Yulianti Hasyim
Sekali duduk selesai
Mulai membaca
Dulu, dua puluh tahun
lalu.
Kala kemewahan
terbesar bagiku sebatas memiliki sepatu yang masih layak kugunakan ke
sekolah—solnya belum menganga, talinya belum putus—dan buku tulis pengganti
baru saat buku lama benar-benar habis halamannya kutulis, hal yang paling
kubenci adalah ketika ibu memasak dua bungkus Indomie rebus untuk kami nikmati
berlima. Mie itu direbus dalam panci yang sama, dibumbui sederhana, lalu
disajikan dengan sepiring nasi putih dan beberapa potong mentimun yang diiris
tipis sebagai pendampingnya. Kadang, jika sedikit lebih beruntung, ada tiga
butir telur yang dikocok, digoreng menjadi telur dadar lebar, lalu dipotong
hati-hati agar bisa dibagi rata.
Aku, si Naima kecil,
lambat laun belajar membaca tanda-tanda. Aku harus bisa menebak kapan tanggal
tua datang, sebab pada hari-hari itulah meja makan rumah kami—yang tidak
seberapa luas—kehilangan lauk pauk. Aku juga harus mengerti ketika masakan ibu
berubah menjadi Indomie rasa soto atau ayam bawang. Tak ada ayam sungguhan, tak
ada kuah kaldu kental. Yang penting, perut tetap terisi. Yang penting, kami
tetap makan bersama.
Aku tumbuh dengan
segala kesederhanaan itu.
Aneh rasanya mengingat
hal itu sekarang, karena meski hidup kami serba pas-pasan, biaya sekolahku tak
pernah kurang bayar. Uang SPP selalu lunas, seragam selalu bersih meski
warnanya memudar. Sering kali aku hanya membawa sangu pas-pasan, cukup untuk
membayar jasa angkutan umum. Ibu memaksaku tetap berangkat sekolah, menepuk
pundakku sambil memberi pengertian agar aku tidak jajan.
“Lebih baik makan di
rumah, nanti Ibu buatkan pisang goreng pakai susu coklat.”
Kalimat itu selalu
diucapkannya dengan nada ringan, seolah tak ada beban di baliknya. Dan entah
bagaimana, iming-iming sederhana itu selalu berhasil. Aku menahan lapar selama
jam pelajaran, membiarkan perutku berbunyi pelan, sambil membayangkan lelehan susu
coklat kental yang dituangkan di atas pisang goreng panas. Bau manisnya, rasa
hangatnya, semua terasa begitu nyata dalam kepalaku. Bayangan itu menjadi
penghibur, penahan air liur, sekaligus janji bahwa rumah akan selalu
menungguku.
Penganan sederhana.
Pisang dan susu kental manis. Namun entah mengapa, rasanya selalu seperti
pulang. Seperti dipeluk tanpa kata. Hingga kini, setiap kali aku berada jauh
dari rumah, di kota yang asing atau di kamar sempit yang tak punya kenangan,
hal yang kulakukan tetap sama: membuat pisang goreng dan menuangkan susu kental
manis di atasnya. Bukan untuk mengenyangkan perut, melainkan untuk menenangkan
hati—seperti yang dulu ibu lakukan untukku.
Sekarang, setelah
beranjak dewasa dan memiliki penghasilan sendiri, baru kusadari bahwa boleh
saja makan mi instan tanpa nasi. Boleh saja makan telur dadar tanpa dibagi.
Terlebih aku tinggal sendiri. Tak ada orang lain yang harus diajak berbagi,
tapi juga tak ada ibu yang menungguku di dapur, dengan daster lusuh dan rambut
terikat seadanya, memasakkanku apa pun.
Kesadaran itu datang
diam-diam, tidak menggelegar, tapi menusuk pelan.
Dan aku sudah berpesan
pada ibu saat video call terakhir kemarin, bahwa aku rindu mie rebus masakannya
dan ibu tertawa sambil berkata bahwa dulu aku sangat membenci semangkuk mie
yang ibu masak karena terpaksa.
Pesawat yang
kutumpangi akhirnya mendarat halus di Bandara Soekarno-Hatta. Landasannya
basah, memantulkan cahaya lampu, dan gerimis kecil masih turun perlahan,
kulihat dari balik jendela oval di samping kursiku. Aku menghela napas lega.
Kepanikanku selama penerbangan akhirnya berakhir juga. Kuucapkan hamdalah lirih
sambil melepas seatbelt, tepat setelah tanda penggunaan sabuk pengaman
dimatikan oleh kru pesawat.
Suara captain
terdengar dari pengeras suara, mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan
dengan nada datar yang khas. Aku bangkit, meraih tasku, lalu membuka
kompartemen kabin untuk mengambil koper kecil yang kusimpan di atas. Gerakan
para penumpang nyaris serempak, saling menunggu, saling memberi jalan.
Para kru berdiri rapi
di pintu keluar, tersenyum profesional, mengangguk kecil setiap kali penumpang
melewati mereka. Aku menyampirkan ransel ke punggung dan ikut mengantre,
melangkah pelan bersama arus manusia yang bergerak keluar dari perut pesawat.
Tiba-tiba, sebuah
tangan kecil meraih gantungan Labubu di ranselku. Boneka kecil itu bergoyang
pelan.
“Cute,” kata si
empunya tangan, seorang anak kecil dengan mata bulat dan pipi tembam.
Ibunya langsung
menarik tangan anak itu, wajahnya canggung. “Maaf ya, Mbak.”
Aku tersenyum,
berjongkok sedikit agar sejajar dengan si kecil. “Nggak apa-apa,” kataku sambil
menjawil pipinya yang merah dan hangat. Anak itu terkekeh kecil sebelum kembali
digiring ibunya.
Begitu kakiku menjejak
aspal basah bandara, aku berhenti sejenak. Kutarik napas dalam-dalam, menghirup
udara lembap yang langsung memenuhi paru-paruku. Bau hujan, bau aspal, bau yang
tak pernah benar-benar kutemukan di tempat lain. Dadaku terasa menghangat.
Jakarta.
Setelah tujuh tahun,
akhirnya aku kembali menginjakkan kaki di tanah air. Tanah kelahiranku.
Aku menyeret koper
menuju terminal kedatangan, roda-rodanya berbunyi ritmis di lantai. Tanganku
merogoh ponsel, menyalakan kembali jaringan. Begitu data internet aktif,
notifikasi pesan masuk bertubi-tubi, seperti air yang baru saja dilepaskan dari
bendungan.
Pesan-pesan perpisahan
dari teman-teman baikku di sana—di kota yang selama tujuh tahun kusebut rumah
kedua. Ada yang singkat, ada yang panjang. Ada yang menyertakan foto-foto
kebersamaan kami, ada pula yang hanya berisi doa sederhana. Kubaca sekilas, satu
per satu, sambil berjalan pelan.
Take care, Naima.
Don’t forget us.
Aku tersenyum kecil,
meski ada perih yang mengendap di dada. Perpisahan memang selalu begitu—tak
pernah benar-benar selesai.
Pesan dari abangku
akhirnya masuk.
“Udah landing?
Abang di parkiran.”
“Udah, Bang. Bentaran
ya,” balasku.
Langkah kakiku terasa
lebih ringan saat keluar dari pintu kedatangan. Namun sebelum benar-benar
menyatu dengan keramaian, aku berbelok menuju area pengambilan bagasi. Di sana,
waktu seolah berjalan lebih pelan. Orang-orang berdiri berderet, menunggu dalam
diam yang sabar, mata tertuju pada conveyor belt yang belum juga
bergerak.
Aku berdiri di antara
mereka, menggenggam gagang koper kecilku. Sabuk berjalan itu akhirnya berderak
hidup, membawa koper-koper dari perut pesawat satu per satu. Bunyi benturan
lembut terdengar setiap kali sebuah koper jatuh ke lintasan. Warnanya beragam,
bentuknya hampir seragam, semuanya tampak sama—seperti kisah orang-orang yang
baru saja tiba, berbeda tapi disatukan oleh perjalanan yang sama.
Aku mengamati setiap
koper yang lewat, jantungku berdetak pelan menunggu milikku muncul. Satu koper
hitam lewat. Bukan. Koper biru tua. Bukan juga. Hingga akhirnya, koper abu-abu
dengan pita kain kecil di gagangnya muncul perlahan. Aku meraih dan mengangkatnya,
beratnya terasa familiar di tangan, seperti beban yang sudah lama kupikul.
Kutepi sedikit,
memastikan resletingnya masih terkunci rapat. Setelah itu, baru aku melangkah
menuju pintu keluar terminal.
Keramaian langsung
menyambut. Suara orang memanggil nama bercampur dengan tawa yang meledak tanpa
ragu, pelukan-pelukan yang tertahan lama, koper yang diseret tergesa, dan aroma
makanan dari kejauhan yang samar namun menggoda. Udara terasa hangat dan lembap,
lengket di kulit.
Di antara semua itu,
mataku menangkap sosok yang begitu kukenal. Abangku berdiri tidak jauh dari
pintu keluar, satu tangannya melambai, yang lain menyelip di saku jaket.
Jaketnya tampak sedikit gelap, basah terkena gerimis. Rambutnya lembap, tapi
senyumnya tetap sama seperti yang kuingat.
Aku berhenti sejenak,
menyesuaikan napas. Lalu, dengan koper yang kuseret di samping, aku melambai
balik.
Kami berpelukan erat,
tanpa kata, seolah pelukan itu menjadi satu-satunya bahasa yang sanggup
menampung rindu bertahun-tahun. Rindu yang selama ini hanya disalurkan lewat
layar ponsel—ratusan kali panggilan video dan suara, wajah yang dibekukan
kamera, tawa yang terpotong sinyal, cerita yang selalu ditutup dengan “nanti
ya, kalau pulang.”
Saat akhirnya pelukan
itu terlepas, aku mundur sedikit dan menatapnya lebih lama. Di sanalah
kesadaran itu datang pelan tapi pasti: waktu telah merenggut wajah muda dan
tampan abangku yang dulu murah senyum. Ada garis-garis halus di sudut matanya,
kulitnya tak lagi sekencang ingatanku, dan bahunya kini terasa lebih
berat—seperti seseorang yang terlalu lama memikul tanggung jawab.
“Wih, gemukkan kau,
Dek,” ejeknya sambil menyeringai, nada suaranya tetap sama, hangat dan usil.
Aku mendengus kecil,
lalu menepuk ringan perutnya yang kini sedikit membuncit. “Kayak nggak saja,
kau, Bang.”
Ia tertawa lepas,
suara yang lama tak kudengar secara langsung. Setelah itu, ia meraih troli
berisi tas koperku, mendorongnya sambil melirik isi barang bawaanku yang tampak
berlebihan.
“Ini mau liburan apa
pindahan, sih?” katanya, masih meledek.
Aku hanya tersenyum
kecil. Ia benar. Barang-barang itu bukan sekadar pakaian dan oleh-oleh. Di
dalam koper-koper itu ada hidup yang kutinggalkan dan hidup yang hendak kumulai
kembali. Aku memang berpindah ruang dan kehidupan.
Dari Jerman yang serba
modern, serba tepat waktu, tanpa basa-basi dan penuh individualisme—ke Jakarta
yang jalannya sering macet, waktunya lentur, orang-orangnya ramah, suka
menyapa, merangkul, dan kadang terasa terlalu akrab. Kota yang tidak sempurna,
tapi penuh suara, bau, dan kehangatan yang tak pernah benar-benar bisa
kugantikan.
Dalam perjalanan
menuju rumah, hujan turun semakin deras. Tetesannya menghantam kaca mobil,
ritmis, seolah ikut mengiringi perjalanan pulangku. Wiper bergerak teratur,
kiri dan kanan, menyapu pandangan yang kabur. Lampu-lampu jalanan memantul di
aspal basah, memanjang, bergetar, seperti ingatan yang tak pernah benar-benar
lurus.
Abang bercerita banyak
hal. Tentang rumah yang kini catnya mulai pudar. Tentang tetangga lama yang
satu per satu menua. Tentang lingkungan yang sedikit berubah, tapi masih sama
dalam banyak hal. Tentang ibu—yang sekarang lebih sering diam, lebih banyak duduk,
lebih jarang tertawa keras seperti dulu.
Aku hanya mengangguk.
Menyimak. Sesekali menggumamkan iya atau oh, sambil menahan sesuatu yang
mengganjal di tenggorokan. Ada rasa takut yang samar, takut pada perubahan yang
tak bisa kutolak.
Mobil berhenti di
depan rumah.
Begitu pintu dibuka,
aroma yang begitu akrab langsung menyambutku. Bukan aroma masakan mewah, bukan
pula bau harum yang rumit. Hanya bau kayu tua, lantai yang baru dipel, dan
sesuatu yang membuat langkah kakiku melambat.
Aku melangkah masuk,
menaruh tas, melepas sepatu. Pandanganku tertarik ke arah dapur.
Di atas meja, sebuah
mangkuk terletak rapi. Semangkuk mi rebus.
Tanpa nasi. Tanpa
lauk. Hanya mi, kuah bening, dan sedikit irisan daun bawang.
Dadaku mendadak sesak.
Napasku tertahan di tenggorokan, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan
dari dalam. Tanganku refleks mencengkeram tali tas, kuat, seolah aku
membutuhkan sesuatu untuk menahan diriku agar tidak goyah. Ada rasa panas yang
cepat merambat ke pelupuk mata, datang tanpa aba-aba, tak terbendung.
Ibu ingat.
Ingatan itu
menghantamku lebih keras dari apa pun. Makanan yang dulu sering hadir di meja
makan kami bukan karena pilihan, melainkan karena keadaan. Isyarat bahwa mi
adalah tanda kami sedang kekurangan, bahwa uang di dompet ibu telah menipis.
Tanda bahwa aku harus mengerti, harus menahan diri, harus merasa cukup.
Aku pernah
membencinya. Dalam diam, dalam rasa lapar, dalam hati di kala melihat iri bekal
teman-temanku.
Dan hari ini, dua
puluh tahun kemudian, semangkuk mi rebus itu terhidang bukan karena
keterpaksaan. Tidak ada yang harus dibagi. Tidak ada yang harus ditahan. Aku
memakannya karena rindu. Karena ingin. Karena di dalamnya ada ibu, ada rumah,
ada masa lalu yang kini tak lagi menyakitkan, hanya hangat.
Air mataku jatuh perlahan.
Bukan karena sedih, tapi karena akhirnya aku mengerti: yang membuat mi itu
istimewa bukan rasanya, melainkan ingatan yang tak pernah ibu lepaskan—tentang
anaknya yang dulu belajar kenyang dari hal paling sederhana.
Ibu keluar dari kamar.
Langkahnya pelan. Rambutnya kini lebih banyak memutih, tubuhnya tampak lebih
kurus dari yang kuingat. Ia menatapku sejenak, seolah memastikan bahwa aku
benar-benar ada di hadapannya, bukan sekadar bayangan dari rindu yang terlalu lama
disimpan.
“Kamu pasti capek.
Makan dulu,” katanya.
Suaranya masih sama.
Lembut. Sedikit serak.
Aku tak menjawab.
Kakiku melangkah mendekat begitu saja. Tanpa aba-aba, tanpa kata. Aku memeluk
ibu erat-erat, menempelkan wajahku di bahunya yang kini terasa lebih kecil,
lebih rapuh. Tubuh ibu sempat kaku sesaat, lalu balas memelukku—pelukan yang
hangat, yang bergetar, yang menyimpan tujuh tahun rindu yang tak pernah tuntas.
Tangannya mengusap
punggungku pelan, berulang.
“Kurus kamu,”
bisiknya, nyaris tak terdengar.
Air mataku jatuh.
Bukan tersedu, hanya mengalir begitu saja, membasahi bahu ibu. Di dalam pelukan
itu, semua jarak, semua waktu, semua lelah yang kupikul sendirian selama
bertahun-tahun, runtuh tanpa sisa. Aku tak lagi perempuan dewasa dengan koper
dan kehidupan di negeri orang. Aku kembali menjadi anak kecil yang
pulang—dengan perut lapar dan hati yang penuh.
Pelukan itu perlahan
terlepas. Ibu menepuk lenganku pelan, seperti dulu, lalu melangkah ke dapur.
Aku ikut duduk, menarik kursi kayu yang sedikit berderit saat kugeser.
Di depan kami,
semangkuk mi masih mengepul pelan. Uapnya naik tipis, berputar di udara,
membawa aroma yang begitu kukenal. Hangat. Sederhana. Tak ada yang istimewa,
tapi justru di situlah kehangatan rumah bersembunyi.
Aku menatap mangkuk
itu lama. Uap hangatnya seolah menarikku mundur, jauh ke dua puluh tahun
lalu—ke meja makan kecil yang nyaris selalu penuh oleh kami berlima. Ke dua
bungkus mi instan yang direbus ibu dalam satu panci besar, lalu dibagi rata
dengan sendok yang sama. Ke nasi putih yang ditambahkan agar cukup untuk semua.
Ke potongan mentimun tipis yang disusun rapi seolah lauk mewah. Bahkan cara ibu
menyajikannya tidak berubah.
Harus selalu ada
mentimun sebagai sayur untuk mendampingi.
Sendok itu akhirnya
kugenggam. Tanganku sedikit bergetar. Bukan karena panas, melainkan karena
ingatan-ingatan itu datang bersamaan, bertabrakan di dadaku. Aku menyuap
perlahan. Rasanya biasa saja. Bahkan mungkin terlalu biasa. Tapi di lidahku,
rasa itu menyimpan banyak hal: lapar yang pernah ditahan, syukur yang
dipelajari, dan cinta yang selalu ada meski tak pernah diucapkan dengan
kata-kata besar.
Dalam semangkuk mi
itulah, aku menyadari sesuatu. Bahwa hidupku boleh saja berubah, boleh melaju
jauh, boleh singgah di tempat-tempat yang dulu tak pernah kubayangkan. Namun
aku berasal dari kesederhanaan ini. Dari mi yang dibagi berlima. Dari rumah
yang tak mewah, tapi selalu cukup.
Dan di semangkuk mi
itu pula, seluruh perjalanan pulangku akhirnya benar-benar selesai.
●●●