CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Mama, Aku Baik-Baik Saja
Mama, Aku Baik-Baik Saja

Mama, Aku Baik-Baik Saja

oleh Avridita Savitri
CerpenGratis2 menit baca10 dibacaJFMM Participant

Seperti biasa aku hanya diam terpaku setiap dia melontarkan pernyataan yang tidak terduga. Tidak hanya mengagetkan, namun biasanya asumsi-asumsi darinya sungguh menyakitkan. Aku mencoba mendengarkan dan mencerna apa yang pria di depanku ini baru saja katakan di depanku.

"Mamaku bilang dia kuatir kalau kakakku bersama dengan orang yang berasal dari broken home , tapi aku bilang ya semua orang punya cerita masing-masing lah. Nggak bisa disamakan," kata pria ini yang adalah pacarku selama tiga bulan. Kusadari sekarang, ternyata menjaga perasaanku tidak ada dalam kamusnya.

Papa dan Mamaku sudah berpisah sejak lama. Saking lamanya, aku tidak punya ingatan akan perpisahan mereka. Aku hanya bisa berusaha menerima situasinya, dan pria ini pikir percakapan antara dia dan ibunya ini bisa aku terima. Mungkin dia berusaha menegaskan pikirannya mengenai situasiku lewat cerita kakaknya, namun mendengarnya bagaikan menelan pil pahit yang belum tentu itu obat.

Tiga bulan kemudian aku berada di dalam angkutan umum dalam keadaan menangis. Tanganku gemetar. Hubunganku dengannya kandas sudah. Kepala dan tubuhku terasa ringan, namun saat ini aku belum bisa menentukan apakah ini karena rasa hampa, ataukah rasa lega? Sesampainya di rumah aku melihat Mama sedang menonton TV, dan aku langsung menghambur ke pangkuannya. Sambil terisak, aku berbaring di pangkuannya. Mama sudah tahu apa yang terjadi.

"Kenapa nangis? Kan kamu yang bilang kalau memang ini yang terbaik," Mama berusaha menenangkanku, dan setelah itu beliau diam. Kata-kata memang bukan alat terbaik beliau, namun aku tidak peduli. Saat ini, aku hanya ingin tetap seperti ini, disini.

Sepulang kuliah keesokan harinya, aku memasuki kamarku dan terkejut dengan situasi yang tidak familiar di depanku. Kamarku sangat rapi, dan warna biru sejuk mewarnai tempat tidurku. Aku segera merangkak ke atas kasurku yang terhias sprei baru dengan warna favoritku, dan menghirup wanginya dengan senyum mengembang di wajahku.

Segera aku meraih ponselku dan mengirimkan pesan, "Terima kasih, Mama. Aku suka banget!" Tak berapa lama ada balasan singkat dari Mama, "Syukurlah. Sama-sama, say."

Hidup kami terus berjalan, terkadang dengan luka yang mencuat dari masa lalu. Namun, aku sadar selama ini aku baik-baik saja. Dengan segala keberanian dan perhatian yang Mama berikan dan usahakan, aku beranjak dewasa dengan baik-baik saja. Itu adalah segalanya. Terima kasih, Mama.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen