CeritaGW
Cerpen
Cerpen1.179 kata

Kursi Kosong di Teras

L

Lindayanti

Sekali duduk selesai

29 September 2026

Mulai membaca

Sejak pertama kali meninggalkan rumah, Ibu tidak pernah meminta banyak. Tidak ada pesan panjang tentang kesuksesan, tidak pula tuntutan agar aku menjadi seseorang yang kelak bisa dibanggakan. Setiap kali suara kami bertemu melalui sambungan telepon yang kadang tersendat, perempuan itu hanya mengulang kalimat yang sama, seolah kepulanganku adalah satu-satunya hal yang perlu ditunggu kalau sudah ada waktu, pulanglah.

Aku selalu menjawab nanti.

Nanti, setelah gajiku cukup. Nanti, setelah tabunganku mencapai angka yang kuinginkan. Nanti, setelah aku bisa membawa sesuatu untuknya sebuah hadiah yang membuat lima tahun hidup sebagai anak rantau terasa layak diperjuangkan. Aku tidak tahu bahwa kata nanti adalah tempat paling berbahaya untuk menitipkan seseorang yang kita cintai.

Hari pertama menjadi anak rantau, aku berangkat dengan sebuah koper tua, ransel berisi pakaian, dan keberanian yang ternyata jauh lebih tipis daripada yang kukira. Bus membawa tubuhku semakin jauh dari rumah, sementara bayangan Ibu perlahan mengecil di balik kaca jendela. Ia berdiri di ujung gang, mengangkat tangan, tersenyum meski matanya sembap.

Aku baru menemukan uang dua ratus ribu di dalam dompet ketika bus hampir tiba di kota tujuan.

Ibu bilang itu uang terakhirnya.

Aku menelepon dengan suara bergetar, menanyakan mengapa ia memberikannya padaku.

“Anggap saja bekal.”

“Katanya uang Ibu tinggal sedikit.”

“Memang.”

“Lalu kenapa dikasih ke aku?”

Di seberang telepon terdengar tawa kecil.

“Karena kamu lebih membutuhkannya.”

Aku menutup wajah dengan telapak tangan. Di antara penumpang yang tidak kukenal, aku menangis diam-diam, sambil menggenggam uang itu seolah sedang memegang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada nominalnya.

Sejak hari itu, aku berjanji akan membuat Ibu tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.

Lima tahun berlalu dalam kamar kos yang pengap, aroma mi instan, pakaian kerja yang mengering di balik jendela, dan malam-malam panjang ketika tubuh ingin menyerah tetapi kebutuhan memaksa kaki kembali berdiri. Aku belajar mengukur hidup dari tanggal gajian, menghitung sisa uang setelah membayar sewa, lalu menyisihkan sebagian untuk rumah. Setiap kali Ibu bertanya apakah aku sudah makan, aku menjawab sudah. Ketika ia bertanya apakah uangku cukup, aku mengatakan cukup.

Kebohongan-kebohongan kecil itu terasa seperti bentuk kasih sayang.

Aku tidak ingin Ibu tahu bahwa pernah ada malam ketika aku tidur dengan perut kosong. Ada pagi ketika ongkos kerja tinggal beberapa ribu rupiah. Ada pula satu malam ketika demam membuat tubuhku menggigil di bawah selimut tipis, sementara tidak seorang pun tahu bahwa aku sedang sakit.

Namun selama suara Ibu masih bisa kudengar di ujung telepon, aku selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Barangkali begitulah anak rantau bertahan: belajar menyembunyikan luka agar orang di rumah tidak ikut terluka.

Tahun pertama aku tidak pulang.

Tahun kedua pun tidak.

Pada tahun ketiga, Ibu mulai bertanya tentang lebaran.

“Pulang?”

Aku menatap layar ponsel sambil menghitung tabungan yang belum seberapa.

“Belum bisa, Bu. Tahun depan.”

Ibu terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Tidak apa-apa.”

Aku tahu ia kecewa, tetapi ia terlalu mencintaiku untuk mengatakannya.

Tahun keempat, keadaan mulai membaik. Pekerjaanku berganti, penghasilan bertambah, dan untuk pertama kalinya aku merasa mungkin sudah waktunya membawa Ibu sesuatu yang pantas.

Aku membeli gelang emas kecil.

Tidak mewah. Tidak mahal. Hanya sebuah gelang sederhana yang kubeli sedikit demi sedikit dari uang lembur. Setiap kali melihatnya, aku membayangkan pergelangan tangan Ibu mengenakannya.

Aku ingin pulang tanpa tangan kosong.

Aku ingin berdiri di depan pintu, menyerahkan gelang itu, lalu melihat matanya berkaca-kaca.

Aku ingin mengatakan bahwa semua tahun yang kulewati jauh dari rumah akhirnya menghasilkan sesuatu.

Tetapi hidup selalu memiliki cara untuk mengubah rencana menjadi alasan baru untuk menunda.

Atap rumah bocor.

Adikku membutuhkan biaya sekolah.

Motor Ibu rusak.

Tabungan kembali terkuras.

Setiap kali aku mengirim uang, Ibu selalu berkata, “Jangan terlalu banyak. Simpan buat kamu.”

Dan setiap kali aku menjawab, “Masih ada, Bu,” aku tahu bahwa itu juga bohong.

Sampai suatu sore, setelah lima tahun, aku akhirnya membeli tiket pulang.

Kali ini tanpa memberi tahu Ibu.

Aku ingin membuat kejutan.

Di dalam koper, kusimpan baju baru untuknya, sejumlah uang, dan kotak kecil berisi gelang emas yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kepulanganku. Aku membayangkan wajah Ibu ketika melihatku muncul di depan rumah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kata pulang terasa begitu dekat.

Bus tiba menjelang sore.

Aku turun dengan koper di tangan dan senyum yang sulit kusembunyikan. Jalan menuju rumah masih sama. Warung kecil di ujung gang belum berubah. Pohon mangga yang dulu sering menjadi tempatku berteduh ketika pulang sekolah masih berdiri dengan cabang-cabang tua yang menaungi jalan.

Aku berjalan semakin cepat.

Aku sudah membayangkan suara Ibu.

Mungkin ia akan terkejut.

Mungkin ia akan memarahiku karena tidak memberi kabar.

Mungkin ia akan menangis.

Aku siap menerima semuanya.

Namun ketika sampai di depan rumah, langkahku mendadak terhenti.

Pintu terbuka.

Halaman itu sunyi.

Dan kursi kayu di teras masih berada di tempat yang sama.

Kursi yang dahulu menjadi tempat Ibu duduk setiap sore sambil menungguku menelepon.

Hari itu kosong.

Aku masuk perlahan.

“Bu?”

Tidak ada jawaban.

Aku memanggil sekali lagi.

“Bu?”

Seorang tetangga keluar dari rumah sebelah. Wajahnya berubah begitu melihatku.

“Kamu baru pulang?”

Aku mengangguk.

“Ibu mana?”

Perempuan itu tidak langsung menjawab.

Tatapannya jatuh ke koper di tanganku, lalu kembali ke wajahku. Ada sesuatu yang perlahan runtuh dalam sorot matanya, sesuatu yang membuat dadaku mendadak sesak sebelum ia mengatakan apa pun.

“Maaf…”

Satu kata.

Hanya satu kata.

Tetapi dunia seperti berhenti setelahnya.

Ibu meninggal dua bulan lalu.

Sakitnya tidak terlalu lama, kata mereka. Beberapa minggu. Tidak ada yang memberitahuku karena Ibu melarang mereka menghubungiku. Katanya, aku sedang bekerja. Katanya, jangan mengganggu anaknya.

Dan selama sakit, setiap sore Ibu masih duduk di kursi teras itu.

Menunggu.

Tetangga itu mengatakan Ibu sering menyebut namaku.

“Katanya kamu sebentar lagi pulang.”

Aku tersenyum kecil.

Entah mengapa aku ingin tertawa, tetapi yang keluar justru suara patah.

“Memang…”

Tanganku membuka koper dengan gemetar. Aku mengambil kotak kecil yang selama ini kusimpan dengan begitu hati-hati.

“Memang saya mau pulang.”

Aku membuka kotaknya.

Gelang emas itu berkilau di telapak tanganku.

“Ini mau saya kasih ke Ibu.”

Tidak ada yang menjawab.

Aku berjalan ke teras, lalu duduk di kursi kayu yang selama ini hanya kukenal dari cerita.

Kayunya terasa dingin.

Di sandarannya masih tersisa bantal tipis yang sudah kusam. Di bawah kursi tergeletak sepasang sandal tua.

Sandal Ibu.

Aku mengambilnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak lagi peduli tentang uang, pekerjaan, tabungan, ataupun benda apa pun yang kubawa pulang.

Aku hanya ingin satu hal yang sudah tidak mungkin kudapatkan.

“Bu…”

Suaraku pecah.

“Maaf aku lama pulang.”

Tangisku pecah di antara rumah yang terlalu sunyi dan sore yang perlahan kehilangan cahaya.

“Katanya Ibu mau nunggu.”

Aku memeluk sandal itu erat-erat.

“Katanya kalau aku pulang, Ibu masih ada.”

Tetapi rumah tidak pernah menjawab.

Malamnya, aku tidur di kamar yang kutinggalkan lima tahun lalu. Tidak banyak yang berubah. Foto keluarga masih berada di atas meja. Beberapa buku lama masih tersusun di rak. Bahkan bekas goresan di dinding yang kubuat ketika kecil masih terlihat samar.

Hanya satu hal yang tidak ada.

Suara Ibu.

Aku mengambil ponsel dan membuka daftar kontak.

Nama Ibu masih tersimpan di sana.

Tanpa berpikir panjang, jariku menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

Lalu suara operator menggantikan suara yang selama ini paling ingin kudengar.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan.

Aku menatap layar lama sekali.

Lalu meletakkan ponsel di dada.

Dulu aku mengira menjadi anak yang baik berarti bekerja keras, mengirim uang, membelikan sesuatu, dan memastikan orang tua tidak kekurangan.

Ternyata aku lupa satu hal paling sederhana.

Kadang-kadang, orang tua tidak membutuhkan keberhasilan anaknya.

Mereka hanya ingin melihat anaknya pulang dalam keadaan hidup, sehat, dan masih bisa dipeluk.

Aku terlalu sibuk mempersiapkan kepulanganku sampai lupa bahwa waktu tidak pernah berjanji akan menunggu.

Di atas meja, kotak gelang emas itu masih terbuka.

Aku menatapnya lama.

Benda yang selama lima tahun kuanggap sebagai bukti bahwa aku telah menjadi anak yang berhasil, mendadak terasa seperti sesuatu yang paling tidak berguna di dunia.

Sebab pada akhirnya, Ibu tidak pernah menunggu gelang itu.

Ia hanya menunggu aku.

Dan ketika akhirnya aku pulang, yang tersisa hanyalah kursi kosong di teras.