Ibu tidak pernah datang dengan suara besar. Kelembutannya tidak butuh pengumuman. Ia hidup di hal-hal kecil yang biasanya lewat begitu saja: selimut yang ditarik pelan sampai menutup bahu, tangan yang berhenti di udara saat melihatku sedang marah, napas yang melambat waktu ia berdiri di ambang pintu kamar, seolah takut mengganggu luka yang belum sempat kuberi nama. Baru sekarang aku sadar, mungkin kasih sayangnya memang tidak pernah ingin terlihat. Ia hadir seperti hangat yang merayap diam-diam di kulit, seperti aroma bawang, daun bawang, dan minyak panas yang menempel dari dapur sampai ke ruang tamu, seperti suara panci yang beradu pelan saat ia menyiapkan sesuatu tanpa bilang apa-apa. Kadang aku mencium masakan dulu sebelum melihat wajahnya, dan di situ aku merasa aman tanpa tahu kenapa.
Ibu selalu punya cara membuat rumah terasa lebih lunak. Bahkan waktu aku keras kepala, membentak, menutup pintu terlalu cepat, ia hanya diam. Bukan diam yang dingin, tapi diam yang menahan badai supaya tidak jatuh ke lantai. Aku ingat satu malam, lampu kamar remang, udara terasa berat, tubuhku lelah dan kepala penuh hal-hal yang tak sanggup kusebut satu per satu. Aku terbangun sebentar, dan selimutku sudah rapi lagi di dada. Di tepi ranjang ada segelas air. Di ujung pintu, hanya bayangan tubuh ibu yang buru-buru berlalu. Tidak ada tanya, tidak ada keluhan, tidak ada ceramah. Cuma tangan yang telaten, napas yang sabar, dan kebiasaan kecil yang selama ini kukira biasa saja. Ternyata tidak ada yang biasa dari cinta sehalus itu. Ternyata ada orang yang mencintai dengan cara tidak mengganggu, tidak menuntut, tidak memaksa untuk dipeluk balik. Aku butuh waktu lama untuk mengerti, kelembutan ibu justru paling terasa waktu ia tidak meminta dilihat.
Ibu, maaf, aku baru paham sekarang. Selama ini kukira kasih sayang harus berbunyi keras supaya terasa nyata. Padahal ibu mengajarkan hal yang jauh lebih dalam, bahwa yang paling tulus justru sering datang pelan-pelan: lewat tangan yang membetulkan selimut, lewat napas yang menunggu amarahku reda, lewat masakan yang sudah siap sebelum aku sempat memintanya. Makasih sudah lembut. Makasih sudah tinggal di hal-hal kecil yang baru kusadari sekarang, ketika semuanya mulai terasa nyesek karena aku terlambat mengerti betapa beruntungnya aku punya ibu.
