CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Ketika Ibu memilih Dimadu
Ketika Ibu memilih Dimadu

Ketika Ibu memilih Dimadu

oleh Alza
CerpenGratis4 menit baca6 dibacaJFMM Participant

Aku masih terlalu kecil untuk memahami kenapa Ibu selalu menangis ketika Ayah datang, dan menangis lebih kencang lagi ketika Ayah akhirnya pergi.

Aku masih terlalu kecil untuk mengerti kenapa aku harus memanggil perempuan lain dengan sebutan Ibu, meski berkali-kali kukatakan bahwa aku tidak mau.

Aku juga masih terlalu kecil untuk memahami kenapa Nenek, yang biasanya begitu lembut, sampai memarahi Ibu untuk pertama kalinya. Kenapa kata cerai begitu sering diucapkan orang-orang dewasa. Dan kenapa ada satu kata bernama poligami yang tidak pernah kutemukan dalam buku cerita mana pun.

Ibu selalu bercerita tentang betapa ia mencintai Ayah, dan bagaimana dulu Ayah begitu mencintainya. Bahkan sampai sekarang, aku masih ingat binar bahagia yang terpancar di wajah Ibu setiap kali ia bercerita tentang Ayah.

Padahal, mereka berasal dari kalangan yang berbeda.

Saat masih lajang, Ayah hanyalah seorang buruh yang dibayar harian, sementara Ibu masih kuliah keguruan. Mereka memulai rumah tangga dari kehidupan yang sederhana. Tidak banyak yang mereka punya, tetapi saat itu mereka bahagia.

Sampai suatu hari, tanpa pernah benar-benar siap menerimanya, Ibu mendengar bahwa Ayah ingin menikah lagi dengan seorang perempuan yang usianya sepuluh tahun lebih muda darinya—perempuan yang ia kenal dari tempat kerja barunya.

Ibu akhirnya menyetujui permintaan Ayah.

Bukan karena ia sepenuhnya rela. Mungkin karena ia tahu Ayah tidak akan berhenti meminta. Ibu bahkan khawatir Ayah akan memilih menikah diam-diam jika terus ditolak.

Terlebih setelah Ibu mengetahui bahwa perempuan itu sedang mengandung anak Ayah.

Nenek marah besar ketika mendengar keputusan tersebut. Baginya, Ayah tidak layak dipertahankan.

“Kenapa kau mau dimadu?!” bentak Nenek pada suatu malam.

Aku yang masih terjaga hanya bisa mengintip dari celah pintu. Kulihat tubuh Nenek gemetar karena marah, sementara Ibu duduk diam di atas sofa.

Namun, di tengah pertengkaran besar itu, Ibu tetap kukuh pada pendiriannya. Air matanya jatuh ketika tangannya mengusap perut yang semakin besar. Ada adikku di sana.

“Aku hanya ingin anak-anak punya ayah,” jawab Ibu pelan.

Saat itu, aku belum memahami kalimat tersebut.

Sekarang, aku tahu mungkin Ibu sendiri juga tidak benar-benar tahu apakah keputusannya akan membuat kami tetap utuh atau justru semakin hancur.

Karena setelah Ayah menikah lagi, janji tentang keadilan yang pernah diucapkannya seolah-olah ikut menghilang.

Semakin lama, Ayah semakin sering berada di rumah istri barunya, meninggalkan Ibu dengan beban yang semakin berat.

Nenek sering mempertanyakan hal yang sama.

Bagaimana mungkin seseorang yang bahkan belum mampu mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya memilih menikah lagi dengan dalih poligami itu hal yang wajar?

Karena itu, Ibu kembali bekerja. Mengumpulkan uang demi mencukupi kebutuhan kami.

Ibu membesarkan kami sendiri. Aku melihatnya berjuang dari pagi hingga malam—menjaga rumah, mengurusku, menjalani kehamilannya, lalu merawat adikku ketika ia lahir.

Dulu, aku hanya melihat seorang perempuan yang menangis.

Sekarang, aku melihat seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan luka agar anak-anaknya tidak ikut merasakannya.

Ibu bisa tersenyum di hadapan kami, seolah semuanya baik-baik saja.

Tapi aku tidak.

Demi Tuhan, aku benci melihat Ibu tersenyum ketika perempuan itu datang bersama anaknya ke rumah.

Aku ingin Ibu berhenti tersenyum.

Aku ingin Ibu marah.

Aku ingin sekali melihat Ibu membenci mereka, sama seperti aku membenci keadaan itu.

Tapi Ibu tidak melakukannya.

Setelah dewasa, barulah aku menyadari bahwa Ibu hanya sedang berusaha mempertahankan keluarganya.

Mungkin ia percaya, jika ia cukup sabar, suatu hari semuanya akan kembali baik-baik saja.

Ibu tidak pernah mengeluh. Namun, ada malam-malam ketika Ibu terlalu lelah untuk menangis. Ia hanya duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah pintu yang jarang terbuka.

Setiap kali Ayah datang, selalu ada harapan kecil di mata Ibu.

Harapan bahwa mungkin kali ini Ayah akan berubah.

Mungkin kali ini ia akan kembali menjadi laki-laki yang dulu begitu mencintainya—laki-laki yang dulu ia kenal, laki-laki yang dulu berjanji akan bertanggung jawab.

Namun, harapan itu selalu kandas.

Ayah lebih banyak bercerita tentang istri barunya. Lebih banyak memedulikan mereka. Lebih banyak menghabiskan waktu di sana.

Tanpa kami sadari, Ayah masih datang ke rumah.

Tetapi perlahan-lahan, ia berhenti menjadi seorang ayah di dalamnya.

Dan mungkin, itulah yang paling menyakitkan.

Saat dewasa, aku mulai memahami satu hal:

Cinta kadang tidak cukup untuk mempertahankan semuanya.

Dan mungkin selama ini Ibu bukan tidak tahu bahwa hatinya sedang patah. Ia hanya terlalu lapang untuk membalas luka dengan luka.

Ibu sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga pantas dicintai.

Dan mungkin Ibu tidak pernah tahu bahwa kami tidak benar-benar bahagia hanya karena Ayah masih ada.

Bu, jika memang ada kehidupan kedua seperti yang orang-orang katakan, semoga di sana Ibu bisa hidup dengan bangga dan bahagia.

Tidak apa-apa jika aku tidak punya ayah.

Aku hanya butuh Ibu.

Hanya itu.

Dan maaf juga jika selama bertahun-tahun ini aku masih menyalahkan Ibu karena memilih bertahan dalam keadaan itu.

Dan kalau waktu bisa kembali ke malam itu, ketika aku masih kecil dan hanya mampu mengintip dari celah pintu, mungkin aku tidak akan lagi bertanya kenapa Ibu masih menangis setelah Ayah pergi.

Aku mungkin hanya akan memeluknya.

Dan berkata,

“Tidak apa-apa, Bu, kalau Ayah pergi.

Aku tetap di sini.

Aku tidak akan pergi.

Aku janji.”

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen