Ada satu hal yang paling Shea Williams takutkan menjelang kelahiran bayinya. Suatu hari nanti, anaknya hanya akan mengingatnya sebagai kenangan.
Jemari Shea bergerak perlahan melipat sehelai pakaian bayi berwarna pastel. Ukurannya begitu mungil di dalam genggamannya. Hingga gadis itu bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang sekecil itu kelak mengubah seluruh hidupnya.
Sesekali, Shea menghentikan gerakan untuk mengusap lembut perutnya yang sudah membesar di usia kehamilan tua ini. Di luar, gerimis tipis membasahi kaca jendela. Kontras dengan suasana hangat di dalam kamar.
Pintu terdorong pelan hingga terbuka. Clara Williams melangkah masuk membawa baki dengan dua cangkir yang mengepulkan uap teh hangat.
“Kau takut?” Clara meletakkan nampan ke atas nakas dekat tempat tidur.
“Sedikit.” Shea mengaku, membiarkan jemarinya beristirahat di atas puncak perutnya. Tidak ada gunanya berpura-pura kuat di hadapan wanita berambut sebahu itu.
“Wajar.” Clara tersenyum teduh. Wajahnya memancarkan kehangatan akrab yang sangat dikenal Shea sejak kecil.
“Dulu … apa mama dulu takut juga?”
Clara terkekeh pelan. “Semua ibu pasti takut, Shea. Tidak ada yang benar-benar siap untuk perubahan sebesar itu.”
Perlahan, Clara memeriksa satu per satu isi tas, memeriksanya seperti sudah melakukan hal itu ratusan kali.
Shea memperhatikan tangan Clara yang cekatan.
“Baju bayi?”
“Ada.”
“Popok?”
“Ada.”
“Dokumen?”
Shea terdiam.
Clara menghela napas. “Shea.”
Senyum kecil melengkung di bibir Shea. “Itu bagian Travis yang menyiapkan.”
“Pastikan tidak ketinggalan.” Clara kembali menghitung jumlah pakaian, memastikan handuk dan selimut sudah tersedia. Namun, tiba-tiba gerakan wanita itu terhenti dan menoleh pada Shea dengan glabela berkerut. “Shea, duduklah. Jangan terlalu lama berdiri.”
Shea menurut. Ia menggeser tubuhnya dan duduk perlahan di tepi tempat tidur yang empuk.
Begitulah wanita itu sejak dahulu. Selalu tahu apa yang dibutuhkan Shea bahkan sebelum diminta. Clara mencurahkan kasih sayang tanpa batas seolah-olah Shea adalah bagian dari dirinya sendiri.
“Aku takut, nanti aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi anakku,” gumam Shea pelan, keraguan menyusup di matanya.
“Kau akan tahu,” jawab Clara tanpa menghentikan tangannya.
“Kalau aku bingung?”
Clara menatapnya. “Peluk bayimu.”
Shea menelan ludah. Suaranya makin lirih. “Kalau aku masih butuh mama?”
Clara terdiam sebentar. Tangannya terhenti beberapa senti di dekat ritsleting tas. Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi Shea.
“Kau akan selalu punya ibu di dalam dirimu,” bisik Clara lembut.
Glabela Shea berkerut. “Maksud mama?”
Clara hanya tersenyum dan menyentuh pipinya. “Nanti kau akan mengerti, Shea.”
Shea terdiam. Tidak ada niatan membantah atau pun bertanya lebih jauh.
“Ayo, minum teh dulu,” ujar Clara lantas duduk di samping Shea.
Baru saja jemarinya menyentuh cangkir, perutnya seketika mengencang.
Shea membeku.
Rasa sakit menjalar dari pinggang ke bawah perut.
“Mama ….”
Clara tersentak berdiri. Ia mengusap baju Shea yang mengernyit karena menahan sakit. “Kontraksi?”
Shea mengangguk sambil mencengkeram lengan wanita itu. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Clara langsung berbalik menuju pintu yang terbuka. Kepanikan pecah dalam suaranya. “Travis! Travis, cepat ke atas! Shea kontraksi!”
Begitu terdengar langkah tergesa-gesa di anak tangga, Clara kembali mendekat ke tempat tidur demi menggenggam tangan Shea.
“Mama di sini, Shea.”
Shea mengangguk, meski air matanya mulai menggenang. “Jangan pergi.”
Clara menatapnya sejenak. “Mama tidak akan ke mana-mana.”
***
Tujuh jam yang terasa seperti selamanya, berhenti pada satu suara. Tangisan pertama bayi Shea.
Shea berbaring setengah duduk di ranjang rumah sakit dengan lelah yang masih tersisa di tubuh. Namun, senyum menghiasi wajahnya. Dalam dekapan gadis itu, sesosok mungil terbungkus selimut hangat.
Pintu kamar rawat terbuka pelan. Travis Meier—suami Shea langsung sigap membukakan lebih lebar. Clara masuk sambil membawa tas kertas. Sekilas mereka mengobrol singkat, saling memberi selamat dengan status ‘ayah’ dan ‘nenek’.
Kemudian Travis pamit keluar untuk menjemput orang tuanya yang baru saja tiba di lobi rumah sakit. Setelah mengecup kening Shea, lelaki itu meninggalkan ruangan.
Wanita itu mengeluarkan boneka kucing berwarna dadu yang bertahun-tahun menemani masa kecil Shea. Bulunya tampak bersih dan harum, seolah-olah baru saja keluar dari penatu.
Clara menatap Shea lama sekali, seolah-olah ingin menghafalkan wajah perempuan yang baru saja melewati perjuangan terbesarnya.
“Selamat, ya, Shea. Kau sudah jadi ibu.”
Air mata Shea mengalir begitu saja melewati sudut matanya, membasahi pipi yang pucat. Ia tertawa kecil di sela napas yang masih berat. “Terima kasih, Mama ... terima kasih untuk semuanya,” bisiknya parau.
Clara meletakkan boneka itu di samping tempat tidur, lalu menatap Shea dengan binar mata berkaca-kaca haru. “Mama menemukan ini di lemari.”
Shea mengusap sudut matanya. Fragmen kenangan masa kecil berkelebat cepat dalam benaknya.
“Aku kira, Pingka sudah hilang,” ujar Shea takjub. “Dulu aku selalu memeluknya saat tidur.”
Senyum hangat terbit di bibir Clara. “Kau menangis kalau waktunya mama mencuci Pingka.”
“Karena aku takut tidur sendirian.”
Clara memandang sekilas pada bayi di dekapan Shea. “Mama ingat kau gemetar ketakutan saat berkata ada monster di bawah tempat tidurmu.”
“Tapi ada yang selalu duduk di sampingku sampai aku benar-benar tertidur,” imbuh Shea, menatap lurus ke dalam mata Clara.
Wanita itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangan, mengusap lembut rambut Shea—persis seperti yang selalu ia lakukan setiap malam saat Shea kecil terbangun dari mimpi buruk.
“Mama ingin memastikan kau baik-baik saja.” Clara tersenyum. “Setelah ini, kau akan punya banyak hal yang harus diurus.”
Shea mengernyit muram. “Mama bicara seperti mau pergi jauh.”
Clara hanya tertawa kecil. “Siapa bilang?”
Tepat saat itu, bayi mungil di dalam dekapan Shea bergerak gelisah. Mulut kecilnya terbuka, menguap lucu sebelum kembali terlelap. Shea dan Clara seketika tersenyum, saling berpandangan dalam kehangatan.
Shea mengalihkan pandangan pada bayinya.
“Mama,” panggilnya.
“Ya?”
“Aku tidak sabar memperkenalkannya pada seseorang.”
Clara mengerjap paham. “Mama juga tidak sabar.”
***
Tungkai Shea berayun perlahan menyusuri jalan setapak berumput basah. Di dekapannya, bayi perempuan berusia sepuluh bulan bergeliat pelan, menatap penasaran ke sekeliling. Tangan kanannya menggenggam erat seikat mawar dadu. Terlalu erat hingga jemarinya memucat.
Shea menghentikan langkah di depan sebuah nisan marmer kelabu.
“Mama, aku datang bersama cucumu,” bisiknya parau, membiarkan kerinduan yang pekat kembali menyesakkan dada.
Dengan sangat hati-hati, Shea berjongkok. Ia menaburkan kelopak mawar itu di atas gundukan tanah yang dirawat rapi. Sang bayi ikut menunduk, mata bulatnya memandangi ukiran nama yang membeku di batu nisan.
“Ayo, sapa nenek,” ucap Shea lembut. Ia membimbing tangan mungil putrinya untuk menyentuh permukaan nisan bertuliskan nama ibu kandungnya. Sebulir air mata luruh perlahan melewati pipinya.
Setelah memanjatkan doa dalam keheningan, Shea bangkit berdiri. Angin pemakaman berembus kencang, tetapi rasa dingin itu segera pudar saat sepasang lengan yang sangat familier tiba-tiba menyentuh bahunya dari samping.
Shea menoleh. Clara berdiri di sisinya dengan seikat bunga putih di tangan. “Kau datang duluan,” katanya.
Shea tersenyum sambil mengusap air mata. “Aku tidak sabar.”
Clara menatap bayi itu, lalu memandangi nisan. Untuk beberapa saat, tidak seorang pun dari mereka berkata-kata.
Kemudian Clara menggenggam tangan Shea.
Seperti yang dilakukannya bertahun-tahun lalu.
“Dulu …” Suara Shea memecah keheningan, “kenapa mama setuju mengasuhku?”
Clara tidak langsung menjawab. Ia menatap gadis di sampingnya. “Karena mama mau.”
“Tapi mama sudah punya anak.”
Clara tersenyum kecil. Wanita yang telah membesarkannya sejak usia enam tahun itu memeluk bahu Shea dengan hangat. “Rafael justru senang aku menghabiskan waktu bersamamu dan tidak mengganggunya.”
Shea melantunkan tawa ringan. Ia merasakan jemari mungil menggenggam tangannya seolah-olah takut kehilangan.
Kini, Shea mengerti. Menjadi ibu bukan hanya tentang melahirkan seseorang. Kadang, menjadi ibu adalah keputusan untuk tetap tinggal ketika orang lain sudah pergi.

