CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Kuharap Ibu Bahagia
Kuharap Ibu Bahagia

Kuharap Ibu Bahagia

oleh Merliana
CerpenGratis5 menit baca5 dibacaJFMM Participant

Hujan deras mengguyur desa kami tepat pukul tujuh malam. Rumah reyot yang saat ini kami tempati tidak lagi nyaman saat air menetes dari genteng yang bocor.
“Ela, agak sana. Nanti tubuhmu basah!” pinta ibuku saat aku malah menadahkan tangan ke tetesan air.
“Ibu, kapan sih kita kaya? Bisa bangun rumah mewah, gedongan, ada televisi besarnya. Masa kita miskin terus?” tanya adikku, Bima.
“Sabar!” pinta ibu.
“Narti … Ti … Narti!” teriak seseorang yang aku hapal suaranya, itu adalah Budeku yang jahat.
Tak lama kemudian Bude datang dengan daster yang diangkat ke atas.
“Kalian berkemaslah! Rumah ini sebagian akan dibongkar karena sudah kubeli!” bentak Bude.
“Mbak, ini masih malam. Mbok juga lagi tidur,” ujar Ibuku.
“Ya gak mau tau. Tukang bongkarnya sudah datang,” ucap Bude memaksa.
Beberapa pria masuk tanpa babibu membongkar tembok dari bambu rumah nenekku ini.
Nenekku yang tertidur pun terbangun, beliau menangis, pun dengan ibuku yang berusaha menahan orang-orang seraya menahan tangisnya.
Aku empat bersaudara, terlahir miskin dan tidak punya rumah. Rumah yang kami tempati adalah rumah nenekku, ibunya ibu. Sejak aku kecil, ibuku mengurus nenek sendirian, meski anak nenek banyak dan mendapat harta waris masing-masing, tetapi satu pun tidak ada yang mau mengurus nenek. Ibuku, satu-satunya anak yang mengurus, dijanjikan mendapat bagian rumah nenek, saat ini malah dijual oleh adiknya sebagian dan dibeli oleh Bude.
Malam ini, hujan mengguyur deras, aku yang masih kecil, nenekku, ibuku, semua basah kuyup karena rumah dibongkar paksa menyisakan dapur yang selebar dua kamar mandi.
Tetangga banyak yang berdatangan membawa payung di tangan, tapi mereka hanya melihat, tidak ada satu pun dari mereka yang membantu nenek berteduh. Ibuku, dengan tubuh kurusnya mendekap nenek agar tidak kehujanan. Kami tidak bisa masuk ke area dapur karena sisa-sisa bangunan malah dimasukan ke sana.
Air mataku luruh bercampur dengan air hujan saat melihat ibuku terus mendekap nenek.
Ini kisah nyata, betapa kejamnya saudara ibu membuat kami menderita.
Kisah ini bertahun-tahun silam, tapi ingatan itu masih membekas dalam pikiranku.
Hari berlalu kami lewati dengan bumbu kesengsaraan. Di rumah sangat kecil kami tinggal berdesakan. Setiap hari yang kulihat adalah ibu mengurus nenek. Mengatur uang yang sedikit untuk membeli kebutuhan rumah dan diapers nenek. Tak pernah sekali pun kudengar keluhan ibu. Sampai akhir hayat nenek, ibuku lah yang berjuang besar untuknya.
Sayangnya hal baik yang dilakukan oleh ibu masih belum menghasilkan sesuatu yang baik. Bapakku pemabuk berat, setiap hari pulang marah-marah, kata-kata kasar diberikan pada ibu.
Ibuku hanya diam, tidak pernah sekali pun ibu mengajukan gugatan cerai saat aku ingin mereka berpisah.
Suatu hari, bapak tidak pulang, sejumput beras tak ada di rumah. Dengan menaiki sepedanya, ibu membonceng aku dengan jarak enam kilometer untuk menyusul bapakku yang ada di rumah orang tuanya. Sesampainya di sana, kulihat napas ibuku memburu, mungkin karena capek. Namun, bukan beras yang kudapatkan, melainkan makian bapak dan keluarganya.
“Dasar miskin. Beras aja gak punya malah ke sini!” hardik nenekku dari pihak bapak.
“Ya tanggung jawab bapak lah ngasih makan untuk ibu dan anak-anak!” bentakku.
“Sudah sana pergi!” titah nenekku.
“Kamu kan sudah kubilangin jangan nikah sama dia. Sekarang kan kamu ikutan miskin.” Nenekku bicara dengan bapakku.
Tidak ada empati sedikit pun, aku cucu kandungnya, jangankan beras, segelas air putih saja tidak ditawarkan padaku. Padahal keringat di keningku terlihat jelas menandakan aku juga lelah dan haus. Saat itu aku bersumpah, sampai mereka mati, aku tidak sudi mengirimkan sepenggal pun doa.
Ibu mengajakku pulang dengan tangan kosong. Bapakku? Memilih bertahan di rumah ibunya yang bagus itu.
****
Hari-hari terus aku lewati bersama penderitaan dan air mata ibu. Memberikan luka yang semakin hari semakin dalam. Hingga aku usia dua puluh tahun, aku menjadi penulis novel di platform luar negeri. Aku mendapatkan gaji tiga kali lipat umk di daerahku. Setengah dari gaji kuberikan pada ibu, setengah lainnya aku tabung. Satu tahun bekerja, Alhamdulillah aku bisa merenovasi rumah. Aku lihat ibuku lebih sering tersenyum dan tidak lagi menangis. Hampir setiap hari kuajak ibu jalan-jalan. Aku tidak peduli pacar, yang aku inginkan ibuku bahagia. Bagiku sudah cukup penderitaan yang ibu alami selama bertahun-tahun. Dua puluh lima tahun menikah dengan bapak, yang ibuku rasakan hanya penderitaan. Ibuku berkali-kali bilang, ‘Tidak ada ibu yang meminta balas budi anak’ tapi aku iklas melakukannya. Apapun yang aku punya, aku ingin ibu merasakannya.
Sayangnya, tiga anak ibu lainnya mengikuti jejak bapak. Pemabuk, judi online. Kesenangan ibu yang mulai terasa harus kandas karena memikirkan anak-anaknya yang lain. Lambat laun barang di rumah mulai hilang satu persatu, tentu dijual untuk judi online. Sampai di usianya yang empat puluh lima tahun, ibu sakit parah, asam lambung membuat ibu muntah setiap hari, tidak bisa bangun, tidak bisa beraktifitas.
Dengan keadaan yang sakit, tiga saudaraku bergantian menyuruh ibu.
“Buk, gorengkan tempe!”
“Buk, minta uangnya!”
“Aku gak mau lauk itu.”
Aku berkali-kali bertengkar dengan tiga saudaraku karena tingkah bajingan mereka. Namun, selalu aku yang kalah.
Ingatanku mengarah pada beberapa tahun silam saat ibuku juga kalah dengan saudara laki-lakinya yang mendapat warisan paling banyak tapi tidak mau mengurus ibu. Sekarang nasibku sama, bukan tentang waris, tapi aku tetap dikalahkan.
Setiap hari selama tiga tahun, aku mengurus ibu seorang diri. Setiap aku mengelap tangannya, aku selalu melihat perutnya untuk memastikan ibu masih bernapas. Dalam hatiku selalu berdoa, semoga ibu lepas dari penderitaan ini.
Ibu, jika ada kehidupan lain dan ibu lahir kembali, aku ingin ibu tidak menderita. Aku ingin ibu punya keluarga yang bahagia.
Entah sampai kapan ibuku seperti ini. Muda digunakan untuk mengurus orang tua dan anaknya, saat tua harus merasakan beban sakit dan beban punya anak bajingan.
Mungkin aku masih belum bisa membahagiakan ibu, tapi kuharap ibu panjang umur dan memberiku kesempatan untuk terus membuat ibu tertawa.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen