. Sesampainya disana, beberapa orang tua korban tampak pucat dan histeris. Ibu dari Hika segera menjenguk anaknya yang dikabarkan tubuhnya terbelah menjadi 2 karena tertusuk duri.

Bayangkan seorang ibu melihat anaknya meninggal dalam keadaan tubuh yang terbelah menjadi 2, beliau langsung pingsan dan suaminya tetap tegar untuk menguatkan hati istrinya.

Pada awalnya, orang tua Hika tidak setuju anaknya merantau. Karena mereka kawatir anaknya mengalami hal yang tidak diinginkan, tetapi Hika tidak menghiraukannya dan memilih untuk tetap merantau.

TAMAT.

Mungkin yang anda baca adalah cerpen berjudul 'Ranjau' bukan 'Rantau'.