Ibuku lahir di sebuah desa yang sangat kecil di Kabupaten Blitar. Kakek dan nenek adalah petani. Ibu memiliki enam saudara, semuanya laki-laki. Dua di antaranya kemudian meninggal dunia. Ibu hanya bersekolah sampai kelas tiga SD. Bukan karena ibu tidak ingin sekolah. Saat itu, ibu memiliki tiga adik laki-laki yang harus dirawat. Maka sekolahnya harus berhenti, sementara hidup memaksanya belajar menjadi dewasa jauh lebih cepat daripada anak-anak seusianya.
Ibu kemudian merantau ke Kota Malang. Di sana, ibu bekerja di sebuah rumah makan yang cukup terkenal. Karena ibu giat dan tekun, majikannya menyekolahkan ibu di sekolah menjahit. Ibu sangat bahagia saat itu. Aku sering membayangkan ibu yang masih muda, duduk di depan mesin jahit, belajar membuat sesuatu dengan kedua tangannya. Aku tidak pernah melihat masa itu. Tetapi mungkin, dari sanalah ibu belajar bahwa sesuatu yang indah memang membutuhkan kesabaran.
Bertahun-tahun kemudian, ibu bertemu ayah. Rumah ayah hanya berjarak dua atau tiga rumah dari rumah yang ditinggali ibu. Ayah tampan, putih, dan tinggi. Sedangkan ibu sangat cantik, dengan rambut hitam panjang yang terurai. Mereka jatuh hati dan saat usia 23 tahun, mereka menikah.
Pernikahan itu berlangsung di rumah orang tua ibu di Blitar. Katanya, pernikahan mereka sangat megah dan dihadiri banyak sekali orang.
Beberapa bulan kemudian, ibu mengandung anak pertamanya.
Kakakku. Seorang anak laki-laki yang pintar, suka membaca, dan jarang bersosialisasi. Ia selalu masuk sekolah favorit di kotaku. Bahkan ketika kelas tiga SD, kakakku sudah khatam membaca Al-Qur’an.
Delapan tahun kemudian, lahirlah aku. Seorang anak perempuan.
Dan sejak kecil, aku seperti dibuat untuk menjadi kebalikan dari kakakku. Kalau kakakku pintar dan tenang, aku suka bermain. Kalau kakakku suka membaca, aku lebih suka membuat keributan. Kalau kakakku membanggakan, aku mungkin lebih sering membuat ibu pusing.
Cerita tentang aku dan ibu dimulai dari sana.
Aku tumbuh di sebuah rumah yang dihuni oleh tujuh keluarga. Sampai suatu hari aku sakit paru-paru basah. Sejak saat itu, orang tuaku akhirnya memutuskan untuk membeli rumah. Aku masih terlalu kecil untuk memahami alasan sebenarnya. Aku hanya tahu, setelah itu kami memiliki rumah sendiri. Dan di rumah itulah sebagian besar kenangan tentang ibu tinggal sampai hari ini.
Saat TK, di sekolahku ada truk susu. Aku menginginkannya. Aku meminta kepada ayah yang saat itu menjemputku. Ayah menolak dengan tegas. Aku menangis sepanjang perjalanan pulang. Sesampainya di rumah, aku mengadu kepada ibu sambil menangis dan tantrum. Sekarang aku tahu aku salah. Tetapi ada satu hal yang masih sangat jelas dalam ingatanku.
Wajah ibu. Ibu hanya tersenyum saat melihatku. Ia menjelaskan semuanya dengan tenang. Tidak membentak. Tidak memarahiku. Dan pada akhirnya, aku menjadi tenang hanya karena berada di samping ibu.
Waktu itu aku belum mengerti. Sekarang aku tahu, ada orang-orang yang tidak perlu melakukan apa-apa untuk membuat kita merasa aman. Cukup berada di dekat mereka. Dan bagi aku, orang itu adalah ibu.
Ketika masuk SD, aku hanya seorang anak perempuan berambut pendek yang suka menangis. Saat kelas satu SD, aku mengalami kejadian yang sampai sekarang tidak pernah kulupakan. Aku dibully oleh seorang teman. Ia adalah anak seorang anggota. Mungkin saat itu ia merasa dirinya lebih berkuasa karena jabatan orang tuanya
Suatu hari, aku sedang berlari menuju kelas. temanku itu mengulurkan kakinya mengarah kakiku yang saat itu sedang berlari ke kelas. Pada akhirnya..
BRAK! aku sampai terjatuh.
Aku menangis dan mengadu kepada ibu. Ibu hanya tersenyum. Ia berkata bahwa mungkin temanku hanya ingin bermain denganku. Aku percaya.
Tetapi ternyata, di belakangku, ibu mendatangi temanku dan memarahinya. Sejak saat itu aku tidak pernah dijahili lagi. Saat itu aku hanya tahu bahwa ibu membelaku. Aku belum mengerti bahwa di balik semua itu ada seorang perempuan yang mungkin jauh lebih sakit melihat anaknya disakiti daripada ketika anaknya sendiri berbuat nakal.
Beberapa waktu kemudian, ada pembagian ulangan. Nilai ulanganku 80. Angka yang mungkin tidak terlalu buruk bagi sebagian orang.
Tetapi bagiku, angka itu terasa begitu kecil jika dibandingkan dengan nilai kakakku. Ayah memukulku. Dan ibu membelaku. Ibu sampai bertengkar dengan ayah karena membelaku.
Saat itu aku hanya tahu satu hal: Ibu membelaku.
Aku belum mengerti bahwa di balik pembelaan itu ada seorang perempuan yang selalu ingin memastikan anaknya baik-baik saja.
Saat kelas dua atau tiga SD, aku mendapat nilai ulangan 60. Aku takut. Lalu aku melakukan sesuatu yang sampai sekarang masih kuingat. Aku memalsukan tanda tangan ibu.
Setelah itu, kertas ulanganku kusembunyikan di sela-sela mesin jahit ibuku. Aku pikir rahasiaku aman. Sampai ibu menemukannya. Aku sudah membayangkan kemarahannya. Tetapi ibu tidak marah. Ibu hanya menasihatiku. Sambil tersenyum.
Saat kelas empat SD, kenakalanku semakin menjadi-jadi. Aku sudah lima kali tidak mengerjakan PR. Sampai akhirnya aku diturunkan ke kelas tiga untuk pelajaran itu. Ada surat panggilan untuk orang tua. Aku menyembunyikannya di dalam tas. Kupikir kalau ibu tidak tahu, masalahnya akan selesai.
Seminggu kemudian, surat itu ditemukan. Aku sudah bersiap untuk dimarahi. Tetapi sekali lagi, ibu hanya menasihatiku. Sambil tersenyum.
Aku tidak pernah bertanya mengapa ibu selalu tersenyum. Mungkin karena saat itu aku belum tahu bahwa kesabaran seorang ibu bisa sebesar itu.
Kelas lima SD, aku bertengkar dengan seorang teman di kampung. Aku menyiramnya dengan segelas manisan salak. Kami bertengkar hebat sampai rambutku dijambak.
Sejak kejadian itu, temanku sering menungguku di gang yang biasa kulewati. Aku takut. Setiap kali pergi mengaji, aku mencari jalan lain dan memilih memutar agar tidak bertemu dengannya.
Lama-lama ibu merasa ada yang berbeda denganku. Aku akhirnya bercerita. Dan ketika tahu aku sedang ketakutan, ibu datang. Ibu melabrak temanku. Ibu membelaku. Sekali lagi, aku merasa aman.
Karena ada ibu.
Saat kelas enam SD, aku semakin malas belajar. Aku lebih suka mengikuti cara temanku belajar. Temanku adalah seseorang yang selalu berada di peringkat terakhir di kelas, dari kelas satu sampai kelas enam.
Aku melakukan itu bukan sekadar karena malas. Aku cemburu. Aku merasa semua keinginan kakakku selalu dituruti. Aku merasa kakakku lebih dibanggakan. Dan entah mengapa, aku memilih menjadi anak yang berbeda.
Dari 44 siswa, aku berada di urutan ke-42. Dan sekali lagi, aku melihat senyum ibu. Tidak ada bentakan. Tidak ada kemarahan. Hanya nasihat.bDan senyum.
Dulu aku mengira senyum itu akan selalu ada. Aku tidak pernah menyangka suatu hari nanti, senyum itulah yang paling ingin kulihat lagi.
Ketika masuk SMP, ibu kebingungan mencari sekolah untukku. Nilai-nilaiku sangat buruk. Akhirnya aku memilih sebuah sekolah swasta nomor dua di kotaku. Ibu bahkan memohon kepada pihak sekolah agar aku bisa diterima. Dan akhirnya aku bisa bersekolah di sana.
Kelas satu SMP, aku melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Ibu tahu. Dan lagi-lagi, ia hanya tersenyum. Besoknya, ibu tetap menyiapkanku makan. Tetap menyiapkan bekal. Tetap menyiapkan seragamku. Seolah kesalahanku kemarin tidak pernah membuatnya berhenti menjadi ibu.
Kelas dua SMP, aku bertengkar dengan teman sekelas. Aku tidak masuk sekolah selama satu minggu. Setiap hari aku mencari alasan agar tidak perlu pergi ke sekolah. Sampai akhirnya ibu menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi.
Ketika tahu masalahnya, sekali lagi ibu datang membelaku. Tetapi saat itu aku masih belum mengerti. Aku bahkan merasa ilfil kepada ibu karena menurutku pemikirannya sangat kolot dibandingkan orang tua teman-temanku. Aku pernah merasa malu memiliki ibu seperti ibuku. Aku tidak tahu bahwa waktu bersamaku ternyata tinggal sebentar lagi.
Beberapa bulan sebelum ibu meninggal, aku melakukan salah satu kesalahan yang paling kuingat sampai sekarang.
Sepulang sekolah, aku dijemput oleh teman tongkronganku. Saat itu ada sekitar 25-30 orang yang menjemputku di depan sekolah.
Aku diajak nongkrong di sebuah lapangan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah. Dan aku pergi begitu saja. Aku tidak memberi tahu ibu. Aku tidak meminta izin. Aku hanya berpikir akan pulang nanti.
Sampai hari mulai gelap. Magrib tiba. Dan aku belum pulang.Ibu mencariku. Ibu akhirnya menemukanku di lapangan. Ibu menangis sepanjang jalan (kata kakakku). Kakakku marah besar. Dan aku takut pulang ke rumah. Aku memilih tidak pulang. Sampai akhirnya kakak temanku menemukanku dan membawaku pulang.
Beberapa hari kemudian, aku kembali mendapat hukuman dari ayah. Ayah memukulku menggunakan sandal terapi plastik. Bibirku berdarah sangat banyak. Aku menangis. Dan sekali lagi, ibu berdiri di depanku. Ibu membelaku. Sampai akhirnya ibu bertengkar hebat dengan ayah.
Saat itu aku hanya melihat seorang ibu yang selalu membelaku. Aku belum mengerti bahwa mungkin, setiap kali ibu berdiri di depanku, ia sedang mempertaruhkan hatinya sendiri untuk anak yang berkali-kali membuatnya kecewa. Aku belum tahu bahwa tidak lama lagi, aku akan kehilangan perempuan yang selalu berdiri di depanku itu.
Hari Terakhir
Beberapa jam sebelum ibu meninggal, ibu menerima pesanan catering yang sangat banyak. Hari itu aku bolos sekolah untuk membantu ibu. Rumah penuh dengan kesibukan. Ibu sibuk mengerjakan pesanan. Aku ikut membantu sebisaku.
Hari itu terasa biasa. Padahal sekarang aku tahu, hari itu adalah salah satu hari terakhir yang diberikan hidup kepadaku bersama ibu.
Setelah pesanan catering selesai, ibu mengajakku mandi dan keramas. Aku tidak mau. Aku memilih pergi bermain PlayStation ke rumah saudaraku. Ibu menyusulku.
Sekarang kalau mengingatnya, aku sering berpikir:
Mungkin ibu sebenarnya hanya ingin berlama-lama denganku. Mungkin ia tidak benar-benar membutuhkan apa-apa. Mungkin ia hanya ingin anak perempuannya berada di dekatnya sedikit lebih lama. Tetapi aku tidak mengerti. Aku masih terlalu sibuk dengan duniaku sendiri.
Sekitar pukul dua siang, ibu menungguku di ruang tamu. Ketika aku pulang, ibu mengeluh tidak bisa tidur. Aku masuk ke kamar. Ibu memelukku.
Lama.
Sangat lama.
Aku tidak tahu mengapa hari itu ibu memelukku selama itu. Aku justru memilih bermain HP sambil mendengarkan musik. Ibu ikut bernyanyi. Tetapi lirik yang dinyanyikannya salah. Aku memarahi ibu. Aku membetulkan liriknya. Hal yang sangat kecil. Hal yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa. Tetapi sekarang, kalau aku bisa kembali ke hari itu, aku ingin sekali mendengar ibu salah menyanyikan lagu itu lagi.
Aku ingin ibu salah menyebut semua liriknya. Aku tidak akan membetulkannya. Aku bahkan akan ikut bernyanyi. Karena sekarang aku tahu, ada kesalahan-kesalahan kecil yang ingin kita miliki kembali seumur hidup.
Sekitar satu jam sebelum ibu meninggal, ibu menyuruhku membeli gas. Saat itu hujan deras. Aku membentak ibu. Aku bilang aku akan membelinya kalau hujan sudah reda.
Ibu menunggu.
Ketika hujan akhirnya reda, aku pergi membelikan gas untuk ibu. Aku tidak tahu bahwa itu mungkin adalah salah satu hal terakhir yang kulakukan untuknya.
Beberapa saat kemudian, ibu membeli kopi. Katanya, kopi itu ingin dibuatkan untuk ayah dan kakakku. Ibu masuk ke dapur. Aku berada di depan televisi. Ibu di dapur. Semuanya terlihat seperti hari biasa. Seperti tidak ada yang akan berubah. Sampai tiba-tiba..
PRANG!
Suara piring pecah terdengar dari dapur. Aku diam beberapa menit. Aku tidak langsung pergi melihat. Mungkin karena sebelumnya piring pecah adalah hal biasa. Tetapi tiba-tiba aku merasa khawatir. Biasanya, kalau ada barang pecah, ibu akan mengomel. Aku menunggu. Tidak ada suara ibu.
Yang terdengar hanya suara dengingan teko yang airnya sudah mendidih. Aku bangkit. Aku berjalan ke dapur. Dan di sanalah aku melihatnya. Ibu tergeletak di lantai.
Aku menangis.
Aku berteriak meminta pertolongan. Aku berteriak sekuat yang aku bisa. Tetapi tidak ada yang mendengarku.
Aku keluar rumah.
Aku berkeliling kampung.
Aku meminta pertolongan.
Aku mencari ayah.
Aku tidak peduli lagi siapa yang melihatku.
Aku hanya ingin seseorang datang.
Akhirnya banyak orang berdatangan ke rumah. Ibu dibawa ke rumah sakit. Aku masih berharap. Masih berharap ibu akan bangun. Masih berharap ibu akan tersenyum. Masih berharap semuanya hanya mimpi buruk.
Tetapi satu jam kemudian, ibu dinyatakan meninggal. Dunia seolah berhenti. Aku menangis. Aku tidak bisa menerima apa yang baru saja kudengar.
Aku pingsan.
Kemudian sadar.
Lalu pingsan lagi.
Aku bahkan tidak tahu berapa kali. Yang kuingat, aku pingsan sampai lima kali.
Dan setiap kali membuka mata, aku berharap semuanya berubah. Tetapi tidak. Ibu tetap pergi.
Hari itu aku kehilangan ibu.
Tetapi sebenarnya, aku merasa kehilangan ibu jauh lebih dari sekali. Aku kehilangan ibu ketika tidak bisa lagi mendengar suaranya. Aku kehilangan ibu ketika tidak ada lagi yang memanggil namaku. Aku kehilangan ibu ketika tidak ada lagi tangan yang menyuapiku. Aku kehilangan ibu ketika tidak ada lagi yang memasangkan dasiku. Aku kehilangan ibu ketika tidak ada lagi yang menguncir rambutku. Aku kehilangan ibu ketika tidak ada lagi yang memelukku. Dan yang paling menyakitkan…
aku kehilangan kesempatan untuk memperbaiki semua hal yang pernah kulakukan kepadanya.
Aku terus mengingat hari terakhir itu.
Pesanan catering.
Ajakan mandi yang kutolak.
PlayStation yang kupilih daripada ibu.
Pelukan ibu yang lama.
Lagu yang dinyanyikannya dengan lirik yang salah.
Bentakanku.
Gas yang akhirnya kubelikan.
Kopi yang ingin dibuatkannya untuk ayah dan kakakku.
Suara piring pecah.
Teko yang mendidih.
Dan ibu…
terbaring di lantai.
Semuanya masih begitu jelas di kepalaku. Seolah hari itu tidak pernah benar-benar selesai. Setelah ibu pergi, aku baru mengerti sesuatu. Ternyata “nanti” adalah salah satu kata paling kejam yang pernah kita miliki.
Nanti aku mandi.
Nanti aku pulang.
Nanti aku temani ibu.
Nanti aku dengarkan ceritanya.
Nanti aku minta maaf.
Nanti aku peluk ibu.
Aku selalu mengira nanti akan datang. Ternyata tidak. Karena ada hari ketika “nanti” tidak pernah tiba. Dan hari itu adalah hari ketika ibu meninggal.
Aku menangis.
Bukan sehari.
Bukan dua hari.
Aku menangis setiap hari.
Dan di antara tangis itu, satu per satu kenangan tentang ibu datang kembali.
Aku mengingat semua kenakalanku.
Semua kebohonganku.
Semua kesalahanku.
Aku mengingat setiap kali aku membuat ibu kecewa.
Setiap kali ibu menangis.
Bahkan setiap kali aku membentak ibu.
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari:
Ibu tidak pernah berhenti mencintaiku.
Aku hanya terlalu sibuk menjadi anak yang nakal untuk menyadarinya. Aku baru mengerti arti senyum ibu setelah aku tidak bisa melihatnya lagi. Aku baru ingin meminta maaf setelah tidak ada lagi suara yang bisa menjawab permintaan maafku. Aku baru ingin memeluknya setelah tidak ada lagi tubuh yang bisa kupeluk.
Betapa kejamnya waktu.
Ia membuat kita mengerti nilai seseorang tepat ketika orang itu sudah tidak bisa kembali.
Kadang aku membayangkan,
bagaimana kalau waktu bisa diulang?
Aku ingin kembali menjadi anak kecil.
Aku ingin kembali ke hari-hari ketika ibu menyuapiku.
Aku ingin kembali ketika ibu memasangkan dasiku.
Aku ingin kembali ketika ibu memakaikan bajuku.
Aku ingin kembali ketika tangan ibu dengan sabar menguncir rambutku.
Aku ingin kembali ke masa ketika aku bisa pulang dan menemukan ibu masih ada di rumah.
Kalau waktu bisa diulang, aku ingin melakukan semuanya dengan berbeda.
Aku ingin lebih sering mendengarkan ibu.
Aku ingin berhenti membentaknya.
Aku ingin tidak membuatnya menangis.
Aku ingin lebih banyak memeluknya.
Aku ingin mengatakan bahwa aku menyayanginya.
Aku ingin membuatnya bangga.
Dan yang paling ingin kulakukan…
aku ingin meminta maaf.
Tetapi waktu tidak pernah mau kembali. Dan ibu tidak pernah kembali. Yang tersisa hanyalah kenangan. Kenangan tentang seorang ibu yang selalu tersenyum setiap kali anaknya melakukan kesalahan.
Dulu aku tidak mengerti mengapa ibu selalu tersenyum.
Sekarang aku mengerti. Mungkin karena baginya, aku bukan sekadar anak yang nilainya 80. Bukan anak yang mendapat nilai 60. Bukan anak yang menyembunyikan surat panggilan sekolah. Bukan anak yang mendapat peringkat 42 dari 44. Bukan anak yang sering bertengkar. Bukan anak yang pergi tanpa izin sampai membuatnya menangis. Bukan anak yang berkali-kali membuatnya kecewa.
Aku adalah anaknya.
Dan mungkin bagi seorang ibu, anaknya akan selalu menjadi anak yang paling ia cintai, bahkan ketika anak itu belum menjadi anak yang baik.
Sekarang aku semakin mengerti betapa sepinya hidup tanpa ibu.
Ayah sudah menikah lagi. Dan sejak itu, aku merasa seperti dilupakan.
Kakakku juga sudah menikah. Ia memiliki kehidupannya sendiri. Dan perlahan, aku merasa ia juga semakin jauh dariku.
Mungkin mereka tidak benar-benar tahu betapa sepinya aku. Mungkin mereka punya kehidupan masing-masing. Tetapi ada malam-malam ketika aku duduk sendirian dan menyadari satu hal:
aku sudah tidak punya siapa-siapa.
Tidak ada lagi ibu yang akan menungguku pulang.
Tidak ada lagi ibu yang akan menyiapkan makananku.
Tidak ada lagi ibu yang akan memasangkan dasiku.
Tidak ada lagi ibu yang akan menguncir rambutku.
Tidak ada lagi ibu yang akan membelaku ketika aku takut.
Tidak ada lagi ibu yang akan tersenyum setelah aku melakukan kesalahan.
Ayah sudah memiliki keluarga baru. Kakakku sudah memiliki keluarganya sendiri.
Dan aku? Aku hanya punya diriku sendiri. Dan kenangan tentang ibu.
Tetapi mungkin, sebenarnya aku masih memiliki satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang.
Cinta ibu.
Karena meskipun ibu sudah tidak ada, aku masih membawa semua cintanya di dalam diriku. Aku masih mengingat cara ibu tersenyum.
Cara ibu memanggilku.
Cara ibu menyiapkan bekal.
Cara ibu menguncir rambutku.
Cara ibu membelaku.
Cara ibu memaafkanku.
Dan mungkin, itulah satu-satunya alasan mengapa sampai hari ini aku masih terus berusaha bertahan dan menjadi lebih baik.
Karena aku ingin suatu hari nanti, ketika aku berhasil menjadi seseorang yang baik, aku bisa percaya bahwa ibu melihatku.
Bahwa di suatu tempat yang tidak bisa kulihat, ibu sedang tersenyum. Bukan lagi karena sedang memaafkan kenakalanku. Bukan lagi karena sedang membelaku. Bukan lagi karena sedang menenangkanku. Tetapi karena akhirnya…
anak perempuan yang dulu selalu membuatnya khawatir, yang dulu mendapat nilai 60, yang pernah berada di peringkat 42 dari 44, yang sering bertengkar, yang pernah pergi tanpa izin, yang berkali-kali membuatnya menangis, yang dulu terlalu kecil untuk memahami cintanya…
sudah belajar menjadi seseorang yang ia banggakan.
Bu…
Kalau saja waktu bisa diulang, aku tidak ingin meminta banyak. Aku hanya ingin satu hari lagi. Satu hari untuk mendengar suaramu. Satu hari untuk melihat senyummu. Satu hari untuk memelukmu. Satu hari untuk duduk di sampingmu. Satu hari untuk pulang dan menemukanmu masih menungguku. Dan satu hari untuk mengatakan:
“Maaf, Bu. Dulu aku belum mengerti.”
Dulu aku mengira ibu akan selalu ada. Ternyata tidak.
Dulu aku mengira senyum ibu adalah hal biasa. Ternyata tidak.
Dulu aku mengira masih ada hari esok. Ternyata tidak semua orang diberi kesempatan untuk sampai ke hari esok bersama orang yang mereka cintai.
Karena sekarang, dari begitu banyak hal yang pernah kumiliki dalam hidup ini, ada satu hal yang paling ingin kukembalikan:
senyum ibu.
Senyum yang dulu selalu menyambut setiap kenakalanku. Senyum yang dulu tidak pernah kusyukuri. Senyum yang baru kusadari nilainya setelah ia pergi. Dan jika suatu hari nanti aku berhasil menjadi seseorang yang baik…
berhasil membuat sesuatu dari hidupku…
berhasil menjadi seseorang yang bisa membuat ibu bangga…
aku hanya ingin percaya bahwa di suatu tempat yang tidak bisa kulihat,
ibu sedang tersenyum.
Aku tidak tahu apakah ibu bisa melihatku.
Aku tidak tahu apakah ibu tahu betapa aku merindukannya.
Aku tidak tahu apakah permintaan maaf yang terlambat masih bisa sampai kepadanya.
Tetapi kalau ada satu hal yang ingin kusampaikan setiap hari, itu adalah:
Bu, aku masih anakmu.
Anak perempuanmu yang dulu nakal.
Anak perempuanmu yang dulu sering membuatmu khawatir.
Anak perempuanmu yang dulu tidak mengerti mengapa kau selalu tersenyum.
Anak perempuanmu yang baru memahami semuanya setelah kehilanganmu.
Dan sekarang, ketika aku merasa sudah tidak punya siapa-siapa…
aku sadar bahwa sebenarnya aku masih memiliki satu orang.
Diriku sendiri.
Dan di dalam diriku, masih ada ibu.
Ada nasihat ibu.
Ada senyum ibu.
Ada kesabaran ibu.
Ada cinta ibu.
Dan mungkin, selama semua itu masih hidup di dalam diriku, ibu sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi.
Bu…
Terima kasih sudah mencintaiku bahkan ketika aku belum pantas disebut anak yang baik.
Terima kasih sudah mencariku ketika aku menghilang.
Terima kasih sudah membelaku ketika aku terluka.
Terima kasih sudah memaafkan kebohonganku.
Terima kasih sudah tetap menyiapkan bekal setelah aku mengecewakanmu.
Terima kasih karena selama hidupmu, berkali-kali kau memilih memeluk anak yang salah daripada meninggalkannya.
Maaf karena aku baru memahami semuanya sekarang.
Maaf karena dulu aku terlalu kecil untuk mengerti besarnya cintamu.
Andai waktu bisa diulang, aku ingin memperbaiki semuanya. Tetapi waktu tidak pernah kembali. Dan ibu juga tidak.
Jadi sekarang, aku hanya bisa menjalani hidup sambil membawa satu harapan:
semoga setiap langkah yang kulakukan bisa menjadi alasan untukmu tersenyum dari tempatmu sekarang.
Aku rindu Ibu.
Sangat rindu.
Dan kalau suatu hari nanti aku bisa bertemu lagi denganmu…
aku tidak ingin meminta apa-apa.
Aku hanya ingin memelukmu erat-erat.
Lalu mengatakan kalimat yang seharusnya sudah kukatakan sejak dulu:
“Maaf, Bu. Terima kasih sudah menjadi rumahku. Aku sayang Ibu.”
