Just For My Mom
Matahari sore menyelinap lewat celah jendela, menyinari selembar kertas usang yang tergeletak di atas meja kayu tua. Tulisan di sana sudah agak pudar, tapi aku hafal setiap goresannya. Di sudut bawah tertulis tanggal: 12 Mei 2019. Hari terakhir Ibu tersenyum padaku.
Tanganku bergetar saat meremas pinggiran kertas itu. Napas terasa sesak, seolah udara di ruangan ini tiba-tiba menipis. Aku memejamkan mata, dan perlahan, dunia di sekelilingku memutar balik. Langit berubah dari jingga pudar menjadi biru cerah, suara kendaraan di jalan raya lenyap diganti suara tawa renyah dari halaman rumah kecil kami yang dulu.
Saat itu aku baru berumur tujuh belas tahun, keras kepala dan selalu berpikir Ibu tidak pernah mengerti aku. Hari itu hujan turun deras seharian, dan aku pulang dengan seragam basah kuyup, wajah merah menahan marah. Nilai ujianku anjlok, dan guru menyuruhku memanggil orang tua ke sekolah besok pagi.
"Sudah pulang, Nak? Cepat ganti baju, nanti masuk angin," suara Ibu terdengar dari dapur, diiringi aroma bawang goreng dan kuah sayur kesukaanku.
Aku membanting tas ke lantai. "Untuk apa? Lagian nanti Bunda pasti cuma bilang aku kurang belajar. Padahal soalnya sulit sekali!"
Ibu keluar dengan handuk di tangan, senyumnya sedikit luntur tapi matanya tetap lembut. "Bunda tidak akan memarahimu. Kita bicarakan baik-baik ya?"
"Tak usah! Bunda selalu begitu! Semua yang aku lakukan tak pernah cukup di mata Bunda!" bentakku, lalu berlari masuk ke kamar dan membanting pintu sekuat tenaga. Aku tak mendengar apa yang Ibu katakan setelahnya. Hanya terdengar langkah pelan menjauh, dan suara pintu dapur yang tertutup perlahan.
Malam itu aku bangun karena haus. Saat berjalan ke dapur, aku melihat cahaya remang dari ruang tamu. Mengintip dari balik dinding, aku melihat Ibu duduk di kursi goyang, memegang kertas hasil ujianku. Bahunya berguncang pelan. Ia menangis. Di sampingnya ada piring berisi pisang goreng yang sudah dingin—makanan yang seharusnya disajikan untukku tadi sore.
Aku ingin masuk, meminta maaf. Tapi gengsiku setinggi langit. Aku kembali ke kamar dengan langkah berjinjit, berjanji dalam hati akan meminta maaf besok pagi. Benar-benar akan meminta maaf.
Keesokan harinya aku terbangun terlambat. Di meja makan sudah tersedia sarapan hangat, dan secarik kertas kecil bertuliskan: "Bunda pergi ke pasar dulu ya, beli bahan kue kesukaanmu. Makanlah sebelum berangkat sekolah. Bunda tidak lama."
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku, lalu bergegas berangkat tanpa menunggu Ibu pulang. Aku pikir aku akan menemukannya di rumah saat pulang sekolah nanti. Aku pikir waktu masih panjang. Aku pikir besok masih ada.
Tapi panggilan telepon dari rumah sakit datang tepat saat jam pelajaran selesai.
Saat aku berlari ke ruang gawat darurat, Ibu sudah terbaring diam. Kepala perawat berkata bahwa Ibu tertabrak kendaraan saat menyeberang jalan—di jalan yang biasa ia lalui setiap hari, hanya karena ingin membeli kue kesukaanku. Di tas tangannya yang rusak, masih tersimpan sebungkus kue itu, sedikit penyok tapi masih utuh.
Aku jatuh berlutut di samping tempat tidur. Tanganku menyentuh tangan Ibu yang mulai dingin. Rasanya kasar, penuh kapalan dari mencuci baju tetangga, dari menjahit di bawah lampu remah, dari bekerja keras sendirian demi membiayai hidupku. Selama ini aku hanya melihat ketegasannya, tanpa pernah menyadari betapa lelahnya ia.
"Bu... maafkan aku... maafkan aku yang belum sempat meminta maaf kemarin..." isakku pecah, tak peduli siapa yang mendengar. "Aku janji akan berusaha keras, Bu. Aku akan membuat Bunda bangga. Hanya... tolong bangunlah... sekali saja..."
Tapi Ibu tak lagi menjawab. Tak ada tepukan lembut di kepalaku, tak ada suara yang menenangkan. Hanya keheningan yang menusuk tulang.
Aku membuka mata. Kini aku sudah lulus kuliah dengan nilai terbaik. Di dinding tergantung ijazah yang selalu Ibu impikan untukku. Di atas meja, di samping kertas tulisannya yang lama, ada ijazah itu. Dan di sampingnya, kue kesukaan Ibu yang baru saja kubeli.
Angin sore berhembus pelan, mengibarkan ujung kertas di tanganku. Aku membacanya sekali lagi—tulisan yang kutemukan di laci meja Ibu beberapa hari setelah pemakamannya:
"Anakku sayang, jika kamu membaca ini, mungkin Bunda sudah tak ada di sisimu. Jangan pernah merasa tak cukup ya. Bunda bangga padamu, sangat bangga. Bunda bekerja keras bukan karena ingin kamu menjadi yang terbaik di mata orang lain, tapi agar kamu bisa mengejar apa yang kamu mau. Jangan menyesali hal yang sudah terlewat. Jalani hidupmu dengan senyuman. Semoga suatu hari nanti, kita bisa makan kue kesukaan kita bersama lagi. Hanya untukmu, Nak. Hanya untukmu."
Air mataku menetes jatuh ke kertas, membasahi tulisan yang sudah pudar. Aku tersenyum tipis, menyeka air mata dengan punggung tangan.
"Aku sudah melakukannya, Bu. Aku sudah berhasil. Semua ini... semua ini hanya untuk Ibu."
Di luar, burung-burung terbang pulang ke sarangnya. Seolah ada tangan lembut yang menepuk bahuku, seolah suara Ibu berbisik pelan di telingaku: "Bunda sudah tahu. Bunda selalu tahu."
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatiku tak lagi terasa sesak. Karena aku tahu, di mana pun Ibu berada, ia sedang tersenyum. Khusus untukku. Khusus untuknya.
Tanganku bergetar saat meremas pinggiran kertas itu. Napas terasa sesak, seolah udara di ruangan ini tiba-tiba menipis dan berat menekan dada. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menahan genangan yang mulai menggenang di pelupuk mata. Perlahan, bayangan di depannya mulai kabur, dan dunia di sekelilingku seolah berputar pelan—mundur, kembali ke hari-hari yang tak sanggup kulupakan.

