Khanza Niken Ramadhani
Sekali duduk selesai
30 September 2026
Mulai membaca
Kaca jam tangan itu sudah penuh dengan goresan halus, tetapi Aksa tetap memasangnya di pergelangan tangan kiri setiap pagi. Jam itu milik ayahnya. Sudah bertahun-tahun usianya, tetapi Aksa tidak pernah berniat menggantinya.
Di atas meja kecil dekat jendela kamar kos, sebuah amplop cokelat tergeletak di samping dompet. Di bagian depannya, Aksa menulis dengan spidol hitam:
UNTUK KULIAH 2027.
Ia mengambil dua lembar uang dari gaji yang baru diterimanya, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menutupnya kembali.
Tidak banyak.
Tapi setidaknya bertambah.
Pagi belum sepenuhnya terang ketika suara mesin motor dan keran air mulai terdengar dari lorong kos. Aksa meraih helmnya dan keluar kamar.
Baru beberapa meter meninggalkan halaman, ponselnya bergetar. Nama Ibu muncul di layar.
“Sudah berangkat kerja?” suara Ibu terdengar.
“Sudah, Bu. Ibu sudah makan?”
“Sudah. Kamu?”
Perut Aksa berbunyi pelan. Sejak bangun tadi, ia memang belum makan.
“Sudah,” jawabnya.
“Uang yang kemarin cukup?”
“Cukup. Ibu jangan khawatir.”
“Kamu simpan juga buat kebutuhanmu. Jangan dikirim semua ke sini.”
Aksa diam sebentar.
“Tahun depan Aksa coba kuliah, Bu. Kalau tabungannya cukup.”
“Kalau memang itu yang kamu mau, Ibu doakan. Hati-hati di jalan.”
“Iya, Bu.”
Panggilan berakhir.
Aksa memasukkan ponselnya ke saku dan kembali menjalankan motor. Jalanan mulai ramai. Di antara kendaraan yang berdesakan, pikirannya masih tertinggal pada percakapan tadi.
Ia tidak tahu apakah tahun depan benar-benar bisa kuliah.
Tapi ia ingin mencoba.
Gudang sudah ramai ketika Aksa tiba. Udara di dalam bercampur antara debu kardus dan bau keringat. Ia langsung bergabung dengan pekerja lain, mengangkat barang dari truk dan mencatatnya ke dalam sistem.
Saat istirahat, Yudha, rekan kerjanya, menyodorkan gelas plastik berisi kopi.
“Nih. Daripada lo cuma minum air putih lagi.”
Aksa menerimanya.
“Bayar berapa?”
“Traktiran.”
“Serius?”
“Serius. Lo kan lagi nabung buat kuliah.”
Aksa tersenyum kecil.
“Semoga tahun depan kesampean, Sa,” kata Yudha.
“Amin.”
Hari-hari Aksa di rantau berjalan begitu saja. Ia berangkat pagi, bekerja sampai sore, mengirim uang ke rumah, lalu pulang ke kamar kos yang ukurannya tidak seberapa.
Rakha, teman sekamarnya, sering menjadi tempat Aksa bercerita. Mereka kadang makan mi instan bersama, mengeluhkan pekerjaan, atau sekadar duduk di depan kamar sambil bermain ponsel.
Bagi Aksa, Rakha sudah seperti keluarga kecil yang ia temukan jauh dari rumah.
Sampai suatu sore, Aksa pulang lebih cepat karena shift-nya dipangkas.
Begitu membuka pintu kamar, ia langsung berhenti.
Lemari terbuka. Tas kerja tergeletak di atas kasur. Laci meja sedikit terbuka.
Aksa berjalan cepat menuju meja.
Tangannya mencari amplop cokelat itu.
Tidak ada.
Ia membuka laci, memeriksa sela-sela buku, lalu melihat ke bawah kasur.
Kosong.
Aksa berdiri diam.
Tabungan yang ia kumpulkan berbulan-bulan hilang.
Ketika matanya menyapu meja sekali lagi, ia baru menyadari sesuatu yang lain.
Jam tangan ayahnya juga tidak ada.
“Sa?”
Rakha muncul di ambang pintu sambil membawa dua bungkus nasi goreng. Wajahnya berubah melihat kamar yang berantakan.
“Kenapa kamar lo...”
“Uangku hilang, Rak.”
Suara Aksa terdengar serak.
“Jam Bapak gue juga.”
Rakha terdiam.
Malam itu mereka mencari ke mana-mana. Penghuni kos lain ikut membantu, tetapi tidak ada yang menemukan apa pun.
Setelah semua kembali ke kamar masing-masing, Aksa duduk di tepi kasur. Ia menatap pergelangan tangan kirinya yang sekarang kosong.
Selama berbulan-bulan ia bekerja dan menghemat sebisanya. Bahkan beberapa kali ia menahan lapar demi menambah tabungan itu.
Sekarang, sebagian besar hasilnya hilang begitu saja.
Malam itu Aksa tidak tahu harus marah kepada siapa.
Dua hari kemudian, suasana di kamar terasa berbeda.
Rakha lebih sering diam. Aksa juga tidak banyak bicara.
Sore itu, Rakha sedang mencari kunci motor di dalam tas selempangnya. Sebuah benda kecil terjatuh ke lantai dan meluncur hingga menyentuh kaki Aksa.
Aksa membungkuk dan mengambilnya.
Sebuah tali jam kulit hitam.
Ujungnya sudah sedikit aus.
Aksa mengenalinya.
Tangannya langsung kaku.
“Rakha.”
Rakha menoleh.
“Dari mana lo dapat ini?”
Rakha tidak menjawab.
Aksa menatap tali jam itu sekali lagi.
“Rak,” suaranya mulai bergetar, “jangan bilang ini punya gue.”
Rakha menelan ludah.
“Gue bisa jelasin.”
“Jelasin.”
Rakha menunduk.
“Gue ambil uang lo.”
Aksa terdiam beberapa detik.
“Kenapa?”
“Adik gue sakit. Ibu gue telepon. Biaya obatnya kurang.”
“Terus lo ambil uang gue?”
“Gue awalnya cuma mau ambil sedikit. Gue pikir nanti gue balikin.”
“Lo bisa bilang ke gue, Rak.”
Rakha diam.
“Kenapa harus nyuri?”
“Gue panik, Sa.”
Aksa menarik napas panjang. Tangannya masih menggenggam tali jam itu.
“Lo tahu gue nabung buat kuliah.”
“Iya.”
“Lo tahu gue susah payah ngumpulin itu.”
“Iya.”
“Terus lo masih ikut nyari waktu barang gue hilang.”
Rakha tidak bisa menjawab.
Aksa menatapnya lama.
“Terus jam Bapak gue?”
Rakha memasukkan tangan ke saku celananya dan mengeluarkan jam tersebut.
Kacanya memiliki satu goresan panjang.
Aksa langsung mengambilnya. Ia mengusap goresan itu dengan ibu jarinya.
Benda itu tidak mahal. Tetapi sejak ayahnya meninggal, jam itulah yang selalu membuatnya merasa masih membawa sesuatu dari rumah.
“Gue jual laptop gue buat nutup sebagian uang lo,” kata Rakha pelan. “Tapi belum semuanya bisa gue balikin.”
Aksa menggenggam jam itu.
“Gue ngerti adik lo sakit.”
Ia berhenti sebentar.
“Tapi yang lo lakuin tetap salah.”
Rakha mengangguk.
“Gue tahu.”
Aksa belum bisa memaafkannya. Untuk sementara, melihat wajah Rakha saja sudah membuatnya teringat pada kamar yang berantakan dan amplop yang hilang.
Sebelum masuk kamar, Aksa berhenti.
“Jaga adik lo.”
Lalu ia pergi.
Malam itu Aksa menghitung sisa uang di dompetnya.
Tidak banyak.
Ia membuka ponsel dan melihat kembali pesan dari Ibu. Jarinya berhenti di atas layar.
Untuk pertama kalinya, Aksa berpikir mungkin ia memang harus melupakan kuliah.
Mungkin uangnya akan selalu kurang.
Mungkin bekerja saja sudah cukup.
Keesokan harinya, ia tetap masuk kerja.
Yudha langsung menyadari ada yang berbeda.
“Lo kenapa?”
“Enggak apa-apa.”
Yudha tidak bertanya lagi.
Saat istirahat, ia hanya menyodorkan sebungkus nasi padang.
“Makan.”
Aksa menerimanya.
Beberapa saat kemudian Yudha berkata, “Gue dengar tempat logistik sebelah butuh orang buat shift malam. Gue udah kasih nomor lo ke bosnya.”
Aksa menatapnya.
“Buat apa?”
“Kalau lo mau nambah tabungan.”
Aksa terdiam.
Yudha kemudian menambahkan, “Jangan mikir semuanya harus lo selesain hari ini, Sa.”
Aksa menunduk. Ia tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, ia mengangguk.
“Terima kasih.”
Sejak malam itu, Aksa mengambil pekerjaan tambahan.
Siang hari ia bekerja di gudang lama. Malam hari ia membantu di tempat lain. Tidak mudah. Beberapa pagi ia bangun dengan tubuh yang masih pegal, dan beberapa malam ia hampir tertidur sebelum sempat makan.
Tetapi ia tetap bekerja.
Bukan karena ia tidak lelah. Ia justru semakin sadar bahwa ia tidak mungkin melewati semuanya sendirian.
Beberapa bulan kemudian, pagi belum sepenuhnya terang. Aksa berdiri di depan cermin kamarnya. Ia mengenakan seragam kerja, lalu mengambil jam tangan ayahnya dari atas meja.
Goresan itu masih ada.
Ia memasangnya di pergelangan tangan.
Dulu, ia hanya melihat goresan itu sebagai tanda dari sesuatu yang hilang.
Sekarang tidak lagi.
Aksa membuka laci dan mengambil amplop cokelat yang sudah lama ia simpan.
Tulisan di depannya masih sama.
UNTUK KULIAH 2027.
Isinya belum sebanyak yang ia inginkan.
Tetapi amplop itu masih ada.
Begitu pula dirinya.
Aksa memasukkannya kembali ke laci, mengambil tas, lalu keluar kamar.
Di halaman kos, matahari mulai naik. Jalanan perlahan ramai. Orang-orang berangkat menuju tempat mereka masing-masing.
Aksa melihat jam di pergelangan tangannya.
Jarumnya terus bergerak.
Tidak kembali ke belakang.
Aksa pun melangkah.
Ia belum tahu kapan bisa benar-benar duduk di bangku kuliah. Ia juga belum tahu berapa lama lagi harus bekerja dan menabung. Tapi sekarang ia tidak lagi memikirkan semuanya sekaligus.
Cukup hari ini.
Cukup satu pekerjaan.
Cukup satu tabungan.
Cukup satu langkah.
Ada yang hilang.
Ada yang datang.
Ada yang mengecewakan.
Ada pula yang diam-diam membantu kita bertahan.
Aksa menatap jalan di depannya.
Lalu berjalan menuju hari berikutnya.
Pelan, tetapi tidak pernah berhenti.
#CeritaAnakRantau