Tiba-tiba kakak saya minta Ibu untuk menjual rumah satu-satunya. Karena dia butuh modal yang cukup besar untuk bisnisnya. Tak perlu waktu lama Ibu pun mengabulkannya, rumah mulai ditawar-tawarkan.
Ibu memang lebih sayang sama kakak meski kakak termasuk anak yang kurang berbakti. Bahkan terkesan cuek sama Ibu dan hanya medekati Ibu jika ada maunya.
Pernah Ibu ingin sekali ke rumah anak laki-lakinya itu. Sudah sampai di kota tempat tinggal kakak. Tapi kakak tidak mau memberi tahu alamat rumahnya, tidak mau Ibu mampir.
Meski begitu Ibu tetap sayang kakak. Tetap memujinya, membelanya kalau ada keluarga yang mencelanya.
Tapi lama-lama saya menyadari itu bukan cuma kasih sayang. Sebetulnya Ibu rindu, ingin merengkuh kakak untuk kembali. Ibu terus berusaha meluluhkan hati kakak dan wujud usahanya adalah dengan menyayanginya apapun yang terjadi.
Soal Ibu menjual rumah saya diberitahu belakangan. Ketika ada permasalahan yang harus diselesaikan agar rumah bisa dijual.
Rumah itu sertifikatnya digadaikan oleh om saya, adik Ibu, ke bank. Sudah lama sudah bertahun-tahun. Ketika diminta sertifikatnya om tidak bisa memberikan, cenderung menghindar dan tidak mau tahu.
Akhirnya, atas permintaan Ibu saya memutuskan untuk membuat sertifikat baru. Saya membuat laporan kehilangan sertifikat, mengumumkannya di koran lokal, dan beberapa hal lainnya untuk melengkapi persyaratan pembuatan sertifikat baru.
Setelah sertifikat yang baru jadi ada orang yang berminat membeli. Langsung membayar down payment yang uangnya langsung diminta oleh kakak.
Ketika rumah sudah dibayar full kakak mendapat bagian paling besar, apalagi kalau ditambahkan dengan DP yang sudah dia terima sebelumnya. Ibu juga dapat cukup besar, bagian saya paling kecil.
Rumah kan sudah dijual, Ibu tinggal di mana? Ibu tinggal di rumah peninggalan orangtuanya. Tapi ternyata rumah itu juga digadaikan oleh om saya ke bank. Pembayarannya macet, maka rumah pun disita bank.
Ibu harus keluar rumah. Kakak datang dari luar kota, mengangkut semua isi rumah. Motor, TV, kulkas, mesin cuci, dll yang sebagiannya dibeli pakai uang saya. Ibu tidak mempermasalahkan karena dia akan tinggal dengan kakak.
Tapi ternyata kakak tidak mau diikuti oleh Ibu. Ibu pun ikut tinggal dengan saya di kontrakan kecil. Kakak berjanji tiap bulan akan membantu mengirim uang untuk Ibu, janji yang sangat lama tidak ia tepati.
Ulah kakak tidak hanya sampai di situ. Ibu daftar umroh dengan uang hasil penjualan rumah. Sudah bayar lunas dan tinggal berangkat. Tiba-tiba kakak menelepon Ibu minta umrohnya dibatalkan. Uangnya mau dia pakai buat modal usaha.
“Modalku kurang bu,” katanya. “Ibu nggak usah umroh, kan sudah tua, nanti kalau di sana ada apa-apa gimana?”
Kakak juga menelepon pihak travel memberitahu kalau Ibu membatalkan umroh dan minta uangnya dikembalikan. Padahal Ibu tetap mau umroh.
Ibu yang sedih dan panik bercerita ke saya. Saya pun segera mengontak pihak travel dan menyuruh mereka mengabaikan permintaan kakak saya. Sedangkan kakak saya, sulit dihubungi, padahal kalau dia yang butuh dengan enaknya menghubungi orang lain.
Alhamdulillah, akhirnya Ibu jadi umroh dan pulang ke tanah air dengan aman dan nyaman. Sayangnya setelah itu Ibu sakit-sakitan. Kakak tidak pernah mengirim uang untuk Ibu, saya tanya soal barang-barang yang dia bawa pun marah-marah.
Setelah setahun lebih kakak baru mau kirim uang, rata-rata 200-300 ribu per bulannya. Tidak cukup. Saya terpaksa pinjol sana-sini. Kakak mana peduli, Ibu ingin bertemu dia saja tidak dipedulikan.
Sampai akhirnya kondisi Ibu drop, dibawa ke rumah sakit dan meninggal. Baru kakak datang, bilang menyesal karena belum sempat ketemu Ibu.
“Kemarin ke mana aja, mas?” batin saya.
