CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Oversharing 'Membunuh' Mama
Oversharing 'Membunuh' Mama

Oversharing 'Membunuh' Mama

oleh Sakti Darma Abhiyoso
CerpenGratis4 menit baca56 dibacaJFMM Participant
Nama gue Sakti. Bukan berarti bisa nembak jaring laba-laba kayak Spider-Man, tapi karena mama hampir mati saat melahirkan gue. Itu cerita dari nama yang gue dapat sejak kecil.

Mama bertaruh nyawa ketika melahirkan gue di leuweung awi—rumah bidan yang dikelilingi pohon bambu—karena berat anaknya 5 kilogram (kg). Melebihi berat bayi pada umumnya.

Bidan bahkan bilang kalaupun selamat pasti cuma salah satunya. Qadarullah kami berdua tetap hidup. Mungkin itu yang membuat hubungan gue dan mama begitu lengket.

Gue tumbuh sebagai anak laki-laki yang menceritakan hampir semua hal ke mama. Biasanya, gue setor cerita sepulang sekolah. Mungkin mama sebenarnya gak antusias mendengar hal-hal receh yang gue alami, tapi enggak ada pilihan lain.

Kayaknya gak ada deh yang mama enggak tahu tentang gue. Mulai dari mata pelajaran kesukaan, makanan favorit, sampai siapa cewek yang lagi gue taksir. Bahkan mama paham betapa gak berbakat gue dalam urusan menggambar.

Ada momen di mana mama sudi mengerjakan pekerjaan rumah (PR) Seni Budaya punya gue. Dia menggambar Gaara si pengendali pasir melawan Rock Lee yang lagi memakai jurus mabuk. Persis isi komik Naruto Shippuden.

Mama juga maju paling depan ketika papa lepas tangan soal urusan pendidikan gue. Mama capek-capek ngambil rapor gue di sekolah menengah pertama (SMP) yang ditahan karena belum bayar uang sumbangan gedung.

Sedangkan papa memilih sengaja gak datang ke sekolah. Cuma gue satu-satunya murid yang gak didampingi orang tua. Padahal, saat itu gue ranking 1. Untung ada mama yang mau ke sekolah, meski sudah lewat beberapa hari.

Gue terus merawat kedekatan itu sampai akhirnya tanpa sengaja ‘membunuh’ mama. Ternyata oversharing yang gue lakukan sejak kecil justru menjadi salah satu pemicu kepergian mama untuk selamanya.

Mulanya, penyakit saraf kejepit mama kambuh di 2016. Saat itu gue masih kelas XI sekolah menengah atas (SMA). Dan papa gak punya uang untuk bawa mama berobat ke rumah sakit (RS). Akhirnya, mama cuma dirawat di klinik.

Gue sempat diminta jadi ujung tombak untuk ngutang ke keluarga papa. Hampir semua saudara gue telepon, ya bude, pakde, om, dan tante. Entah kenapa saat itu mereka kompak bilang gak bisa bantu.

Kekecewaan itu dengan polosnya gue ceritakan ke mama yang lagi sakit, dengan nada sedikit kesal. Mama gak banyak merespons, tapi gue yakin dia masih bisa mencerna dengan jelas cerita tersebut.

Mama sempat tampak sembuh dan bisa pulang dari klinik. Beberapa hari kemudian malah lupa ingatan, mulutnya bahkan mencong, dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Mama divonis stroke.

Gak 24/7 gue bisa menemani mama di RS. Tapi setiap malam, kata papa, mama sering mengigau dan meracau. Mengulang momen penolakan bantuan dari saudara papa, persis yang gue ceritakan ke mama sebelumnya.

Cuma hitungan hari mama terbaring di RS, lalu mengembuskan napas terakhir. Sejak saat itu gue mencoba berhenti oversharing. Hanya hal-hal bahagia yang gue bagikan secara lisan ke banyak orang.

Enggak ada lagi obrolan intens di keluarga kami. Gue bahkan gak pernah cerita panjang lebar tentang perjalanan karier ke papa, sejak mama meninggal di 2016 sampai satu dasawarsa kemudian.

Mungkin semua cerita uncensored itu spesial just for my mom. Sejujurnya sesekali masih gue ceritakan ke mama, tapi sekarang mediumnya doa selepas salat. Gak jarang dibarengi tetes air mata.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen