PULANG UNTUK MENEMUKAN AYAH
Aku berasal dari sebuah desa kecil di Lamongan, Jawa Timur.
Aku lahir dari sebuah keluarga yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada kehidupan yang berlebihan. Tetapi sejak usiaku baru dua bulan, ada satu bagian dari keluargaku yang perlahan menghilang.
Ayahku pergi.
Bukan pergi untuk bekerja sementara. Bukan pergi beberapa hari atau beberapa bulan.
Ia kembali ke Jawa Barat karena perbedaan pemikiran dengan ibuku.
Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi merasakan bagaimana rasanya tumbuh bersama seorang ayah.
Aku bahkan tidak mengerti seperti apa rasanya memiliki seorang ayah yang mengantarkan anaknya sekolah, memarahinya ketika berbuat salah, mengajarinya naik sepeda, atau sekadar duduk bersama di teras rumah sambil berbicara tentang kehidupan.
Yang aku tahu, sejak aku berusia dua bulan hingga usiaku 29 tahun, aku dibesarkan oleh ibuku seorang diri.
Ibuku adalah rumahku.
Ia yang merawatku ketika sakit.
Ia yang mencukupi kebutuhanku.
Ia yang melihatku tumbuh dari bayi hingga dewasa.
Dan selama bertahun-tahun, aku berusaha menerima kenyataan bahwa mungkin memang seperti inilah hidupku.
Namun, ketika aku mulai tumbuh dewasa dan mulai memahami arti keluarga, ada satu hal yang tidak bisa lagi aku abaikan.
Aku ingin tahu siapa ayahku.
Bukan karena aku membenci ibu.
Bukan pula karena aku ingin menyalahkan siapa pun.
Aku hanya ingin tahu.
Sederhana saja.
Siapa sebenarnya orang yang menjadi ayahku?
Pertanyaan itu semakin sering muncul ketika aku mulai mendengar ucapan orang-orang.
Tidak hanya sekali.
Tidak dua kali.
Aku pernah mendengar orang mengatakan bahwa aku adalah anak tanpa bapak.
Ada pula yang mengatakan hal-hal yang jauh lebih menyakitkan.
Bahkan ada yang menyebutku anak haram.
Aku mungkin terlihat diam saat mendengarnya.
Tetapi tidak ada yang tahu bagaimana kata-kata itu tinggal begitu lama di kepalaku.
Aku sering bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah aku memang tidak pantas memiliki seorang ayah?
Apakah salahku dilahirkan dari keadaan seperti ini?
Dan semakin dewasa aku, semakin besar pula keinginanku untuk menemukan jawaban.
Setelah lulus sekolah dan mulai bekerja, aku mulai menabung.
Sedikit demi sedikit.
Bukan untuk membeli barang mahal.
Bukan untuk bersenang-senang.
Aku menabung untuk satu tujuan.
Menemui ayahku.
Sekitar tahun 2017, setelah sekian lama mengumpulkan uang, tabunganku akhirnya mencapai kurang lebih Rp1,3 juta.
Bagi sebagian orang, mungkin jumlah itu tidak seberapa.
Tetapi bagiku, uang itu adalah tiket menuju sebuah jawaban yang selama bertahun-tahun kucari.
Aku membeli tiket kereta api di kantor pos.
Keberangkatan sudah kupersiapkan hampir sebulan sebelumnya.
Namun ada satu orang yang tidak kuberi tahu tentang rencanaku.
Ibuku.
Aku tahu ia takut.
Ia pernah khawatir jika aku pergi mencari ayahku, mungkin aku tidak akan diperbolehkan pulang lagi.
Aku memahami ketakutan itu.
Karena itulah aku memilih diam.
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Aku diantar beberapa orang teman menuju stasiun.
Aku pikir semuanya akan berjalan lancar.
Ternyata perjalanan itu bahkan belum dimulai, tetapi sudah memberikan ujian pertama.
Di perjalanan, teman yang mengantarku terkena tilang polisi.
Masalahnya cukup panjang.
Motor yang kami gunakan memiliki knalpot brong, spion variasi, dan salah satu yang membonceng tidak memakai helm.
Kami diberhentikan.
Awalnya polisi meminta uang tebusan sekitar Rp500 ribu.
Aku mencoba bernegosiasi.
Setelah berbicara beberapa saat, akhirnya jumlahnya menjadi Rp400 ribu.
Aku yang membayarnya.
Saat itu aku tidak terlalu memikirkan uang.
Yang ada di pikiranku hanya satu.
Temanku harus bisa pulang dengan selamat.
Setelah membayar semuanya, uangku yang semula Rp1,3 juta tinggal sekitar Rp600 ribu.
Sebagian uang sudah digunakan untuk tiket kereta, sebagian lagi kuberikan kepada temanku.
Akhirnya aku berangkat menuju Jawa Barat hanya dengan membawa sekitar Rp600 ribu.
Tidak ada saudara yang menungguku.
Tidak ada teman yang menjemput.
Tidak ada kenalan.
Tidak ada orang yang bisa kutelpon untuk meminta bantuan.
Aku hanya membawa sebuah alamat.
Alamat yang tertulis di buku nikah milik orang tuaku dan disimpan oleh ibuku.
Alamat yang sudah berusia puluhan tahun.
Dan satu harapan.
Aku ingin bertemu ayah.
Perjalanan dari Jawa Timur menuju Jawa Barat terasa sangat panjang.
Aku berangkat sekitar maghrib.
Hingga akhirnya sekitar pukul dua dini hari aku tiba.
Tubuhku sudah sangat lelah.
Aku tidak punya cukup uang untuk mencari tempat menginap.
Akhirnya aku memutuskan bermalam di emperan sebuah masjid yang berada di sebelah stasiun.
Aku membaringkan tubuh di sana.
Malam itu mungkin merupakan salah satu malam paling aneh dalam hidupku.
Aku sedang berada ribuan kilometer dari rumah.
Sendirian.
Tidak mengenal siapa pun.
Tidak tahu apakah alamat yang kubawa masih benar.
Tidak tahu apakah ayahku masih tinggal di sana.
Tidak tahu apakah ia masih mengingatku.
Bahkan aku tidak tahu bagaimana pertemuan kami nanti.
Tetapi aku mencoba tidur.
Beberapa jam kemudian, suara azan subuh membangunkanku.
Aku bangun.
Membersihkan diri.
Lalu ikut salat Subuh berjamaah.
Di dalam masjid itu, untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, aku merasa sedikit tenang.
Setelah salat, aku berdoa.
Aku meminta kepada Tuhan agar dipermudah.
Aku hanya ingin menemukan ayahku.
Tidak lebih.
Setelah keluar dari masjid, aku melihat sebuah pangkalan ojek tepat di sebelahnya.
Aku menghampiri salah seorang bapak pengemudi ojek.
Aku menunjukkan alamat yang kubawa.
“Pak, kalau ke alamat ini kira-kira berapa?”
Bapak itu melihat alamat tersebut.
“Seratus lima puluh ribu.”
Aku langsung terdiam.
Uangku hanya sekitar enam ratus ribu.
Aku harus menghematnya.
“Kalau lima puluh ribu bisa, Pak?”
Ia menggeleng.
“Tidak bisa, Mas.”
Aku mengangguk.
“Ya sudah, Pak.”
Aku berniat pergi.
Namun tiba-tiba bapak itu memanggilku.
“Mas.”
Aku menoleh.
“Mau ngapain ke sana?”
Aku menjawab dengan jujur.
“Mau mencari bapak saya, Pak.”
Wajahnya berubah.
“Mencari bapak?”
Aku mengangguk.
“Iya, Pak. Dari kecil saya belum pernah melihat bapak saya.”
Bapak itu terdiam sejenak.
Kemudian ia berkata,
“Ya sudah. Ayo saya antar.”
Aku tidak pernah tahu mengapa saat itu ia berubah pikiran.
Mungkin karena iba.
Mungkin karena melihat seorang anak datang sendirian dari jauh hanya untuk mencari ayahnya.
Atau mungkin memang Tuhan sedang mengirimkan seseorang untuk membantuku.
Aku naik ke motor bapak itu.
Perjalanan dimulai.
Ternyata alamat yang kubawa bukanlah alamat yang dekat.
Kami masih harus menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih.
Kami melewati jalan-jalan yang asing bagiku.
Semakin jauh, aku semakin tidak tahu berada di mana.
Tetapi aku tetap percaya.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami sampai di alamat yang tertulis di buku nikah.
Namun ternyata rumah itu bukan lagi rumah ayahku.
Ayahku sudah pindah.
Wajar saja.
Alamat tersebut berasal dari tahun 1990-an.
Puluhan tahun telah berlalu.
Aku hampir kehilangan harapan.
Tetapi bapak ojek itu tidak meninggalkanku.
Kami bertanya kepada penduduk sekitar.
Seseorang mengatakan bahwa ayahku kemungkinan pindah ke kampung sebelah.
Kami kembali naik motor.
Jalan semakin masuk ke dalam desa.
Sebagian jalannya rusak.
Kami bertanya lagi.
Dan lagi.
Namun belum juga menemukan jawaban.
Aku mulai lelah.
Bukan hanya tubuhku.
Hatiku juga.
Aku berkata dalam hati:
Kalau pertanyaan terakhir ini masih salah, mungkin aku akan pulang.
Aku sudah tidak tahu harus mencari ke mana lagi.
Kami berhenti di sebuah tempat.
Aku melihat seseorang.
Aku mencoba bertanya lagi.
“Permisi, Pak. Apakah benar ini rumahnya Pak Marqi?”
Orang itu memberikan petunjuk.
Aku mengikuti arah yang ditunjukkan.
Dan akhirnya aku berdiri di depan sebuah rumah.
Aku mengetuk.
Seorang perempuan keluar.
Ia adalah istri ayahku sekarang.
Aku bertanya dengan suara pelan.
“Permisi… apa benar ini rumahnya Bapak Marqi?”
Beberapa saat kemudian, seseorang keluar dari dalam rumah.
Seorang laki-laki.
Aku melihat wajahnya.
Dan entah mengapa tubuhku tiba-tiba terasa kaku.
Itu dia.
Orang yang selama 29 tahun hanya kukenal dari cerita.
Orang yang selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai sebuah pertanyaan dalam pikiranku.
Ayahku.
Ia melihatku.
Kemudian berkata dengan suara lembut,
“Iya… ada apa, Dek?”
Aku ingin menjawab.
Tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
Mataku mulai berkaca-kaca.
Dadaku sesak.
Aku mencoba berbicara.
Tidak bisa.
Akhirnya aku hanya mengeluarkan KTP dari dompetku dan menunjukkannya kepadanya.
Ayahku melihatnya.
Dan saat itulah sesuatu yang tidak pernah kubayangkan terjadi.
Ia langsung memelukku.
Erat sekali.
Ia menangis.
Menangis sejadi-jadinya.
“Maafkan Bapak…”
Kalimat itu terus diucapkannya.
“Maafkan Bapak…”
Aku pun tidak mampu menahan tangis.
Aku menangis di pelukannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan pelukan seorang ayah.
Pelukan yang seharusnya mungkin kurasakan ketika masih kecil.
Pelukan yang selama 29 tahun hanya menjadi sesuatu yang tidak pernah kumiliki.
Kami menangis bersama.
Bahkan istrinya yang saat itu tidak mengetahui apa pun tentang kedatanganku ikut menangis.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pertanyaan panjang.
Hanya tangisan.
Mungkin karena ada terlalu banyak hal yang ingin kami katakan, tetapi tidak tahu harus memulainya dari mana.
Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hati ayahku.
Begitu pula ia tidak tahu berapa lama aku menunggu hari ini.
Yang kami tahu hanyalah satu hal.
Kami akhirnya bertemu.
Setelah 29 tahun.
Hari itu aku juga teringat kepada bapak ojek yang telah membantuku.
Tanpa dia, mungkin aku tidak akan pernah sampai ke rumah itu.
Aku menghampirinya.
Aku memberikan uang Rp100 ribu kepadanya.
Bukan karena uang itu cukup untuk membalas jasanya.
Tetapi karena aku ingin berterima kasih.
Aku ingin mengingat bahwa dalam perjalanan hidupku yang penuh ketidakpastian, pernah ada seorang asing yang memilih untuk membantuku.
Semoga masih banyak orang baik seperti beliau di dunia ini.
Aku kemudian menghabiskan waktu di rumah ayahku.
Untuk pertama kalinya aku berbicara dengannya.
Untuk pertama kalinya aku melihat kehidupan ayahku.
Untuk pertama kalinya aku tahu seperti apa rasanya berada di dekat seorang ayah.
Sehari kemudian, aku diajak ke rumah nenekku di Jawa Barat.
Dan pertemuan itu kembali membuat air mataku jatuh.
Nenekku menangis ketika melihatku.
Karena ketika aku lahir dulu, dialah salah satu orang pertama yang menggendongku.
Tetapi setelah itu, hidup membawa kami ke jalan masing-masing.
Puluhan tahun berlalu.
Dan sekarang, bayi yang dahulu pernah berada di dalam gendongannya telah berdiri sebagai seorang laki-laki dewasa di hadapannya.
Mungkin di dalam hati nenekku ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Begitu pula di dalam hatiku.
Tetapi lagi-lagi, tangisan menjadi bahasa yang paling mampu menjelaskan semuanya.
Beberapa hari aku berada di sana.
Namun waktu terasa begitu cepat.
Aku harus kembali.
Aku masih memiliki pekerjaan di Jawa Timur.
Hari kepulangan tiba.
Kami semua merasa berat.
Karena setelah menunggu 29 tahun untuk bertemu, ternyata pertemuan itu hanya berlangsung beberapa hari.
Aku berpamitan.
Ada pelukan.
Ada tangisan.
Ada janji untuk tetap berkomunikasi.
Kemudian aku meninggalkan rumah itu.
Dalam perjalanan pulang, aku melihat pemandangan dari balik jendela kendaraan.
Aku terdiam.
Aku datang ke Jawa Barat hanya membawa uang Rp600 ribu, sebuah alamat tua, dan harapan.
Aku pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.
Jawaban.
Aku akhirnya tahu di mana ayahku.
Aku akhirnya tahu seperti apa wajahnya.
Aku akhirnya tahu bagaimana rasanya dipeluk olehnya.
Namun ada satu hal yang baru kusadari setelah perjalanan itu.
Ternyata pencarian seorang anak kepada orang tuanya bukan selalu tentang menemukan seseorang.
Kadang, pencarian itu adalah perjalanan untuk menemukan bagian dari diri kita sendiri.
Selama bertahun-tahun aku bertanya mengapa ayah pergi.
Mengapa aku tidak dibesarkan olehnya.
Mengapa aku harus tumbuh tanpa seorang ayah.
Tetapi setelah bertemu dengannya, aku menyadari bahwa tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban yang sempurna.
Ada beberapa luka yang tidak harus dibalas dengan kebencian.
Ada beberapa kehilangan yang tidak bisa dikembalikan oleh waktu.
Dan ada beberapa pertemuan yang datang terlambat, tetapi tetap terasa begitu berarti.
Aku tidak tahu bagaimana hubungan kami setelah hari itu.
Aku juga tidak tahu berapa banyak waktu yang masih Tuhan berikan untuk kami.
Tetapi setidaknya, aku sudah melakukan apa yang selama bertahun-tahun ingin kulakukan.
Aku mencari ayahku.
Dan aku menemukannya.
Bukan dengan kekayaan.
Bukan dengan koneksi.
Bukan dengan bantuan orang-orang besar.
Aku menemukannya hanya dengan sebuah alamat lama, uang yang sangat terbatas, keberanian seorang anak, dan pertolongan seorang tukang ojek yang bahkan tidak kukenal sebelumnya.
Kini ketika mengingat semuanya, aku hanya bisa tersenyum kecil.
Ternyata perjalanan sejauh itu bukan hanya membawaku menuju Jawa Barat.
Perjalanan itu membawaku menuju sebuah bagian dari hidupku yang selama 29 tahun hilang.
Dan mungkin…
inilah arti sebenarnya dari pulang.
Bukan selalu kembali ke tempat kita dilahirkan.
Tetapi kembali kepada seseorang yang selama ini diam-diam kita cari.
Kata Mutiara
“Ada anak yang tidak pernah berhenti mencari ayahnya, bukan karena ia membenci masa lalu, tetapi karena ia hanya ingin sekali merasakan bagaimana rasanya dipanggil sebagai seorang anak oleh ayahnya sendiri.”
“Pertemuan yang terlambat tetap lebih indah daripada penyesalan karena tidak pernah mencoba mencari.”
