CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Rahasia Ibuk
Rahasia Ibuk

Rahasia Ibuk

oleh Dirga Mahashakti
CerpenGratis3 menit baca4 dibacaJFMM Participant

Demi Ibuk, aku berjanji tidak akan bahagia. Kebahagiaanku seperti kesalahan yang seharusnya tidak boleh ada. Aku merasa tak berhak. Karena setiap kali bahagia, wajah kendur Ibuk yang penuh lipatan itu membayang dan menghantui; wajah Ibuk yang letih, tua, dan muram. Seolah-olah tiket kebahagiaanku hanya bisa ditebus dengan lelah dan susahnya Ibuk.

Bukan, bukan berarti Ibuk sedih ketika aku bahagia. Ia selalu tersenyum ikut merayakan. Ia juga akan memelukku dengan erat sembari berbisik bahwa aku adalah anak perempuan satu-satunya yang membanggakan. Ia akan menyembunyikan air matanya yang lolos tanpa kendalinya, dan berharap aku selalu bahagia. Ya, begitulah Ibuk. Ia tak pernah lupa menyiapkan makan, membantu mengerjakan PR, mencarikan bahan tugas meski sudah larut, menjagaku saat larut belajar, padahal seharian tubuh dan pikirannya sudah terkuras untuk membanting tulang demi mengais uang. Ibuk ingin aku bisa hidup seperti anak-anak lain yang memiliki Bapak.

Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan merasa bahagia, sebelum Ibuk bahagia. Hingga saat gaji pertamaku dari kerja serabutan turun, bayangan wajah lelah Ibuk tiba-tiba hilang. Aneh, padahal aku sangat bahagia. Bagaimana mungkin wajah muram Ibuk benar-benar hilang begitu saja? Meskipun begitu, aku tetap putuskan untuk mengajak Ibuk merayakan kebahagiaan ini dengan memberikan seluruh uang hasil kerja kerasku ini. Namun, tak kusangka Ibuk justru terluka. Akulah yang telah menyakitinya….

“Ibuk nggak butuh uangmu. Ibuk cuma ingin kamu bahagia! Urusan uang biar Ibuk!”

Baru kali ini kulihat Ibuk marah. Matanya merah dan basah. Wajahnya terbakar. Bahkan ia tak ingin repot-repot menghadapku. Tak ada lagi tatap mata binar penuh kebanggaan setiap aku merasa bahagia. Padahal ini kebahagiaanku mendapat gaji pertama.

“Bagaimana aku bisa bahagia, Buk. Kalau Ibuk setiap hari banting tulang, nahan nyeri, kerja ke sana ke sini buat aku, tapi aku hanya bersenang-senang?!”

Ibuk tetap tidak menoleh. Ia tampak mengambil napas banyak-banyak, seolah paru-parunya sedang lelah bekerja. Lalu suaranya terdengar memelan. “Izinkan Ibuk menjadi Ibu sekaligus Bapak yang baik buatmu. Izinkan Ibuk memenuhi semua kebutuhanmu, memasak makanan kesukaanmu, membelikan baju yang bagus buatmu, menyekolahkanmu, membahagiakanmu. Izinkan Ibuk, Nak. Kasih kesempatan buat Ibuk. Ibuk mohon….”

Aku menangis melihat isak Ibuk yang terdengar pilu. Punggungnya yang lebar itu bergetar. Aku tak sanggup lagi melihatnya seperti ini.

“Lalu bagaimana dengan aku, Buk? Bagaimana dengan perasaanku? Kenapa kita nggak bisa bahagia bersama-sama? Tadi Ibuk bilang, kan? Ibuk bahagia asal aku bahagia?” tanyaku penuh isak, “Dan aku bahagia bisa membantu Ibuk.”

“Mana ada Ibu yang membuat anaknya membalas budi? Mana ada ibu yang mengemis meminta kepada putrinya?”

“Aku tidak sedang ingin membalas budi, Buk. Aku cuma ingin bahagia membantu Ibuk. Tolong, bantu aku bahagia, Buk!”

“Jangan memaksakan diri,” jawabnya pelan.

“Ibuk yang jangan memaksakan diri,” balasku dengan terisak. “Ibuk tahu? Kebahagiaan utamaku itu melihat Ibuk. Nggak ada lagi yang kupunya selain Ibuk.”

Tanpa kuduga, Ibuk membalikkan tubuhnya dan memelukku begitu saja. Rasa hangat terasa menetes di pundakku.

“Maafkan, Ibuk, Nak,” ucap Ibuk getir. “Ibuk takut. Ibuk Takut kamu tidak bahagia. Takut kamu bersedih. Takut Ibuk gagal menjadi orang tua tunggal.” Ibuk terisak-isak. “Setiap hari, bayangan wajah sedihmu datang, Nak. Menakut-nakuti Ibuk. Makanya Ibuk harus berjuang, Nak, demi kebahagiaanmu. Ibuk tidak ingin kamu sedih!”

“Aku juga, Buk. Aku selalu terbayang-bayang wajah letih Ibuk. Dan itu menyiksaku…” Aku tak dapat lagi menghentikan laju air mataku. Pelukku mengerat, sekuat rasa sayangku kepada Ibuk.

Aku dan Ibuk akhirnya mengerti, bahwa sesungguhnya kebahagiaan kami adalah sama. Seperti cermin yang memantulkan persis apa yang dilihat, begitu pula kebahagiaan kami berdua. Ibuk bahagia jika aku bahagia, dan aku bahagia jika Ibuk bahagia. Kami pun akhirnya melakukan apa saja yang membuat kami bahagia. Tak ada lagi bayangan wajah muram Ibuk, dan tak ada lagi bayangan wajah sedihku di kepala Ibuk. Lantas, apa yang lagi dikhawatirkan?

“Terima kasih, Ibuk….”

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen