CeritaGW
Cerpen
Cerpen1.355 kata

Kutukan Gaun Pengantin

L

Lindayanti

Sekali duduk selesai

5 Oktober 2026

Mulai membaca

Crystal berdiri di depan cermin dengan gaun putih yang terasa terlalu berat untuk disebut pakaian.

Renda menjuntai dari bahunya, membingkai tubuhnya dengan anggun. Veil panjang menutupi sebagian rambutnya, sementara pantulan perempuan di hadapannya terlihat seperti seseorang yang sebentar lagi akan menyerahkan seluruh hidupnya kepada seorang pria.

Sagara.

Nama itu saja sudah cukup membuat dada Crystal menghangat.

Namun, pagi itu kehangatan tersebut bercampur dengan sesuatu yang sulit ia jelaskan.

Takut.

“Cantik sekali.”

Suara ibunya terdengar dari belakang.

Crystal tersenyum melalui pantulan cermin. “Mama pernah bilang gaun ini milik Nenek, kan?”

Senyum ibunya menghilang.

Hanya sepersekian detik, tetapi Crystal melihatnya.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Mama.”

Ibunya berjalan mendekat dan menyentuh ujung veil Crystal. Jemarinya gemetar.

“Kalau kamu masih bisa membatalkan pernikahan ini, lakukan sekarang.”

Crystal terdiam.

“Mama serius?”

“Serius.”

“Kenapa?”

Ibunya tidak menjawab.

Sebaliknya, perempuan itu menatap gaun putih yang dikenakan Crystal seolah sedang melihat sesuatu yang seharusnya sudah dikubur puluhan tahun lalu.

“Gaun ini membawa terlalu banyak kematian.”

°°°

Dua jam kemudian, Crystal berdiri di depan altar.

Sagara menunggunya.

Pria itu mengenakan jas hitam sederhana. Rahangnya tegas, tatapannya tenang, tetapi Crystal mengenalnya terlalu baik untuk tertipu.

Sagara sedang gugup.

Ketika Crystal berjalan mendekat, mata pria itu tidak pernah lepas darinya.

Bibirnya membentuk senyum kecil.

“Kau cantik.”

Crystal berhenti di hadapannya.

“Kau juga.”

Sagara menggenggam tangannya.

Hangat.

Begitu nyata.

Crystal ingin mempercayai perasaan itu.

Ingin percaya bahwa hari ini hanya tentang mereka.

Bukan tentang keluarga.

Bukan tentang masa lalu.

Bukan tentang gaun yang sejak kecil selalu dilarang disentuhnya. Namun, sebelum akad dimulai, Crystal melihat sesuatu. Sebuah noda kecil di bagian dalam pergelangan tangan Sagara.

Bekas luka.

Sama persis dengan tanda yang pernah ia lihat dalam sebuah foto lama ayahnya. Jantung Crystal berdegup keras.

“Sagara.”

“Hm?”

“Kamu pernah bertemu ayahku sebelum beliau meninggal?”

Sagara membeku.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup.

Crystal menarik tangannya.

“Kamu pernah?”

Sagara menatapnya lama.

“Aku akan menjelaskan setelah kita menikah.”

Jawaban itu justru membuat darah Crystal terasa dingin.

“Kenapa setelah menikah?”

“Karena aku takut kalau kau tahu sekarang, kau akan pergi.”

Crystal menatap pria yang selama tiga tahun terakhir menjadi rumahnya.

“Berarti memang ada sesuatu.”

Sagara tidak menyangkal.

Dan saat itulah Crystal menyadari sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Ia bukan satu-satunya orang yang membawa rahasia ke altar.

°°°

Pernikahan tetap berlangsung.

Tetapi setelah semua tamu pulang, Crystal tidak lagi merasa seperti pengantin baru. Ia berdiri di kamar hotel dengan gaun yang masih melekat di tubuhnya. Sagara masuk beberapa menit kemudian.

Pintu tertutup.

Sunyi.

“Aku ingin kebenaran.”

Sagara melepas jasnya.

“Crystal…”

“Sekarang.”

Pria itu menghela napas.

“Ayahmu tidak meninggal karena kecelakaan.”

Crystal membeku.

“Apa?”

“Mobilnya memang ditemukan jatuh ke jurang. Tapi sebelum itu, rem mobilnya sudah dirusak.”

Crystal menatapnya tanpa berkedip.

“Siapa yang melakukannya?”

Sagara menundukkan kepala.

“Ayahku.”

Dunia Crystal seakan berhenti.

Ia tertawa kecil karena tidak percaya.

“Kamu bercanda.”

“Aku berharap begitu.”

“Kamu tahu?”

“Sejak awal.”

Crystal mundur satu langkah.

“Sejak awal?”

“Aku tahu sebelum kita bertemu.”

“Lalu kenapa kamu mendekatiku?”

“Karena aku ingin mencari bukti.”

Crystal menamparnya.

Suara tamparan menggema di kamar.

Sagara tidak melawan.

Tidak bergerak.

Air mata Crystal jatuh.

“Jadi selama ini aku cuma bagian dari penyelidikanmu?”

“Awalnya, iya.”

Jawaban jujur itu menghancurkan sesuatu di dalam dirinya.

“Awalnya?”

Sagara menatapnya.

“Kemudian aku jatuh cinta.”

Crystal tertawa getir.

“Jangan.”

“Aku mencintaimu.”

“Jangan bilang begitu.”

“Aku mencintaimu bahkan setelah aku tahu siapa keluargamu.”

“Diam!”

Crystal meraih ujung veil dan menariknya dengan kasar.

Veil itu terlepas.

Namun, sesuatu ikut jatuh dari lipatan gaun.

Sebuah amplop tua.

Crystal membungkuk mengambilnya. Nama di bagian depan membuat napasnya tercekat. Untuk Crystal. Buka pada hari pernikahanmu.

Tulisan itu milik ibunya.

°°°

Crystal membuka amplop tersebut dengan tangan gemetar.

Hanya ada satu lembar surat.

Crystal,

Jika kau membaca ini, berarti kau sudah mengenakan gaun yang dulu kupakai saat menikah dengan ayahmu. Maaf karena aku menyembunyikan semuanya.

Ayahmu tidak mati karena keluarga Sagara.

Crystal menatap Sagara.

Pria itu langsung mendekat.

“Apa isinya?”

Crystal membaca kalimat berikutnya.

Dia dibunuh karena mengetahui kebenaran tentang keluarga kita sendiri. Sagara membeku.

“Apa?”

Crystal melanjutkan.

Orang yang membunuh ayahmu adalah orang yang paling kami percaya. Tangannya semakin gemetar.

Dan jika kau sudah menikah dengan Sagara, jangan percayakan kebenaran ini kepada siapa pun. Surat itu berakhir dengan satu kalimat.

Karena orang yang membunuh ayahmu masih hidup. Pintu kamar tiba-tiba diketuk.

Tiga kali.

Sagara langsung berdiri di depan Crystal.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ketukan kembali terdengar. Sagara membuka pintu. Seorang pria tua berdiri di luar.

Ayah Sagara.

Crystal mengenalinya dari foto keluarga.

“Selamat malam,” katanya tenang.

Sagara langsung mengeras.

“Ayah?”

Pria itu tersenyum.

“Akhirnya kalian menikah juga.”

Crystal mundur.

Tatapan pria itu jatuh pada gaun putih yang dikenakannya.

“Gaun itu…”

Ia tertawa kecil.

“Jadi akhirnya kembali juga.”

°°°

Sagara menutup pintu.

“Apa yang Ayah lakukan di sini?”

“Datang mengucapkan selamat.”

“Keluar.”

Ayahnya mengabaikannya. Tatapannya tetap pada Crystal.

“Dulu ibumu juga memakai gaun itu.”

Crystal menggenggam suratnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Pria tua itu diam.

Sagara menarik lengannya.

“Ayah, jawab.”

“Tidak ada yang berubah sejak dua puluh lima tahun lalu.”

“Apa maksudnya?”

“Perempuan yang memakai gaun itu selalu kehilangan orang yang mereka cintai.”

Crystal merasakan tengkuknya meremang.

Sagara menatap ayahnya tajam.

“Jangan mulai dengan cerita bodoh.”

“Bukan kutukan.”

Pria tua itu tersenyum.

“Orang-orang hanya menyebutnya begitu agar mereka tidak perlu mencari siapa pembunuh sebenarnya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ayah Sagara mengeluarkan sebuah foto lama. Ia meletakkannya di meja. Crystal mengambilnya.

Foto ayahnya.

Ibunya.

Dan satu orang lagi.

Ayah Sagara.

Namun di belakang mereka berdiri seseorang yang membuat darah Crystal berhenti mengalir.

Pamannya.

Adik kandung ibunya.

“Dia yang merencanakan semuanya,” kata ayah Sagara.

Crystal menggeleng.

“Tidak mungkin.”

“Dia ingin perusahaan keluarga kalian. Ayahmu menemukan bukti penggelapan uangnya. Malam itu, dia menyuruh orang membunuh ayahmu.”

“Lalu kenapa keluarga Sagara yang dituduh?”

“Karena aku menerima uang darinya.”

Sagara menatap ayahnya.

“Kau…”

“Aku pengecut.”

Pria tua itu mengeluarkan sebuah flash drive.

“Aku membantu menutupi semuanya.”

Sagara mengambilnya.

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena aku tahu dia mulai bergerak lagi.”

Crystal menatapnya.

“Siapa?”

Ayah Sagara menghela napas.

“Pamanmu.”

°°°

Malam itu mereka pulang ke rumah Crystal. Paman Crystal sudah menunggu. Pria itu tersenyum ketika melihat keponakannya.

“Kau terlihat cantik.”

Crystal berdiri kaku.

“Kenapa Paman datang?”

“Untuk memastikan semuanya baik-baik saja.”

Sagara melangkah maju.

“Paman tahu tentang gaun ini?”

Senyum pria itu lenyap.

“Apa maksudmu?”

Crystal meletakkan surat ibunya di meja.

“Ayah meninggal karena Paman.”

Sunyi.

Pria itu tidak menyangkal.

Ia justru tertawa.

“Adikmu memang selalu terlalu pintar.”

Crystal menahan napas.

“Kenapa?”

“Karena ayahmu mengambil sesuatu yang bukan miliknya.”

“Perusahaan?”

“Warisan.”

Crystal menggeleng.

“Semua itu tidak sebanding dengan nyawa.”

“Bagi orang miskin, mungkin.”

Kalimat itu membuat Sagara mengepalkan tangan.

Paman Crystal melanjutkan.

“Dan sekarang perusahaan itu akan jatuh ke tanganmu.”

“Tidak.”

Crystal berdiri lebih tegak.

“Aku tidak akan memberikan apa pun kepadamu.”

Pria itu tersenyum.

“Kau pikir kau punya pilihan?”

Sagara tiba-tiba menarik Crystal ke belakang tubuhnya.

“Pergi.”

Paman Crystal menatapnya.

“Jangan terlalu percaya diri. Kau juga punya keluarga yang harus dilindungi.”

Wajah Sagara berubah.

“Apa yang kau lakukan?”

“Hal yang sama seperti yang kulakukan dua puluh lima tahun lalu.”

Ia berbalik.

Namun sebelum pergi, pria itu berhenti.

“Oh, satu lagi.”

Tatapannya kembali pada Crystal.

“Gaun itu bukan milik keluargamu.”

Crystal menatapnya.

“Gaun itu milik ibumu. Dan dia menyimpannya karena percaya suatu hari kebenaran akan ditemukan.”

Pintu tertutup.

°°°

Malam semakin larut. Crystal duduk di tepi tempat tidur. Sagara berdiri di dekat jendela.

Tidak ada yang bicara.

“Aku benci kamu.”

Suara Crystal pelan.

Sagara mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku benci karena kamu mendekatiku untuk alasan yang salah.”

“Aku tahu.”

“Aku benci karena ternyata selama ini kau juga terluka.”

Sagara menoleh.

Crystal menatapnya dengan mata basah.

“Tapi yang paling kubenci…”

Ia menarik napas.

“…aku masih mencintaimu.”

Sagara mendekat.

Berjongkok di hadapannya.

“Aku tidak pantas.”

“Memang.”

“Aku sudah berbohong.”

“Iya.”

“Aku menyakitimu.”

Crystal mengusap air matanya.

“Iya.”

Sagara menggenggam tangannya.

“Tapi kalau kau memberiku satu kesempatan lagi, aku akan menghabiskan seluruh hidupku untuk membuktikan bahwa perasaanku bukan kebohongan.”

Crystal menatapnya.

Kemudian ia memeluk pria itu. Untuk pertama kalinya malam itu, Sagara membalas pelukannya.

Erat.

Seolah kalau ia melepaskan, Crystal akan hilang.

°°°

Seminggu kemudian, bukti kejahatan paman Crystal akhirnya diserahkan kepada polisi.

Rekaman lama.

Transaksi.

Kesaksian.

Semuanya cukup untuk membongkar pembunuhan yang telah disembunyikan selama dua puluh lima tahun.

Paman Crystal ditangkap. Ayah Sagara juga menyerahkan diri. Kebenaran akhirnya keluar. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dikembalikan.

Ayah Crystal.

Dan hubungan yang sudah terlanjur retak. Beberapa bulan kemudian, Crystal berdiri di depan lemari. Gaun pengantin itu masih tergantung di sana.

Sagara masuk.

“Kau mau membuangnya?”

Crystal menggeleng.

“Tidak.”

Ia menyentuh kain putih itu.

“Dulu aku mengira gaun ini dikutuk.”

Sagara berdiri di sampingnya.

“Sekarang?”

Crystal tersenyum tipis.

“Sekarang aku tahu bukan gaunnya yang membawa kematian.”

“Lalu?”

“Rahasia.”

Sagara menggenggam tangannya.

Crystal menatap cincin di jarinya.

“Aku pernah berpikir pernikahan kita adalah kesalahan.”

Sagara diam.

“Tapi kalau aku diberi kesempatan mengulang hari itu…”

Crystal menatapnya.

“Aku tetap akan berjalan menuju altar.”

Sagara tersenyum.

“Meski tahu semuanya?”

“Meski tahu semuanya.”

Crystal menyandarkan kepala di bahunya.

“Karena aku mungkin tidak bisa mengubah masa lalu.”

Ia menggenggam tangan Sagara lebih erat.

“Tapi aku masih bisa memilih siapa yang ingin kugenggam untuk masa depanku.”

Sagara mengecup keningnya.

Di belakang mereka, gaun putih itu tetap tergantung.

Tidak lagi menakutkan.

Tidak lagi membawa kutukan.

Hanya menyimpan kisah tentang seorang perempuan yang kehilangan ayahnya, menemukan pengkhianatan keluarganya, dan hampir kehilangan lelaki yang dicintainya.

Crystal tersenyum.

Namun, ketika ia hendak meninggalkan kamar, matanya menangkap sesuatu di bagian dalam gaun.

Sebuah jahitan kecil.

Ia mendekat.

Menarik benang yang tersembunyi.

Sebuah kertas kecil jatuh ke lantai.

Crystal mengambilnya.

Tulisan tangan ibunya kembali terlihat.

Hanya ada satu kalimat.

“Crystal, jika suatu hari kau membaca ini, berarti ada satu kebenaran yang belum pernah Sagara ceritakan kepadamu.”

Crystal membeku.

Sagara melihat wajahnya berubah.

“Ada apa?”

Crystal menatapnya.

Untuk pertama kalinya setelah semua yang mereka lalui, ketakutan kembali memenuhi matanya.

Ia membalik kertas itu.

Di bagian belakang hanya ada satu nama.

Arman Pratama.

Nama ayah Sagara.

Dan di bawahnya tertulis:

Dia bukan sekadar kaki tangan. Dia adalah orang yang memulai semuanya.

Crystal perlahan mengangkat wajah.

Sagara tidak tahu apa yang baru saja ia baca.

Dan untuk pertama kalinya Crystal sadar, mungkin pernikahan mereka memang tidak pernah dikutuk. Mungkin mereka hanya terlalu terlambat mengetahui bahwa cinta mereka dibangun di atas dosa dua keluarga.

Dan ada beberapa luka yang, meski sudah sembuh, akan tetap meninggalkan bekas.