CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Life with Skizofrenia
LW

Life with Skizofrenia

oleh Uyaadnana_27
CerpenGratis10 menit baca4 dibacaJFMM Participant

Kebahagiaanku kini sudah tidak berdasar atas barang mewah dan liburan ketempat mahal lagi. Semakin tua usiaku, akhirnya aku menyadari bahwa kebahagiaanku kini sangatlah sederhana. Mendengar kabar emosi Mamah dalam kondisi stabil dan aku masih bisa terima text dari Mamahku setiap minggu rasanya sudah hal yang paling mewah buatku saat ini. Walaupun isi text dari Mamah sangatlah random dan didominasi kebawelan ibu-ibu pada umumnya, pasti sesegera mungkin chat Mamah aku balas secepat kilat. Beberapa tahun kebelakang, ada pada masanya boro-boro Mamah mampu kirim text ke aku. Untuk dia bisa stabil secara emosi saja saat itu sangat tidak bisa. Mamahku pernah dikondisi mengalami depresi berat dan sering mengalami halusinasi. Mamah sering mengamuk dan minta hal diluar nalar. Dia hilang kesadaran (bukan berarti koma), ia dalam kondisi sadar namun mengalami penurunan kewarasan karena wahamnya terganggu. Hal ini gak serta merta terjadi sangat mendadak. Ini adalah kumpulan kesedihan dan kekecewaan yang ia pendam seorang diri. Akumulasi kesedihan selama pernikahan dan luka pengasuhan masa kecil yang ia simpan rapi puluhan tahun. Penurunan kondisi Mamah ini membuatku galau sampai susah tidur setiap hari. Sedih memikirkan Mamah karena aku belum berkesempatan untuk bisa mengurusnya secara langsung.

Lahir sebagai anak pertama, membuat Mamahku terpaksa dibentuk untuk punya mental pelindung dan pemimpin. Nyaris gak menikmati masa anak-anak hingga remaja dengan puas bermain bersama teman-teman karena setiap hari Mamahku sibuk mengasuh ke 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil dan jarak dekat semua. Ini ia lakukan setiap hari tanpa libur. Selain punya jobdesk utama mengasuh semua adik-adik, Mamahku juga dibebankan membantu tugas domestik rumah tangga dan membantu bisnis warung makan milik Kakek dan Nenekku. Bisa kubayangkan betapa banyak tugas Mamah setiap harinya. Dalam 1 badan, ia harus membelah dirinya untuk bisa jadi seorang anak, kakak perempuan dan seorang murid sekolah. Semua tugas, konsisten Mamahku kerjakan mulai dari saat ia masih menjadi murid SD lalu berlanjut sampai ia menjadi murid SMA. Selama belasan tahun, Mamah kerjakan semua tugas tanpa mengeluh. Cuma karena biar Nenekku gak marah-marah dan Mamah dicap anak penurut. Tujuan utama Mamah hanya membuat hati nenekku senang. Selama belasan tahun, gak pernah ada yang tanya bagaimana perasaaan Mamahku. Happy atau gak selama ini menjalani tugas seabreg?. Seiring bertambahnya usia dan perubahan pola pikir, Mamah akhirnya sampai dititik lelahnya sendiri. Ia merasa kalau dirinya ini bukan manusia normal, ia merasa dirinya ini adalah robot yang dipaksa menyenagkan hati manusia. Mamah mulai memikirkan bagaimana caranya agar bisa lepas dari rutinitas yang melelahkan dan membosankan ini tanpa jeda. Atau minimal Mamah bisa bebas merdeka dari aturan kaku yang dibuat Ibunya sendiri. Orang yang selama ini sangat ia takuti.

Entahlah ini suatu kebetulan atau memang sudah garis takdir Mamahku. Dimasa-masa pencarian jati diri dan galau memikirkan masa depan, Mamah dipertemukan dengan Bapakku. 2 tahun lamanya mereka menjalin kedekatan. Moment ini Mamah manfaatkan untuk “Bagaimana kalau kuminta saja laki-laki ini segera menikahiku. Agar aku bisa segera lepas merdeka dari Ibuku sendiri”. Gayungpun bersambut. Bapakku bersedia meminang Mamahku. Alasannya simple, karena Bapakku bercita-cita ingin punya keluarga. Bapak pikir, Mamahku adalah orang yang bisa menyembuhkan masa kecilnya yang haus akan kasih sayang sebuah keluarga utuh. Mereka berdua sama-sama mempunyai ekspetasi besar. Mamahku juga berharap dari pernikahannya ini pelan-pelan bisa bikin ia bebas merdeka dari aturan kaku yang dibuat oleh Nenekku. Mamahku berharap pernikahannya akan berujung bahagia karena Bapakku laki-laki mapan dan bermental provider. Pikirnya semua akan berjalan sesuai rencana.

Semua orang dimuka bumi ini mendambakan pernikahan yang isinya penuh kebahagiaan. Komunikasi sehat dan saling bersinergi satu sama lain. Nyatanya dalam pernikahan Mamahku, isinya kebanyakan kesedihan dan saling menyalahkan. Kehidupan pernikahan yang Mamahku rasakan sangat jauh berbeda ia rasakan saat masih pacaran dengan Bapakku. Selama menikah, semua sifat asli Bapakku keluar semua. Bapakku Patriaki sekali. Gak mau bantu apalagi mau perduli kerjaan rumah tangga. Mamah jadi sering burnout karena saking lelahnya. Bapak sering bentak dan bicara kasar ke Mamahku. Suka main tangan juga. Kekerasan verbal dan nonverbal sudah Mamahku rasakan sejak awal menikah. Sejak mengandung aku sampai melahirkan anak ke 4. Melihat Mamah suka melamun lalu tiba-tiba menangis adalah pemandangan biasa bagiku. Namun saat itu aku belum peka, belum mengerti semua kelelahan Mamah selama ini. Aku mengaggap Mamah lebay dan caper aja. Bisa dibilang pernikahan Mamah isinya zonk. Kondisi mental Mamah bahkan jadi semakin parah semenjak menikah. Namun karena mamah pandai menutupi semua, akhirnya keluarga besar kita menganggap Mamah Baik-Baik Saja. Mamah gak pernah curhat serius ke orang tua apalagi ke adik-adiknya. Mamah gak punya ruang aman untuk bisa sharing karena setiap cerita selalu dipatahkan oleh Nenekku dengan kalimat andalannya “Begitu doang ngeluh, yang kuat dan sabar dong jadi orang”. Mamahku hanya dituntut jadi manusia penurut dan sabar aja selama hidup. Mamah dilarang protes. Pokoknya Mamahku gak boleh melawan, bersyukur aja apa yang sudah Allah kasih, begitu pesan Nenekku. Padahal emosi Mamahku valid. Mengurus banyak anak serta suami sangatlah melelahkan. Apalagi ini dilakukan dalam jangka waktu lama dan tanpa jeda. Ekspetasi memiliki kehidupan yang lebih santai dan bahagia gak didapat oleh Mamahku. Akhirnya Mamah jatuh dalam kekecewaan yang sangat besar. Sesakit itu berharap pada manusia memang.

Hubungan Mamah dan Nenekku tidak seharmonis hubungan anak-ibu pada umumnya. Mamah punya banyak trauma dan ketakutan berada disamping ibunya sendiri. Benar-benar gak punya ruang aman. Namun begitu, Mamah gak pernah bilang membenci ibunya sendiri. Ia tetap bersyukur dilahirkan ke dunia ini oleh ibu yang mempunyai mental pejuang seperti Nenekku. Bagaimana tidak pejuang. Nenekku sedari masih didalam kandungan sudah harus menerima kenyataan pahit, yaitu ditinggal menikah lagi oleh Bapak Kandungnya. Buyutku melahirkan seorang diri. Saat nenekku lahir, Buyutku menikah lagi dengan laki-laki pilihannya. Kedua orang tua Nenekku sibuk sendiri dengan kehidupan barunya tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana kelangsungan hidup nenekku yang saat itu masih sangat kecil. Pas masa kanak-kanak, Nenekku memilih hidup dengan Neneknya. Nenekku sekolah hanya sampai di level Sekolah Dasar saja karena keterbatasan biaya. Belum lulus SD, Nenekku sudah banting tulang kerja serabutan. Jadi pekerja pencabut rumput dan sebagai Asisten Rumah Tangga. Saat menginjak usia 14 tahun, Nenekku menikah dengan Kakekku. Dari pernikahannya, lahir 7 orang puteri, yang termasuk didalamnya adalah Mamahku. Ia mengandung dan mengasuh ke 7 anaknya dengan ilmu parenting seadanya. Seadanya dan semampunya yang ia pelajari dari lingkungannya sendiri.

Berangkat dari banyaknya trauma dan luka pengasuhan masa kecil yang dialami Nenekku, hal ini yang membuat Mamahku jadi dididik keras oleh Nenekku sedari kecil. Trauma itu diturunkan. Dan secara gak sadar, Mamah menurunkannya juga kepadaku. Namun Mamah cepat sadar, sudah berkali-kali meminta maaf kepadaku. Aku memaafkan semuanya Mah.

Belasan tahun pasca berpisah dengan Bapakku, Mamah mulai menunjukkan gejala sakit psikis. Mamah kehilangan pada minat dan bakat. Mengalami penurunan kualitas tidur. Insomnia setiap malam. Malas mandi dan beribadah. Mengurung diri lebih banyak didalam kamar. Mamah jadi anti sosial. Mamah sering meracau. Sering tiba-tiba nangis dan berteriak sendiri. Pernah juga Mamah berusaha mau kabur dari rumah tanpa memakai pakaian. Upaya mengakhiri hiduppun beberapa kali Mamah utarakan. Mama mengaku sering mendengar bisikan untuk mengakhiri hidup, seperti ada yang mengajak terus. Berisik sekali isi kepala Mamah. Mamah bilang “Aku capek, Aku dari dulu gak merasakan bahagia. Aku juga pengen hidup kayak orang-orang”. Dan semenjak semua gejala itu muncul, Mamah berubah agresif ke Nenekku. Dulu Mamah Soft Spoken banget. Aku kaget dengan semua perubahan ini. Lalu aku berinisiatif membawa Mamahku ke ahli Ruqyah. Hasil dari ruqyah, Mamahku dinyatakan bersih dari gangguan jin. Mamah disarankan ke Poli Jiwa di rumah sakit. Karena menurut yang Meruqyah Mamahku, ini berat, masalah hati.

Setelah bertemu Psikiater beberapa sesi, Mamah terdiagnosa Skizofrenia. Aku langsung ngefreeze. Gak nyangka diagnosa ini menempel di hidup Mamahku. Psikiater memberi saran ke aku untuk tidak fokus ke penyebab utamanya, fokus saja ke pemulihan Mamah supaya dia bisa stabil dan berdaya lagi seperti sedia kala. Upaya yang bisa dilakukam dengan disiplin minum obat dan rajin diajak interaksi serta banyak mengingat Tuhan. Mungkin inilah jawaban atas semua penasaranku selama ini. Sejak kecil Mamah terbiasa bahkan gak takut melihat hal tak kasat mata. Banyak yang bersaksi kalau Mamahku dari dulu langganan kesurupan. Bapakku pun tahu persis kondisi Mamah ini sejak masih pacaran. Bahkan kejadian kesurupan sangat sering terjadi didepan mata Bapakku. Sudah tidak terhitung berapa orang Ustadz yang sering dipanggil kerumah untuk membantu mengeluarkan jin dari tubuh Mamahku.

Sejak Mamah terdiagnosa Skizo, aku aktif mencari bagaimana penanganan pasien Skizofrenia. Karena dokter juga meminta aku pro aktif untuk pemulihan Mamahku. Orang dengan Skizofrenia bukan berarti kurang iman, ini murni ada masalah pada otaknya, makanya dibanyak kasus diperlukan terapi obat. Namun, pemulihan Skizofrenia sangat ditentukan oleh pasien itu sendiri. Keinginan yang kuat untuk menuju kualitas hidup lebih baik serta disiplin obat sangat mempengaruhi pemulihan. Yang terjadi pada Mamahku kemarin adalah Mamah gak punya semangat sembuh. 2 tahun lamanya aku dampingi Mamah buat punya energi meneruskan hidup lagi serta semangat pulih. Setiap hari kuberi motivasi. Aku jadikan diriku adalah teman baik dan ruang aman untuk Mamah bisa cerita-cerita walau cuma dari gagang telepon. Selama 2 tahun ini aku mengurus Mamah jarak jauh karena atas saran Psikiater, Mamah harus dipisahkan dulu dengan penyebab yang suka bikin Mamah frustasi, yakni ibunya sendiri. Mamah diurus dulu oleh tanteku di kampung halaman suaminya tanteku. Di masa karantina ini, Nenekku banyak merenung atas semua kesalahan masa lalu. Nenek menyadari kesalahan fatalnya adalah memaksa Mamahku menuruti semua keinginan dan ambisinya. Nenek gak pernah mau mendengar anaknya. Nenek gak pernah memvalidasi semua emosi Mamahku. Nenekku lupa, bahwa Mamahku hanya manusia biasa seperti dirinya, bisa capek dan menangis juga. Sejak Mamah kecil hingga Mamahku sudah menjadi seorang nenek, Nenekku sangat mengontrol hidup Mamahku dan Nenekku sangat menyesali itu. Nenek gak menyangka, karena tajamnya lidah seseorang bisa membuat orang depresi dan menyerah pada hidup. Terlebih disini anaknya sendiri. Allah Maha Baik. Adanya peristiwa besar ini, hikmahnya adalah kita semua jadi tambah sayang dan sama-sama semangat memperbaiki diri dan kita jadi mengerti bahwa depresi itu nyata.

Berkali-kali Mamah bilang ke aku bahwa dia gak membenci Nenekku atas rentetan trauma yang terjadi. Mamah bilang, parenting itu memang gak ada yang sempurna. Nenekku tumbuh dengan terpaksa dewasa sebelum waktunya tanpa ada yang mengajari banyak hal. Nenekku benar-benar belajar sendiri dan hasilnya memang jauh dari idealnya orang tua yang baik dan bijak. “Maafkan, maafkan. Jangan jadi pendendam” begitu pesan Mamahku.

Skizofrenia memang sudah menjadi bagian dari hidup Mamahku. Sekarang buat Mamahku gak penting bagaimana penyakit satu ini bisa ada didalam hidup Mamah. Mamah kini fokus self love. Membangun boundaries dan belajar berkata tidak untuk hal yang dia gak sreg dalam hatinya. Mamah sudah gak pernah ngotot mau menyenangkan semua orang. Mamah juga sibuk mengisi hari dengan kegiatan produktif dengan berjualan makanan. Membangun hubungan sosial yang baik dengan teman-temannya. Mamah juga kian peka dengan tubuhnya sendiri. Disaat tubuhnya berteriak lelah, Mamah langsung takes time buat rehat. Sekarang juga gangguan jin udah gak pernah ada. Mamah gak pernah ngamuk kesurupan. Mamah makin mendekat kepada Allah karena dia yakin semua kekuatan ini karunia dari Allah. Aku, Mamah dan kita semua didunia ini, lemah tanpa pertolongan Allah.
Mah,terima kasih ya sudah bertahan dan punya tekad kuat untuk meneruskan hidup sampai sejauh ini. Menjadi dirimu sangatlah tidak mudah dengan rentetan trauma yang Mamah bawa sejak masih didalam kandungan. Setiap detik, Mamah harus fight buat bisa mengendalikan gejala kekambuhan penyakit mental yang Mamah alami. Mah,hiduplah lebih lama. Jika Mamah tidak menemukan kebahagiaan dari orang tua dan pasangan hidup Mamah. Semoga melalui akulah Mamah menemukan arti bahagia. Semoga Allah meridhoi agar aku, anak pertamamu ini mampu membahagiakan Mamah lahir batin.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen