Terkadang, aku membayangkan kembali makan es kacang merah bersama Mama di sebuah rumah makan favorit kami, dengan uang yang pas-pasan waktu itu. Ketika tukang bakso lewat di depan rumah, beberapa kali aku masih merasa mendengar Mama meneriakkan namaku, memintaku cepat-cepat memesan bakso sebelum tukangnya lewat terlalu jauh.
Kalau dipikir-pikir, mungkin begitulah duka bekerja. Ia tidak selalu datang lewat tangis, tapi lewat hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja. Kehilangan Mama kerap membuatku mengulang hari-hari seperti itu.
Dulu, Mama adalah orang yang bisa kubilang lincah. Waktu kecil, Mama yang tidak bisa mengendarai motor tahan menjemputku pulang sekolah jalan kaki agar aku tidak sendirian. Dia juga kuat berjalan mengitari pasar, dari sekadar berkeliling melihat-lihat, atau memang sedang mencoba mencari barang
yang diperlukan dengan harga terbaik. Aku paling senang ikut kegiatan Mama yang satu ini. Kupikir dulu, Mama bisa lompat dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk berjalan-jalan.
Tapi selama bertahun-tahun belakangan ini, Mama harus hidup dengan osteoporosis yang tidak memungkinnya untuk bergerak selincah Mama yang
dulu. Tidak bisa berdiri lama, duduk lama. Tidak bisa sering-sering masak soto favoritku. Bahkan Mama juga tidak bisa memakai bajunya sendiri dengan baik.
Terkadang aku merasakan sesak di dada melihat Mama yang seperti ini.
Tapi Mama adalah orang yang selalu akan memaksakan diri untuk terus bergerak.
Aku bersyukur pekerjaanku yang remote memungkinkanku untuk menikmati hampir setiap sarapan, makan siang, dan makan malam bersama
Mama. Kami paling sering memikirkan menu makanan setiap hari. Antara ayam, atau tempe saja hari ini. Nasi goreng dengan telur, tanpa telur, atau mungkin lebih baik beli saja makanan di luar.
Aku akan dengan antusias mengabari Mama tentang kafe yang baru buka di daerah kami, mungkin hanya butuh 10 menit dari rumah.
Mama akan memberitahuku toko kue yang katanya punya tiramisu enak. Mama suka tiramisu, tapi sayangnya kami jarang punya kesempatan untuk membelinya. Selain itu jujur saja, kami punya daftar tempat makan yang akan kami kunjungi ketika
kami punya uang lebih dan Mama merasa lebih sehat.
Mama juga senang mengajakku ke pantai. Mau merendam kaki di air laut, katanya. Aku akan meminjam kursi plastik dari salah satu warung di pinggir pantai, dan meletakkannya di pertemuan air dan pasir agar Mama bisa duduk sambil memainkan ombak laut. Kalau sudah
puas, kami akan dengan santai menyeruput es kelapa dingin. Kadang kami juga memesan pempek, mi instan, atau bakso, yang kemudian akan cepat dingin karena terus-terusan ditiup angin laut.
Ketika Mama berpulang tahun lalu, aku ingat tidak
langsung memproses apa yang baru saja terjadi. Yang aku tahu aku sedang menatap monitor di samping Mama yang menunjukkan garis datar, lalu tiba-tiba saja aku berjalan mengambil surat kematian di salah satu lantai di rumah sakit. Berjalan memasuki ambulans, menyiapkan pemakaman, menyapa kenalan yang datang ke rumah. Hari itu terjadi secara otomatis.
Entah berapa selang waktu yang telah terlewat, tapi suatu hari aku menyadari aku tidak punya banyak video tentang Mama. Aku langsung terduduk di lantai. Aku ingat sekali bergerak dengan cepat menelusuri galeri setiap perangkat elektronikku, berharap menemukan rekaman apa pun yang menyimpan Mama di dalamnya. Kupikir jantungku copot sore itu.
Hari-hari yang dulu terdengar biasa itu sekarang seperti potongan yang sangat berharga buatku. Setelah memahami ini, kupikir akan lebih baik jika aku bisa memulai menuliskan apa pun tentang Mama demi tidak melupakan hal-hal kecil darinya. Wajahnya. Suaranya. Gerakannya. Karena bahkan saat ini pun, aku perlu berusaha sangat keras untuk bisa mengingat cara Mama memanggil namaku.
Jujur saja, aku sangat takut suatu hari nanti, entah bagaimana, aku melupakan Mama.
Satu hal yang aku syukuri, kurasa aku tidak punya
penyesalan berarti saat Mama berpulang. Aku memang bukan anak yang sempurna, apalagi jika mengingat betapa keras kepalanya aku, atau saat-saat kelakuanku membuat kepala Mama migrain. Tapi ketika mengingat kembali hubungan kami, aku cukup lega menyadari bahwa pada akhirnya, kami selalu ada untuk satu sama lain.
Dan aku rasa, Mama pun tahu itu. Aku masih bisa mengingat wajahnya yang tersenyum untuk terakhir kali walau jantungnya tak lagi berdetak.
Namun bagaimana pun, kenyataannya tidak mengubah fakta bahwa aku masih sangat ingin membelikan Mama es kacang merah di tempat favorit kami sekali lagi.
