Aku adalah seorang anak (dan kini telah menjadi seorang ibu)
Kami keluarga transmigran dari Jakarta ke Sumatera, tentunya banyak hal nyaman yang kami tinggalkan menuju medan yang sarat perjuangan,
Ibuku hanya lulusan SD tapi hingga kini banyak hal yg saya pelajari bahkan belum saya fahami sepenuhnya dari semua petuah petuah indahnya,
Suatu pagi yang indah; saat itu sy sedang dirumah karena libur kuliah (saya kuliah di Jakarta) ibu memberiku sekuntum bunga segar dari halaman rumah, sembari tersenyum dan dengan lembut berkata “keluarlah dari rumah, hirup udara dan nikmati pagi yang indah, banyak makhluk keluar dari kediaman nya dan mengais rejeki atau hanya sekedar keluar utk menyapa orang lalu lalang”
Hal itu diucapkan pada anak nya yang patah hati dua kali karena ditinggal nikah.
Pria pertama datang kerumah lalu ditolak ayah dan pria kedua (sempat dekat) lalu menikah karena sebuah tragedi yang mengharuskan mereka menikah
Pria pertama lantas menikah dengan mantan nya karena jika tidak, perempuan itu akan mengakhiri hidupnya, ramai org datang ke resepsinya dan dari mereka lah sampai kabar bahwa mempelai pria tidak tersenyum indah di hari yang seharusnya semua wajah tersenyum sumringah.
Dengan segala kelapangan dada ibu berkata “Nak dalam hidup ini keinginan tentu membahagiakan, cita cita atau harapan tentu kau semogakan, tapi nak ada yang lebih penting dari sekedar pengabulan doa, dan itu adalah kasih SayangNya,
Aku berkata; bukankah jika itu dikabulkan adalah bentuk kasih sayang Allah,
tidak semua nak,
kau ingin menikah bukan? tapi bagaiman jika (laa qodarullah) kamu menikah dengan pria yang kau inginkan yg sudah kau sebutkan, tentunya akan ada suatu kejadian yang mungkin tak bisa kau terima, maka mintalah menikah tapi serahkan calon dan caranya kepada Allah
keduanya memang ingin menikah tapi lihatlah bagaimana Allah memberikan mereka berdua pernikahan itu?
aku masih tertegun tak mengerti
lalu ibu memberi contoh; ketikan kau minta uang pada ibu lalu ibu berikan dengan cara dilempar, apakah kau mau?
tentu aku tidak mau ibu, ujarku
berarti kau ingin aku memberimu baik baik bukan? jika pun uang itu tak ada dan aku meminta pengertianmu dengan baik perihal kondisi kita, apakah kau bisa menerima ?
tentu aku bisa terima selama itu dilakukan dengan baik ibu,
Tepat, tepat sekali begitulah kiranya sikap seorang hamba
tidak semua pengabulan doa itu berwujud nyata beberapa pengabulan itu berupa tubuh yang sehat, rejeki yang terus ada, dan dijauhi dari segala macam marabahaya ,
maka, mulai saat ini selalu minta kasih sayang Allah dalam setiap doa, setidaknya jika yang kau semoga tak berwujud nyata kau tetap memiliki dada yang lapang dan hidup yang tenang, karena kau tau yang akan menjadi milikmu tak kan melewatimu dan yg melewatimu bukan lah milikmu
