CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Kisah Tak Sempurna Milik Ibu
Kisah Tak Sempurna Milik Ibu

Kisah Tak Sempurna Milik Ibu

oleh Viani
CerpenGratis5 menit baca6 dibacaJFMM Participant
Banyak orang hilir mudik di dalam rumahku. Ibu di peluk bergantian oleh tetangga kami. Kemudian air matanya kembali mengalir deras. Ia terus mengusap pipinya dengan tisu yang sudah lusuh. Tak jauh dari tempat duduk ibu, ada jenazah ayah yang terbujur kaku.

Ayah meninggal pukul 2 pagi tadi, di dalam kamar mandi. Sendirian. Ibu yang menemukan ayahku, tidak percaya dan terus memintanya untuk kembali bangun. Namun, umur manusia siapa yang tahu? Ternyata setiap potongan pesan yang selama ini disampaikan ayah adalah tanda, bahwa ia harus pergi lebih dulu.

Ibuku berusaha tegar, tapi aku tahu hatinya hancur berkeping-keping. Lelaki yang menjadi teman hidup ibu selama 30 tahun harus meninggalkannya selamanya. Tinggalah aku dan kedua adik lelakiku. Sebagai anak sulung, aku merasa bertanggung jawab atas kehidupan ibu selanjutnya.

Hari demi hari dilalui ibu dengan tabah. Ia kembali mengatur ulang kehidupannya. Menyesuaikan diri sebagai orang tua tunggal. Tapi diam-diam aku tahu setiap kali ia berdoa tangisnya pecah.

Ibu tinggal di rumah dengan kedua adikku. Adik yang paling kecil, Aldo, masih sekolah kelas 3 SD, sementara adikku yang satunya, Adi sudah berumur 25 tahun. Ia sudah menikah, memiliki 1 orang anak, dan tidak bekerja. Hidup mereka bergantung sepenuhnya pada orang tuaku.

Sebelum jatuh sakit, ayah adalah seorang karyawan senior di sebuah supermarket. Namun, karena penyakit ayah semakin parah dan tak mampu berjalan lagi, ia memutuskan untuk pensiun dini. Keputusan ini diambil 1 minggu sebelum ia meninggal.

Ibu sudah punya rencana untuk menggunakan uang pensiun ayah. Jumlahnya cukup banyak bisa untuk renovasi rumah dan membuat usaha kecil-kecilan. Aku akan selalu mendukung dan membantu segala rencana ibu nanti.

Namun sudah sebulan berlalu, ibuku tidak juga menerima uang pensiun itu. Ia mulai curiga. Ibu menghubungi aku. Dan betapa terkejutnya aku, bahwa kartu atm milik ayah di pegang oleh Adi. Firasatku semakin tidak karuan, ketika ibu bilang bahwa kartu atmnya terblokir. Namun Adi, punya sepeda motor baru (ia mengaku pada ibu bahwa ia diberi oleh mertuanya) dan juga laptop baru (ia bilang bahwa ia dipinjami oleh teman baikknya).

Ini tidak benar.

Aku langsung mengecek hp ayah (hp ini sering juga dipegang oleh Adi) dan melihat di sana ada pembelian laptop. Aku tahu, ibu dan aku punya perasaan yang sama. Namun, aku buang jauh-jauh perasaan itu. Ibuku segera menyusun rencana, ia ingin melabrak Adi dan meminta kejelasan.

Malamnya ibu dan suamiku ke rumah teman baik Adi. Ia ada di sana sedang main game di laptop. Ibu pun menyuruhnya pulang ke rumah sambil terus diikuti suamiku.

Di rumah, sudah ada polisi. Ya, suamiku bilang ini sudah termasuk kasus kriminal. Menggelapkan uang sebanyak 300 juta bukanlah hal yang bisa diselesaikan dengan duduk dan saling meminta maaf. Tidak! Uang itu adalah masa depan untuk ibu dan Aldo.

Dan malam itu, Adi mengakui semuanya. Ia membeli motor second, membeli hp, membeli laptop, membeli sepatu branded, makan-makanan enak bersama teman baiknya. Ia juga membelikan temannya laptop dan sepatu baru dengan uang pensiun ayah. Ternyata uang itu sudah masuk ke rekening ayah beberapa hari setelah ia meninggal.

Wah, wah, wah...

Selepas itu, ia diminta pergi oleh ibuku tanpa dibekali apa pun. Semua barang miliknya kami ambil. Dan aku langsung melihat rekening koran milik ayahku. Untuk apa saja uang sebanyak itu digunakan?

Kenyataannya semakin miris, ia menyewa perempuan! Sekali transfer jumlahnya fantastis. Ia sudah membelikan perempuan itu sebuah iphone. Lalu, tepat besok hari, ia juga memesan kamar hotel untuk mereka berdua. Hatiku tak karuan rasanya. Suamiku pun menemukan sebuah kalung emas di dalam jok motor milik Adi. Kalung emas yang akan diberikan pada perempuan yang entah siapa.

Yang jelas uang 300 juta warisan ayah. Lenyap!

Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibuku. Mungkin uang memang bukan rejeki tapi yang melakukan perbuatan itu adalah anaknya sendiri. Darah daging yang ia lahirkan dengan penuh perjuangan dan rasa sakit.

Sebenarnya aku juga sangat membenci adikku. Sebelum ini, ia bahkan sudah dua kali menghamili perempuan di luar nikah. Satu ketika SMA dan satu lagi yang bersamanya sekarang. Aku si sulung selalu berusaha untuk menjadi sempurna dalam hal apa pun karena tidak mau melukai orang tuaku. Aku jadi percaya semakin baik aku bertindak, maka semakin kacau kelakuan Adi.

Air mata kami belum kering atas kepergian ayah. Malah aku menangis hampir setiap malam mengingat segala kebaikan ayah padaku. Aku memang tidak menginginkan uang milik ayahku, namun mengingat aku setiap hari bekerja banting tulang, siang sampai malam bersama suamiku, uang 300 juta itu begitu berharga.

Ibuku memang memiliki kisah yang tidak sempurna dalam hidupnya. Tapi, itu adalah masa lalunya. Kini, ibu tinggal bersamaku. Ia begitu senang dikelilingi cucunya. Anakku yang terakhir, aku lahirkan setahun setelah kepergiaan ayah. Laki-laki. Ibu sangat menyukainya. Dan yang paling penting ibu sangat terhibur.

Kini, kami menatap masa depan bersama dan aku berjanji bahwa aku akan membuatkan kisah yang sempurna untuk ibuku.

***
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen