CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Kirim Saja Ibu Ke Panti Jompo
Kirim Saja Ibu Ke Panti Jompo

Kirim Saja Ibu Ke Panti Jompo

oleh Amy Amy22
CerpenGratis12 menit baca24 dibacaJFMM Participant

"Kirim saja Ibu ke panti jompo!"

Kalimat itu meluncur dari bibir Ibu dengan ketegasan yang justru terasa lebih menyakitkan daripada tangisan.

Anak Ibu ada lima. Tiga laki-laki dan dua perempuan.

Kakak pertamaku laki-laki. Namanya Bima, usianya 45 tahun. Ia seorang pilot. Sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. Anak pertamanya berusia 19 tahun dan sedang kuliah, sementara anak keduanya duduk di bangku SMA kelas dua.

Anak Ibu yang kedua perempuan. Namanya Galuh, usianya 38 tahun. Ia sudah menikah. Dulu ia bekerja di bank, tetapi memutuskan mengundurkan diri setelah anak pertamanya lahir. Suaminya seorang kepala sekolah. Sekarang mereka memiliki dua anak, masing-masing duduk di bangku SMP dan SD.

Kemudian ada kakak ketigaku, Bagas. Usianya 35 tahun. Ia sudah menikah dengan seorang janda beranak satu. Bagas bekerja di pelayaran dan paling cepat pulang setahun sekali. Ia memang kakak yang jarang berkomunikasi dengan kami. Mungkin laut yang memisahkan membuat sinyal menjadi barang langka dalam hidupnya.

Lalu ada Galih, kakak keempatku. Usianya 30 tahun dan belum menikah. Ia bekerja di Jakarta sebagai programmer. Kesibukannya membuat rumah ini hanya mendapat jatah kepulangannya setahun sekali, itu pun biasanya saat Lebaran.

Dan aku.

Ayusita.

Anak kelima Ibu. Si bungsu dari lima bersaudara.

Usiaku baru hampir 21 tahun. Hanya lulusan SMA. Dan sejak beberapa tahun terakhir, hanya akulah yang tinggal bersama Ibu.

Aku tidak kuliah. Tidak pula bekerja di luar rumah.

Untuk makan sehari-hari, kami mengandalkan uang pensiunan Ibu dan sedikit penghasilan dari warung kecil yang kubuka di depan rumah. Aku menjual jajanan anak-anak, es, gorengan, sosis, dan apa saja yang sekiranya bisa ditukar dengan beberapa lembar uang.

Sesekali kakak-kakakku mengirim uang. Tidak setiap bulan. Tidak selalu cukup. Dan aku tidak pernah bertanya.

Sebab aku tahu, masing-masing dari mereka telah memiliki kehidupan sendiri.

Kadang-kadang aku iri.

Aku ingin merasakan menjadi seperti teman-temanku. Pergi kuliah dengan tas di pundak, mengenakan almamater, memiliki teman-teman baru, bekerja di tempat yang bagus, atau sekadar pergi jauh dari kampung ini untuk mencari tahu seperti apa rasanya hidup dengan mimpi yang benar-benar diperjuangkan.

Namun keinginan itu selalu terbentur pada satu kenyataan.

Ibu.

Ibu menjanda sejak aku masih SD. Sejak hari itu, kehidupan kami seperti perahu yang kehilangan satu dayung. Kami masih bisa bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar tahu ke mana arah yang akan dituju.

Kami hanya mengandalkan uang pensiunan Ayah yang beralih kepada Ibu. Ada pula sebidang sawah warisan yang disewakan untuk membiayai kuliah kakak-kakakku.

Sawah itu menjadi saksi bisu bagaimana satu per satu impian mereka dibayar.

Hanya saja, ketika tiba giliranku, sawah itu sudah tak lagi bisa menolong. Masa sewanya masih tersisa lima belas tahun.

Dan kakak-kakakku yang kini telah berdiri di atas kaki sendiri, entah mengapa tidak pernah membicarakan kemungkinan untuk menebusnya. Mungkin mereka lupa.

Atau mungkin hidup membuat seseorang terlalu sibuk menghitung kebutuhan dirinya sendiri hingga lupa bahwa ada seseorang di belakangnya yang masih menunggu giliran untuk bermimpi.

Padahal mereka semua mampu. Mereka mungkin bisa membantu biaya kuliahku. Mungkin juga bisa menebus sawah itu. Setidaknya, sekadar menunjukkan bahwa mereka masih mengingatku sebagai adik yang dulu ikut makan dari piring yang sama.

Namun aku tidak pernah meminta. Sebab ada rasa sungkan yang kadang lebih berat daripada kemiskinan.

Malam itu, di ruang tamu rumah joglo kami, Ibu duduk di kursi rotan tua yang catnya mulai mengelupas. Di hadapannya ada aku, Mbak Galuh, dan Mas Bima.

Ibu duduk menghadap jendela. Cahaya lampu yang temaram jatuh di wajahnya, memperjelas keriput yang mulai memenuhi kulitnya. Usianya lebih dari 65 tahun.

Wajah yang dulu begitu kuat, kini menyimpan jejak perjalanan panjang seorang ibu.

"Ibu nggak mau kalian ribut," katanya pelan.

Dua kakakku datang malam ini karena aku yang meminta. Aku ingin merantau ke Jakarta. Aku ingin bekerja sambil kuliah. Aku ingin, untuk sekali saja, mengejar masa depanku sendiri.

Tetapi untuk pergi, ada satu hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu.

Ibu.

"Kami nggak ribut, Bu," kata Mbak Galuh. "Bukan kami nggak mau merawat Ibu, tapi..."

Ia menggantung kalimatnya. Tarikan napasnya terdengar berat.

"Bu, aku tinggal sama mertua. Suamiku ... cuma PNS. Gajinya nggak seberapa. Kalau harus nambah Ibu ...."

Suaranya mengecil di ujung kalimat. Matanya beralih kepada Mas Bima. Mas Bima yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

"Jangan lihat aku." Ia bersandar, lalu mengembuskan napas. "Kalian tahu sendiri, kan? Istriku nggak mau merawat Ibu."

Aku menunduk.

Entah kenapa, kalimat-kalimat itu terasa seperti batu yang dilemparkan satu per satu ke dada Ibu.

"Sudah."

Suara Ibu tiba-tiba terdengar.

"Sudah, nggak usah dibahas lagi."

Ibu tersenyum tipis. "Kalau Ayu mau ke Jakarta, ya sudah. Kirim saja Ibu ke panti jompo."

Hening.

Tidak ada satu pun dari kami yang langsung menjawab. Kalimat itu sederhana. Tetapi rasanya seperti sebuah pintu yang dibanting keras di tengah rumah yang sedang rapuh.

Aku melihat Ibu memalingkan wajah ke arah jendela. Mungkin ia tidak ingin kami melihat matanya.
Mungkin ada air yang sedang berusaha ia tahan agar tidak jatuh.

"Gak bisa, Bu," kata Mbak Galuh akhirnya. "Apa kata orang kalau kami kirim Ibu ke panti jompo? Ibu mau kami dicap anak durhaka?"

Mbak Galuh kemudian menatapku.

"Ayu, nggak usah kerja ke Jakarta. Apalagi kuliah. Kamu perempuan, ujung-ujungnya menikah. Nanti juga nggak kerja lagi."

Ia tertawa kecil, tetapi tawanya hambar. "Lihat Mbak. Dulu kuliah tinggi, kerja bagus, punya banyak teman. Begitu menikah, punya anak, ya sudah. Sekarang cuma jadi ibu rumah tangga."

Aku menggeleng pelan. "Mbak, aku juga punya impian." Aku menatapnya. "Seperti Mbak dulu."

Kalimat itu membuat wajah Mbak Galuh berubah.

"Aku ingin kuliah. Punya banyak teman. Pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi. Punya pekerjaan yang bisa membuatku bangga pada diriku sendiri."

Mbak Galuh menunduk. Aku tahu, jauh di dalam hatinya, ia mengerti. Sebab ia pernah menjadi aku. Seorang perempuan muda yang memandang dunia dengan mata penuh harapan, sebelum pernikahan mengajarinya bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua.

"Tapi kasihan Ibu, Yu."

Suaranya melembut. "Ibu sudah tua. Harus ada yang menemani."

Mbak Galuh kembali menoleh kepada Mas Bima. "Mas, kamu kan sukses. Bantu Ayu kuliah di sini. Atau tebus sawah Ibu. Biar sawah itu bisa dipakai untuk biaya kuliah Ayu."

Mas Bima menggeleng. "Nggak bisa, Luh. Mas lagi kuliahin Davin. Riya juga sudah SMA. Ada cicilan rumah, mobil. Mas sudah cukup pusing."

Ia terdiam sejenak. "Bentar lagi Mas juga pensiun."

Aku menatap lantai. Mungkin memang benar. Setiap orang memiliki alasan. Dan alasan-alasan itu, anehnya, selalu cukup untuk membenarkan ketidakmampuan mereka menolongku.

"Bagas gimana?" tanya Mbak Galuh.

Mas Bima tertawa pendek. "Halah, Bagas itu nggak bisa diandalkan. Dia sudah kemakan pelet janda itu sampai lupa sama Ibu."

Aku terdiam. Dua tahun lalu, Mas Bima pernah bertengkar dengan Mas Bagas karena Bagas tidak bisa meminjamkan uang kepadanya. Alasannya sederhana. Uangnya sudah digunakan istrinya untuk membeli kebun.

Aku kembali memandang Ibu. Ia menunduk. Bahunya bergerak pelan. Ibu menghela napas. Dan entah mengapa, tarikan napas itu terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan.

Mungkin malam itu Ibu baru menyadari sesuatu yang tidak pernah ingin disadarinya.

Ia telah membesarkan lima anak. Memberi mereka makan dengan tangan yang sama. Menidurkan mereka dengan doa yang sama. Mengantarkan mereka menuju masa depan dengan pengorbanan yang sama.

Namun ketika dirinya sampai di ujung perjalanan, kelima anak itu justru sedang sibuk menghitung siapa yang paling sanggup menerima dirinya.

Ya Allah...

Sungguh, aku tidak tega. Tapi anak Ibu bukan hanya aku.

Jika keempat kakakku dulu memiliki kesempatan untuk mengejar impian mereka, kenapa aku tidak?

Bukankah aku juga anak Ibu?

Mas Galih pun tidak bisa kuandalkan. Ia sedang menabung untuk meminang kekasihnya, katanya.

Usianya memang sudah cukup untuk menikah. Dan aku tidak ingin menjadi alasan seseorang menunda kebahagiaannya.

Mbak Galuh beralih kepada Ibu. "Bu, maaf. Galuh nggak bisa bawa Ibu ikut Galuh."

Ia lalu menepuk pundakku. "Ayu, Ibu sudah tua. Kasihan kalau sendirian di rumah. Pikirin lagi, Yu. Apa kata orang kalau Ibu ditinggal sendiri? Apalagi sampai dikirim ke panti jompo."

"Tapi Mbak..."

Suaraku bergetar.

"Aku juga ingin seperti kalian."

Aku menelan ludah.

"Seperti teman-temanku."

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

Namun bukan karena mimpiku yang sulit kugapai. Aku menangis karena Ibu.

Karena malam itu aku melihat seorang perempuan yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk anak-anak, justru harus duduk diam mendengarkan anak-anaknya berdebat tentang siapa yang akan merawatnya di sisa usia.

Ibu mampu merawat kami berlima. Ketika kami sakit, ia terjaga. Ketika kami lapar, ia mencari makanan. Ketika kami menangis, ia menjadi tempat kami pulang.

Tetapi sekarang...

Ketika rambutnya memutih dan langkahnya tak lagi setegap dulu, kami justru sibuk mencari alasan agar tidak menjadi tempat pulangnya.

Aku tahu, sebagai seorang anak, berbakti kepada ibu adalah kewajibanku. Dan aku juga tahu, dunia adalah tempat manusia mengejar impian.

Lalu malam itu aku terjebak di antara keduanya.

Antara ingin menjadi seseorang...

dan ingin tetap menjadi anak yang baik.

Setelah kakak-kakakku pulang, rumah joglo itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Suara jangkrik terdengar dari halaman. Angin malam menyusup melalui celah-celah jendela kayu, menggerakkan tirai tua yang sudah mulai kusam.

"Ayu ...."

Ibu memanggilku pelan. Tangannya yang keriput meraih tanganku.

"Kamu pergi saja."

Aku menatapnya.

"Ibu sudah tua, tapi Ibu baik-baik saja di sini."

Aku menggenggam tangan itu erat. Kulitnya tipis. Tulang-tulang jarinya terasa jelas. Tangan yang dulu menggendongku. Tangan yang dulu menyuapiku ketika aku belum bisa memegang sendok. Tangan yang membelai rambutku setiap kali aku demam. Kini tangan itu begitu rapuh. Seolah sedikit saja kugenggam terlalu erat, ia bisa patah.

"Bu ...."

Suaraku bergetar.

"Aku nggak tega ninggalin Ibu."

Ibu tersenyum. Tetapi matanya berkaca-kaca.

"Ibu sudah bahagia punya anak seperti kamu, Yu." Ia mengusap punggung tanganku. "Sudah cukup."

Malam itu aku tidak tidur.

Aku duduk di teras, memandangi langit yang dipenuhi bintang. Di kejauhan, dunia mungkin sedang bergerak tanpa menungguku.

Jakarta dengan lampu-lampunya. Gedung-gedung tinggi. Orang-orang yang berlari mengejar waktu.

Mungkin di sanalah teman-temanku sedang menata masa depan. Tertawa. Bekerja. Kuliah. Jatuh cinta. Menjadi seseorang.

Sementara aku masih duduk di teras rumah tua ini, ditemani suara jangkrik dan angin malam yang membawa aroma tanah.

Aku menarik napas dalam-dalam. Udara kampung malam itu terasa berat.

Namun di balik beratnya, ada kehangatan yang tidak bisa kuterjemahkan.

Pagi harinya, aku menyajikan secangkir teh hangat untuk Ibu seperti biasanya.

Kulihat, ibu matanya sembab. Mungkin beliau juga tidak tidur semalaman.

"Yu, kamu sudah pesan tiket?" tanyanya.

Aku menggeleng.

"Belum, Bu."

"Kenapa?"

Aku tidak menjawab.

Aku justru mengambil sisir, lalu berdiri di belakangnya. Perlahan, kusisir rambut Ibu yang telah memutih.

Satu helai.

Dua helai.

Entah sudah berapa banyak uban yang tumbuh tanpa pernah sempat kuhitung.

"Aku pikir-pikir lagi, Bu."

Ibu menatapku melalui cermin kecil di hadapannya.

"Ayu ...."

Suaranya lembut.

"Jangan korbankan masa depanmu demi Ibu."

Aku tersenyum.

"Tapi Bu ...."

Aku melanjutkan menyisir rambutnya. "Siapa yang akan menyisir rambut Ibu seperti ini kalau aku pergi?"

Ibu tidak menjawab.

Hanya satu tetes air yang jatuh dari sudut matanya.

***

Tiga hari berlalu.

Koper kecil yang sudah kusiapkan masih terbuka di sudut kamar. Tidak ada satu pun pakaian di dalamnya. Setiap kali hendak memasukkan baju, tanganku terasa berat. Seolah koper itu bukan tempat pakaian, melainkan tempat aku harus mengemas separuh hidupku.

Pagi hari aku masih membuka warung. Anak-anak tetangga masih datang membeli es dan gorengan.

Ibu masih duduk di kursi rotan tua itu, memandangiku dengan senyum yang sama. Senyum seorang ibu yang berusaha meyakinkan anaknya bahwa semuanya baik-baik saja.

Padahal aku tahu...

Tidak ada yang benar-benar baik-baik saja.

Malamnya, aku menulis surat lamaran kerja untuk sebuah perusahaan di Jakarta.

Aku menatap surat itu lama. Ada namaku di sana. Ada alamat perusahaan. Ada harapan yang kutulis dalam beberapa lembar kertas.

Namun setelah memasukkannya ke dalam amplop, aku tidak mengirimkannya.

Aku masih ragu.

Suatu sore, hujan turun deras.

Aku dan Ibu duduk di ruang tamu, ditemani suara air yang berjatuhan dari atap.

Ibu membuka album foto tua di pangkuannya.

"Lihat, Yu."

Ia menunjuk sebuah foto pernikahan.

"Ini Ayahmu. Tampan sekali dulu, ya. Rambutnya gondrong."

Aku tertawa kecil.

"Ibu juga cantik."

Aku menunjuk foto itu. Ibu memakai kebaya hijau."

Ibu tersenyum.

"Sudah tua sekarang."

Tangannya membalik halaman. Di sana ada foto kami berlima ketika masih kecil. Aku yang paling kecil digendong Mas Bima.

Mbak Galuh berdiri dengan seragam sekolah. Mas Bagas tersenyum kikuk. Mas Galih sibuk dengan mainannya sendiri.

Lima anak.

Satu ibu.

Satu rumah.

Dan sebuah masa lalu yang kini hanya bisa disentuh melalui lembaran foto.

"Ibu bangga."

Suara Ibu tiba-tiba terdengar lirih.

"Semua anak Ibu berhasil."

Ia menyebut nama mereka satu per satu. "Bima jadi pilot. Galuh sarjana ekonomi. Bagas kerja di pelayaran. Galih jadi programmer."

Kemudian ia menatapku.

"Dan Ayu ...."

Aku menunggu.

"Ayu yang paling sabar." Senyumnya mengembang. "Yang paling setia menemani Ibu."

Aku hanya tersenyum.

Ada sesuatu yang terasa sesak di dada.

"Ayu ...."

Ibu menggenggam tanganku. "Janji sama Ibu, ya."

Aku mengangguk.

"Kalau suatu hari Ibu sudah nggak ada, Ayu harus pergi."

Aku terdiam.

"Kejar mimpimu."

Suara Ibu mulai bergetar.

"Jangan sampai nanti kamu menyesal karena pernah memilih Ibu."

Aku langsung memeluknya. Erat.

Aroma tubuh Ibu, campuran bedak, minyak kayu putih yang selalu melekat membuat dadaku terasa semakin sesak.

"Bu ...." Aku membisikkan kalimat itu di telinganya. "Aku belum bisa pergi sekarang."

Tangan Ibu mengelus rambutku.

"Nanti, Yu."

Ia tersenyum. "Nanti kalau sudah siap."

***

Bulan berganti.

Musim kemarau datang. Warung kecilku lumayan ramai.

Namun tubuh Ibu mulai sering menyerah kepada usia. Kadang demam. Kadang rematiknya kambuh.

Aku yang membawanya ke puskesmas. Aku yang memasakkan bubur. Aku yang mengompres dahinya. Aku yang menemaninya tidur. Kakak-kakakku sesekali menelepon. Tidak lama.

Mas Bima sibuk dengan penerbangannya. Mbak Galuh dengan keluarganya. Mas Bagas masih jarang terdengar kabarnya.
Mas Galih sesekali mengirim uang.
Tidak mesti setiap bulan.

Dan aku ... masih di sini.

Setiap malam, sebelum tidur, aku memandang koper kecil di sudut kamar.

Koper itu masih kosong.

Namun entah mengapa, setiap hari rasanya semakin penuh. Penuh dengan pertanyaan. Penuh dengan keraguan. Penuh dengan mimpi yang belum sempat menjadi kenyataan.

Aku tidak tahu apakah aku sedang mengalah. Atau justru sedang memilih.

Suatu malam, ketika Ibu sudah tertidur, aku kembali duduk di teras.

Langit masih sama. Bintang-bintang masih bertebaran di tempatnya.

Aku menatapnya lama.

Lalu bertanya kepada diriku sendiri.

Apakah aku mengalah?

Ataukah aku memilih?

Aku tidak tahu.

Mungkin keduanya.

Mungkin tidak satu pun.

Sebab hidup tidak selalu tentang memilih antara hitam dan putih. Kadang, hidup hanya meminta kita bertahan di sebuah ruang abu-abu, sampai hati benar-benar tahu ke mana harus melangkah.

Yang kutahu, setiap pagi aku masih bangun dan melihat Ibu tersenyum.

Dan untuk saat ini...

itu sudah cukup.

Suatu hari nanti, mungkin.

Entah kapan.

Aku akan membuka koper itu.

Aku akan memasukkan pakaian ke dalamnya. Menguncinya.

Lalu pergi.

Mungkin menuju Jakarta.

Mungkin menuju hidup yang selama ini hanya berani kubayangkan dalam doa.

Tetapi tidak hari ini.

Hari ini aku masih di sini.

Di rumah ini.

Di samping Ibu.

Dengan mimpi yang belum mati, hanya sedang menunggu waktunya.

Aku bukan mengalah.

Aku hanya belum siap memilih.

Dan mungkin...

Tidak apa-apa jika untuk sementara waktu, aku memilih untuk tetap tinggal.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen