CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Kenangan Dalam Semangkuk Mi
Kenangan Dalam Semangkuk Mi

Kenangan Dalam Semangkuk Mi

oleh Yulianti Hasyim
CerpenGratis12 menit baca46 dibacaJFMM Participant

Dulu, dua puluh tahun lalu.

Kala kemewahan terbesar bagiku sebatas memiliki sepatu yang masih layak kugunakan ke sekolah—solnya belum menganga, talinya belum putus—dan buku tulis pengganti baru saat buku lama benar-benar habis halamannya kutulis, hal yang paling kubenci adalah ketika ibu memasak dua bungkus Indomie rebus untuk kami nikmati berlima. Mie itu direbus dalam panci yang sama, dibumbui sederhana, lalu disajikan dengan sepiring nasi putih dan beberapa potong mentimun yang diiris tipis sebagai pendampingnya. Kadang, jika sedikit lebih beruntung, ada tiga butir telur yang dikocok, digoreng menjadi telur dadar lebar, lalu dipotong hati-hati agar bisa dibagi rata.

Aku, si Naima kecil, lambat laun belajar membaca tanda-tanda. Aku harus bisa menebak kapan tanggal tua datang, sebab pada hari-hari itulah meja makan rumah kami—yang tidak seberapa luas—kehilangan lauk pauk. Aku juga harus mengerti ketika masakan ibu berubah menjadi Indomie rasa soto atau ayam bawang. Tak ada ayam sungguhan, tak ada kuah kaldu kental. Yang penting, perut tetap terisi. Yang penting, kami tetap makan bersama.

Aku tumbuh dengan segala kesederhanaan itu.

Aneh rasanya mengingat hal itu sekarang, karena meski hidup kami serba pas-pasan, biaya sekolahku tak pernah kurang bayar. Uang SPP selalu lunas, seragam selalu bersih meski warnanya memudar. Sering kali aku hanya membawa sangu pas-pasan, cukup untuk membayar jasa angkutan umum. Ibu memaksaku tetap berangkat sekolah, menepuk pundakku sambil memberi pengertian agar aku tidak jajan.

“Lebih baik makan di rumah, nanti Ibu buatkan pisang goreng pakai susu coklat.”

Kalimat itu selalu diucapkannya dengan nada ringan, seolah tak ada beban di baliknya. Dan entah bagaimana, iming-iming sederhana itu selalu berhasil. Aku menahan lapar selama jam pelajaran, membiarkan perutku berbunyi pelan, sambil membayangkan lelehan susu coklat kental yang dituangkan di atas pisang goreng panas. Bau manisnya, rasa hangatnya, semua terasa begitu nyata dalam kepalaku. Bayangan itu menjadi penghibur, penahan air liur, sekaligus janji bahwa rumah akan selalu menungguku.

Penganan sederhana. Pisang dan susu kental manis. Namun entah mengapa, rasanya selalu seperti pulang. Seperti dipeluk tanpa kata. Hingga kini, setiap kali aku berada jauh dari rumah, di kota yang asing atau di kamar sempit yang tak punya kenangan, hal yang kulakukan tetap sama: membuat pisang goreng dan menuangkan susu kental manis di atasnya. Bukan untuk mengenyangkan perut, melainkan untuk menenangkan hati—seperti yang dulu ibu lakukan untukku.

Sekarang, setelah beranjak dewasa dan memiliki penghasilan sendiri, baru kusadari bahwa boleh saja makan mi instan tanpa nasi. Boleh saja makan telur dadar tanpa dibagi. Terlebih aku tinggal sendiri. Tak ada orang lain yang harus diajak berbagi, tapi juga tak ada ibu yang menungguku di dapur, dengan daster lusuh dan rambut terikat seadanya, memasakkanku apa pun.

Kesadaran itu datang diam-diam, tidak menggelegar, tapi menusuk pelan.

Dan aku sudah berpesan pada ibu saat video call terakhir kemarin, bahwa aku rindu mie rebus masakannya dan ibu tertawa sambil berkata bahwa dulu aku sangat membenci semangkuk mie yang ibu masak karena terpaksa.

Pesawat yang kutumpangi akhirnya mendarat halus di Bandara Soekarno-Hatta. Landasannya basah, memantulkan cahaya lampu, dan gerimis kecil masih turun perlahan, kulihat dari balik jendela oval di samping kursiku. Aku menghela napas lega. Kepanikanku selama penerbangan akhirnya berakhir juga. Kuucapkan hamdalah lirih sambil melepas seatbelt, tepat setelah tanda penggunaan sabuk pengaman dimatikan oleh kru pesawat.

Suara captain terdengar dari pengeras suara, mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan dengan nada datar yang khas. Aku bangkit, meraih tasku, lalu membuka kompartemen kabin untuk mengambil koper kecil yang kusimpan di atas. Gerakan para penumpang nyaris serempak, saling menunggu, saling memberi jalan.

Para kru berdiri rapi di pintu keluar, tersenyum profesional, mengangguk kecil setiap kali penumpang melewati mereka. Aku menyampirkan ransel ke punggung dan ikut mengantre, melangkah pelan bersama arus manusia yang bergerak keluar dari perut pesawat.

Tiba-tiba, sebuah tangan kecil meraih gantungan Labubu di ranselku. Boneka kecil itu bergoyang pelan.

“Cute,” kata si empunya tangan, seorang anak kecil dengan mata bulat dan pipi tembam.

Ibunya langsung menarik tangan anak itu, wajahnya canggung. “Maaf ya, Mbak.”

Aku tersenyum, berjongkok sedikit agar sejajar dengan si kecil. “Nggak apa-apa,” kataku sambil menjawil pipinya yang merah dan hangat. Anak itu terkekeh kecil sebelum kembali digiring ibunya.

Begitu kakiku menjejak aspal basah bandara, aku berhenti sejenak. Kutarik napas dalam-dalam, menghirup udara lembap yang langsung memenuhi paru-paruku. Bau hujan, bau aspal, bau yang tak pernah benar-benar kutemukan di tempat lain. Dadaku terasa menghangat.

Jakarta.

Setelah tujuh tahun, akhirnya aku kembali menginjakkan kaki di tanah air. Tanah kelahiranku.

Aku menyeret koper menuju terminal kedatangan, roda-rodanya berbunyi ritmis di lantai. Tanganku merogoh ponsel, menyalakan kembali jaringan. Begitu data internet aktif, notifikasi pesan masuk bertubi-tubi, seperti air yang baru saja dilepaskan dari bendungan.

Pesan-pesan perpisahan dari teman-teman baikku di sana—di kota yang selama tujuh tahun kusebut rumah kedua. Ada yang singkat, ada yang panjang. Ada yang menyertakan foto-foto kebersamaan kami, ada pula yang hanya berisi doa sederhana. Kubaca sekilas, satu per satu, sambil berjalan pelan.

Take care, Naima.
Don’t forget us.

Aku tersenyum kecil, meski ada perih yang mengendap di dada. Perpisahan memang selalu begitu—tak pernah benar-benar selesai.

Pesan dari abangku akhirnya masuk.

“Udah landing? Abang di parkiran.”

“Udah, Bang. Bentaran ya,” balasku.

Langkah kakiku terasa lebih ringan saat keluar dari pintu kedatangan. Namun sebelum benar-benar menyatu dengan keramaian, aku berbelok menuju area pengambilan bagasi. Di sana, waktu seolah berjalan lebih pelan. Orang-orang berdiri berderet, menunggu dalam diam yang sabar, mata tertuju pada conveyor belt yang belum juga bergerak.

Aku berdiri di antara mereka, menggenggam gagang koper kecilku. Sabuk berjalan itu akhirnya berderak hidup, membawa koper-koper dari perut pesawat satu per satu. Bunyi benturan lembut terdengar setiap kali sebuah koper jatuh ke lintasan. Warnanya beragam, bentuknya hampir seragam, semuanya tampak sama—seperti kisah orang-orang yang baru saja tiba, berbeda tapi disatukan oleh perjalanan yang sama.

Aku mengamati setiap koper yang lewat, jantungku berdetak pelan menunggu milikku muncul. Satu koper hitam lewat. Bukan. Koper biru tua. Bukan juga. Hingga akhirnya, koper abu-abu dengan pita kain kecil di gagangnya muncul perlahan. Aku meraih dan mengangkatnya, beratnya terasa familiar di tangan, seperti beban yang sudah lama kupikul.

Kutepi sedikit, memastikan resletingnya masih terkunci rapat. Setelah itu, baru aku melangkah menuju pintu keluar terminal.

Keramaian langsung menyambut. Suara orang memanggil nama bercampur dengan tawa yang meledak tanpa ragu, pelukan-pelukan yang tertahan lama, koper yang diseret tergesa, dan aroma makanan dari kejauhan yang samar namun menggoda. Udara terasa hangat dan lembap, lengket di kulit.

Di antara semua itu, mataku menangkap sosok yang begitu kukenal. Abangku berdiri tidak jauh dari pintu keluar, satu tangannya melambai, yang lain menyelip di saku jaket. Jaketnya tampak sedikit gelap, basah terkena gerimis. Rambutnya lembap, tapi senyumnya tetap sama seperti yang kuingat.

Aku berhenti sejenak, menyesuaikan napas. Lalu, dengan koper yang kuseret di samping, aku melambai balik.

Kami berpelukan erat, tanpa kata, seolah pelukan itu menjadi satu-satunya bahasa yang sanggup menampung rindu bertahun-tahun. Rindu yang selama ini hanya disalurkan lewat layar ponsel—ratusan kali panggilan video dan suara, wajah yang dibekukan kamera, tawa yang terpotong sinyal, cerita yang selalu ditutup dengan “nanti ya, kalau pulang.”

Saat akhirnya pelukan itu terlepas, aku mundur sedikit dan menatapnya lebih lama. Di sanalah kesadaran itu datang pelan tapi pasti: waktu telah merenggut wajah muda dan tampan abangku yang dulu murah senyum. Ada garis-garis halus di sudut matanya, kulitnya tak lagi sekencang ingatanku, dan bahunya kini terasa lebih berat—seperti seseorang yang terlalu lama memikul tanggung jawab.

“Wih, gemukkan kau, Dek,” ejeknya sambil menyeringai, nada suaranya tetap sama, hangat dan usil.

Aku mendengus kecil, lalu menepuk ringan perutnya yang kini sedikit membuncit. “Kayak nggak saja, kau, Bang.”

Ia tertawa lepas, suara yang lama tak kudengar secara langsung. Setelah itu, ia meraih troli berisi tas koperku, mendorongnya sambil melirik isi barang bawaanku yang tampak berlebihan.

“Ini mau liburan apa pindahan, sih?” katanya, masih meledek.

Aku hanya tersenyum kecil. Ia benar. Barang-barang itu bukan sekadar pakaian dan oleh-oleh. Di dalam koper-koper itu ada hidup yang kutinggalkan dan hidup yang hendak kumulai kembali. Aku memang berpindah ruang dan kehidupan.

Dari Jerman yang serba modern, serba tepat waktu, tanpa basa-basi dan penuh individualisme—ke Jakarta yang jalannya sering macet, waktunya lentur, orang-orangnya ramah, suka menyapa, merangkul, dan kadang terasa terlalu akrab. Kota yang tidak sempurna, tapi penuh suara, bau, dan kehangatan yang tak pernah benar-benar bisa kugantikan.

Dalam perjalanan menuju rumah, hujan turun semakin deras. Tetesannya menghantam kaca mobil, ritmis, seolah ikut mengiringi perjalanan pulangku. Wiper bergerak teratur, kiri dan kanan, menyapu pandangan yang kabur. Lampu-lampu jalanan memantul di aspal basah, memanjang, bergetar, seperti ingatan yang tak pernah benar-benar lurus.

Abang bercerita banyak hal. Tentang rumah yang kini catnya mulai pudar. Tentang tetangga lama yang satu per satu menua. Tentang lingkungan yang sedikit berubah, tapi masih sama dalam banyak hal. Tentang ibu—yang sekarang lebih sering diam, lebih banyak duduk, lebih jarang tertawa keras seperti dulu.

Aku hanya mengangguk. Menyimak. Sesekali menggumamkan iya atau oh, sambil menahan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Ada rasa takut yang samar, takut pada perubahan yang tak bisa kutolak.

Mobil berhenti di depan rumah.

Begitu pintu dibuka, aroma yang begitu akrab langsung menyambutku. Bukan aroma masakan mewah, bukan pula bau harum yang rumit. Hanya bau kayu tua, lantai yang baru dipel, dan sesuatu yang membuat langkah kakiku melambat.

Aku melangkah masuk, menaruh tas, melepas sepatu. Pandanganku tertarik ke arah dapur.

Di atas meja, sebuah mangkuk terletak rapi. Semangkuk mi rebus.

Tanpa nasi. Tanpa lauk. Hanya mi, kuah bening, dan sedikit irisan daun bawang.

Dadaku mendadak sesak. Napasku tertahan di tenggorokan, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan dari dalam. Tanganku refleks mencengkeram tali tas, kuat, seolah aku membutuhkan sesuatu untuk menahan diriku agar tidak goyah. Ada rasa panas yang cepat merambat ke pelupuk mata, datang tanpa aba-aba, tak terbendung.

Ibu ingat.

Ingatan itu menghantamku lebih keras dari apa pun. Makanan yang dulu sering hadir di meja makan kami bukan karena pilihan, melainkan karena keadaan. Isyarat bahwa mi adalah tanda kami sedang kekurangan, bahwa uang di dompet ibu telah menipis. Tanda bahwa aku harus mengerti, harus menahan diri, harus merasa cukup.

Aku pernah membencinya. Dalam diam, dalam rasa lapar, dalam hati di kala melihat iri bekal teman-temanku.

Dan hari ini, dua puluh tahun kemudian, semangkuk mi rebus itu terhidang bukan karena keterpaksaan. Tidak ada yang harus dibagi. Tidak ada yang harus ditahan. Aku memakannya karena rindu. Karena ingin. Karena di dalamnya ada ibu, ada rumah, ada masa lalu yang kini tak lagi menyakitkan, hanya hangat.

Air mataku jatuh perlahan. Bukan karena sedih, tapi karena akhirnya aku mengerti: yang membuat mi itu istimewa bukan rasanya, melainkan ingatan yang tak pernah ibu lepaskan—tentang anaknya yang dulu belajar kenyang dari hal paling sederhana.

Ibu keluar dari kamar. Langkahnya pelan. Rambutnya kini lebih banyak memutih, tubuhnya tampak lebih kurus dari yang kuingat. Ia menatapku sejenak, seolah memastikan bahwa aku benar-benar ada di hadapannya, bukan sekadar bayangan dari rindu yang terlalu lama disimpan.

“Kamu pasti capek. Makan dulu,” katanya.

Suaranya masih sama. Lembut. Sedikit serak.

Aku tak menjawab. Kakiku melangkah mendekat begitu saja. Tanpa aba-aba, tanpa kata. Aku memeluk ibu erat-erat, menempelkan wajahku di bahunya yang kini terasa lebih kecil, lebih rapuh. Tubuh ibu sempat kaku sesaat, lalu balas memelukku—pelukan yang hangat, yang bergetar, yang menyimpan tujuh tahun rindu yang tak pernah tuntas.

Tangannya mengusap punggungku pelan, berulang.

“Kurus kamu,” bisiknya, nyaris tak terdengar.

Air mataku jatuh. Bukan tersedu, hanya mengalir begitu saja, membasahi bahu ibu. Di dalam pelukan itu, semua jarak, semua waktu, semua lelah yang kupikul sendirian selama bertahun-tahun, runtuh tanpa sisa. Aku tak lagi perempuan dewasa dengan koper dan kehidupan di negeri orang. Aku kembali menjadi anak kecil yang pulang—dengan perut lapar dan hati yang penuh.

Pelukan itu perlahan terlepas. Ibu menepuk lenganku pelan, seperti dulu, lalu melangkah ke dapur. Aku ikut duduk, menarik kursi kayu yang sedikit berderit saat kugeser.

Di depan kami, semangkuk mi masih mengepul pelan. Uapnya naik tipis, berputar di udara, membawa aroma yang begitu kukenal. Hangat. Sederhana. Tak ada yang istimewa, tapi justru di situlah kehangatan rumah bersembunyi.

Aku menatap mangkuk itu lama. Uap hangatnya seolah menarikku mundur, jauh ke dua puluh tahun lalu—ke meja makan kecil yang nyaris selalu penuh oleh kami berlima. Ke dua bungkus mi instan yang direbus ibu dalam satu panci besar, lalu dibagi rata dengan sendok yang sama. Ke nasi putih yang ditambahkan agar cukup untuk semua. Ke potongan mentimun tipis yang disusun rapi seolah lauk mewah. Bahkan cara ibu menyajikannya tidak berubah.

Harus selalu ada mentimun sebagai sayur untuk mendampingi.

Sendok itu akhirnya kugenggam. Tanganku sedikit bergetar. Bukan karena panas, melainkan karena ingatan-ingatan itu datang bersamaan, bertabrakan di dadaku. Aku menyuap perlahan. Rasanya biasa saja. Bahkan mungkin terlalu biasa. Tapi di lidahku, rasa itu menyimpan banyak hal: lapar yang pernah ditahan, syukur yang dipelajari, dan cinta yang selalu ada meski tak pernah diucapkan dengan kata-kata besar.

Dalam semangkuk mi itulah, aku menyadari sesuatu. Bahwa hidupku boleh saja berubah, boleh melaju jauh, boleh singgah di tempat-tempat yang dulu tak pernah kubayangkan. Namun aku berasal dari kesederhanaan ini. Dari mi yang dibagi berlima. Dari rumah yang tak mewah, tapi selalu cukup.

Dan di semangkuk mi itu pula, seluruh perjalanan pulangku akhirnya benar-benar selesai.

●●●

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen