CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Macaron with Mom
Macaron with Mom

Macaron with Mom

oleh Kata Tiwi
CerpenGratis8 menit baca17 dibacaJFMM Participant
***
"Mama tahu gak, sih? Semua yang aku lakuin sampai sekarang itu cuman buat mama! Aku bahkan gak pernah punya cita-cita, aku gak pernah punya satupun keinginan di hidup aku, semua yang terjadi dihidup aku cuman buat mama!"

Ruangan itu langsung hening. Tidak ada lagi dentingan sendok yang beradu dengan piring, suara samar kunyahan dari ujung meja juga perlahan hilang. Bahkan hampir semua napas terdengar tercekat mendengar kalimat panjang yang datang dari perempuan yang masih mengenakan kemeja hitam dengan bawahan jeans biru tersebut. Yang tampak kusut diberbagai tempat.

Detak jam dinding terdengar mengalun menyapa telinga setiap orang. Padahal pelan namun nyaring hingga terdengar sedikit menyakitkan.

"Sudah mama bilang, gak boleh ngelawan kalo dibilangin. Kalo kamu kenapa-kenapa---"

"Tapi buktinya aku gak kenapa-kenapa, kan?! Ini gak boleh, itu gak boleh, ini harus sama mama, itu harus sama mama, aku sudah tiga puluh tahun, ma!"

"Dek--"

Perempuan itu menghela napas panjang mendengar panggilan pelan dari ujung meja, diam masih menguasai. Perempuan itu menggigit sudut bibirnya dengan keras, menahan sekuat tenaga agar kalimat-kalimat lain yang sedang berputar dalam kepalanya tidak tumpah saat itu. Karena ia sudah bisa menebak reaksi yang akan muncul setelah itu.

"Maksud mama itu baik. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa, nanti kalo kamu sakit mama juga yang repot. Nanti--"

Ia akhirnya melepaskan gigitan. Menatap kearah perempuan paruh baya yang ia panggil mama dengan mata yang memerah, sedikit lagi air tumpah dari sana.

"Itu semua hanya ada di kepala mama. Semua ketakutan itu cuman ada di kepala mama, aku gak akan mati seperti yang mama takutkan!"

"Kaia Leilani!"
Suara itu terdengar keras sekali. Untuk pertama kalinya Kaia mendengar nada yang seperti itu keluar dari mulut kakak laki-lakinya. Dan hampir semua orang yang ada di meja makan itu bangkit dari duduknya dan menatapnya dengan tatapan yang sama.

Tatapan permusuhan.
Air mata langsung mengalir dari kedua sudut matanya, pandangannya mengabur, karena untuk pertama kalinya Kaia merasa semua orang memusuhinya saat ini.

Dengan suara yang menelan tangis dan terbata, ia kembali mengeluarkan kalimat-kalimat yang akan ia sesali nantinya.

"Aku capek, Kak. Aku bukan kalian semua. Aku bukan kalian yang bisa mengamini semua tingkah mama, aku gak bisa diem aja diomelin padahal aku hanya lupa izin pulang telat, aku gak bisa nerima dipukul dan dicubit cuman karena aku gak suka makanan yang ada di meja, aku bukan boneka. Seumur hidup, kak, seumur hidup. Aku gak pernah bilang aku gak mau, mama suruh aku belajar ini itu, mama gak bolehin aku main sama teman-teman aku, mama larang aku untuk ikut kegiatan kampus sampai aku dimusuhin satu angkatan, aku gak pernah bilang enggak selama ini,"

Hening kembali menguasai, Kaia masih tak puas mengeluarkan isi kepalanya yang penuh selama ini. Anak perempuan bungsu yang selama ini selalu dipuja oleh semua orang sebagai seorang anak manis yang penurut hilang dalam hitungan berapa kali ia mengeluarkan kalimat-kalimat yang semakin lama semakin terdengar menyakitkan.

"Kegagalan apa sih yang mama alami dulu sampai mama bisa sebegitu dendamnya sama anak sendiri?"

Pertanyaan lantang itu akhirnya menghancurkan segala diam.
"Kaia!"

Bersamaan dengan itu, terdengar suara kursi didorong mundur. Dari tempatnya Kaia berdiri dengan wajah penuh air mata, ia bisa melihat sang mama berdiri lalu melangkah tanpa lagi menatap kearahnya. Disaat yang bersamaan kakak perempuannya juga, Kana, juga berdiri dan ikut melangkah mengikuti sang mama tanpa suara. Hanya meliriknya sedikit dengan tatapan yang Kaia mengerti adalah sebuah kecewa.

Suara kursi berderit kembali terdengar, kakak keduanya, Kama, berdiri sembari menyodorkan sebuah kotak berwarna pink.
"Selamat ulang tahun,"

Selanjutnya, laki-laki itu juga ikut berdiri. Tidak mengikuti Kana bersama sang mama, tetapi memilih melipir ke arah taman belakang rumah kediaman mereka yang pintu gesernya berada tempat di sebelah kanan ruang makan yang menyatu dengan dapur. Dari sudut matanya, Kaia masih bisa menangkap kakaknya itu memilih duduk di terasa belakang.

Sisa Kaia bersama kakak tertuanya, Kafi. Yang masih duduk di ujung meja. Tempat yang sama ketika laki-laki itu menegurnya berkali-kali atas semua kalimat yang ia keluarkan.

"Mama itu korban kekerasan sejak kecil. Keluarganya gak pernah harmonis, sampai kedua orang tuanya mati, mama gak pernah tahu gimana rasanya punya keluarga yang utuh. Pun mereka juga bukan berasal dari keluarga baik-baik. Anak yang sedari kecil gak pernah tahu potret keluarga yang baik itu berusaha keras menghidupi empat orang anak sendirian."

Jatung Kaia serasa diremas saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut kakaknya. Kafi ataupun yang lain tidak pernah menceritakan soal ini sama sekali. Memang sedari bayi, Kaia tidak pernah memiliki kakek dan nenek. Entah dari pihak ibunya ataupun ayahnya.

"Mama ketemu Papa di tempat kerja. Papa yang berasal dari keluarga terpandang malah memilih menikahi mama dengan latar belakang seperti itu, lo bisa nebak apa yang terjadi berikutnya, kan?"

Kaia tidak berani menjawab. Tapi ia tahu apa yang terjadi, ia pernah sesekali dengar jika mamanya tidak pernah diterima di keluarga papanya. Dulu sekali ketika masih kecil, Kaia ingat pernah diajak beberapa kali mengunjungi rumah yang disebut sebagai rumah opa dan oma, tapi Kaia selalu merasa tidak pernah diterima disana. Apalagi melihat mamanya yang menurutnya saat itu tidak melakukan apapun hingga hanya membuatnya bertanya dalam kepala.

"Lo bisa bayangin lah, perempuan mana yang gak makin keras hatinya diperlakukan sebegitu tidak adilnya di dunia yang bahkan dia sendiri gak pernah minta dilahirkan. Kalo lo bilang lo gak pernah minta jadi anak mama atau jadi adik kita, kita semua juga mengalami hal yang sama, Kai. Bukan hanya lo, gue juga gak pernah milih lahir di keluarga ini."

Sebuah baja berat dan keras serasa menghantam dadanya. Kaia tersedak oleh tangis yang coba ia telan.

"Hadirnya papa bikin dia berharap, Kai. Mungkin Tuhan masih punya hati buat bikin dia bahagia di dunia. Lo mungkin gak pernah inget karena lo masih kecil banget, tapi mama benar-benar terasa hidup sama papa. Papa bawa kebahagiaan yang mama gak pernah rasain atau mungkin gak pernah bayangin selama ini. Sampai ternyata Tuhan ambil satu-satunya harapan yang dia punya."

Kaia tahu maksud Kafi. Kaia masih umur tujuh tahun waktu itu, ia baru saja masuk sekolah dasar ketika Kehidupan keluarganya jatuh. Papanya tiba-tiba jatuh sakit dan didiagnosa kanker paru-paru. Papanya bukanlah laki-laki perokok karena mama tidak pernah tahan asap rokok, tetapi karena terpapar terus-terusan oleh rekan kerjanya tubuh papa tidak sanggup.

Operasi langsung dilakukan namun Tuhan tidak memberikan kesempatan untuk berjuang lebih keras. Tuhan mencabut satu-satunya pohon dikehidupan mama, dan sejak saat itu mama bertahan sendirian. Bekerja siang dan malam menghidupi keempat anak-anaknya yang masih kecil.

Sejak kepergian Papa, Kaia tidak begitu merasa ada yang berubah. Hidupnya masih baik-baik saja, tidak kekurangan satupun. Mungkin karena ia masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi saat itu.

"Mama berubah. Lo mungkin kenal mama hanya sebagai mama yang tadi lo amukin, tapi gue tahu kalo mama yang gue kenal tidak seperti yang tadi lo jabarin, Kaia. Mama gue sudah berjuang sangat keras seumur hidupnya, untuk gue, untuk Kama dan Kana, terlebih untuk anak bungsunya yang belum merasakan kasih sayang papa secara utuh."

Tidak lagi ditahan, Kaia sudah terisak ditempatnya duduk. Kepalanya pening dan dadanya sesak oleh tangis.

Kafi berdiri dari duduknya. Membuka kotak berwarna pink yang tadi disodorkan oleh Kama. Didalamnya terdapat macaron bermacam-macam warna dan rasa.

"Mama marah bukan hanya karena lo pulang telat atau gak ada kabar, karena itu memang lo yang salah. Tapi dibalik marahnya, dia hanya sedih belum punya kesempatan untuk rayain ulang tahun anak bungsunya. Macaronnya dia beli sendiri tadi ditemenin Kana yang bela-belain cuti setengah hari untuk cari ini karena katanya merk yang biasanya yang lo suka lagi abis. Mama sampe cobain satu-satu semua macaron buat nyari yang rasanya paling mirip."

Hancur sudah perasaan Kaia saat ini. Penyesalan menelannya dengan cepat. Tak pernah ia sangka bahwa hari ini akan datang, disaat ia akhirnya bisa mengeluarkan seluruh perasaannya pada keluarganya, ia justru mendapati kenyataan yang tampaknya justru lebih menyakitkan.

Semua tingkah mamanya yang tak pernah ia mengerti mulai terurai pelan. Hidup mamanya tidak pernah sebaik itu. Tak pernah sekalipun ia memikirkan kejadian-kejadian pahit di masa lalu yang membuat mamanya menjadi ibu yang selama ini selalu ia protes keberadaannya.

Ditemani sekotak maracon yang terbuka. Berwarna merah mudah dengan pita dengan warna senada yang Kaia tebak mamanya memilih warna tersebut karena tahu pink adalah warna kesukaannya. Kaia menangisi seluruh kalimat-kalimat menyakitkan yang ia keluarkan hari ini.
***

Lampu kamarnya sudah mati namun masih ada cahaya dari lampu tidur yang menyala hangat dari atas nakas samping kiri tempat tidur. Kaia menutup pintu perlahan lalu melangkah tanpa suara menuju ranjang. Naik dari sisi yang satunya, menyelip ke balik selimut sebelum menempel pada punggung hangat sang mama.

Kaia bisa mendengar suara terkesiap dari mamanya, namun wanita paruh baya itu tidak memberikan reaksi lebih. Hanya membiarkan Kaia melingkarkan tangan kanannya ditubuhnya yang gempal.

Tak ada kalimat apapun yang keluar dari keduanya. Hingga Kaia menekan seluruh ego dan penyesalan yang akan dibawanya bertahun-tahun kedepan. Ia mengeluarkan empat kata yang ia atau sang mama paham sekali maknanya.

"Aku sayang banget sama mama,"

Tak ada kalimat permintaan maaf dari keduanya. Kaia tidak mengeluarkan penyesalan atas semua kalimat menyakitkan yang ia keluarkan tadinya. Sang mama juga tidak memperpanjang ataupun memberikan respon lain setelahnya. Tapi tangan yang sudah keriput itu terangkat. Ditumpukkan dengan tangan Kaia yang berada diatas perutnya yang hangat.

Rekonsiliasinya berlangsung begitu saja. Kaia dan sang mama tidak membutuhkan pembicaraan panjang untuk mengurai ataupun memperbaiki Salah paham mereka. Hanya dengan saling memeluk didalam kamar yang temaram cukup bagi keduanya.

"Makasih macaronnya ya, ma. Enak banget. Aku suka banget, tadi udah cobain satu."

"Merk yang biasanya habis,"

Mata Kaia kembali memanas. Ia menggigit bibir menahan tangis yang mungkin akan kembali tumpah.

"Besok kita beli yang biasa ya, dek. Tadi mama sudah tanya mbak yang jual kalo besok udah ready stock lagi."

Jika biasanya Kaia akan membalas dengan kalimat seperti 'gak usah, buang-buang makanan' maka kali ini ia hanya menganggukkan kepala. Menempelkan wajahnya sepenuhnya di punggung yang selalu menggendongnya sewaktu kecil.

"Selamat ulang tahun, Kaia. Semoga semua yang adek doakan dikabulkan Tuhan."
***
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen