CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Manusia Kalah
MK

Manusia Kalah

oleh Nancy Kristanti
CerpenGratis3 menit baca14 dibacaJFMM Participant
Kusebut diriku manusia kalah. Sejak kecil hari-hariku sudah akrab dengan kata mengalah. Terutama sejak adik lahir ke dunia. Usiaku masih enam tahun, tapi segala hal memaksaku menjadi dewasa.

Bayi mungil itu lahir dan kupikir dia akan menjadi teman baikku nantinya. Dia memang hadir dan membawa kebahagiaan dalam keluarga, tapi tidak denganku. Jarinya mungil, tetapi dari tubuh mungil itu dengan serakah dia mengambil seluruh kasih sayang Ibu.
Malam-malam ku menjadi begitu sepi. Kupeluk erat pekatnya malam karena Ibu lebih senang memeluk adikku. Saat hujan petir menyambar, kututup telingaku sendiri sambil menenangkan diri sebab Ibu lebih senang mendekap bayinya.
"Kamu sudah besar, mengalahlah sama adikmu!"
Dia tidak tahu, ya, dia tidak tahu. Itu terus yang Ibu katakan sejak adik lahir. Padahal, aku pun sama tak tahunya. Dipaksa mengalah, dipaksa dewasa aku tumbuh menjadi pribadi yang sungkan menerima bantuan, sungkan meminta tolong, dan merasa diri kecil dan tak pantas.
Adik semakin besar, tapi kasih sayang Ibu tak pernah lagi utuh kudapat. Malah seringnya aku harus berulang kali memahami kondisi Ibu yang sebenarnya sulit dimengerti.
"Ibu belikan adikmu dulu, ya. Kalau tidak dibelikan, adikmu tidak mau sekolah. Kamu sabar dulu, ya. Kamu kan Kakak." Ingin kubantah kalimat itu berulang kali, tapi berakhir hanya kupendam sendiri.
Begitu kuatnya Ibu mengusahakan adik membuatku merasa sendiri. Bahkan, Ibu seperti tak sempat lagi memberi petuah bagaimana memilih suami yang baik untukku yang mulai dewasa. Hingga pada usia yang tergolong muda aku mengizinkan seorang laki-laki memasuki kehidupanku.
Selisih usia delapan tahun, kupikir akan cukup menggantikan kasih sayang yang tak pernah utuh kudapat dari Ibu dan Ayah.
"Sejak kecil aku disuruh mengalah terus sama Adik! Semua yang aku mau, enggak pernah aku dapat. Selalu adik duluan yang dapat barang-barang bagus! Aku capek harus selalu nurut sama Ibu dan Ayah! Kali ini biarkan aku bahagia dengan pilihanku sendiri!" Itu adalah kata-kata terakhir yang terucap sebelum akhirnya aku melangkah keluar rumah.
Kupikir menikah akan memulai kehidupan bahagiaku, nyatanya tidak. Belum sempat aku banyak bersenang-senang dengan suamiku. Bepergian kemanapun kami mau seperti cita-citaku, Tuhan sudah menitipkan bayi di rahimku. Bukan aku tidak suka, siapa yang tidak senang akan segera memiliki anak.
Kubayangkan bayi lucu itu akan menemani hari-hariku. Kami akan bermain-main dengan gembira sambil melihat rambutnya yang aku kuncir tertiup angin.
Tidak pernah aku tahu, bahwa dia justru mengambil waktu tidur malamku yang sangat berharga. Tidak pernah kubayangkan dia kan membatasi seluruh ruang gerakku, hingga kesulitan mencari waktu untuk sekadar mengisi perut. Aku yang kebingungan, sendiri, dan kelelahan. Harus minta tolong pada siapa?
Akan tetapi, di saat seperti itu Ibuku datang. Dia mengambil bayiku yang terus saja menangis bahkan setelah kususui.
"Biar bayimu Ibu yang urus. Kamu makanlah, Ibu bawakan soto ayam kesukaanmu. Setelah makan, tidurlah. Ibu tahu kamu lelah dan ngantuk," ucap Ibu seraya mengambil selendang, menggendong bayiku, dan membawanya keluar kamar.
Bagaimana Ibu tahu semalaman aku tidak tidur? Pertolongan kecil yang terasa seperti embusan angin surga bagiku.
Semakin anak besar, bukan semakin mudah. Dirinya bertumbuh, pun dengan rasa ingin tahunya. Semakin anak dewasa, semakin besar pula ego dan idealismenya. Apalagi, menghadapi anak usia remaja, dimana kadang pikirannya jauh lebih menantang dari yang kita kira. Dan ternyata memiliki anak adalah tentang kata mengalah yang lebih panjang lagi.
Sekarang baru aku paham kalau dulu ibuku-pun mengalami kesulitan yang sama. Tidak ada satupun wanita yang sempat bercerita pengalaman pertamanya menjadi Ibu. Lalu, mereka dipaksa terus belajar sejak pertama kali menyandang status itu.
Jika sekarang ini masih boleh aku mengucap maaf pada ibu, aku akan mengatakannya beribu kali. Kusebut diriku manusia kalah, tetapi kenyataannya Ibuku sudah menjadi manusia kalah itu jauh sebelum aku.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen