CeritaGW
Cerpen
Cerpen2.214 kata

Kenangan Dalam Semangkuk Mi

YH

Yulianti Hasyim

Sekali duduk selesai

Mulai membaca

Dulu, dua puluh tahun

lalu.

Kala kemewahan

terbesar bagiku sebatas memiliki sepatu yang masih layak kugunakan ke

sekolah—solnya belum menganga, talinya belum putus—dan buku tulis pengganti

baru saat buku lama benar-benar habis halamannya kutulis, hal yang paling

kubenci adalah ketika ibu memasak dua bungkus Indomie rebus untuk kami nikmati

berlima. Mie itu direbus dalam panci yang sama, dibumbui sederhana, lalu

disajikan dengan sepiring nasi putih dan beberapa potong mentimun yang diiris

tipis sebagai pendampingnya. Kadang, jika sedikit lebih beruntung, ada tiga

butir telur yang dikocok, digoreng menjadi telur dadar lebar, lalu dipotong

hati-hati agar bisa dibagi rata.

Aku, si Naima kecil,

lambat laun belajar membaca tanda-tanda. Aku harus bisa menebak kapan tanggal

tua datang, sebab pada hari-hari itulah meja makan rumah kami—yang tidak

seberapa luas—kehilangan lauk pauk. Aku juga harus mengerti ketika masakan ibu

berubah menjadi Indomie rasa soto atau ayam bawang. Tak ada ayam sungguhan, tak

ada kuah kaldu kental. Yang penting, perut tetap terisi. Yang penting, kami

tetap makan bersama.

Aku tumbuh dengan

segala kesederhanaan itu.

Aneh rasanya mengingat

hal itu sekarang, karena meski hidup kami serba pas-pasan, biaya sekolahku tak

pernah kurang bayar. Uang SPP selalu lunas, seragam selalu bersih meski

warnanya memudar. Sering kali aku hanya membawa sangu pas-pasan, cukup untuk

membayar jasa angkutan umum. Ibu memaksaku tetap berangkat sekolah, menepuk

pundakku sambil memberi pengertian agar aku tidak jajan.

“Lebih baik makan di

rumah, nanti Ibu buatkan pisang goreng pakai susu coklat.”

Kalimat itu selalu

diucapkannya dengan nada ringan, seolah tak ada beban di baliknya. Dan entah

bagaimana, iming-iming sederhana itu selalu berhasil. Aku menahan lapar selama

jam pelajaran, membiarkan perutku berbunyi pelan, sambil membayangkan lelehan susu

coklat kental yang dituangkan di atas pisang goreng panas. Bau manisnya, rasa

hangatnya, semua terasa begitu nyata dalam kepalaku. Bayangan itu menjadi

penghibur, penahan air liur, sekaligus janji bahwa rumah akan selalu

menungguku.

Penganan sederhana.

Pisang dan susu kental manis. Namun entah mengapa, rasanya selalu seperti

pulang. Seperti dipeluk tanpa kata. Hingga kini, setiap kali aku berada jauh

dari rumah, di kota yang asing atau di kamar sempit yang tak punya kenangan,

hal yang kulakukan tetap sama: membuat pisang goreng dan menuangkan susu kental

manis di atasnya. Bukan untuk mengenyangkan perut, melainkan untuk menenangkan

hati—seperti yang dulu ibu lakukan untukku.

Sekarang, setelah

beranjak dewasa dan memiliki penghasilan sendiri, baru kusadari bahwa boleh

saja makan mi instan tanpa nasi. Boleh saja makan telur dadar tanpa dibagi.

Terlebih aku tinggal sendiri. Tak ada orang lain yang harus diajak berbagi,

tapi juga tak ada ibu yang menungguku di dapur, dengan daster lusuh dan rambut

terikat seadanya, memasakkanku apa pun.

Kesadaran itu datang

diam-diam, tidak menggelegar, tapi menusuk pelan.

Dan aku sudah berpesan

pada ibu saat video call terakhir kemarin, bahwa aku rindu mie rebus masakannya

dan ibu tertawa sambil berkata bahwa dulu aku sangat membenci semangkuk mie

yang ibu masak karena terpaksa.

Pesawat yang

kutumpangi akhirnya mendarat halus di Bandara Soekarno-Hatta. Landasannya

basah, memantulkan cahaya lampu, dan gerimis kecil masih turun perlahan,

kulihat dari balik jendela oval di samping kursiku. Aku menghela napas lega.

Kepanikanku selama penerbangan akhirnya berakhir juga. Kuucapkan hamdalah lirih

sambil melepas seatbelt, tepat setelah tanda penggunaan sabuk pengaman

dimatikan oleh kru pesawat.

Suara captain

terdengar dari pengeras suara, mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan

dengan nada datar yang khas. Aku bangkit, meraih tasku, lalu membuka

kompartemen kabin untuk mengambil koper kecil yang kusimpan di atas. Gerakan

para penumpang nyaris serempak, saling menunggu, saling memberi jalan.

Para kru berdiri rapi

di pintu keluar, tersenyum profesional, mengangguk kecil setiap kali penumpang

melewati mereka. Aku menyampirkan ransel ke punggung dan ikut mengantre,

melangkah pelan bersama arus manusia yang bergerak keluar dari perut pesawat.

Tiba-tiba, sebuah

tangan kecil meraih gantungan Labubu di ranselku. Boneka kecil itu bergoyang

pelan.

“Cute,” kata si

empunya tangan, seorang anak kecil dengan mata bulat dan pipi tembam.

Ibunya langsung

menarik tangan anak itu, wajahnya canggung. “Maaf ya, Mbak.”

Aku tersenyum,

berjongkok sedikit agar sejajar dengan si kecil. “Nggak apa-apa,” kataku sambil

menjawil pipinya yang merah dan hangat. Anak itu terkekeh kecil sebelum kembali

digiring ibunya.

Begitu kakiku menjejak

aspal basah bandara, aku berhenti sejenak. Kutarik napas dalam-dalam, menghirup

udara lembap yang langsung memenuhi paru-paruku. Bau hujan, bau aspal, bau yang

tak pernah benar-benar kutemukan di tempat lain. Dadaku terasa menghangat.

Jakarta.

Setelah tujuh tahun,

akhirnya aku kembali menginjakkan kaki di tanah air. Tanah kelahiranku.

Aku menyeret koper

menuju terminal kedatangan, roda-rodanya berbunyi ritmis di lantai. Tanganku

merogoh ponsel, menyalakan kembali jaringan. Begitu data internet aktif,

notifikasi pesan masuk bertubi-tubi, seperti air yang baru saja dilepaskan dari

bendungan.

Pesan-pesan perpisahan

dari teman-teman baikku di sana—di kota yang selama tujuh tahun kusebut rumah

kedua. Ada yang singkat, ada yang panjang. Ada yang menyertakan foto-foto

kebersamaan kami, ada pula yang hanya berisi doa sederhana. Kubaca sekilas, satu

per satu, sambil berjalan pelan.

Take care, Naima.

Don’t forget us.

Aku tersenyum kecil,

meski ada perih yang mengendap di dada. Perpisahan memang selalu begitu—tak

pernah benar-benar selesai.

Pesan dari abangku

akhirnya masuk.

“Udah landing?

Abang di parkiran.”

“Udah, Bang. Bentaran

ya,” balasku.

Langkah kakiku terasa

lebih ringan saat keluar dari pintu kedatangan. Namun sebelum benar-benar

menyatu dengan keramaian, aku berbelok menuju area pengambilan bagasi. Di sana,

waktu seolah berjalan lebih pelan. Orang-orang berdiri berderet, menunggu dalam

diam yang sabar, mata tertuju pada conveyor belt yang belum juga

bergerak.

Aku berdiri di antara

mereka, menggenggam gagang koper kecilku. Sabuk berjalan itu akhirnya berderak

hidup, membawa koper-koper dari perut pesawat satu per satu. Bunyi benturan

lembut terdengar setiap kali sebuah koper jatuh ke lintasan. Warnanya beragam,

bentuknya hampir seragam, semuanya tampak sama—seperti kisah orang-orang yang

baru saja tiba, berbeda tapi disatukan oleh perjalanan yang sama.

Aku mengamati setiap

koper yang lewat, jantungku berdetak pelan menunggu milikku muncul. Satu koper

hitam lewat. Bukan. Koper biru tua. Bukan juga. Hingga akhirnya, koper abu-abu

dengan pita kain kecil di gagangnya muncul perlahan. Aku meraih dan mengangkatnya,

beratnya terasa familiar di tangan, seperti beban yang sudah lama kupikul.

Kutepi sedikit,

memastikan resletingnya masih terkunci rapat. Setelah itu, baru aku melangkah

menuju pintu keluar terminal.

Keramaian langsung

menyambut. Suara orang memanggil nama bercampur dengan tawa yang meledak tanpa

ragu, pelukan-pelukan yang tertahan lama, koper yang diseret tergesa, dan aroma

makanan dari kejauhan yang samar namun menggoda. Udara terasa hangat dan lembap,

lengket di kulit.

Di antara semua itu,

mataku menangkap sosok yang begitu kukenal. Abangku berdiri tidak jauh dari

pintu keluar, satu tangannya melambai, yang lain menyelip di saku jaket.

Jaketnya tampak sedikit gelap, basah terkena gerimis. Rambutnya lembap, tapi

senyumnya tetap sama seperti yang kuingat.

Aku berhenti sejenak,

menyesuaikan napas. Lalu, dengan koper yang kuseret di samping, aku melambai

balik.

Kami berpelukan erat,

tanpa kata, seolah pelukan itu menjadi satu-satunya bahasa yang sanggup

menampung rindu bertahun-tahun. Rindu yang selama ini hanya disalurkan lewat

layar ponsel—ratusan kali panggilan video dan suara, wajah yang dibekukan

kamera, tawa yang terpotong sinyal, cerita yang selalu ditutup dengan “nanti

ya, kalau pulang.”

Saat akhirnya pelukan

itu terlepas, aku mundur sedikit dan menatapnya lebih lama. Di sanalah

kesadaran itu datang pelan tapi pasti: waktu telah merenggut wajah muda dan

tampan abangku yang dulu murah senyum. Ada garis-garis halus di sudut matanya,

kulitnya tak lagi sekencang ingatanku, dan bahunya kini terasa lebih

berat—seperti seseorang yang terlalu lama memikul tanggung jawab.

“Wih, gemukkan kau,

Dek,” ejeknya sambil menyeringai, nada suaranya tetap sama, hangat dan usil.

Aku mendengus kecil,

lalu menepuk ringan perutnya yang kini sedikit membuncit. “Kayak nggak saja,

kau, Bang.”

Ia tertawa lepas,

suara yang lama tak kudengar secara langsung. Setelah itu, ia meraih troli

berisi tas koperku, mendorongnya sambil melirik isi barang bawaanku yang tampak

berlebihan.

“Ini mau liburan apa

pindahan, sih?” katanya, masih meledek.

Aku hanya tersenyum

kecil. Ia benar. Barang-barang itu bukan sekadar pakaian dan oleh-oleh. Di

dalam koper-koper itu ada hidup yang kutinggalkan dan hidup yang hendak kumulai

kembali. Aku memang berpindah ruang dan kehidupan.

Dari Jerman yang serba

modern, serba tepat waktu, tanpa basa-basi dan penuh individualisme—ke Jakarta

yang jalannya sering macet, waktunya lentur, orang-orangnya ramah, suka

menyapa, merangkul, dan kadang terasa terlalu akrab. Kota yang tidak sempurna,

tapi penuh suara, bau, dan kehangatan yang tak pernah benar-benar bisa

kugantikan.

Dalam perjalanan

menuju rumah, hujan turun semakin deras. Tetesannya menghantam kaca mobil,

ritmis, seolah ikut mengiringi perjalanan pulangku. Wiper bergerak teratur,

kiri dan kanan, menyapu pandangan yang kabur. Lampu-lampu jalanan memantul di

aspal basah, memanjang, bergetar, seperti ingatan yang tak pernah benar-benar

lurus.

Abang bercerita banyak

hal. Tentang rumah yang kini catnya mulai pudar. Tentang tetangga lama yang

satu per satu menua. Tentang lingkungan yang sedikit berubah, tapi masih sama

dalam banyak hal. Tentang ibu—yang sekarang lebih sering diam, lebih banyak duduk,

lebih jarang tertawa keras seperti dulu.

Aku hanya mengangguk.

Menyimak. Sesekali menggumamkan iya atau oh, sambil menahan sesuatu yang

mengganjal di tenggorokan. Ada rasa takut yang samar, takut pada perubahan yang

tak bisa kutolak.

Mobil berhenti di

depan rumah.

Begitu pintu dibuka,

aroma yang begitu akrab langsung menyambutku. Bukan aroma masakan mewah, bukan

pula bau harum yang rumit. Hanya bau kayu tua, lantai yang baru dipel, dan

sesuatu yang membuat langkah kakiku melambat.

Aku melangkah masuk,

menaruh tas, melepas sepatu. Pandanganku tertarik ke arah dapur.

Di atas meja, sebuah

mangkuk terletak rapi. Semangkuk mi rebus.

Tanpa nasi. Tanpa

lauk. Hanya mi, kuah bening, dan sedikit irisan daun bawang.

Dadaku mendadak sesak.

Napasku tertahan di tenggorokan, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan

dari dalam. Tanganku refleks mencengkeram tali tas, kuat, seolah aku

membutuhkan sesuatu untuk menahan diriku agar tidak goyah. Ada rasa panas yang

cepat merambat ke pelupuk mata, datang tanpa aba-aba, tak terbendung.

Ibu ingat.

Ingatan itu

menghantamku lebih keras dari apa pun. Makanan yang dulu sering hadir di meja

makan kami bukan karena pilihan, melainkan karena keadaan. Isyarat bahwa mi

adalah tanda kami sedang kekurangan, bahwa uang di dompet ibu telah menipis.

Tanda bahwa aku harus mengerti, harus menahan diri, harus merasa cukup.

Aku pernah

membencinya. Dalam diam, dalam rasa lapar, dalam hati di kala melihat iri bekal

teman-temanku.

Dan hari ini, dua

puluh tahun kemudian, semangkuk mi rebus itu terhidang bukan karena

keterpaksaan. Tidak ada yang harus dibagi. Tidak ada yang harus ditahan. Aku

memakannya karena rindu. Karena ingin. Karena di dalamnya ada ibu, ada rumah,

ada masa lalu yang kini tak lagi menyakitkan, hanya hangat.

Air mataku jatuh perlahan.

Bukan karena sedih, tapi karena akhirnya aku mengerti: yang membuat mi itu

istimewa bukan rasanya, melainkan ingatan yang tak pernah ibu lepaskan—tentang

anaknya yang dulu belajar kenyang dari hal paling sederhana.

Ibu keluar dari kamar.

Langkahnya pelan. Rambutnya kini lebih banyak memutih, tubuhnya tampak lebih

kurus dari yang kuingat. Ia menatapku sejenak, seolah memastikan bahwa aku

benar-benar ada di hadapannya, bukan sekadar bayangan dari rindu yang terlalu lama

disimpan.

“Kamu pasti capek.

Makan dulu,” katanya.

Suaranya masih sama.

Lembut. Sedikit serak.

Aku tak menjawab.

Kakiku melangkah mendekat begitu saja. Tanpa aba-aba, tanpa kata. Aku memeluk

ibu erat-erat, menempelkan wajahku di bahunya yang kini terasa lebih kecil,

lebih rapuh. Tubuh ibu sempat kaku sesaat, lalu balas memelukku—pelukan yang

hangat, yang bergetar, yang menyimpan tujuh tahun rindu yang tak pernah tuntas.

Tangannya mengusap

punggungku pelan, berulang.

“Kurus kamu,”

bisiknya, nyaris tak terdengar.

Air mataku jatuh.

Bukan tersedu, hanya mengalir begitu saja, membasahi bahu ibu. Di dalam pelukan

itu, semua jarak, semua waktu, semua lelah yang kupikul sendirian selama

bertahun-tahun, runtuh tanpa sisa. Aku tak lagi perempuan dewasa dengan koper

dan kehidupan di negeri orang. Aku kembali menjadi anak kecil yang

pulang—dengan perut lapar dan hati yang penuh.

Pelukan itu perlahan

terlepas. Ibu menepuk lenganku pelan, seperti dulu, lalu melangkah ke dapur.

Aku ikut duduk, menarik kursi kayu yang sedikit berderit saat kugeser.

Di depan kami,

semangkuk mi masih mengepul pelan. Uapnya naik tipis, berputar di udara,

membawa aroma yang begitu kukenal. Hangat. Sederhana. Tak ada yang istimewa,

tapi justru di situlah kehangatan rumah bersembunyi.

Aku menatap mangkuk

itu lama. Uap hangatnya seolah menarikku mundur, jauh ke dua puluh tahun

lalu—ke meja makan kecil yang nyaris selalu penuh oleh kami berlima. Ke dua

bungkus mi instan yang direbus ibu dalam satu panci besar, lalu dibagi rata

dengan sendok yang sama. Ke nasi putih yang ditambahkan agar cukup untuk semua.

Ke potongan mentimun tipis yang disusun rapi seolah lauk mewah. Bahkan cara ibu

menyajikannya tidak berubah.

Harus selalu ada

mentimun sebagai sayur untuk mendampingi.

Sendok itu akhirnya

kugenggam. Tanganku sedikit bergetar. Bukan karena panas, melainkan karena

ingatan-ingatan itu datang bersamaan, bertabrakan di dadaku. Aku menyuap

perlahan. Rasanya biasa saja. Bahkan mungkin terlalu biasa. Tapi di lidahku,

rasa itu menyimpan banyak hal: lapar yang pernah ditahan, syukur yang

dipelajari, dan cinta yang selalu ada meski tak pernah diucapkan dengan

kata-kata besar.

Dalam semangkuk mi

itulah, aku menyadari sesuatu. Bahwa hidupku boleh saja berubah, boleh melaju

jauh, boleh singgah di tempat-tempat yang dulu tak pernah kubayangkan. Namun

aku berasal dari kesederhanaan ini. Dari mi yang dibagi berlima. Dari rumah

yang tak mewah, tapi selalu cukup.

Dan di semangkuk mi

itu pula, seluruh perjalanan pulangku akhirnya benar-benar selesai.

●●●