Sejak mengenal Rian, Maya merasa hidupnya berubah. Ini pertama kalinya, ada seseorang yang selalu menanyakan kabarnya, menunggunya pulang, dan membuatnya merasa menjadi perempuan paling berharga di dunia. Rian selalu mengatakan bahwa ia mencintai Maya dan akan menjaganya seumur hidup.
Bagi Maya, kata-kata itu sudah cukup.
Berbeda dengan ibunya yang justru sering mengingatkan agar Maya tidak terburu-buru mengambil keputusan.
“Jangan hanya melihat bagaimana dia memperlakukanmu saat sedang jatuh cinta, Nak. Lihat juga bagaimana dia menghadapi masalah, tanggung jawab, dan kesulitan,” kata Ibu suatu sore.
Maya hanya diam.
“Rian orang baik, Bu.”
“Ibu tidak mengatakan dia orang jahat.”
“Lalu kenapa Ibu selalu meragukannya?”
Ibu menarik napas panjang.
“Karena Ibu tidak ingin kamu menjalani hidup hanya dengan modal cinta.”
Kalimat itu membuat Maya kesal.
“Kenapa sih, Bu? Ibu selalu saja menganggap pilihanku salah.”
Ibu menatap anaknya dengan lembut.
“Ibu bukan ingin mengatakan pilihanmu salah. Ibu hanya takut suatu hari nanti kamu datang kepada Ibu sambil menangis.”
Maya berdiri.
“Aku tidak akan pernah menyesal menikah dengan Rian.”
Ia meninggalkan ibunya sendirian di ruang makan.
Beberapa bulan kemudian, Maya benar-benar menikah dengan Rian.
Hari itu Ibu menangis. Bukan karena tidak bahagia melihat putrinya menikah, tetapi karena di dalam hatinya ada kekhawatiran yang tidak mampu ia jelaskan.
Setelah menikah, Maya berhenti bekerja.
“Tidak perlu kerja lagi,” kata Rian. “Aku yang akan mencari uang. Kamu fokus saja mengurus rumah.”
Maya merasa senang.
Bukankah itulah yang selama ini ia inginkan?
Sebuah keluarga kecil, suami yang mencintainya, dan kehidupan yang tenang.
Ketika anak pertama mereka lahir, Ibu datang membantu. Hampir setiap pagi, Ibu memasak, mencuci pakaian bayi, dan menjaga cucunya ketika Maya kelelahan.
Namun Maya jarang mengucapkan terima kasih.
Ia menganggap semua itu memang sudah seharusnya dilakukan seorang ibu.
Waktu berlalu. Anak kedua lahir.
Kehidupan mulai berubah.
Rian kehilangan pekerjaannya.
“Tenang, May. Aku akan cari pekerjaan lain,” katanya.
Maya mencoba percaya.
Tetapi pekerjaan baru tidak kunjung datang. Rian mulai mencoba membuka usaha kecil. Modal yang mereka punya digunakan hampir seluruhnya. Beberapa bulan kemudian, usaha itu gagal.
Uang semakin menipis.
Tagihan listrik belum dibayar. Uang sekolah anak menunggu. Persediaan makanan di dapur semakin sedikit.
Maya mulai sering bertengkar dengan Rian.
“Kalau dulu aku tetap bekerja, mungkin keadaan kita tidak seperti ini.”
Rian terdiam.
“Aku sudah bilang aku akan bertanggung jawab!”
“Tapi kenyataannya bagaimana?”
Pertengkaran semakin sering terjadi.
Suatu malam, anak bungsu Maya menangis karena meminta susu.
“Mama, susu…”
Maya membuka lemari.
Kosong.
Ia membuka dompet.
Hanya tersisa beberapa lembar uang.
Maya duduk di lantai dapur. Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia menangis seperti anak kecil.
Tiba-tiba ia teringat ibunya.
Ia teringat sebuah percakapan yang pernah terjadi sebelum pernikahannya.
“Kalau suatu hari kamu mengalami kesulitan, jangan malu pulang, Nak.”
Saat itu Maya hanya menganggapnya sebagai kalimat biasa.
Sekarang, kalimat itu terasa seperti rumah yang sedang memanggilnya.
Maya mengambil ponselnya.
Jarinya gemetar ketika mencari nama Ibu .
Panggilan pertama tidak diangkat.
Maya mencoba lagi.
Baru pada panggilan ketiga terdengar suara di seberang.
“Halo?”
“Bu…”
Suara Maya langsung pecah.
“Iya, Nak?”
“Maaf, Bu.”
Ibu terdiam.
“Aku salah.”
Air mata Maya jatuh semakin deras.
“Aku tidak mendengarkan Ibu. Aku pikir Ibu terlalu ikut campur. Aku pikir Ibu tidak mengerti perasaanku.”
Ibu menarik napas.
“Sekarang kamu sedang kesulitan?”
Maya mengangguk meskipun tahu ibunya tidak bisa melihat.
“Aku tidak punya uang untuk kebutuhan anak-anak, Bu.”
Suara Ibu terdengar lembut.
“Pulanglah.”
Maya menangis semakin keras.
“Boleh, Bu?”
“Rumah ini rumahmu, Nak. Kapan pun kamu ingin pulang, pulanglah.”
Keesokan harinya, Maya membawa kedua anaknya ke rumah Ibu.
Begitu sampai, ia berdiri di depan pintu dengan kepala tertunduk.
Ibu keluar dari rumah.
Maya tidak sanggup berkata apa-apa.
Ia langsung memeluk ibunya.
“Maaf, Bu…”
Ibu memeluknya erat.
“Sudah.”
“Aku salah, Bu.”
“Sudah, Nak.”
“Aku seharusnya mendengarkan Ibu.”
Ibu mengusap rambut Maya.
“Tidak ada ibu yang bahagia melihat anaknya menderita. Kalau dulu Ibu keras, itu karena Ibu takut.”
Maya menangis di bahu ibunya.
“Kenapa Ibu masih mau menerimaku?”
Ibu tersenyum.
“Karena kamu anak Ibu.”
Sesederhana itu.
Tidak ada penghakiman.
Tidak ada kalimat, “Ibu sudah bilang.”
Padahal Ibu berhak mengatakannya.
Maya mulai bangkit perlahan.
Ia mencari pekerjaan, mulai berjualan makanan, dan belajar mengatur keuangan. Tidak mudah. Ada hari ketika dagangannya tidak laku. Ada hari ketika ia pulang dengan tubuh lelah dan hanya membawa sedikit keuntungan.
Tetapi setiap kali Maya hampir menyerah, Ibu selalu berkata,
“Pelan-pelan. Yang penting kamu terus berjalan.”
Beberapa bulan berlalu.
Keadaan Maya mulai membaik.
Ia bahkan mampu membayar sebagian kebutuhan anak-anaknya sendiri.
Suatu malam, Maya duduk bersama Ibu di meja makan.
“Bu…”
“Hmm?”
“Terima kasih.”
Ibu tersenyum.
“Untuk apa?”
“Untuk tidak pernah meninggalkanku.”
Ibu menatap Maya lama.
“Seorang ibu boleh kecewa, boleh sedih, tetapi sulit bagi seorang ibu untuk membenci anaknya sendiri.”
Maya menggenggam tangan ibunya.
“Aku janji akan menjaga Ibu.”
Ibu hanya tersenyum.
Namun beberapa minggu kemudian, Ibu mulai sering sakit.
Awalnya Maya mengira hanya kelelahan.
Tetapi suatu pagi, Ibu tiba-tiba jatuh di dapur.
Maya panik.
“Bu!”
Ia segera membawa ibunya ke rumah sakit.
Setelah pemeriksaan, kondisi Ibu ternyata cukup serius. Maya duduk di samping tempat tidur dengan wajah pucat.
Untuk pertama kalinya, ia merasa takut kehilangan orang yang selama ini selalu dianggap akan ada selamanya.
“Bu, jangan pergi.”
Ibu tersenyum lemah.
“Semua orang akan pulang pada waktunya, Nak.”
“Jangan bilang begitu.”
Maya menggenggam tangannya.
“Aku belum sempat membalas semua kebaikan Ibu.”
Ibu menggeleng.
“Kasih sayang ibu bukan utang yang harus dibayar.”
Air mata Maya mengalir.
“Kalau aku bisa mengulang waktu…”
“Tidak perlu.”
“Tapi aku menyesal, Bu.”
Ibu mengusap pipinya.
“Jangan habiskan sisa waktu untuk menyesal.”
Maya menangis.
“Maafkan aku.”
“Ibu sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu meminta maaf.”
Beberapa hari kemudian, kondisi Ibu semakin lemah.
Malam itu, Maya duduk di samping tempat tidurnya. Ia menggenggam tangan Ibu yang terasa semakin dingin.
“Bu…”
“Ya?”
“Kalau nanti Ibu tidak ada…”
Maya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Ibu tersenyum.
“Jaga anak-anakmu.”
“Iya.”
“Jangan ulangi kesalahan Ibu dan kesalahanmu. Ajarkan mereka untuk menghargai orang yang menyayangi mereka.”
Maya mengangguk sambil menangis.
Ibu menatapnya.
“Ibu bangga melihatmu sekarang.”
Maya mencium tangan ibunya.
“Terima kasih sudah menungguku pulang.”
Ibu tersenyum.
“Karena rumah memang tempat seseorang boleh pulang.”
Malam itu, Maya tidak tidur.
Ia terus menggenggam tangan Ibu.
Sampai akhirnya genggaman itu perlahan melemah.
Maya memanggilnya.
“Bu…”
Tidak ada jawaban.
“Bu?”
Tetap tidak ada jawaban.
Maya menempelkan wajahnya pada tangan ibunya.
Tangisnya pecah.
“Maaf, Bu…”
Ia memeluk tubuh ibunya.
“Maaf karena dulu aku lebih memilih mendengarkan orang lain.”
“Maaf karena aku baru pulang ketika hidupku sudah hancur.”
“Maaf karena aku baru mengerti betapa berharganya Ibu ketika Ibu sudah pergi.”
Hari pemakaman Ibu terasa seperti hari terpanjang dalam hidup Maya.
Ketika semua orang sudah pergi, Maya kembali ke rumah.
Ia duduk di meja makan.
Ada dua kursi di sana.
Satu kursi kosong.
Biasanya, Ibu duduk di sana sambil menunggunya makan.
Maya menyentuh sandaran kursi itu.
Air matanya jatuh.
Dulu ia sering merasa nasihat Ibu adalah sebuah beban.
Sekarang, ia rela melakukan apa pun hanya untuk mendengar satu nasihat lagi.
Satu kalimat lagi.
Satu panggilan lagi.
Satu pelukan lagi.
Namun waktu tidak pernah mau kembali.
Maya menundukkan kepala.
“Maaf, Bu…”
Suaranya bergetar.
“Aku baru mengerti.”
Ia menangis dalam diam.
Ternyata, seorang ibu tidak selalu menyelamatkan anaknya dengan uang atau dengan kekuatan.
Kadang seorang ibu menyelamatkan anaknya hanya dengan sebuah nasihat yang terus diulang.
Dan sering kali, anak baru memahami arti nasihat itu setelah kehidupan mengajarinya dengan cara yang paling menyakitkan.
Maya menatap kursi kosong di hadapannya.
Kini ia tahu, rumah bukan sekadar tempat untuk pulang.
Rumah adalah seseorang yang tetap membuka pintu, bahkan setelah kita berkali-kali memilih pergi.
Dan ketika orang itu sudah tidak ada, yang tersisa hanyalah doa, kenangan, dan satu kalimat yang tidak akan pernah cukup untuk menghapus penyesalan:
“Maaf, Bu. Aku baru mengerti bahwa sejak awal, Ibu tidak pernah ingin mengatur hidupku. Ibu hanya ingin aku tidak terluka.”
Kalau ingin, cerpen ini juga bisa dibuat lebih dramatis lagi dengan twist di akhir , misalnya ternyata Ibu sudah mengetahui kondisinya sejak awal tetapi sengaja menyembunyikannya agar Maya belajar mandiri.
